Blue Medley Series: The Grooms

the grooms

B.L.U.E Medley Series: The Grooms

 

by ree

 

Casts: CNBLUE, Gong Seungyeon, f(x)’s Jung Soojung, AOA’s Kim Seolhyun, SNSD’s Seo Joohyun  || Genre: romance || Rating: PG-15 || Length: series || Disclaimer: just my imagination

 

Other series: 8 Things | Breakfast | Reunion

 

 

 

 

“Because wedding is not just about the two of us.

 

 

 

***

 

 

 

 

Yonghwa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Diamatinya ruangan besar bercat putih tempatnya berada sekarang. Kurang dari seminggu lagi ruangan itu akan terisi dengan berbagai rangkaian bunga warna-warni, karpet merah panjang yang terbentang dari pintu masuk, berbagai macam hidangan, panggung kecil, meja-meja bulat serta kursi untuk para tamu undangan, dan yang paling penting pelaminan yang berada persis di tengah depan.

Yonghwa akan menikah. Dengan kekasihnya, Seo Joohyun, yang sudah dipacarinya selama hampir lima tahun. Rencana ini sudah dipikirkannya matang-matang sejak dua tahun lalu—dimana ia mulai menabung untuk membiayai pernikahannya dan biaya masa depan bersama gadis itu kelak—meskipun ia baru melamar gadis itu tiga bulan yang lalu. Segala detil persiapan sudah terbayang jelas di benaknya—hasil bertanya sana-sini dibantu oleh keluarga Joohyun juga—dan ia tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun.

“Aku ingin makanan tersaji di meja panjang di sebelah kanan dan kiri, pastikan jumlahnya cukup untuk lebih dari tiga ratus orang,” ujarnya pada wanita gemuk usia tiga puluh tahunan yang menjadi wedding organizer, “Dan tolong setiap instrumen yang ada di panggung dicek kembali sebelum digunakan. Kalau bisa setiap penyanyi harus datang lebih awal untuk melakukan rehearsal.”

Wanita paruh baya itu mengangguk sambil menuliskan sesuatu di buku catatannya, “Bagaimana dengan hiasan bunganya? Apa ada permintaan khusus?”

Yonghwa terdiam sejenak, tampak sedang berpikir. Kepalanya menoleh begitu terdengar suara langkah sepatu mendekat. Orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Orang yang akan bersanding dengannya di tempat itu kurang dari seminggu lagi dan yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Senyum manis terukir di wajahnya tatkala gadis itu mempercepat langkah menghampirinya.

“Maaf, rapatnya selesai lebih lama dari yang kukira,” Joohyun merasa bersalah. Rapat rutin yang diadakan setiap Jumat di SMA tempatnya mengajar memang sedikit menghambat urusan pentingnya kali ini, “Bagaimana persiapannya?”

“Semuanya lancar,” Yonghwa tersenyum, “Nona Park bertanya padaku tentang jenis bunga yang akan menjadi hiasan. Apa yang kau suka?”

“Aku tidak begitu mempermasalahkan jenisnya. Tapi kurasa warna putih akan lebih baik,” jawab Joohyun.

Nona Park mengangguk-angguk sambil mencatat, “Baiklah, kurasa sudah cukup. Akan kuhubungi jika ada sesuatu.” Wanita itu pun pamit pergi.

Joohyun mengedikkan kepalanya, “Terima kasih, hati-hati di jalan.”

“Masalahnya tinggal satu,” gumam Yonghwa setelah Nona Park keluar dari ruangan.

“Apa?” Joohyun mengernyitkan dahi, “Ah, tadi Kim Ahjussi meneleponku. Dia meminta kita datang ke studionya besok untuk fitting baju pengantin.”

“Itulah masalahnya,” Yonghwa melirik ke arah seorang gadis kecil berumur tujuh tahun yang sedang asyik memainkan gadget-nya di salah satu kursi di sudut ruangan. Gadis kecil itu adalah Aleyna, adik sepupu yang dititipkan paman dan bibinya sejak dua tahun yang lalu. Aleyna tinggal bersama Yonghwa di apartemennya sejak masuk Taman Kanak-kanak sehingga Yonghwa sudah dianggapnya seperti kakak kandung—meskipun umur mereka terpaut hampir dua puluh tahun. Persiapan pernikahan yang cukup menyita waktu tampaknya membuat sikap Aleyna sedikit berubah. Ia cemburu karena Yonghwa lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Joohyun dibanding dirinya.

“Aleyna akan kembali ke Istanbul minggu depan. Orangtuanya ingin ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar disana,” jelas Yonghwa. Pria itu menghela napas berat, “Sebelum pulang ia ingin pergi ke Tokyo, karena aku pernah berjanji mengajaknya kesana. Aku sudah membeli tiketnya dan kami akan berangkat besok.”

Joohyun terkejut, “Kenapa tidak memberitahuku?”

“Maaf, Joohyun-ah. Ini benar-benar mendadak. Aleyna terus merengek untuk pergi. Aku tidak punya pilihan lain. Telepon dari wedding organizer dan pengurus undangan benar-benar membuatku pusing.”

Joohyun menatap Yonghwa iba. Diusapnya punggung pria itu lembut, “Kau tidak perlu menanggung semuanya sendiri, Yong. Ada aku, ingat?”

“Aku… Hanya ingin memberikan yang terbaik untuk momen sekali seumur hidup…” Aku Yonghwa.

“Aku akan bicara pada Kim Ahjussi besok. Kau pergilah dengan Aleyna.”

“Kau… Tidak apa-apa?”

Joohyun tersenyum, “Serahkan padaku. Lagipula sepertinya sudah tidak terlalu banyak hal yang harus diurus. Orangtuaku bisa membantu.”

Yonghwa mendengus pelan, “Entah bagaimana reaksi orangtuamu begitu tahu calon menantunya malah berlibur ke Jepang di saat pernikahannya tinggal lima hari lagi.”

“Mereka akan mengerti. Kau sudah berusaha melakukan tanggung jawabmu selama ini. Sekarang giliranku.”

Yonghwa menatap gadis itu teduh. Diusapnya puncak kepala Joohyun dengan sayang dan dikecupnya dahi gadis itu dengan lembut, “Terima kasih.”

Kegiatannya terhenti begitu merasakan bagian belakang kemejanya ditarik-tarik. Yonghwa menoleh. Rupanya itu Aleyna. Entah sejak kapan gadis itu berdiri disana.

Oppa, ayo kita pulang,” ajaknya. Bibirnya mengerucut, memperlihatkan rasa tidak suka yang sangat kentara.

“Sebentar ya, Aleyna. Masih ada sesuatu yang harus Oppa urus,” tolak Yonghwa halus. Ia masih menunggu para pekerja selesai memasangkan taplak meja di ruangan itu. Sengaja ia mempersiapkannya jauh-jauh hari karena tidak ingin Joohyun semakin repot ketika ia pergi.

“Tapi Aleyna sudah mengantuk, Oppa. Aleyna bosan. Besok ‘kan kita mau jalan-jalan.”

“Aleyna tidur disana dulu, ya. Nanti ditemani Joohyun eonni,” Yonghwa menunjuk ke arah kursi panjang di sudut ruangan.

“Tidak mau! Pokoknya Aleyna mau pulang! Aleyna mau tidur di kamar!” Volume suara gadis kecil itu meninggi. Air matanya mulai mengalir. Ditariknya lengan kanan Yonghwa kuat-kuat, “Ayo Oppa kita pulang! Ayo, Oppa!”

Yonghwa melirik ke arah Joohyun, bingung harus berbuat apa. Menyadari arti tatapan Yonghwa, gadis itu pun berujar, “Pulanglah. Biar aku yang mengurus sisanya.”

“Tapi—“

“Aleyna benar. Besok ‘kan kalian mau pergi jauh. Lebih baik beristirahat di rumah.”

Yonghwa merasa tidak enak hati. Tentu saja ia tidak ingin meninggalkan Joohyun sendirian menunggui para pekerja itu. Namun tangisan Aleyna yang semakin menjadi-jadi juga membuat suasana tidak nyaman. “Janji padaku untuk pulang begitu para pekerja itu selesai.”

Joohyun mengangguk.

“Telepon aku begitu sampai di rumah, oke?” Suara Yonghwa kian mengecil karena tangannya terus ditarik Aleyna sehingga mau tidak mau ia pun menggerakkan tubuhnya ke pintu keluar.

“Baik, Yang Mulia,” gurau Joohyun. Ia melambaikan tangannya sebelum Yonghwa menghilang di balik pintu.

Diam-diam gadis itu menghela napas. Bagaimana pun juga ia harus menerima keadaan ini dengan lapang dada. Sedikit banyak ia bisa mengerti perasaan Aleyna dan ia berusaha untuk memakluminya.

***

 

“Kau masih tidak mau bicara padaku?”

Jonghyun membelokkan setirnya ke kiri. Dilajukannya Porsche hitam itu sedikit lebih lambat dari biasanya. Sesekali matanya melirik ke samping, ke arah Seungyeon yang sejak dijemput di rumahnya tadi hanya diam membisu. Sudah cukup lama mereka menjalin hubungan untuk Jonghyun tahu gadis itu sedang berada dalam mood yang tidak baik. Mungkin sejak semalam karena gadis itu sama sekali tidak membalas pesan ataupun menerima teleponnya.

“Seungyeon-ah?” Panggil Jonghyun lagi.

Seungyeon malah menghadapkan tubuhnya ke arah jendela, enggan menjawab panggilan Jonghyun. Terlalu banyak pikiran yang berseliweran di otaknya dan ia tidak ingin Jonghyun membuat kemungkinan-kemungkinan buruk dalam benaknya itu menjadi kenyataan. Seungyeon tidak mau bersikap egois seperti ini sebenarnya. Tapi wanita mana yang bisa bersikap biasa-biasa saja setelah mengetahui seseorang dari masa lalu kekasihnya tiba-tiba muncul kembali di saat hari pernikahan mereka tinggal menghitung jari?

“Baiklah kalau kau tidak mau bicara. Aku tidak akan memaksa,” Jonghyun akhirnya menyerah. Entah sudah berapa puluh kali ia menanyakan alasan gadis itu bersikap demikian—termasuk lewat pesan singkat yang ia kirimkan sejak semalam. Ia juga manusia yang bisa menentukan batas kesabaran, “Silakan nikmati kebisuanmu selama yang kau inginkan.”

“Bicara saja pada Yoona,” ujar Seungyeon ketus. Ia buru-buru menyalakan radio dan kembali menghadapkan tubuhnya ke arah jendela.

“Yoona?” Dahi Jonghyun berkerut. Pria itu berpikir keras, mengingat-ingat bagaimana Seungyeon bisa mengetahui nama mantan kekasihnya dan kenapa gadis itu harus marah karenanya. Ia pun langsung mematikan radio begitu menyadarinya, “Kita harus bicara.”

“Kalau kau mau bilang ‘ini tidak seperti yang kau pikiran’, yah… Aku sudah tahu. Aku hanya sedang kesal.”

“Kenyataannya ini memang tidak seperti yang kau pikirkan. Aku putus dengannya sudah lama, jeda setahun sebelum bertemu denganmu. Jadi—“

“Kenyataannya itu tidak membuat kalian menjadi orang asing,” potong Seungyeon. Gadis itu tersenyum sinis, “Harusnya aku tidak terkejut.”

Jonghyun menghela napas berat. Sikap dingin Seungyeon memang beralasan. Yoona menghubunginya lagi setelah sekian lama, setelah ia berpikir gadis itu benar-benar sudah melupakan eksistensinya di dunia. Namun ia sendiri juga terkejut. Bukan ia yang memulai dan ia masih bingung bagaimana harus bersikap. Rupanya Seungyeon mengetahui hal itu lebih dulu dari perkiraannya.

