[Chapter 6] Forbidden Love

Forbidden Love

We shouldn’t have lived in the same building.

by Shinyoung (ssyoung)

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Kim Jongin & Jung Krystal || Genre: School Life & Romance || Length: Chapter 6/? || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: goldenblood || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015-2016 by Shinyoung.

Chapter 6 — That Girl

Prologue | Characters | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

*

“Wah, terimakasih pada Kim Myungsoo, kita makan enak malam ini.”

Naeun hanya diam, namun ia melirik kakaknya dengan kesal. Seusai mereka belanja di mall, mereka langsung pulang. Namun, karena Dongwoon sudah tahu rencana Myungsoo yang akan memasakkan pasta, dia langsung mengundang Myungsoo untuk makan bersama karena Dongwoon ingin mencoba masakan Myungsoo.

Dongwoon melirik adiknya yang hanya diam saja. “Wah, aku berharap bahwa aku punya—”

Oppa, hentikan,” potong Naeun saat tahu kakaknya akan mengatakan hal yang berkaitan dengan adik ipar. Gadis itu bangkit dari kursinya, ia mengambil piringnya dan juga piring kakaknya. Sebelum mengambil piring Myungsoo, ia memperhatikan laki-laki itu, namun ia memutuskan untuk mengambilnya, dan membawanya menuju pantri.

Diletakkannya tiga piring tersebut di atas pencucian, kemudian ia mulai menyalakan air keran, dan membersihkan ketiga piring tersebut. Selagi ia membersihkan piring tersebut, ia mendengar pembicaraan kedua orang laki-laki itu—Myungsoo dan Dongwoon.

“Myungsoo, kau ikut?”

“Ah, perkemahan itu?” tanya Myungsoo. Laki-laki itu lantas terdiam dan berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, “Sepertinya aku ikut.”

Dongwoon mengangguk, lalu ia meminum segelas air. “Baguslah, kalau begitu sepertinya kau tahu apa yang harus kau lakukan saat perkemahan itu, bukan? Aku tidak mau sesuatu terjadi padanya, terutama karena dia.”

Wajah Myungsoo tampak lebih serius daripada biasanya. “Tentu saja, percayakan saja padaku.”

Tepat saat itu, Naeun menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu menghampiri keduanya dan menatap keduanya dalam-dalam. “Apa yang sedang kalian bicarakan? Perkemahan apa yang kalian bicarakan? Lalu apa kau memberi tugas pada Myungsoo, Oppa?”

Dongwoon melirik gadis itu dan tersenyum tipis. “Kau tidak perlu tahu. Ini adalah urusan laki-laki. Ya, perkemahan sekolah tentu saja. Memangnya kau pikir kita bertiga akan pergi berlibur, huh? Aku tidak punya uang.”

Naeun mendengus kesal. Ia beralih pada Myungsoo dan menatap laki-laki itu sambil menyilangkan kedua tangannya. “Apa kau menginap lagi di sini?”

Myungsoo mengangguk. “Kalau aku makan malam di sini artinya aku menginap di sini. Memangnya kau tidak tahu hal itu, ya?”

“Ah. . .” Naeun memutar bola matanya kesal. “Aku tidak peduli denganmu.”

Setelah itu, Naeun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya dengan cukup keras membuat Dongwoon juga Myungsoo cukup terkejut. Namun, Dongwoon hanya menggeleng pelan merasa bahwa apa yang dilakukan oleh adiknya itu sudah biasa.

“Apa dia marah?” tanya Myungsoo.

“Tidak. Dia hanya sedikit kesal,” jawab Dongwoon sambil tersenyum. “Dia memang seperti itu, biarkan saja. Nanti juga dia akan keluar saat tengah malam untuk mengambil camilan. Aku sudah merapikan kamar untukmu, jadi kau bisa masuk saja.”

Hyung, kalau boleh tahu kenapa orang tua kalian tidak pernah ada di rumah?” tanya Myungsoo penasaran. “Apa Naeun tidak pernah merasa kesepian karena mereka tidak pernah di rumah? Gadis itu selalu saja mencari keributan di sekolah.”

“Memang seperti itulah dampak orang tua kami tidak pernah pulang,” jawab Dongwoon sambil tersenyum tipis. Ia bangkit dari kursinya, lalu melirik Myungsoo, dan bertanya padanya, “Apa kau mau kopi?”

Myungsoo menatap Dongwoon lalu mengangguk pelan. Myungsoo pun mengikuti Dongwoon yang melangkah menuju pantri untuk menyiapkan kopi. Myungsoo duduk di salah satu kursi yang ada di pantri dan memperhatikan Dongwoon yang tengah menyiapkan kopi untuk mereka.

“Myungsoo?”

“Ya, Hyung?”

Dongwoon menghela napas kemudian ia menyerahkan secangkir kopi yang telah ia buat kepada Myungsoo. Ia duduk di seberang Myungsoo dan menyeruput kopinya yang terasa hangat itu.

“Ada apa?” tanya Myungsoo penasaran. “Kau memikirkan soal Naeun?”

“Tidak apa-apa.” Dongwoon menggeleng pelan dan meletakkan cangkir kopinya. Ia melipat kedua tangannya di depan dadadnya. “Aku ingin bertanya padamu, apa pendapatmu mengenai Naeun?”

“Dia baik-baik saja. Ada apa dengan pertanyaan ini? Kau tahu, aku hanya ingin membantumu untuk menyelamatkan Naeun dari serangan Kim Jongin,” jawab Myungsoo jujur. Ia memperhatikan kedua mata Dongwoon dalam-dalam. Ia ingin mencari alasan dibalik pertanyaan Dongwoon yang terlalu tiba-tiba itu, namun dia tidak menemukan apa pun.

“Lalu, jika kau berhasil menyingkirkan Jongin darinya. . . Apa yang ingin kau lakukan dengannya?” tanya Dongwoon pelan.

“Aku tidak tahu,” jawab Myungsoo sambil tersenyum getir. “Aku belum yakin karena aku tidak mau melukai perasaannya. Terutama, dia adalah orang yang sangat berharga bagimu. Aku tidak bisa melakukan apa pun semauku.”

“Tentu saja.”

Dongwoon tersenyum tipis dan kembai menyeruput kopinya.

 

 

Park Chorong menarik adiknya dengan paksa.

Sementara itu, beberapa orang hanya memperhatikan sepasang saudara itu. Sudah biasa memperhatikan mereka di waktu pagi dalam keadaan seperti itu. Bukan suatu yang asing melihat mereka seperti itu. Ribut dan ribut lagi.

“Park Jimin!”

“Oh, wae?” tanya laki-laki yang notabene merupakan adik dari Park Chorong itu sambil mengikuti kakaknya dengan terpaksa. Laki-laki itu menatap sahabatnya, Jung Hoseok, dengan penuh penderitaan. “Kau tidak lihat aku sedang disandra olehnya?”

Park Chorong menghentikan langkahnya dan menoleh pada adiknya sambil menarik laki-laki itu. “Sandra katamu?” Ia menoleh pada Hoseok. “Ya, Hoseok-ah! Kau ini benar-benar senang mengajaknya latihan dance, ya? Jangan memberinya pengaruh negatif!”

Hoseok tertawa pelan. “Ani. . . Nuna, jangan marah-marah. Lagi pula, ini bukan salahku membawanya dalam klub dance. Kim sunbae yang meminta kami untuk terus latihan agar kami bisa memenangkan perlombaan di liburan musim panas nanti.”

Chorong melotot saat mendengar perkataan Hoseok. “Lomba? Liburan musim panas? Jangan pikir aku akan mengizinkan dia untuk ikut dalam perlombaan bodoh itu! Aku ingin Jimin belajar bukan menari!”

“Oh! Nam Woohyun sunbaenim!”

Saat mendengar itu, Chorong langsung melepaskan tangannya dari Jimin, kemudian mencari-cari sosok Woohyun yang disebutkan oleh Jimin. Gadis itu menemukan kekasihnya yang tengah berlari ke arahnya dengan senyum merekah di sana.