“Jadi kau lebih memilih terus diam dan tenggelam dalam prasangka dibanding mendengarkan cerita sebenarnya dariku?”

“Bisakah kau percepat mobilnya? Aku sudah telat.”

“Seungyeon-ah…”

Gadis itu mendengus. Ia sudah dewasa. Umurnya sudah cukup matang dan bahkan tak lama lagi akan menikah. Ia bisa mengira-ngira apa yang dibicarakan Yoona dan bagaimana reaksi Jonghyun. Ia kesal pada diri sendiri karena belum terbiasa pada hal-hal semacam itu.

“Aku ingin sendiri dulu,” ujar Seungyeon akhirnya. Tepat pada saat itu Jonghyun menepikan mobilnya di depan rumah sakit hewan tempatnya bekerja. Seungyeon langsung melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu.

“Besok aku akan berangkat ke Jepang,” kata-kata Jonghyun membuat gerakan gadis itu terhenti sesaat. Seungyeon mengerti maksud perkataan pria itu adalah ‘ayo kita selesaikan semua kesalahpahaman ini sebelum aku pergi’. Namun gadis itu merasa enggan. Ia butuh waktu untuk berpikir jernih.

“Semoga perjalananmu menyenangkan,” Seungyeon menggumam, “Kabari aku kalau kau berubah pikiran tentang pernikahan ini.”

Jonghyun terbelalak, “Apa mak—“ kata-katanya terputus karena Seungyeon sudah lebih dulu menutup pintu.

Jonghyun mendengus. Ingin rasanya ia memaksa gadis itu untuk mendengarkan ceritanya, namun hal itu justru akan membuat keadaan semakin runyam dengan emosi Seungyeon yang masih labil. Mungkin gadis itu punya cara tersendiri untuk meredakan amarahnya. Dan ia hanya bisa menunggu.

Jonghyun menjalankan mobilnya kembali. Dipukulnya setir di hadapannya frustasi. Haruskah di saat seperti ini? Di saat ia harus menjalankan tugas dinas ke luar negeri dan di saat hari pernikahan semakin dekat?

“Im Yoona, kenapa kau harus datang?”

 

***

 

“Bagaimana, Tuan? Apa sudah memutuskan?”

Minhyuk melirik pramuniaga di hadapannya sekilas. Pandangannya kembali beralih ke meja kaca yang membatasi dirinya dan pramuniaga tersebut. Diam-diam pria itu menghela napas. Jujur, ia sama sekali belum bisa menentukan pilihan. Memang ia sering membeli aksesori, tapi hanya sebatas aksesori pria seperti jam tangan dan kacamata. Kalaupun membeli aksesori wanita, ia hanya akan membelinya jika wanita itu yang memilih sendiri. Dihadapkan pada deretan cincin berlian satu etalase penuh membuatnya pusing tujuh keliling.

“Bisakah kau beri waktu sebentar lagi? Aku benar-benar bingung,” Minhyuk melipat tangannya di depan dada, mengamati barisan cincin itu sekali lagi. Harga berapapun tidak jadi masalah, asalkan modelnya sesuai. Masalahnya, ia tidak tahu model apa yang sesuai dengan keinginan Soojung, kekasihnya.

“Kira-kira pasangan Anda orang yang seperti apa? Model cincin bisa disesuaikan dengan karakter pasangan,” pramuniaga itu mencoba membantu. Ia sudah mulai lelah menunjukkan berbagai macam model cincin pada pelanggannya yang satu ini dan sudah hampir dua jam berada di toko itu, Minhyuk masih belum bisa menentukan pilihan.

“Dia suka model yang simpel, meskipun sikapnya sedikit complicated,” jawab Minhyuk jujur, meskipun ia tidak yakin pramuniaga itu bisa memberikan model cincin yang tepat. Selera Soojung bisa terbilang sedikit unik dan seringkali bertolakbelakang dengannya. Ia tidak ingin terjadi perang dunia ke-3 hanya karena model cincin yang kurang sesuai.

Cincin yang sedang dipilih Minhyuk kali ini bukanlah cincin biasa, melainkan cincin pernikahan yang akan menjadi lambang kesetiaan dan cintanya sehidup semati, yang hanya bisa dibeli sekali seumur hidup. Dan absennya Soojung dari agenda semacam ini cukup menguras waktu, tenaga, serta pikirannya.

Minhyuk memberi kode pada pramuniaga sebelum ia berjalan menjauh dan meraih ponselnya. Ia coba menghubungi gadis itu sekali lagi setelah sebelumnya panggilannya diabaikan. Soojung terlalu sibuk mengurusi butik dan peragaan busana di luar negeri dan itu bukan lagi hal baru baginya.

“Kirimkan aku gambar model cincin yang kau mau. Nanti akan kupertimbangkan,” ujarnya tanpa perlu berbasa-basi. Ia dan Soojung sama-sama sibuk dan mereka cukup mengerti akan hal itu.

“Kau tahu, Minhyuk…” Soojung terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Setelah kupikir-pikir, Swarovski tidak terlalu cocok dengan seleraku. Bagaimana kalau Tiffany & Co.?”

“Apa?!” Minhyuk berusaha menahan amarahnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada pramuniaga ataupun pelanggan lain dalam toko itu yang memperhatikannya, “Kau tidak tahu sudah berapa lama aku berada disini? Memperhatikan deretan cincin tanpa memilih satu pun seperti orang bodoh.”

“Maaf…” Soojung terdengar menyesal, “Aku sangat sibuk jadi—“

“Aku tahu kau sibuk,” potong Minhyuk. Ia menghela napas berat, “Dengarkan aku, Soojung. Aku tidak bisa melakukan semua ini seorang diri. Baju pengantin, dekorasi, desain undangan, cincin, bahkan souvenir semua aku yang menentukan. Ini acara sakral kita berdua dan aku ingin kau ikut andil didalamnya.”

“Maafkan aku, aku—“

“Begini saja, kau yang membelinya sendiri, bagaimana? Kau bisa memilih model yang kau suka. Aku tidak akan terlalu mempermasalahkan.”

“Aku mau saja, Minhyuk. Tapi jadwalku benar-benar sudah padat selama aku di Jepang.”

“Kalau begitu akan kutunggu.”

“Eh?”

“Aku akan menunggu sampai kau punya waktu untuk memikirkan semua keperluan pernikahan kita. Kita tentukan bersama-sama. Dan sampai saat itu tiba, jangan mencoba menitipkan apapun padaku.”

“Tapi, Minhyuk, waktu kita tinggal sebentar lagi.”

“Aku tahu kau sibuk, lalu bagaimana denganku? Kalau kau tidak peduli, kenapa aku harus?” Minhyuk merendahkan volume suaranya, “Aku menyayangimu, Soojung. Aku ingin semua ini dihasilkan dari campur tangan kedua belah pihak. Aku tidak keberatan hari pernikahan kita diundur asalkan kita bisa menyiapkannya bersama-sama, kau mengerti?”

Hening. Minhyuk tahu gadis itu sedang mencerna kata-katanya. Mungkin Soojung menyesal dan hendak berpikir ulang. Ia bersedia menunggu.

“Baiklah,” jawab gadis itu akhirnya, “Istirahatlah. Jangan sampai sakit.”

“Kau juga,” Minhyuk mengakhiri panggilannya.

“Bagaimana, Tuan? Apa sudah—“

“Kurasa kami butuh waktu untuk berpikir,” potong Minhyuk begitu pramuniaga yang sejak tadi melayaninya kembali bertanya, “Maaf sudah merepotkan,” pria itu pun melangkahkan kakinya keluar toko.

Entah kenapa ada yang mengganjal. Mungkin kata-katanya tadi telah melukai perasaan Soojung. Terdengar sedikit egois, memang, namun bagaimana pun juga itu semua demi kebaikan mereka berdua. Ia tidak ingin Soojung kecewa pada akhirnya. Setidaknya gadis itu harus belajar meluangkan waktu untuk kepentingan mereka berdua.

Cukup lama Minhyuk berpikir hingga akhirnya ia memutuskan untuk meraih ponselnya lagi, menekan beberapa tombol dan menempelkannya di telinga. Ragu-ragu ia berkata ketika panggilannya tersambung.

“Maaf Hyung, tapi bisakah aku mengambil cuti mulai besok? Bukan, bukan cuti menikah dan bulan madu. Kurasa… aku harus pergi ke Jepang.”

 

***

 

Seolhyun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kebimbangan yang ia rasakan membuat kedua tangannya meremas kuat gaun putih selutut yang ia kenakan. Kepalanya tertunduk ke arah sepiring lasagna yang sejak tadi sama sekali belum ia sentuh. Berkali-kali ia menelan ludah, mencoba menyusun rangkaian kata yang berseliweran di benaknya dan entah kapan akan ia utarakan.

“Ada apa? Kau tidak suka makanannya?” tanya Jungshin, yang sukses membuat tubuhnya tersentak karena terkejut. Pria jangkung yang duduk di hadapannya itu menghentikan kegiatan makannya dan menatap Seolhyun cemas, “Atau kau sakit?”

Seolhyun menggeleng kuat. Ia tidak mampu berkata-kata karena rasa gugupnya. Bukan karena keberadaan Jungshin, tentu saja, karena kegiatan makan malam bersama sudah rutin mereka lakukan minimal dua kali seminggu bahkan sebelum mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih tiga tahun yang lalu. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa menentukan status hubungan mereka di masa depan, yang Seolhyun yakin hari inilah saat yang tepat untuk menanyakannya.

Jungshin terdiam, menunggu jawaban Seolhyun. Dari gelagatnya ia tahu ada sesuatu yang sedang gadis itu pikirkan.

“Atau ada sesuatu di wajahku?” Jungshin sadar sejak tadi gadis itu terus meliriknya. Hanya saja ia pura-pura tidak tahu.

“Oppa, ada sesuatu yang mau kubicarakan…” ujar Seolhyun ragu-ragu, “Ini serius, jadi jangan tertawa.”

Jungshin tersenyum. Sebegitu jahilkah dirinya sehingga gadisnya ini mengira semua yang keluar dari mulutnya hanya dianggap lelucon?

Seolhyun menatap Jungshin lekat. Dari reaksinya, tampaknya pria itu sedang berada dalam mood yang baik saat ini. Ia pun menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.

“Oppa, ayahku menanyakan kelanjutan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius. Kau tahu… maksudnya… menikah…”

Jika saja Jungshin sedang minum, mungkin pria itu akan menyemburkan airnya dari mulut sekarang. Ia benar-benar tidak percaya dengan topik pilihan Seolhyun. Tidak percaya jika kata ‘menikah’ akan terselip di kamus hidupnya saat ini. Seolhyun yang selama ini ia kenal adalah gadis yang lugu dan ceria, yang masih menikmati masa mudanya sebagai fresh graduate dan sedang rajin-rajinnya menyiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja.

“Apa yang ayahmu katakan?” tanya Jungshin hati-hati. Diam-diam berharap Seolhyun tidak langsung mempertanyakan kapan kira-kira mereka akan menikah karena jujur saja, Jungshin sama sekali belum terpikir kesana.

“Ayahku sudah semakin tua, jadi selalu berpikir tentang masa depan anak-anaknya. Apakah kami sudah memilih pasangan yang baik? Apakah nanti kami akan hidup bahagia? Bagaimana wajah cucu-cucunya kelak? Klise dan membebani, memang, tapi sedikit banyak aku bisa mengerti perasaannya sebagai ayah dari dua anak perempuan,” Seolhyun tersenyum samar, “Pertanyaanku bukan bermaksud untuk memaksa, Oppa. Aku hanya ingin meminta pendapatmu saja.”

Jungshin meletakkan garpunya perlahan, “Seolhyun-ah, aku… tidak menyangka kau akan mempertanyakan hal ini lebih cepat dari yang kubayangkan,” Jungshin terdiam sejenak, mencoba menyusun kata-kata yang tepat agar tidak melukai gadis itu, “Sebagai laki-laki, banyak hal yang harus dipertimbangkan.”