“Chorong-ah? Apa yang kau lakukan disini?” tanya laki-laki itu sambil membenarkan posisi dasinya yang mencekik lehernya. Ia terkikih pelan saat melihat wajah Chorong. “Kenapa dengan ekspresi wajahmu itu?”

Ani. . . Kau kapan datang?”

“Aku baru saja datang dan aku melihat calon adik iparku di sini,” jawab Woohyun sambil menepuk pundak Jimin dan tersenyum lebar pada laki-laki itu. Jimin hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Woohyun. “Apa Chorong membuatmu kelelahan lagi?”

“Ya, seperti itu lah lebih tepatnya,” jawab Jimin.

Chorong langsung menjentikkan jarinya pada kening Jimin pelan. “Jangan mengucapkan hal yang tidak-tidak! Kau ini. Sudah pergi sana dan belajar dengan giat,” katanya lalu beralih pada Hoseok, “jangan membuatnya pergi latihan dance lagi dan katakan pada Kim sunbaenim-mu itu untuk tidak main-main dengan adikku karena aku akan membuatnya membayar pada hal ini.”

Hoseok menganggukkan kepalanya. “Ne, Nuna.”

Baik Hoseok maupun Jimin membungkukkan tubuh mereka pada Chorong dan Woohyun, lalu langsung bergegas pergi meninggalkan mereka. Tentu saja, dalam waktu hitungan detik, mereka sudah hilang dari pandangan Chorong juga Woohyun. Chorong hanya bisa menghela napas berat ketika keduanya hilang.

“Kau tidak perlu mencemaskan Jimin,” kata Woohyun sambil merangkul gadis itu. Keduanya pun melangkah berdampingan menuju kelas. “Kau tahu, keahliannya memang dalam menari. Tidak ada salahnya jika nanti dia memilih Universitas SOPA. Dia bisa menjadi artis yang terkenal dengan itu. Lagi pula, dia memiliki kualitas suara yang bagus.”

Lagi-lagi, Chorong menghela napas. “Bukan begitu. . . Aku tidak mau kami terjebak dalam keadaan yang sama seperti orang tua kami.”

Woohyun tersenyum tipis, mengerti keadaan yang menjerat keluarga Chorong. Kedua orang tua mereka berpisah semenjak Chorong masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Sejak saat itu, Chorong memilih untuk membiayai kehidupannya dengan adiknya sendiri karena ibunya tidak memiliki pendidikan yang bagus untuk mencari pekerjaan.

Melihat keadaan itu, Chorong memutuskan untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang tinggi. Dia tidak bisa mengandalkan hal yang hanya bisa ia impikan saja.

“Chorong, kau punya aku. Kau bisa mengandalkanku,” kata Woohyun sambil menenangkan Chorong. “Kalau kau butuh uang, aku bisa meminjamkanmu dan kau bisa mengembalikannya kapan saja. Ingat, kau punya aku. Kalau kau punya masalah, kau bisa ceritakan pada aku karena aku akan di sini mendampingimu. Jika aku sudah sukses atas usahaku sendiri, aku berjanji aku akan membahagiakanmu.”

Dalam sekejap, pipi Chorong langsung merona merah. Ia menutupi kedua pipinya menggunakan kedua telapak tangannya. Dia tidak mengerti mengapa ada orang sebaik Woohyun. Jika dia tidak bertemu dengan Woohyun, mungkin dia tidak akan pernah sebahagia ini.

Ne. . . Kau adalah yang terbaik, Woohyun-ah.

“Aku mencintaimu,” jawab Woohyun sambil mengusap kepala gadis itu.

 

 

Hyuna memasuki kelas dengan tegas. Ia meletakkan setumpuk kertas di atas meja guru, kemudian mengedarkan pandangannya pada seluruh murid kelas 2-2. Ia tersenyum tipis setelah sambutan dari anak-anaknya.

“Kalian sudah tahu, bukan? Minggu depan akan diadakan perkemahan tahunan. Seluruh murid wajib untuk mengikutinya,” kata Hyuna sambil menatap kertas-kertas yang ada di hadapannya. “Tahun ini, kita akan mengadakan perkemahan di luar sekolah. Lokasinya di daerah Incheon. Ada surat edaran untuk orang tua, tolong diberikan pada orang tua kalian dan harus ditandatangani. Selebihnya, kalian diminta untuk membentuk grup yang beranggotakan 3 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Sampai disini, ada yang ingin ditanyakan?”

Seulgi mengangkat tangannya.

Hyuna menatap gadis itu sambil menaikkan alisnya. “Ya, Kang Seulgi?”

“Apa grupnya boleh lintas kelas?” tanya gadis itu.

“Tentu saja. Tidak diwajibkan 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan mengingat bahwa jumlah muridnya pasti tidak akan sesuai seperti hal yang diinginkan. Tapi, sangat diusahakan. Kecuali, kalau kalian merupakan grup terakhir yang tidak bisa mendapatkan hal tersebut. Ada yang ingin bertanya?”

Tidak ada yang mengangkat tangan mereka.

“Baiklah. Selanjutnya, aku akan menjelaskan acaranya. Siapa yang piket hari ini?” tanya Hyuna. Dengan malas, Naeun dan Myungsoo mengangkat tangan mereka dengan tinggi. “Kalian berpasangan lagi rupanya. Kalau begitu, kalian berdua maju dan bantu aku sekarang.”

Ne, ssaem,” jawab Naeun dengan malas.

Keduanya pun maju ke depan dan Hyuna segera memberikan selembar kertas yang berisi jalannya acara pada Myungsoo, lalu memberikan sebuah kapur putih pada Naeun. “Myungsoo kau mengerti apa yang aku minta, bukan? Naeun kau hanya perlu mencatat apa yang dikatakan oleh Myungsoo.”

“Baiklah,” jawab Naeun sambil menganggukkan kepalanya.

Kemudian, mereka pun mulai melakukan tugas mereka masing-masing. Keduanya melakukan tugas mereka dengan baik dan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Hyuna. Tidak terjadi perkelahian atau adu mulut di antara keduanya. Hyuna tidak menyangka hal itu bisa terjadi karena dahulu ia sering melihat keduanya bertengkar hanya karena masalah sepele.

Setelah selesai, keduanya kembali duduk. Hyuna menatap keduanya bergantian sambil berpikir keras. “Son Dongwoon… Apa dia meracuni mereka?” ucapnya dalam suara yang sangat pelan.

Ssaem, apa kau tidak akan menjelaskan apa yang ada di papan tulis?” tanya Baekhyun akhirnya.

Pertanyaan Baekhyun berhasil membuat Hyuna tersadar. “Ya, aku akan menjelaskannya. Aku hanya berpikir sebentar tadi. Jadi, pertama-tama kalian semua pasti sudah membaca apa yang ada di depan, bukan? Mungkin sebagian dari kalian sudah mengerti dan ada yang belum mengerti. Aku akan mulai menjelaskannya sekarang.”

“Perkemahan ini dilaksanakan selama 2 hari 1 malam. Terhitung dari hari Jumat pagi hingga Sabtu malam. Kalian harus datang pukul setengah 6 pagi. Perjalanan dari Seoul menuju Incheon hanya membutuhkan waktu 1 jam dengan kereta. Kita akan berangkat dari Stasiun Yongsan jam 6 pagi.”

Beberapa anak langsung mengeluh saat mendengar waktu mereka harus datang. Hyuna hanya tersenyum tipis saat mendengar keluhan anak-anak. Memang tidak mudah untuk menyuruh mereka datang pagi, namun ini lah konsekuensinya jika mereka ingin menikmati perkemahan yang menyenangkan.

“Jika terlambat datang, kalian akan ditinggal. Tidak ada salahnya datang pagi untuk sekali saja. Lokasi perkemahan di Sambyeolcho. Kalian akan diminta untuk memasak sarapan pagi kalian sendiri, jadi kalian jangan sarapan terlalu banyak di rumah. Ada yang ingin bertanya?”