“Begitu, ya? Jadi kau belum bisa menjawabnya,” Seolhyun buru-buru mengambil keputusan untuk menutupi rasa kecewanya. Ia tidak bisa memaksa, namun rasa kecewa pastilah ada.

Jungshin, yang menyadari suara gadis itu bergetar, menggenggam sebelah tangannya erat, “Maafkan aku, Seolhyun-ah…”

“Tidak perlu minta maaf, Oppa. Aku bisa mengerti,” gadis itu menggerak-gerakkan kedua tangannya di udara, yang entah disadari atau tidak justru melepaskan genggaman tangan Jungshin. Entah kenapa matanya terasa memanas dan tenggorokannya terasa tercekat. Seolhyun buru-buru meneguk minumannya dan berdiri dari tempat duduknya, “Aku mau ke toilet dulu.”

Jungshin memandangi punggung Seolhyun yang menjauh dengan sedih. Melihat gadis itu kecewa benar-benar membuat hatinya sakit. Bukannya Jungshin tidak bersedia, hanya saja ia butuh waktu. Ia tidak ingin bertindak gegabah yang justru akan menjerumuskan gadis itu di kemudian hari.

Sepanjang perjalanan pulang kedua orang itu hanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Sengaja Seolhyun mengeraskan volume suara radio untuk mengalihkan perhatian, namun sang music director seolah berkonspirasi dengan situasi memutar lagu-lagu seputar jodoh dan pernikahan. Gadis itu langsung mematikan radio begitu mendengarnya. Dan keadaan itu justru membuat hawa di sekitar mereka terasa semakin canggung.

“Terima kasih untuk hari ini. Mau mampir?” tanya Seolhyun begitu mereka sampai di rumahnya. Seolhyun selalu menanyakan hal tersebut tiap kali Jungshin mengantarnya, namun hanya untuk sekedar basa-basi. Namun bagi Jungshin kali ini nada suaranya terdengar lain. Terdengar seperti sedang berharap.

“Sudah malam, lain kali saja,” tolak Jungshin halus. Pria itu mencoba tersenyum, namun Seolhyun hanya membalasnya dengan anggukan singkat.

“Hati-hati di jalan,” tanpa melambaikan tangan—seperti yang biasa dilakukannya—gadis itu berbalik dan masuk ke dalam rumah.

Jungshin mendengus panjang begitu Seolhyun menghilang di balik pagar. Benar-benar tidak pernah terlintas di benaknya ia akan dipusingkan oleh hal semacam ini di usia yang masih sangat muda.

Seolah teringat sesuatu, pria itu pun lantas meraih ponselnya dan menekan beberapa tombol. Rasanya ia tahu dengan siapa ia akan berkonsultasi.

Hyung? Kau masih bekerja disana, ‘kan? Sepertinya aku perlu bertemu denganmu.”

***

 

Setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan, Yonghwa dan Aleyna akhirnya tiba di Tokyo. Gadis kecil itu terlihat sangat antusias. Matanya langsung diedarkan ke seluruh penjuru bandara, menunjuk sana-sini dan menarik tangan Yonghwa untuk pergi ke tempat yang sesuai dengan keinginannya. Yonghwa hampir kewalahan karena beberapa kali gadis kecil itu berlari tanpa sepengetahuannya. Meskipun bukan adik kandung, bagaimana pun juga Aleyna adalah amanah yang dititipkan paman dan bibinya dan ia tidak ingin gadis itu berada di luar pengawasannya.

“Aleyna harus hati-hati, ya. Jangan jauh-jauh dari Oppa dan jangan lepaskan pegangan tangan Aleyna,” pesan Yonghwa sambil membantu gadis kecil itu memakai ranselnya.

Aleyna mengangguk patuh. Wajahnya tampak berseri-seri karena keinginannya untuk pergi ke Jepang bersama Yonghwa akhirnya terpenuhi.

Yonghwa membalas senyum Aleyna. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Joohyun; sekedar memberi kabar jika mereka sudah tiba di Tokyo dengan selamat.

“Bagaimana pun juga jangan alihkan perhatianmu dari Aleyna,” pesan Joohyun.

Yonghwa mengangguk mengiyakan, “Telepon aku kalau terjadi sesu—“ kata-katanya terputus karena tiba-tiba ponselnya direbut oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Aleyna. Posisi Yonghwa yang sedang duduk membuat tingginya sejajar dengan gadis itu sehingga gadis itu dapat dengan mudah mengambil ponsel dalam genggamannya.

“Eonni, aku sedang jalan-jalan dengan Oppa. Eonni jangan telepon terus,” ujar Aleyna ketus. Ia lalu memutuskan sambungannya dengan Joohyun.

Yonghwa terkejut dengan sikap Aleyna, “Aleyna tidak boleh begitu. Oppa ‘kan sedang bicara dengan Joohyun eonni.”

“Aleyna tidak suka Oppa bicara dengan Joohyun eonni terus!”

“Aleyna,” Yonghwa memegang kedua lengan gadis kecil itu, menatapnya tepat di manik mata, “Sebentar lagi Oppa akan menikah dengan Joohyun eonni, jadi sebentar lagi Joohyun eonni akan menjadi bagian dari keluarga besar kita. Aleyna tidak boleh begitu dengan keluarga.”

Kedua alis Aleyna bertaut. Ia tidak begitu peduli dengan pernikahan dan soal Joohyun yang juga akan menjadi kakak sepupunya kelak. Yang jelas ia tidak suka jika perhatian Yonghwa padanya berkurang karena harus berbagi dengan Joohyun. Aleyna ingin Yonghwa terus memperhatikannya seperti dulu, karena ia hidup jauh dari orang tua dan hampir tidak pernah merasakan bagaimana mendapatkan kasih sayang orang tua. Yonghwa baginya bukan hanya sekedar kakak yang bisa ia banggakan, namun juga pengganti peran kedua orang tuanya.

Karena tidak terima dengan penjelasan Yonghwa, Aleyna pun melepaskan pegangan tangan Yonghwa dan berlari sejauh mungkin. Yonghwa yang terkejut buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan ikut berlari menyusul gadis kecil itu. Namun koper besar yang dibawanya ternyata cukup menyulitkan langkahnya. Beberapa kali ia menyenggol orang-orang yang berlalu-lalang sehingga langkahnya semakin lambat karena harus meminta maaf.

“Aleyna! Aleyna!” panggil Yonghwa. Aleyna yang berada beberapa meter di depannya sama sekali tidak menyahut maupun menghentikan larinya. Yonghwa heran bagaimana bisa anak kecil berlari secepat itu.

Aleyna terus berlari menghindari kejaran Yonghwa. Namun karena kurang memperhatikan jalan, ia tidak melihat seorang pria yang melintas di depannya sehingga menabrak kakinya dan terjatuh. Tubrukannya cukup keras, membuat wajah dan siku Aleyna terasa nyeri dan akhirnya ia pun menangis.

“Maaf… maafkan aku…” pria jangkung—yang ternyata adalah Jungshin—yang ditabrak Aleyna menghentikan langkahnya dan berjongkok di hadapan gadis itu. Ditelitinya setiap inchi wajah serta siku dan lutut Aleyna dengan panik, “Mana yang sakit? Ini? Ini?”

Karena Jungshin bertanya dengan bahasa Jepang, Aleyna tidak mengerti dan terus menangis. Jungshin menjadi semakin panik. Ditengoknya kiri dan kanan, khawatir orang-orang akan memperhatikan mereka dan mengira ia berbuat yang tidak-tidak. Ia terus berusaha meredakan tangis Aleyna sambil meminta maaf.

Di tengah tangisannya, Aleyna melirik ke arah Jungshin. Selama sepersekian detik ia merasa takjub karena ternyata pria yang ditabraknya memiliki wajah yang tampan, tidak kalah tampan dengan Yonghwa. Tanpa disadari tangis gadis itu pun perlahan-lahan mereda.

“Sikuku sakit, Oppa…” rengeknya manja sambil memperlihatkan sikunya.

Jungshin mengerjapkan matanya, “Kau orang Korea?” ia pun ikut memperhatikan siku Aleyna. Tidak berdarah, namun terdapat ruam merah yang cukup kentara, “Kita ke klinik saja, ya? Dimana orang tuamu?”

“Aleyna!” Akhirnya Yonghwa berhasil menyusul gadis kecil itu. Napasnya terengah-engah karena lelah mendorong koper yang cukup berat. Ketika melihat mata Aleyna yang sembab, Yonghwa langsung bisa mengira ada sesuatu yang terjadi, “Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Tanpa sengaja aku menabraknya tadi. Aku benar-benar minta maaf,” jelas Jungshin pada Yonghwa. Rupanya dua orang di hadapannya ini adalah orang Korea sama seperti dirinya, “Sebaiknya kita bawa ke klinik saja. Sikunya terluka.”

Yonghwa mengamati siku kiri Aleyna yang lebam, “Tidak perlu. Ini tidak terlalu parah. Cukup diberi salep saja.”

“Kalau begitu biar aku yang belikan. Anggap saja sebagai permintaan maaf,” Jungshin menawarkan diri untuk membeli obat, “Tunggu disini sebentar.”

Sepeninggal Jungshin, Yonghwa menatap Aleyna cemas, “Oppa ‘kan sudah bilang untuk berhati-hati. Kenapa Aleyna tidak mau mendengarkan Oppa?”

“Maaf, Oppa…” gadis kecil itu tertunduk lesu. Yonghwa mengusap puncak kepala Aleyna dan menghapus air mata untuk menenangkannya.

Tak lama kemudian Jungshin kembali. Ia menyerahkan kantong kecil berisi salep pada Yonghwa. Yonghwa berterima kasih, sekaligus meminta maaf karena telah merepotkan.

“Ah, ini bukan apa-apa,” Jungshin tersenyum. Ia menepuk pelan puncak kepala Aleyna, “Lain kali hati-hati, ya.”

Aleyna mengangguk. Gadis kecil itu membungkukkan badannya sebelum Jungshin pergi, “Terima kasih, Oppa.”

 

***

 

“Jangan tertawa. Ini tidak lucu,” Jungshin menatap kakaknya, Lee Yongshin, dengan galak. Setibanya di Tokyo, ia langsung menemui pria itu di studionya dan bercerita panjang lebar mengenai percakapannya dengan Seolhyun. Namun bukannya memberikan saran, pria yang umurnya lebih tua dua tahun darinya itu justru menertawakannya.

“Habis kalian berdua itu lucu,” Yongshin meletakkan kameranya. Ia melangkah menuju pantry dan menuangkan teh yang kebetulan baru saja diseduhnya ke dalam dua buah cangkir, “Kalian masih sering merasa canggung, tapi tiba-tiba malah membicarakan pernikahan.”

Jungshin mengangguk-angguk, membenarkan perkataan Yongshin. Ia akui memang terkadang dirinya dan Seolhyun sering kesulitan mencari topik obrolan. Mungkin karena dasar sifat keduanya yang sama-sama pendiam. Ia juga merasa Seolhyun seringkali terlihat kurang nyaman jika bersamanya dan masih bersikap kurang terbuka. Tiba-tiba membicarakan soal pernikahan di tengah hubungan yang seperti itu tentu akan terdengar sangat aneh.

Yongshin meletakkan kedua cangkir berisi teh yang dibawanya ke meja di hadapan Jungshin, kemudian duduk di seberang adik semata wayangnya itu, “Pastikan dulu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padanya, kemana arah hubungan kalian. Apa kau mengencaninya hanya karena ingin bersenang-senang atau memang kau serius menjalankannya?” Yongshin menyesap tehnya, “Kalau memang kau serius, katakan saja padanya apa yang membuatmu belum juga menginginkan hubungan kalian berlanjut ke jenjang pernikahan. Kurasa Seolhyun dan keluarganya akan mengerti jika itu menyangkut masalah ekonomi. Tapi yang kutahu kau tidak punya masalah dengan itu. Kau sudah punya tabungan dan penghasilan sendiri. Lalu apa yang kau tunggu? Bagaimana kalau… katakanlah skenario terburuknya… orangtuanya keburu menjodohkannya dengan orang lain?”