Karena tidak ada yang bertanya, Hyuna pun melanjutkan, “Setelah sarapan, kalian akan diminta untuk memasang kemah masing-masing. Lalu, setelah itu ada permainan sampai siang. Kalian akan makan siang dimana kalian harus memasak untuk per kelas. Setelah makan siang, kalian diizinkan untuk beristirahat dan meluangkan waktu sendiri sampai pukul 2. Lalu, akan ada pertandingan dodge ball per kelas. Malamnya, kalian akan memasak lagi untuk makan malam dan akan ada acara api unggun. Sebelum acara api unggun, setiap kelas diminta untuk menampilkan sebuah pertunjukan. Setelah itu kalian akan tidur.”

Setelah itu Hyuna berhenti dan meminta untuk anak-anak bertanya. Namjoo pun akhirnya mengangkat tangannya. “Lalu, bagaimana dengan hari keduanya?”

Hyuna tersenyum. “Rahasia. Hari itu adalah hari istimewa. Kalian akan mengakhiri perkemahan dengan rasa suka cita karena hari istimewa itu. Sekiranya, kalian bisa lihat sendiri barang-barang yang harus dibawa di lampiran ke-3 dalam surat edaran. Ada yang ingin bertanya lagi?” Tak ada yang menjawab lagi. “Baiklah. Kalau begitu, sekian untuk hari ini.”

“Ucapkan salam!” Woohyun mengawali.

“Baiklah, terima kasih.”

 

 

“Kau mau pergi denganku?!” tanya Naeun kesal begitu melihat Myungsoo yang sudah berpakaian rapi memasuki apartemennya. Dongwoon yang ada di pantri langsung melirik keluar ke arah mereka.

Dongwoon meletakkan pemanggangnya dan juga sarung tangannya. “Ada apa, Naeun?” tanya kakaknya itu sambil melangkah mendekati mereka. “Jangan memarahinya, aku yang memintanya untuk belanja bersamamu. Tidak ada salahnya, bukan? Kalian juga satu kelompok.”

Naeun ingin menjerit kesal karena ia lupa faktanya dia dan Myungsoo memang terpaksa satu kelompok. Jika saja waktu itu dia tidak berdoa. . .

.

.

.

Woohyun mengambil alih kelas dengan meminta mereka untuk diam sejenak setelah kepergian Hyuna. Ia memanggil Chorong untuk membantunya.

“Aku ingin kita semua membentuk kelompok! Pertama-tama, setiap perempuan dan setiap laki-laki membentuk kelompok yang terdiri atas 3 orang. Jika kalian telah membentuknya, kalian bisa menulis di depan kelompok kalian.”

Dalam waktu sekejap, mereka telah membentuk kelompok perempuan yang terdiri atas 3 orang dan laki-laki yang terdiri atas 3 orang. Tidak semuanya terbentuk 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan, ada yang hanya 1 kelompok 2 orang perempuan atau bahkan 1 orang laki-laki.

Satu-persatu perwakilan kelompok pun maju ke depan untuk menuliskan nama anggota kelompok mereka.

Kelompok 1: Dongwoo, Hoya, Myungsoo

Kelompok 2: Bomi, Eunji, Naeun

Kelompok 3: Woohyun, Sunggyu, Sungyeol

Kelompok 4: Kyungsoo, Minseok, Suho

Kelompok 5: Chorong, Namjoo, Yookyung

Kelompok 6: Chanyeol, Baekhyun, Sehun

Kelompok 7: Jongin & Sungjong

Kelompok 8: Hayoung & Seulgi

Kelompok 9: Irene & Yerim

Kelompok 10: Joy & Wendy

“Baiklah. Kenapa Hayoung, Seulgi, Irene, Yerim, Joy, dan Wendy tidak dibagi 2 saja? Kalian bisa membentuk kelompok yang pas,” saran Woohyun akhirnya. Mereka hanya menggeleng kepala dan Seulgi mengangkat tangannya. “Ada apa?”

“Aku sudah berjanji akan satu kelompok dengan Krystal,” kata gadis itu santai.

“Baiklah. Kalau begitu, kelompok yang lain juga bisa lintas kelas, bukan?” tanya Woohyun. “Kalau kalian tidak mendapat 3 anggota laki-laki dalam kelompok kalian, kalian diizinkan untuk bergabung dengan kelas lain atau membentuk satu kelompok 4 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. Itu saranku untuk kelompok Irene-Yerim dan Joy-Wendy.”

Setelah itu mereka hanya menganggukkan kepala mereka. Naeun sudah berdoa setengah mati agar dia tidak satu kelompok dengan Myungsoo. Bagaimana pun, dia sangat tidak ingin satu kelompok dengan laki-laki itu.

Sebenarnya memang bukan masalah. . .

Tapi, akhir-akhir ini dia tidak tahu mengapa setiap Myungsoo mengajaknya berbicara, ia justru menatap ke arah lain dan tidak bisa menatap kembali mata Myungsoo seperti sedia kala.

“Kalau begitu, aku akan membuat nomor undian. Dengan begitu, baik aku dan Chorong akan mengambil satu persatu nomor kelompok. Misalkan, di tanganku ada kertas kelompok nomor 3 dan di tangan Chorong ada kelompok nomor 5, maka kelompok 3 dan kelompok 5 akan satu kelompok. Aku memegang kertas kelompok laki-laki dan Chorong memegang kertas kelompok perempuan. Kami akan melakukannya dengan jujur, jadi kalian semua bisa lihat.”

Anak-anak hanya menganggukkan kepala mereka, toh mereka tidak punya cara lain. Daripada mereka membentuk kelompok sendiri dan justru terjadi keributan seperti yang telah dibayangkan oleh Naeun apabila dia satu kelompok dengan Myungsoo. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

“Baiklah, yang pertama adalah kelompok 3.” Woohyun mengeluarkan sebuah kertas yang bertuliskan 3 dan menunjukkannya pada murid kelas 2-2. “Wah, ini kelompokku. Semoga dengan kelompok 5, ya.”

Murid-murid hanya bersiul pelan karena mereka tahu di kelompok 5 ada Chorong. Tentu saja, Woohyun sangat berharap agar satu kelompok dengan Chorong. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan. Chorong hanya tertawa menanggapi perkataan Woohyun. Kemudian, gadis itu memasukkan tangannya ke dalam kotak yang berisi kertas-kertas tergulung, lalu mengambil salah satunya. Ia mengeluarkan tangannya dan membuka kertasnya kepada anak-anak.

“Asik, Woohyun!”

“Kau memang jagoan!”

“Kalian ini! Memangnya dia ambil kertas nomor berapa?”

“Kelompok 5, Bodoh!”

Chorong hanya tersenyum tipis. Dia tidak mengerti kenapa dia bisa satu kelompok dengan Woohyun. Padahal, ini hanyalah keberuntungan. Setelah itu, dilanjutkan dengan kelompok 4 dan kelompok 10 yang menjadi satu tim. Mereka membutuhkan satu anggota perempuan dari kelas lain.

Waktu bergulir cepat hingga akhirnya seluruh kelompok pun terbentuk.

Kelompok 1: Chorong, Namjoo, Sunggyu, Sungyeol, Woohyun, Yookyung

Kelompok 2: Hayoung, Jongin, Sungjong, Seulgi

Kelompok 3: Bomi, Dongwoo, Eunji, Hoya, Myungsoo, Naeun

Kelompok 4: Baekhyun, Chanyeol, Irene, Sehun, Yerim

Kelompok 5: Joy, Kyungsoo, Minseok, Suho, Wendy

“Artinya, ada 3 kelompok yang harus lintas kelas. Karena, jika aku membagi kelompok 2 ke dalam kelompok 5 dan kelompok 6, Jongin dan Sungjong membutuhkan anggota yang banyak dari kelas lain. Maka, aku meminta kalian untuk lintas kelas. Kelompok 2, kelompiok 5, dan kelompok 6 bisa bernegosiasi untuk menukar anggota atau apa pun itu caranya.”