Jungshin terdiam mendengar penuturan Yongshin. Apa yang ia tunggu? Ia juga tidak tahu pasti. Ia takut dirinya ternyata bukanlah sosok yang Seolhyun harapkan dan tidak bisa menjadi menantu yang diinginkan kedua orang tua gadis itu.

“Pikirkan dulu baik-baik, jangan terburu-buru mengambil keputusan,” saran Yongshin, “Tinggallah sedikit lebih lama disini. Sekalian refreshing.”

Lagi-lagi Jungshin mengangguk. Mungkin ia akan setuju dengan saran yang terakhir. Ia menghirup napas kuat-kuat dan menghembuskannya.

“Kenapa studiomu sepi sekali? Kemana orang-orang?” tanyanya setelah memperhatikan sekeliling.

“Sudah pulang,” jawab Yongshin, “Tadi memang ada pemotretan, tapi sudah selesai karena sengaja dipercepat. Merk Diamonds yang sedang naik daun itu, kau tahu? Mereka sedang mempersiapkan peluncuran koleksi musim gugur.” Yongshin memang sudah cukup lama bekerja sebagai fotografer majalah fashion. Karya-karyanya cukup membanggakan sehingga sering diajak bekerja sama dengan beberapa brand ternama. Ia bahkan sudah menerbitkan beberapa buku berisi kumpulan foto yang dikumpulkan selama perjalanannya ke berbagai negara.

“Maksudmu clothing line milik Jung Soojung itu?”

Yongshin mengangguk, “Katanya dia harus segera kembali ke Korea untuk mengurus pernikahannya, jadi sengaja memangkas jadwal kegiatannya di Jepang.”

“Dia mau menikah?” Jungshin terkejut, “Ck! Padahal aku sempat mengidolakannya.”

Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka. Baik Jungshin maupun Yongshin sama-sama menoleh. Dari pintu depan masuklah seorang pria dengan gaya berpakaian layaknya eksekutif muda. Pria itu memandang ke sekeliling studio yang sepi sebelum mengedikkan kepalanya ke arah Jungshin dan Yongshin.

“Maaf, apa aku bisa bertemu dengan Jung Soojung?” tanyanya dengan bahasa Jepang.

“Jung Soojung?”

“Katanya dia punya jadwal pemotretan disini hari ini. Aku datang untuk menemuinya.”

“Pemotretannya sudah selesai sejak dua jam yang lalu,” jelas Yongshin, “Dia bilang dia akan pulang ke Korea untuk menyiapkan pernikahannya. Memang tidak banyak orang yang tahu, karena dia takut orang-orang akan mengacaukan jadwalnya lagi.”

Pria yang baru datang itu terbelalak, “Kembali… ke Korea?”

“Maaf, kalau boleh tahu Anda siapa?”

Jungshin mengamati pria itu dari atas ke bawah. Dari logat dan cara bicaranya, sepertinya pria itu bukan orang Jepang. Untuk memastikannya, ia pun mencoba berbicara dengan menggunakan bahasa Korea, “Jangan-jangan… kau calon suaminya?”

 

***

 

Minhyuk menatap kosong etalase toko di hadapannya. Sesekali ia membalikkan badan, berpura-pura batuk atau sedang menelepon demi menghindari pandangan pramuniaga yang keluar masuk untuk menyambut dan mengantar kepergian pelanggan. Ia tidak ingin dikenali sebagai ‘calon suami pemilik toko yang bahkan tidak tahu keberadaan calon istrinya sekarang’.

Toko di hadapan Minhyuk saat ini adalah Diamonds, salah satu cabang butik milik Soojung di Tokyo. Entah kenapa kakinya melangkah ke tempat itu setelah tahu bahwa Soojung, alasan utamanya pergi ke Jepang hari itu, justru pulang ke Korea di hari yang sama. Mungkin salahnya karena tidak memastikan jadwal Soojung ke orangnya langsung. Namun hal itu ia lakukan semata-mata untuk memberikan gadis itu sedikit kejutan. Mungkin melihat kedatangannya yang tiba-tiba di tengah jadwalnya yang padat bisa membuat gadis itu merasa senang.

Minhyuk melirik ponselnya sekali lagi. Ia tidak bisa langsung pulang ke Seoul karena semua tiket pesawat menuju Bandara Gimpo full book hingga malam hari. Mungkin ia baru bisa pulang besok atau lusa. Soojung juga masih belum bisa dihubungi. Dilihat dari waktu keberangkatannya, pesawat yang ditumpanginya kemungkinan besar belum mendarat di Seoul.

Minhyuk mengalihkan pandangannya ke arah papan besar yang diletakkan persis di depan toko. Karena paras yang cantik dan badan yang bagus, Soojung seringkali didapuk menjadi model untuk clothing line miliknya sendiri. Saat masih di SMA dulu gadis itu memang sering menjadi model majalah remaja, jadi sudah cukup memiliki pengalaman. Dan respon pelanggan terhadap hal itu juga cukup memuaskan.

“Cantik sekali…” tiba-tiba terdengar suara.

Minhyuk menoleh. Dilihatnya seorang gadis kecil sudah berdiri di sampingnya sambil memandangi papan yang sama dengan pria itu. Untuk sesaat Minhyuk terkejut karena gadis kecil itu seolah sedang menyuarakan isi hatinya.

“Aku ingin punya baju seperti itu,” gadis kecil itu menunjuk ke arah gaun yang dikenakan Soojung dalam poster. Minhyuk tersenyum. Rupanya gadis kecil itu memuji pakaiannya, bukan wajah seperti dirinya.

Gadis itu berbicara bahasa Korea, maka Minhyuk langsung bisa menyimpulkan jika ia juga orang Korea sama seperti dirinya. Minhyuk membungkuk agar tingginya sejajar dengan gadis berambut panjang kecoklatan itu, “Kau mau masuk?”

Gadis kecil yang ternyata adalah Aleyna itu menggeleng, “Oppa bilang Aleyna masih kecil, tidak bisa pakai baju seperti itu.”

Minhyuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling, “Oppa?” entah siapa Oppa yang dimaksud anak itu. Tidak ada siapapun yang ada di sekitar mereka saat ini. Ia bahkan tidak tahu kapan anak itu datang. Mungkinkah dia tersesat?

“Kenapa Oppa melihat Eonni itu terus? Oppa suka pada Eonni?” tanya Aleyna penasaran.

Minhyuk tertawa dan mengangguk. Ternyata sedari tadi gadis kecil itu memperhatikannya.

“Oppa mau beli kado, ya?”

“Hmmm…” Minhyuk melirik toko perhiasan berjarak hanya beberapa blok dari sana. Bicara soal kado, mungkin ada baiknya jika ia membeli satu untuk Soojung sebagai permintaan maaf, “Hei, Oppa boleh minta tolong?”

“Minta tolong?”

Minhyuk mengajak Aleyna pergi ke toko perhiasan itu. Dipandanginya etalase toko yang memajang kalung berbagai bentuk dan ukuran, “Kalau kau diberi kalung, mau yang modelnya seperti apa?”

Aleyna memasang pose seolah sedang berpikir. Ia lalu menunjuk sebuah liontin berbentuk berlian, “Sepertinya yang itu bagus.”

Minhyuk memperhatikan liontin yang ditunjuk Aleyna. Sepertinya gadis kecil itu memiliki selera yang bagus.

“Tapi cincin yang itu juga bagus,” Aleyna kembali menunjuk etalase di hadapannya.

Minhyuk terdiam. Ia jadi ingat soal cincin pernikahannya yang masih belum dibeli juga. Kebetulan toko di hadapannya itu adalah Tiffany & Co., merk perhiasan yang diinginkan Soojung. Entah kebetulan atau takdir, Minhyuk merasa gadis kecil itu memiliki sedikit kemiripan dengan Soojung.

“Baiklah, untuk cincin akan kupertimbangkan,” Minhyuk memutuskan memotret model cincin yang ditunjuk Aleyna untuk ditunjukkan pada Soojung nanti. Siapa tahu gadis itu menyetujuinya. Ia hendak mengucapkan terima kasih, namun Aleyna sudah lebih dulu berjalan meninggalkannya, “Hei, kau mau kemana?”

“Aku mau bertemu Oppa. Oppa pasti sudah menungguku,” jawab Aleyna, kemudian melanjutkan langkahnya. Minhyuk memperhatikan punggung gadis kecil itu yang kian menjauh. Nampaknya anak itu tidak tersesat, hanya sedang berjalan-jalan sambil menunggu kakak laki-lakinya. Ia pun mengedikkan bahunya, membiarkan gadis itu pergi.

 

***

 

“Aku tidak mengerti kenapa orang-orang suka membeli baju di Diamonds. Menurutku modelnya biasa saja, bahkan terlalu simpel untuk selera orang-orang Jepang.”

“Mungkin karena pemiliknya Jung Soojung. Mereka pintar sekali mengekspos CEO mereka yang cantik seperti selebriti itu. Kepribadian dan gaya busananya memang keren. Wajar kalau banyak orang yang ingin bergaya seperti dirinya.”

“Tapi menurut yang kudengar, aslinya Jung Soojung itu ambisius dan angkuh. Tidak sedikit karyawan yang tidak suka dengan sikapnya.”

“Benarkah? Berarti senyum yang selalu ditunjukkannya di depan publik hanya topeng saja?”

Minhyuk mendengus. Kedua tangannya terkepal erat di atas meja. Diam-diam ia menyesali diri sendiri yang salah memilih tempat duduk di kedai kopi itu sehingga terpaksa harus mendengarkan celotehan dua wanita muda yang sedang bergosip tidak jauh di belakangnya. Selalu ada pro dan kontra untuk orang yang dikenal masyarakat luas seperti Soojung, memang, namun mendengar orang lain membicarakan kekasihnya terang-terangan seperti itu tetap saja membuat telinganya panas.

“Tapi aku kasihan, katanya dia terpaksa harus membatalkan beberapa kegiatannya di Tokyo karena harus mengurus pernikahannya di Korea,” salah satu dari kedua wanita yang bergosip tadi melanjutkan kata-katanya, “Temanku yang bekerja dengannya pernah bilang kalau Soojung merasa sangat bersalah pada calon suaminya karena mengurus pernikahan sendirian.”

“Iya juga ya, karena usahanya sedang naik daun, dia pasti tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal lain.”

Kata-kata itu membuat amarah Minhyuk yang mulai muncul seketika mereda. Benarkah Soojung berkata seperti itu? Ia terkejut karena selama ini mengira gadis itu selalu menomorsatukan pekerjaan. Diam-diam ia merutuk diri sendiri yang tidak juga menyadarinya. Bukankah dengan kepulangan Soojung ke Korea sudah menunjukkan semuanya?

“Bagaimana rasanya mendengar calon istrimu dibicarakan di tempat umum?” tiba-tiba seseorang berujar.

Minhyuk mendongak. Dilihatnya seorang pria—yang dari gaya berpakaiannya terlihat seperti karyawan kantoran—sudah berdiri di samping mejanya sambil tersenyum jahil. Pria itu mendudukkan dirinya di hadapan Minhyuk dan menyeruput kopi yang dibawanya.

Minhyuk mengernyitkan dahi. Ia tidak tahu siapa pria di hadapannya itu dan bagaimana pria itu bisa mengenalnya. Seingatnya ia sama sekali tidak punya janji dengan siapapun di Jepang dan sikap bersahabat yang ditunjukkan pria itu semakin membuatnya bingung.

Menyadari arti tatapan Minhyuk, pria itu pun mengenalkan diri, “Aku Lee Jonghyun. Pacarku Gong Seungyeon, dokter hewan yang sering kau kunjungi tiap kali memeriksa kesehatan dua kucingmu, ingat?”

“Ah!” Minhyuk menjentikkan jarinya. Tentu saja ia ingat Gong Seungyeon, dokter hewan langganannya.

“Tapi bagaimana kau bisa tahu—“

“Seungyeon adalah penggemar berat karya-karya Jung Soojung. Kau pernah mengajaknya ke klinik, ‘kan? Aku ingat kalian berdua pernah berfoto dengannya.”

Minhyuk mengangguk-angguk. Dunia memang sempit.

“Biasanya aku tidak mudah mengenali wajah orang. Tapi begitu melihat ekspresimu dan mendengar gosip ibu-ibu itu, aku langsung ingat,” Jonghyun mengedikkan dagunya ke arah dua wanita penggosip yang duduk di belakang mereka, “Jangan dipikirkan. Itulah resiko orang terkenal.”

Minhyuk hanya tersenyum. Sebenarnya ia tidak peduli pada orang-orang itu. Ia merasa bersalah pada Soojung karena selama ini orang yang paling disayanginya justru telah berburuk sangka padanya.

 

***

 

Yonghwa mempercepat larinya. Dipindainya setiap toko yang berjejer di kiri dan kanan jalan yang dilaluinya dengan panik. Bagaimana tidak? Baru beberapa saat yang lalu ia berjalan santai menyusuri deretan toko di Shibuya bersama Aleyna dan gadis itu sudah lenyap ketika ia lengah sedikit saja.

Pria itu berlari menerobos kerumunan orang yang berlalu-lalang, tidak peduli sudah berapa banyak orang yang disenggol dan ditabraknya. Yang dipikirkannya sekarang hanyalah Aleyna. Entah kemana gadis itu pergi. Bagaimana jika gadis itu diculik atau yang lebih menakutkan… dibunuh?

Yonghwa menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak boleh membiarkan pikiran-pikiran negatif semacam itu terus menggerayangi otaknya. Ia harus tetap fokus mencari Aleyna. Dan jika gadis itu tidak juga ditemukan hingga ujung jalan, ia akan segera ke kantor polisi dan melaporkannya sebagai kasus orang hilang.

Sudah hampir satu jam Yonghwa mencari, gadis itu tidak juga ditemukan. Ia sudah bertanya pada orang-orang yang lewat dan beberapa toko di sekitar, namun hasilnya nihil. Ia mulai putus asa. Apa yang harus ia katakan pada paman dan bibinya jika mengetahui hal ini? Bisa-bisa ia dipecat sebagai keponakan.

Akhirnya Yonghwa memutuskan untuk pergi ke kantor polisi terdekat dan meminta bantuan. Tepat ketika ia hendak menghentikan taksi di pinggir jalan, sesosok pria yang baru keluar dari mobil yang terparkir tidak jauh darinya menarik perhatiannya. Yonghwa mengingat-ingat. Rasanya ia pernah bertemu dengan pria itu di suatu tempat.

“Permisi, maaf mengganggu,” Yonghwa menghampiri pria jangkung itu dan menahan langkahnya, “Bukankah kau orang yang ditabrak Aleyna di bandara?”

Pria itu menoleh, “Aleyna?”

“Gadis kecil itu. Umur tujuh tahun, berambut panjang, memakai ransel, dan sikunya lebam,” Yonghwa mencoba mendekripsikan Aleyna, “Kau membelikan salep untuknya waktu itu.”

“Oh! Kau!” pria itu baru ingat, “Tidak kusangka kita bertemu disini.”

“Senang bertemu denganmu. Aku Jung Yonghwa,” balas Yonghwa terburu-buru. Ia tidak punya waktu untuk berbasa-basi lebih lanjut, “Dengar, aku butuh bantuanmu. Adik sepupuku yang bernama Aleyna itu hilang. Kami sedang berjalan-jalan dan saat kutengok dia sudah pergi entah kemana. Bisakah aku minta bantuanmu? Kau pernah melihat sosoknya, jadi tidak akan terlalu sulit.”

“Hilang?!” pria jangkung itu terkejut mendengar penuturan Yonghwa. Naas sekali kehilangan anak kecil di tempat ramai seperti Shibuya. Namun jika mengingat kejadian di bandara, bukan tidak mungkin hal itu terjadi, “Kalau begitu naik mobilku saja.”

Pria jangkung itu segera mengajak Yonghwa menaiki mobilnya—meskipun secara teknis itu mobil kakaknya yang sengaja ia pinjam untuk berjalan-jalan. Kedua orang itu mulai menyusuri jalan yang kira-kira dilalui Aleyna. Jika memang benar Aleyna jalan-jalan sendiri dan bukannya diculik, maka jarak tempuhnya tidak akan begitu jauh.

“Oh ya, ngomong-ngomong, siapa namamu?”

“Aku Lee Jungshin.”

 

***

 

“Apa kau yakin Aleyna akan berjalan sejauh ini?” tanya Yonghwa begitu Jungshin membawa mobil yang ditumpangi mereka berdua ke deretan toko pakaian dan perhiasan impor.

Jungshin menunjuk gang sempit di samping salah satu toko, “Jalan di sebelah bangunan itu bisa menembus ke jalan tempat kau berada tadi. Siapa tahu Aleyna melewati gang itu dan berjalan ke arah sini.”

Yonghwa hanya bisa menghela napas pasrah. Ia terus mengamati dengan seksama jalanan di depannya sambil berharap-harap cemas. Ia benar-benar khawatir jika sesuatu yang buruk menimpa Aleyna.

“Oh! Aku kenal orang itu!” Jungshin tiba-tiba berseru. Ia menepikan mobilnya di depan salah satu kedai kopi. Dari dalamnya keluar dua orang pria yang sedang asyik bercakap-cakap. Ia mengenal salah satunya. Orang yang datang ke studio kakaknya tadi pagi.

Jungshin keluar dari mobil dan menghampiri kedua pria itu. Yonghwa yang masih bingung hanya bisa mengikuti.

“Hei, calon suami Jung Soojung!” panggilnya, “Apa kau melihat gadis kecil berumur tujuh tahunan yang lewat di sekitar sini?”

Minhyuk mengerjap, sedikit terkejut karena tiba-tiba dua orang asing menghampirinya dan menanyakan sesuatu yang tidak begitu jelas. Kenapa rasanya hari ini ia terus didatangi orang asing? Dan lagi mereka semua sama-sama orang Korea.

“Gadis kecil?”

“Namanya Aleyna. Rambutnya panjang kecoklatan, kulitnya putih pucat, pakai ransel, dan ada sedikit luka lebam di siku kirinya,” Yonghwa mendeskripsikan Aleyna persis seperti ia mendeskripsikannya pada Jungshin tadi.

“Aleyna?” Minhyuk merasa pernah mendengar nama itu, “Oh, gadis kecil yang itu!”

“Kau melihatnya?”

“Aku bertemu dengannya di depan toko Diamonds. Setelah itu kuajak melihat-lihat di Tiffany & Co. Jaraknya tidak begitu jauh. Dia bilang dia mau menemui ‘oppa’-nya, jadi kubiarkan dia pergi,” jelas Minhyuk.

“Astaga!” Yonghwa menepuk dahinya. Lututnya terasa lemas.

“Dia ‘oppa’ yang dimaksud Aleyna,” Jungshin mencoba menjelaskan.

Minhyuk mengernyitkan dahi, “Jika kau ‘oppa’ yang dimaksud, berarti—“

“Ya. Aleyna hilang. Sekarang kau ikut kami, tunjukkan dimana terakhir kali kau melihat Aleyna.”

 

***

 

“Maaf… aku benar-benar tidak tahu kalau Aleyna sebenarnya tersesat. Dia bilang oppa-nya sudah menunggunya. Jadi kukira kakaknya berada di dekat sana jadi aku membiarkannya pergi,” Minhyuk merasa bersalah. Sesekali ia memberikan petunjuk arah pada Jungshin yang sedang mengemudi.

“Tidak apa-apa, itu bukan salahmu,” sahut Yonghwa lesu. Ia menumpukan sikunya ke jendela dan menopang dahinya, tampak sangat lelah. Ia tidak marah pada Minhyuk, hanya saja menerima kenyataan bahwa Aleyna benar-benar hilang membuatnya serasa ingin pingsan.

“Maaf, tapi… haruskah aku ikut serta? Aku tidak tahu apa-apa,” Jonghyun yang sedari tadi diam akhirnya buka suara. Ia sama sekali tidak tahu gadis bernama Aleyna yang sedang dibicarakan dan tidak mengerti kenapa dirinya ikut diseret ke dalam mobil.

“Lebih banyak orang yang mencari akan lebih baik,” celetuk Jungshin.

“Kenapa kita tidak minta bantuan polisi saja?”

“Jika kita tidak menemukannya di sekitar jalan ini, baru kita lapor polisi.”

Minhyuk—yang duduk di jok belakang bersama Jonghyun—mencondongkan tubuhnya ke depan dan menunjuk ke toko aksesori Tiffany & Co., “Aku terakhir kali melihatnya disini.”

“Baiklah kalau begitu, kita berpencar saja,” Yonghwa bersiap melepas sabuk pengamannya dan keluar begitu Jungshin menghentikan mobil.

“Aku juga?” tanya Jonghyun.

“Iya, cepat!”

Keempat pria itu pun mulai mencari di arah yang berlawanan. Mereka memasuki satu per satu toko di sekitar sana dan menanyakan keberadaan Aleyna pada penjaga toko. Tak lupa juga mereka memeriksa gang-gang kecil yang ada disana. Namun tampaknya pencarian mereka akan semakin sulit karena hari sudah mulai gelap dan tidak ada satu pun dari para penjaga toko yang melihat gadis kecil itu.

Merasa pencarian mereka tidak akan berhasil jika hanya berputar-putar di satu tempat, Jonghyun pun berinisiatif mencari jalan lain. Dicarinya toko yang sering didatangi anak-anak atau toko yang menjual kebutuhan anak-anak. Ia berpikir mungkin saja Aleyna mencari jalan sendiri ke toko-toko itu karena tertarik dengan barang-barang yang dijual disana.

“Anak kecil?” tanya seorang pramuniaga toko pakaian anak-anak begitu Jonghyun menanyakan keberadaan Aleyna.

Jonghyun mendeskripsikan persis seperti kata-kata Yonghwa, “Namanya Aleyna. Rambutnya panjang kecoklatan, kulitnya putih pucat, pakai ransel, dan ada sedikit luka lebam di siku kirinya.”

“Lee Jonghyun?”

Merasa namanya dipanggil, pria itu pun menoleh. Matanya terbelalak begitu melihat siapa orang yang memanggilnya, “Im Yoona?”

“Bagaimana kau bisa ada disini?” gadis bertubuh kurus tinggi yang dipanggil Yoona itu menghampiri Jonghyun.

Jonghyun menjadi salah tingkah. Sebenarnya, salah satu alasannya pergi Jepang selain urusan pekerjaan adalah karena Yoona. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan pada gadis itu dan ketika ia tidak siap, gadis itu justru muncul di hadapannya.

“Urusan pekerjaan,” jawabnya singkat.

“Di toko pakaian anak-anak?”

“Aku sedang mencari orang. Gadis kecil usia tujuh tahunan, namanya Aleyna.”

Yoona mengerjap, “Jadi Aleyna itu adikmu? Atau jangan-jangan… anakmu?”

“Kau lihat Aleyna?” Jonghyun yang terkejut tanpa sadar memegang kedua bahu Yoona, membuat pipi gadis itu merona merah.