Sementara itu, Naeun sudah menelungkupkan wajahnya di atas meja. Dia tidak percaya faktanya dia satu kelompok dengan laki-laki itu! Benar-benar, dia memang seharusnya tidak berdoa agar tidak satu kelompok dengan Myungsoo. Keadaannya justru terbalik.

“Naeun!” panggil Hoya dan Dongwoo bersamaan.

“Apa?!” tanya Naeun kesal sambil mengangkat wajahnya.

Baik Hoya maupun Dongwoo langsung terkejut, namun mereka hanya terkekeh pelan melihat wajah Naeun yang kesal. “Kau mau tukar kelompok dengan yang lain? Aku bisa minta Woohyun untuk melakukannya,” kata Hoya. “Sebenarnya, aku sudah berharap agar kita semua satu kelompok.”

“Kau gila, ya?!”  tanya Naeun sambil menyodorkan kedua jarinya hendak mencolok tubuh Hoya. Namun, Hoya segera menyingkir. “Kami bertiga tidak ingin satu kelompok dengan kalian bertiga.”

“Sebenarnya, Naeun… Aku berdoa agar kita satu kelompok,” kata Eunji. Bomi pun mengangguk setuju. “Karena kelompok lain tampaknya tidak bisa diandalkan. Kita kan memang sudah satu tim. Jadi, mau berdoa pun, kita pasti akan ditakdirkan bersama.”

Naeun langsung melotot pada kedua sahabatnya itu.

“Oh ya, ngomong-ngomong aku menyabotase kertas itu agar kita satu kelompok,” kata Dongwoo sambil tersenyum lebar. Naeun melotot saat mendengar ucapan Dongwoo. “Sebenarnya, tidak juga. Memang kebetulan saja.”

“Terserah kalian saja!”

.

.

.

Naeun memejamkan matanya.

Gadis itu memilih untuk tidur. Sementara, dia sendiri samar-samar mendengarkan perbincangan kedua laki-laki yang satu mobil dengannya. Di depan, Myungsoo dan Dongwoon tengah asik berbincang-bincang, sementara itu Naeun yang duduk di belakang hanya bisa mendengarkan mereka karena dia sendiri tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan mereka.

“Waktu itu, kau sangat dekat dengannya,” kata Dongwoon.

“Tidak juga,” kata Myungsoo. “Dia memang salah satu gadis paling baik di kelas. Dia suka membantuku. Sayang sekali, jika saja waktu itu aku menyelamatkannya. . . Mungkin, aku akan tetap les di sana dan tetap berteman dengan Kim Jongin.”

Gadis? Berteman dengan Kim Jongin?

Naeun memejamkan matanya erat-erat agar dia tidak tertidur dahulu sebelum mendengarkan pembicaraan kedua orang tersebut. Dia tentu saja tidak bisa melewatkan pembicaraan ini secara sia-sia.

“Dia sangat mirip dengan Naeun,” kata Dongwoon sambil terkekeh pelan. Jalanan yang padat merapat siang ini membuat Dongwoon ingin menikmati mengendarai mobil. “Mereka sangat mirip, sampai-sampai aku lupa kalau Naeun adalah adik kandungku. Aku bahkan bertanya apa dia mengenal Naeun. Ternyata dia memang tidak mengenal Naeun.”

“Ya, sikap mereka memang sangat mirip,” jawab Myungsoo. “Aku tidak menyangka bahwa Nayoung menyukai Jongin. Kalau saja, aku bisa memberitahunya lebih awal bahwa Jongin bukanlah laki-laki yang tepat untuknya. Aku memang sahabat yang tidak bisa diandalkan. Dia sampai bunuh diri seperti itu.”

Bunuh diri?

Jantung Naeun berdegup kencang. Pikiran gadis itu mendadak menjadi rumit. Dia harus tetap mempertahankan aktinya, yaitu tetap tidur di sana dan mendengarkan semuanya sampai selesai.

“Tapi, semenjak bertemu Nayoung, kau juga berhenti mempermainkan gadis-gadis,” ujar Dongwoon. “Kau pasti menyukai Nayoung.”