Dengan ragu Yoona menunjuk ke arah ruang ganti. Tak lama kemudian dari salah satu biliknya keluarlah Aleyna. Ciri-cirinya persis seperti yang dikatakan Yonghwa. Gadis itu memeluk beberapa potong pakaian di tangannya sambil memandang Jonghyun bingung.

“Aleyna!” Jonghyun buru-buru menghampiri gadis kecil itu dan memeluknya, “Syukurlah kau tidak apa-apa.”

“Oppa siapa? Kenapa bisa mengenalku?” tanya Aleyna lugu setelah Jonghyun melepaskan pelukannya. Gadis itu lalu tersenyum lebar, “Wah, sejak pergi ke Jepang Aleyna terus bertemu dengan Oppa yang tampan!”

Jonghyun menoleh ke arah Yoona, “Bagaimana kau bisa menemukannya?”

“Aku tidak menemukannya, dia yang menemukanku,” jawab Yoona, “Aku sedang berjalan-jalan di sekitar sini, lalu anak itu menghampiriku dan minta ditemani membeli pakaian. Kebetulan aku juga mau membeli pakaian untuk sepupuku, jadi sekalian saja,” ia mendekati Aleyna dan Jonghyun, “Dia bilang oppa-nya akan menjemputnya disini. Tidak kusangka ternyata itu kau.”

“Bukan aku, tapi seseorang yang kukenal,” koreksi Jonghyun, “Aleyna, sekarang Oppa antar menemui kakakmu, ya.”

Aleyna menggeleng kuat, “Aleyna tidak mau bertemu dengan Yonghwa Oppa, nanti Aleyna dicueki lagi. Aleyna mau bersama Oppa saja.”

Yoona dan Jonghyun saling berpandangan. “Baiklah, Oppa akan mengajak Aleyna jalan-jalan,” ujar Jonghyun berbohong. Toh pada akhirnya ia akan tetap membawa gadis kecil itu menemui kakaknya.

Setelah berhasil membujuk Aleyna, Jonghyun lalu mengajaknya keluar dari toko. Tepat ketika ia membuka pintu, Yoona memanggilnya.

“Bisakah kita bicara?”

Jonghyun tidak langsung menjawab. Ia ragu menerima permintaan gadis itu karena jika berada terlalu lama dengannya, ia takut perasaannya akan menjadi goyah. Tapi bukankah itu yang ia inginkan? Bukankah itu salah satu alasan dirinya pergi ke Jepang? Ia harus segera menyelesaikan kesalahpahaman ini sebelum semuanya menjadi semakin rumit.

“Nanti, setelah kuantarkan Aleyna pada kakaknya,” jawabnya kemudian.

Yoona mengangguk, “Aku mengerti.”

 

***

 

“Syukurlah kau tidak apa-apa, Aleyna,” Yonghwa memeluk adik sepupunya dengan penuh kasih sayang. Ia benar-benar sangat lega karena Aleyna baik-baik saja, tidak luka atau kurang suatu apapun. Untung saja mereka tidak harus sampai berurusan dengan polisi. Dengan begini, ia tidak akan dipecat sebagai keponakan paman dan bibinya.

“Kalau Aleyna hilang, Oppa baru khawatir pada Aleyna,” gadis kecil itu merajuk.

“Tentu saja Oppa khawatir. Aleyna ‘kan adik kesayangan Oppa. Oppa selalu memikirkan Aleyna.”

Mendengar pengakuan Yonghwa, Aleyna tersenyum dan balas memeluk kakak sepupu kesayangannya itu. Yonghwa mengelus puncak kepala Aleyna sebelum berterima kasih pada Jungshin, Minhyuk, Jonghyun, dan Yoona yang sudah membantu pencariannya. Keempat orang itu pun gantian memberikan pesan pada Aleyna agar lebih berhati-hati dan selalu mendengarkan kata-kata Yonghwa.

“Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke tempat masing-masing,” ajak Yonghwa. Namun baru selangkah berjalan, ponselnya berdering. Betapa terkejutnya ia begitu melihat nama pamannya tertera di layar ponsel.

“Halo, Paman?” ujarnya gugup. Diam-diam ia bersyukur pada Tuhan karena Aleyna baru saja ditemukan. Jika tidak, tamatlah riyawatnya.

Lagi-lagi Yonghwa dibuat terkejut dengan penjelasan pamannya di seberang telepon. Ia memandangi Aleyna yang sedang bercengkrama dengan empat orang dewasa di belakangnya. Pamannya menjelaskan jika ia dan istrinya sudah berada di Bandara Haneda untuk menjemput Aleyna. Mereka harus segera membawa Aleyna ke Istanbul untuk mempersiapkan tahun ajaran baru disana. Ia tidak ingin merepotkan Yonghwa dengan terlebih dahulu membawa pulang Aleyna ke Seoul, makanya langsung menjemput di Tokyo.

Untuk sesaat Yonghwa tidak bisa berkata-kata. Entah kenapa semua kebetulan ini terjadi begitu cepat dan pas. Bagaimana jika ia tidak pernah bertemu Jungshin di bandara dan di Shibuya? Bagaimana jika Jungshin dan Aleyna tidak pernah bertemu dengan Minhyuk? Bagaimana jika Minhyuk tidak sedang bersama Jonghyun? Dan bagaimana jika Jonghyun tidak pernah mengenal Yoona? Aleyna pasti tidak akan ditemukan.

“Dunia benar-benar sempit,” gumamnya, kemudian menghampiri Aleyna dan keempat orang tersebut, “Maaf, tapi bisakah aku minta bantuan sekali lagi? Tolong antarkan aku dan Aleyna ke bandara.”

 

***

 

Yonghwa menghela napas lega begitu melihat Aleyna dan kedua orangtuanya saling berpelukan. Sepasang suami-istri itu tidak henti-hentinya berterima kasih pada Yonghwa karena telah menjaga Aleyna selama ini. Yonghwa membalas ucapan terima kasih mereka dengan membungkuk sopan. Ia meminta paman dan bibinya itu untuk tinggal beberapa hari lagi karena ia akan menikah dan menginginkan Aleyna sebagai pengiring pengantin wanita. Paman dan bibi Yonghwa menyetujuinya, namun mereka baru akan pulang ke Seoul setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Osaka.

Tidak hanya Yonghwa, Jungshin dan Minhyuk juga melambaikan tangan mereka ke arah Aleyna yang berjalan pergi. Meskipun pertemuan mereka cukup singkat, namun kesan yang ditinggalkan Aleyna cukup mendalam. Karena dengan kehadiran gadis kecil itu, keempat pria yang tadinya orang asing bisa saling mengenal.

“Bagaimana kalau setelah ini kita makan? Mengurusi Aleyna seharian membuatku lapar,” ajak Yonghwa, yang langsung disetujui oleh Jungshin dan Minhyuk. Makan malam bersama-sama setidaknya lebih baik daripada sendirian.

Yonghwa melirik ke kiri dan kanan. Rasanya ada yang kurang, “Oh iya, mana Jonghyun?”

 

***

 

Yoona mengetukkan jari-jarinya di atas setir. Kepalanya tertunduk, tidak berani menatap Jonghyun yang duduk di sebelahnya. Ia memang mengikuti empat pria itu ke bandara agar bisa berbicara empat mata dengan Jonghyun selagi menunggu Yonghwa mengantarkan Aleyna pada ayah dan ibunya. Namun kenyataannya justru ia menjadi gugup, bingung dari mana harus memulai. Apalagi Jonghyun hanya diam, enggan memulai percakapan lebih dulu.

“Jonghyun-ah, soal pesan yang kukirim waktu itu…” akhirnya Yoona  angkat bicara, “Aku tidak ingin kau menganggapnya terlalu serius…”

Jonghyun mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pesan dari Yoona. Awal perang dinginnya dengan Seungyeon.

“Kau tahu ‘kan, terkadang… orang bisa rindu dengan seseorang yang sudah lama tidak ditemui, jadi—“

“Yoona-ya,” potong Jonghyun. Ia menatap gadis itu lekat, “Bagaimana perasaanmu padaku?”

Yoona tercekat, tidak menyangka Jonghyun akan bertanya langsung seperti itu, “Ka..kau orang yang baik. Dulu… masa-masa yang sangat menyenangkan…”

“Aku tidak membicarakan masa lalu.”

Gadis itu terdiam. Lagi-lagi ia tertunduk, menghindari tatapan Jonghyun, “Kurasa… aku… masih menyimpan perasaan padamu. Aku baru menyadarinya setelah kau pergi,” ia tertawa kecil, “Aku benar-benar bodoh, ya?”

Jonghyun mendengus pelan. Inilah yang ia takutkan jika bertemu dengan Yoona. Selama ini ia hanya menganggap gadis itu sebagai masa lalu. Ia sudah menghapus harapannya bersama Yoona dan menumbuhkan harapan baru bersama Seungyeon. Ia tahu benar sebesar apa rasa cintanya pada Seungyeon, namun tidak sampai hati jika melihat Yoona terluka.

“Maaf…” ujar Jonghyun hati-hati, “Sepertinya aku memang tidak bisa menganggapnya serius. Aku mencintaimu, Yoona. Dulu. Sebelum aku bertemu dengan Seungyeon. Sebelum aku sadar kau hanya menyia-nyiakannya demi bersama orang lain.”

Seolah sudah memprediksi jawaban Jonghyun, gadis itu hanya menanggapinya dengan senyum getir.

Jonghyun mengeluarkan sebuah amplop berwarna navy blue dengan hiasan glitter emas dari balik blazer yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Yoona. Yoona tidak bisa menahan rasa terkejutnya begitu mengetahui bahwa isi amplop tersebut adalah undangan pernikahan Jonghyun dan Seungyeon. Ia menatap pria itu, meminta penjelasan.

“Sepertinya aku sudah terlanjur melupakan keberadaanmu untuk memberitahu bahwa aku akan menikah. Tidak jauh berbeda denganmu yang selama ini melupakanku, ‘kan?” Jonghyun tersenyum kecut, “Kuharap kau juga menganggap perasaanmu padaku bukan hal yang serius, Yoona-ya. Karena aku tidak bisa membalasnya.”

Yoona tidak menjawab. Kenyataan ini begitu mengejutkan hingga ia kehilangan kata-kata. Jadi selama ini ia mencoba masuk ke kehidupan seseorang yang sudah memiliki calon istri? Entah kekacauan seperti apa yang telah ia perbuat.

Tepat pada saat itu Jonghyun melihat Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin tiba di basement dan hendak memasuki sedan hitam yang tadi mereka tumpangi. Ia pun bergegas keluar dari mobil Yoona setelah sebelumnya berkata, “Datanglah ke pesta pernikahanku. Kurasa Seungyeon ingin bertemu denganmu.”

 

***

 

Yonghwa, Jonghyun, Jungshin, dan Minhyuk akhirnya memutuskan untuk pergi restoran yakiniku untuk makan malam bersama. Sambil makan, mereka bercerita tentang banyak hal, mulai dari latar belakang masing-masing, kehidupan percintaan, hingga cerita bagaimana mereka bisa bertemu dan mengenal satu sama lain.

“Jadi, kau bernama Lee Jonghyun, kau Kang Minhyuk, dan kau Lee Jungshin?” tanya Yonghwa, yang sudah mulai kehilangan kesadarannya karena pengaruh alkohol. Terhitung hingga saat ini ia sudah menghabiskan tiga botol arak dan tampaknya masih akan terus berlanjut.

Ketiga pria yang ditunjuknya hanya mengangguk lemah. Tidak jauh berbeda dengan Yonghwa, mereka pun sama-sama sudah mulai kehilangan kesadaran. Bicaranya sudah mulai melantur sana-sini. Bahkan Jungshin dan Minhyuk yang tidak begitu kuat minum sudah tidak mampu mengangkat kepala dari meja.

Yonghwa tertawa, “Kalau dipikir-pikir lucu juga, ya. Kita sama-sama memiliki masalah seputar pernikahan.”

“Masalahmu tidak seberapa, Hyung. Tanggal pernikahanmu sudah ditentukan, semua persiapan sudah beres, dan satu-satunya yang menghambatmu yaitu Aleyna sudah kembali pada orang tuanya,” celetuk Jonghyun.

Yonghwa mengangguk-angguk, “Kau benar juga. Tadi apa masalahmu? Aku lupa.”

“Mantan pacarnya menemui dia lagi. Gadis bernama Yoona tadi. Tapi dia menolak dan langsung memberikan undangan pernikahan,” Minhyuk bertepuk tangan, “Bravo, man! Bravo!”

“Kau sendiri? Pacarmu terlalu sibuk sampai cincin pernikahan saja kalian belum punya,” cibir Jonghyun.

Jungshin tertawa, lebih kepada dirinya sendiri, “Aku bahkan belum berani melamar.”

Ketiga pria lainnya menepuk bahu Jungshin sambil menunjukkan wajah iba. “Ya! Jangan kasihani aku seperti itu!” protes Jungshin. Mereka berempat lalu tertawa.

Yonghwa meneguk araknya sekali lagi. Kepalanya sudah mulai terasa pusing. Begitu ingat jika ia masih punya urusan dan masih punya Joohyun yang menunggunya di Seoul, ia pun mengajak ketiga teman barunya itu untuk pulang. Mereka bertiga mau saja, tapi siapa yang akan menyetir dengan keadaan seperti ini? Yonghwa dan Jonghyun mungkin tidak semabuk Minhyuk dan Jungshin, namun jika disuruh mengemudi rasanya mereka tidak sanggup.

Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk menyewa supir. Kebetulan di restoran tempat mereka berada sekarang menyediakan jasa supir pengganti untuk mengantar para pelanggan yang mabuk kembali ke tempat masing-masing. Namun di tengah perjalanan, Yonghwa dan Jonghyun baru tersadar jika mereka belum mengetahui hotel tempat menginap masing-masing orang. Karena Minhyuk dan Jungshin tidak mungkin ditanyai—karena sudah mabuk berat—dan hotel Jonghyun hanya cukup untuk satu orang—karena hotel ditentukan oleh perusahaannya—akhirnya diputuskan untuk pergi di hotel tempat Yonghwa menginap. Kebetulan ada dua kasur karena tadinya Aleyna juga akan menginap disana.

Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Jonghyun—yang duduk di jok belakang bersama Minhyuk dan Jungshin—mencari sumber suara tersebut. Rupanya itu ponsel milik Jungshin. Ia pun membangunkan pria itu agar menerima teleponnya.

Ternyata Jungshin cukup sulit untuk dibangunkan. Ia pun berusaha merogoh saku pria itu dan mencari ponselnya, bermaksud untuk menerima telepon menggantikan Jungshin.

“Seolhyun-ah,” Jonghyun membaca nama yang tertera di display. Mendengar nama Seolhyun disebut, Jungshin buru-buru membuka mata dan mencari-cari ponselnya. Direbutnya ponsel itu dari tangan Jonghyun tepat ketika pria itu hendak menekan tombol answer.

“Seolhyun-ah…” panggil Jungshin lirih. Kepalanya masih terasa pusing dan ia sudah tidak kuat membuka mata. Namun ia memaksa untuk tetap terjaga demi mendengar suara kekasihnya itu.

“Oppa, aku… mau memberitahu sesuatu…” jawab suara di seberang. Tidak seperti biasanya, suara itu terdengar serak dan sengau, “Ayahku berencana mengenalkanku pada anak kenalannya. Ayah takut Oppa tidak serius menjalani hubungan denganku. Aku… aku bingung Oppa… Aku harus bagaimana…?” gadis itu terisak.

Jungshin langsung menegakkan badannya. Rasa mabuk yang sedari tadi dialaminya seolah direduksi habis-habisan dengan kata-kata Seolhyun. Ini bukan bercanda, ‘kan?

“Seolhyun-ah, aku…” Jungshin bingung harus berkata apa dengan kesadarannya yang menipis dan kabar yang sangat mengejutkan itu.

“Aku tidak mau membebanimu, tapi kuharap Oppa bisa segera memutuskan. Besok orang itu akan datang ke rumah untuk menemuiku. Aku… menantikan jawaban yang baik,” tak lama setelah berkata demikian, Seolhyun memutuskan sambungan. Jungshin hanya diam, mencoba mencerna kata-kata Seolhyun dengan otaknya yang belum bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Sedetik kemudian, ia tersadar jika itu adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan.

“Aargh! Seolhyun-ah, jangan tinggalkan aku!” Jungshin berteriak histeris, tentu saja ia tidak sepenuhnya sadar melakukannya, “Seolhyun-ah! Maafkan aku, Seolhyun!”

Yonghwa dan Jonghyun saling berpandangan, diikuti oleh Minhyuk yang akhirnya terbangun karena teriakan Jungshin. Tanpa dijelaskan pun, mereka sudah bisa menebak apa yang sebenarnya kedua orang itu bicarakan.

Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya, “Here comes trouble…”

***

 

Yonghwa tidak bisa tidur. Rangkaian kejadian yang dialaminya hari ini benar-benar masih melekat kuat di benaknya dan ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Ia juga memikirkan persiapan pernikahannya di Korea dan memikirkan Joohyun juga. Apa yang sedang dilakukannya? Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah gadis itu sudah makan atau belum? Apakah gadis itu baik-baik saja? Dan apakah gadis itu bisa menyelesaikan urusannya dengan baik? Sedikit berlebihan, memang, karena mereka baru berpisah satu hari. Namun bagi Yonghwa rasanya seperti berbulan-bulan.

Ia rindu Joohyun.

Yonghwa meraih ponselnya, memutuskan untuk menelepon gadis itu sebelum malam semakin larut. Ia ingin segera mendengar suara gadis itu dan menceritakan semua yang ia alami hari ini. Begitu teleponnya diangkat, rasa lelah yang menghinggapinya serasa menguap entah kemana.

“Syukurlah Aleyna baik-baik saja,” komentar Joohyun begitu Yonghwa selesai bercerita.

“Ya. Dan kau tahu? Orang tua Aleyna sengaja menjemput anaknya di Jepang karena harus segera mempersiapkan tahun ajaran baru di Sekolah Dasar di Istanbul.”

“Benarkah? Lalu?”

“Lalu…” Yonghwa memutar tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke balkon, “Itu artinya aku akan pulang besok.”

“Secepat itu?”

“Hei, kau tidak suka aku pulang ke Korea?” pria itu pura-pura merajuk.

“Bukan seperti itu. Kukira ada beberapa hal masih harus kau urus dan, yah…” Joohyun terkikik, “Saat ini kau pasti sedang mengerucutkan bibir, ‘kan? Jangan begitu, malu dilihat orang.”

“Mereka semua sudah tidur,” Yonghwa melirik ke dalam kamar. Jungshin dan Minhyuk sudah terlelap di kasur, sedangkan Jonghyun sedang mengurung diri di ruang musik yang disediakan hotel.

“Mereka?”

“Teman seperjalananku. Akan kuceritakan saat kembali nanti,” pria itu tersenyum.

Joohyun tertawa, “Baiklah, segeralah pulang dan selesaikan urusanmu disini.”

“Baik, Yang Mulia,” gurau Yonghwa. Tawanya berangsur-angsur berhenti begitu melihat Minhyuk yang tiba-tiba sudah bersandar di ambang pintu, menatapnya sambil tersenyum simpul. “Nanti akan kutelepon lagi. Tidurlah. Selamat malam,” ia mengakhiri teleponnya.

Minhyuk mendengus pelan. Ia lalu melangkahkan kakinya ke arah balkon dan menyandarkan punggungnya disana, “Aku iri.”

Menyadari jika yang dimaksud Minhyuk adalah soal dirinya dan Joohyun, Yonghwa pun tersenyum, “Telepon saja dia. Seharian ini kau belum sempat menghubunginya, ‘kan?”

Minhyuk mengangguk-angguk. Ia rindu pada Soojung, tentu saja, tapi apa yang akan ia katakan? Ia merasa bersalah karena telah membuat kepulangan Soojung hari ini menjadi sia-sia. Entah bagaimana khawatirnya gadis itu begitu tahu ia tidak berada di Korea dan tidak juga merespon pesan dan panggilannya.

Baru saja Minhyuk mengeluarkan ponselnya, benda itu tiba-tiba berdering. Telepon dari Soojung, yang jika diakumulasikan seharian ini merupakan panggilannya yang ketiga puluh. Pria itu menyunggingkan senyumnya, membayangkan wajah Soojung yang kesal karena teleponnya tidak juga diangkat.

“Halo?”

“Halo? Hei, kau, Tuan Kang! Kemana saja kau seharian ini! Aku sudah berkeliling kesana kemari mencarimu, kau tahu?”

Minhyuk terkikik geli mendengarkan celotehan Soojung. Inilah Soojung yang dikenalnya. Soojung yang cerewet dan gampang merajuk. Soojung yang selalu mengkhawatirkannya.

Soojung yang ia rindukan.

“Aku sudah meluangkan waktuku. Besok kita pilih baju pengantin, bagaimana?” tanya Soojung kemudian.

“Hmmm… sayangnya aku tidak bisa. Aku masih di luar negeri,” Minhyuk menempelkan telunjuknya di bibir, memberi kode pada Yonghwa untuk tidak bersuara agar kebohongannya tidak ketahuan. Yonghwa hanya mengangguk sambil menahan tawa.

“Benarkah? Yah…” Soojung terdengar sangat kecewa. Setelah terdiam sesaat, ia kembali berujar, “Aku tidak bisa tidur. Semua ini gara-gara dirimu.”

“Aku juga, Jung sajangnim. Mau kunyanyikan lagu nina bobo?”

 

***

 

Jungshin menggeliat. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan dengan gelisah. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya. Matanya masih terpejam dan dahinya berkerut. Sesekali bibirnya menggumamkan kata ‘Seolhyun’ dan ‘jangan pergi’.

Jungshin bermimpi buruk.

Di mimpinya, Jungshin membayangkan Seolhyun lebih memilih pria pilihan ayahnya karena lelah menunggunya yang tidak juga memberikan kepastian. Kedua orang itu meninggalkan Jungshin yang hanya bisa berlutut sambil menggapai-gapai udara, meraung dan memohon pada Seolhyun untuk kembali.

Cukup lama Jungshin mengalami hal itu hingga akhirnya ia tersentak bangun sambil menyerukan nama Seolhyun. Napasnya terengah-engah. Ia terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas lega karena sadar kejadian Seolhyun menikah dengan orang lain hanyalah mimpi semata.

Tubuh Jungshin kembali tersentak begitu menoleh ke sisi kanan kasur yang ditempatinya. Ketiga teman barunya—Yonghwa, Jonghyun, dan Minhyuk—sudah berdiri disana sambil menatapnya tajam. Ketiganya melipat tangan di depan dada, seolah sudah lama menunggu pria itu untuk terbangun.

“Ke…kenapa kalian ada disini?”

“Tentu saja. Ini ‘kan kamarku,” tukas Yonghwa.

Minhyuk melemparkan handuk ke arah Jungshin, “Cepat mandi. Kita harus kembali ke Seoul.”

“Seo…Seoul??”

“Aku sudah memesankan tiket untuk kita berempat. Aku yakin kalian mau pulang hari ini, jadi sekalian saja,” Yonghwa mengedikkan dagunya ke arah Jungshin, “Bukankah kau bilang kau mau melamar pacarmu yang bernama Seolhyun itu?”

“Ba…bagaimana kau bisa tahu?” karena mabuk, Jungshin tidak menyadari hampir semua yang terjadi semalam. Kecuali telepon dari Seolhyun.

“Bagaimana kami bisa tidak tahu kalau kau terus mengigau? Cepat sana mandi!” Jonghyun yang tidak sabar langsung menarik Jungshin hingga terbangun dari kasurnya.

“Tapi, bagaimana dengan barang-barangku?”

“Masih ada waktu tiga jam sebelum pesawat lepas landas. Kau masih sempat kembali ke tempat kakakmu.”

“Aish! Kalian ini benar-benar!” Jungshin langsung melesat ke kamar mandi. Ketiganya hanya tertawa melihat wajah panik pria itu.

 

***

 

Seungyeon sedang mencuci piring terakhirnya ketika mendengar bel apartemennya berbunyi. Gadis itu menghentikan kegiatannya sejenak, mencoba memastikan jika yang berbunyi adalah benar-benar bel apartemennya. Ia mencoba menerka siapa orang yang kira-kira mengunjunginya di hari libur seperti ini. Tidak mungkin orang tua ataupun adiknya karena ketiga anggota keluarganya itu baru saja datang seminggu yang lalu.

Mungkinkah…

Seungyeon mempercepat langkahnya menuju pintu masuk. Jantungnya berdebar cepat begitu melihat sosok pria yang ada di layar intercom. Dengan sedikit terburu-buru gadis itu pun membuka pintu.

Jonghyun—yang sedikit tersentak karena pintu yang menjeblak terbuka—menyunggingkan senyumnya. Ia memutuskan untuk langsung pergi ke apartemen Seungyeon begitu tiba di Seoul. Entah bagaimana respon gadis itu nanti, ia tidak peduli.

“Hai,” ragu-ragu Jonghyun menunjukkan tas jinjing kecil berisi kue mochi yang dibelinya—oleh-oleh langganannya untuk Seungyeon tiap kali ia pergi dinas ke Jepang, “Maaf, karena waktunya singkat aku hanya—“

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Seungyeon sudah lebih dulu menghambur ke arahnya. Ia membenamkan wajahnya ke bahu pria itu, menghirup napas dalam-dalam disana.

“Maafkan aku…” ujarnya lirih, “Harusnya aku percaya padamu. Aku benar-benar egois.”

Jonghyun membalas pelukan Seungyeon. Diam-diam ia tersenyum karena Seungyeon sudah mengakhiri waktu sendirinya dan mau berbicara dengannya lagi. Pria itu mengusap kepala Seungyeon lembut, “Sudahlah.”

Seungyeon mengeratkan pelukannya, “Aku merindukanmu.”

“Aku juga,” balas Jonghyun, “Ng… tapi Seungyeon… kau belum melepas sarung tangan karetmu…”

Dalam sekejap Seungyeon melepaskan pelukannya. Karena terburu-buru, ia lupa melepas sarung tangan karet yang dipakainya untuk mencuci piring tadi. Cepat-cepat ia lepas sarung tangan itu dan diusapnya bagian punggung dan rambut Jonghyun yang sedikit basah.

“Maaf…”

 

***

 

Soojung mematut dirinya di cermin. Ia memutar tubuhnya ke kiri dan kanan, mencocokkan gaun pengantin putih yang dikenakannya dari segala sisi. Ia cukup menyukai desainnya, tapi tidak yakin Minhyuk akan menyukainya juga.

“Apa modelnya terlalu polos, ya? Haruskah aku memakai gaun yang punya banyak brokat?” gumamnya. Ia lalu meminta tolong pada Nona Yoon—salah satu pramuniaga di toko itu—untuk mengambilkan contoh gaun yang lain.

Soojung masih sibuk memperhatikan pantulan dirinya di cermin begitu seorang pria masuk ke ruangan tersebut. Pria itu memandangi Soojung dari atas ke bawah, tersenyum lebar begitu gadis itu menyadari keberadaannya dan langsung membalikkan badan ke arahnya.

“Kau bilang kau masih di luar negeri?”

“Memang. Aku masih di Tokyo sampai tadi pagi,” jawab Minhyuk jujur.

“Tokyo? Kau tidak bilang—“

“Aku memang sengaja merahasiakannya untuk memberimu kejutan. Tapi kau malah kembali ke Seoul.”

“Dan kau membiarkan aku kebingungan? Kau ini benar-benar!”

Minhyuk menghampiri gadis itu dan memeluknya dari belakang, “Gaun ini bagus.”

“Benarkah? Kau suka?”

Minhyuk mengangguk, “Sesuai dengan seleramu juga, ‘kan?” ia lalu mengeluarkan sebuah liontin dan memasangkannya di leher gadis itu. Liontin berbentuk berlian yang dipilihkan Aleyna di Tokyo kemarin.

“Wah, bagus sekali,” Soojung memandangi liontin itu takjub, “Tumben pilihanmu kali ini sesuai dengan seleraku. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Seseorang memberikanku sedikit petunjuk,” jawab Minhyuk penuh rahasia, “Oh ya, ada satu lagi. Aku sudah memotret model cincin yang kira-kira kau suka,” ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto sepasang cincin yang dipilih oleh Aleyna di depan etalase toko kemarin.

Soojung terbelalak melihat foto itu. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan menyejajarkannya dengan ponsel Minhyuk. Ia sudah menentukan model cincin yang disukainya dan juga ingin memperlihatkannya pada pria itu, jadi ia menyimpan gambarnya di ponsel. Kedua orang itu saling berpandangan begitu menyadari bahwa foto cincin yang ada di ponsel mereka memiliki model yang sama.

Minhyuk kembali memeluk Soojung dari belakang dan mengecup pipi gadis itu. Kedua orang itu lalu tertawa. Jika tahu akan begini, seharusnya masalah mereka bisa terselesaikan sejak dulu.

Soojung kemudian berseru, “Nona Yoon, aku mau gaun yang ini saja.”

 

***

 

Seolhyun menuruni tangga dengan tergopoh-gopoh. Tepat pada saat itulah bel rumahnya berbunyi. Ayah Seolhyun—yang kebetulan sedang berada di rumah—menghentikan kegiatan membacanya dan beranjak dari sofa. Mengetahui maksud ayahnya untuk membukakan pintu, gadis itu pun semakin mempercepat langkahnya.

Seorang pria membungkukkan badannya dengan sopan begitu Ayah Seolhyun membuka pintu. Seolhyun mengintip dari balik punggung ayahnya. Pria berpostur tinggi dan tegap itu melirikkan matanya ke arah Seolhyun sambil menyunggingkan senyum. Tangannya menggenggam sebuah tas jinjing besar berisi beberapa kotak yang sudah dibungkus kertas kado.

Seolhyun tidak mengenal pria itu. Apalagi setelah melihat wajah ayahnya yang berseri-seri, rasa was-wasnya semakin muncul ke permukaan.

“Seolhyun-ah, kenalkan, dia Han Sanghyuk. Anak teman Ayah.”

Ketakutan Seolhyun ternyata terbukti. Ayahnya benar-benar mengundang anak temannya untuk dijodohkan olehnya.

Seolhyun menelan ludah. Ia hanya berdiri mematung di sebelah ayahnya. Entah bagaimana ia harus merespon. Yang jelas, bukan ini yang menjadi alasannya berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga tadi.

Ragu-ragu Seolhyun menyambut uluran tangan Sanghyuk. Namun begitu menyadari ada seseorang yang baru datang, ia langsung mengurungkan niatnya dan berlari ke arah orang tersebut. Ayah dan Sanghyuk yang bingung hanya bisa memandangi kemana Seolhyun pergi.

Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Jungshin yang baru saja keluar dari Volkswagen silvernya. Jungshin kaget karena Seolhyun tiba-tiba sudah berada di depannya, tersenyum lega seolah ia baru saja ditemukan setelah menghilang sekian lama.

“Aku tahu kau akan datang,” ujarnya. Tanpa menunggu jawaban Jungshin, Seolhyun langsung menarik tangan pria itu untuk masuk ke halaman rumah dan membawanya ke hadapan ayahnya dan Sanghyuk yang masih berdiri di depan pintu.

“Maaf Ayah, aku sudah punya pilihanku sendiri,” Seolhyun menatap ayahnya dan Jungshin bergantian dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.

Meskipun sedikit bingung, Jungshin membungkukkan badannya.

Ayah Seolhyun memperhatikan penampilan Jungshin dari atas ke bawah, “Jadi, kau yang akan melamar anakku?”

Jungshin menunduk, tidak langsung menjawab pertanyaan Ayah Seolhyun. Seolhyun mulai cemas karenanya. Namun begitu pria itu mendongakkan kepalanya dan mengangguk mantap, ia tak bisa menahan senyum bahagia dengan mata berkaca-kaca.

“Ya, Ayah.”

 

***

 

Akhirnya pernikahan Yonghwa dan Joohyun tiba. Setelah mengucap sumpah, pasangan itu pun saling menyematkan cincin dan berciuman. Seluruh tamu undangan yang hadir bertepuk tangan meriah, termasuk Jonghyun, Minhyuk, dan Jungshin, yang datang dengan membawa pasangan masing-masing. Mereka ikut merasa bahagia atas pernikahan Yonghwa dan diam-diam mencontoh apa yang dilakukan pria itu untuk menjadi pengantin pria yang baik di pernikahan mereka nanti.

Tibalah saatnya sang mempelai wanita melemparkan buket bunga ke para tamu yang sudah berkumpul di tengah ruangan. Hampir semua yang ada disana adalah wanita, termasuk Seungyeon, Soojung, dan Seolhyun yang juga ikut serta. Mereka sudah menyiapkan ancang-ancang untuk menangkap buket bunga yang akan dilemparkan Joohyun. Siapa tahu merekalah yang mendapatkannya.

Ketika Joohyun sudah bersiap melempar, tiba-tiba Yonghwa datang. Ia menggeleng-gelengkan kepala, “Jangan seperti ini caranya.”

Baik Joohyun maupun para wanita itu menatap bingung. Jika bukan seperti ini lalu bagaimana?

Yonghwa menepukkan kedua telapak tangannya dua kali, seolah memberi kode. Dari balik pintu masuk muncullah Aleyna, yang hari itu tampak sangat cantik dengan gaun putih selutut dan rambut panjangnya yang dikuncir kuda. Gadis kecil itu membawa sebuah keranjang berisi tiga buket bunga, yang bentuk maupun warnanya sama persis dengan buket bunga yang dipegang Joohyun. Sambil tersenyum, Aleyna membagikan ketiga buket bunga itu kepada Seungyeon, Soojung, dan Seolhyun.

“Kalian cepatlah menikah, nanti jangan lupa undang aku dan Joohyun,” celetuk Yonghwa.

Ketiga gadis itu saling berpandangan. Mereka lalu menoleh ke arah Jonghyun, Minhyuk, dan Jungshin yang kebetulan sedang berdiri tidak jauh di belakang. Jungshin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Jonghyun berpura-pura menghadap ke arah lain, sedangkan Minhyuk hanya tersenyum. Ketiga pria itu merasa malu.

Aleyna, yang merasa bingung karena suasana tiba-tiba berubah hening, memandangi semua orang dewasa itu bergantian. Gadis itu lalu tersenyum lebar.

“Aleyna juga mau diundang!”

 

***

 

________________________________________________

Hai! Aku balik lagi dengan seri terbaru Blue Medley!😀

Ide cerita ini aku dapet setelah nonton sebuah film. Kalo cerita tentang wedding proposal atau acara pernikahan ‘kan kayaknya udah banyak ya, jadi aku mau bikin cerita proses dan suka duka menjelang pernikahan aja, hahaha…

Aku mau promosi boleh ya, ini website blog pribadi aku ourprivateroom.wordpress.com, siapa tau ada yang pengen lebih gampang nyari FF aku dan aku mulai coba-coba bikin sinopsis drama juga disana hehe..

Makasih buat yang udah baca apalagi comment. Sampe ketemu di FF selanjutnya🙂

One thought on “Blue Medley Series: The Grooms

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s