“Tidak, aku tidak menyukainya dalam bentuk perasaan,” tegas Myungsoo. “Aku menyukainya sebagai seorang sahabat. Dia berhasil membuatku sadar bahwa tidak ada gunanya aku menurunkan sifat ayahku—mabuk-mabukan, bermain wanita, dan segalanya. Ayahku selingkuh saat aku masih berumur 8 tahun. Aku ingat sekali, saat itu dia membawa selingkuhannya ke rumah dan ibuku langsung berteriak dan mencaci-maki wanita itu. Aku hanya bisa memperhatikan mereka dari kamar, tanpa bisa berbuat apa-apa.”

“Wajar, kau masih kecil,” kata Dongwoon sambil menghela napas berat.

“Saat itu, aku hanya bisa memperhatikan ibuku yang terus-menerus menangis di kamarnya. Hal itu mungkin biasa bagiku karena ibu bilang bahwa dia baik-baik saja. Sampai akhirnya, aku lulus ujian sekolah menengah dan aku diterima di SMA Skoolite. Mereka memutuskan untuk bercerai. Mereka memperebutkan aku karena aku adalah anak satu-satunya. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan Incheon dan meminta tinggal sendiri dengan uang ayahku yang membelikanku apartemen ini.”

“Pada akhirnya, kau melampiaskan segalanya dengan bermain perempuan,” kata Dongwoon sambil terkekeh lagi. “Aku ingat saat itu kau pertama kali datang ke tempat les dimana aku mengajar. Kau merangkul dua gadis dan kau bahkan sepertinya terpaksa datang ke sana karena panggilan dari tempat les. Tempat les mengancam akan menelpon ibumu jika kau tidak datang, bukan?”

“Ya,” jawab Myungsoo sambil menahan senyumannya. “Aku tidak mau menyulitkan ibuku. Di antara ayah dan ibuku, aku lebih mencintai ibuku karena dia adalah segalanya. Meskipun pada akhirnya, aku tahu aku juga mencintai ayahku karena ayahku yang memberikanku nasihat. Sampai akhirnya, aku bertemu denganmu dan Nayoung. Kalian mengajarkanku banyak hal.”

Dongwoon menatap ke arah jalan yang masih juga padat. Ia tersenyum mendengar ucapan Dongwoon.

“Orang tua kami juga hampir seperti itu, namun hal itu berhasil diatasi,” kata Dongwoon memulai pembicaraan lagi. “Saat itu, Naeun masih berumur 5 tahun. Dia tidak mengerti apa-apa. Aku baru menduduki bangku kelas 1 SMP. Mereka bertengkar karena ayahku tertangkap selingkuh. Namun, begitu mereka mendengar Naeun yang menjatuhkan gelas dan gadis itu menginjaknya, mereka langsung berhenti bertengkar dan saling minta maaf. Mereka bahkan menyalahkan diri mereka karena tidak bisa menjaga Naeun. Saat itu, aku sangat senang karena Naeun lahir di dunia ini. Jika tidak ada Naeun, aku mungkin tidak akan bisa berbuat apa-apa dan membiarkan mereka bertengkar.”

“Mungkin seharusnya Naeun lah kakakmu, Hyung,” kata Myungsoo sambil tergelak. Dongwoon hanya meliriknya tajam, lalu kembali melajukan mobilnya dalam kecepatan rendah saat kemacetan mulai berkurang. “Aku hanya bercanda. Tentu saja, kau kakak yang terbaik untuk Naeun.”

Dongwoon hanya terkekeh pelan. “Ah, ya, apa yang dikatakan Jongin pada Nayoung saat itu?” tanya Dongwoon penasaran.

“Jongin mengatakan pada Nayoung bahwa dia tidak menyukai Nayoung karena perasannya pada Nayoung hanya sebatas sahabat,” kata Myungsoo sambil menghela napas berat. “Padahal, saat itu jelas-jelas Jongin mencium gadis itu dan mengatakan bahwa dia akan melindungi Nayoung. Aku percaya pada Jongin dengan mudah, namun sebelum akhirnya Nayoung bunuh diri, Jongin bilang padaku bahwa dia hanya mempermainkan Nayoung karena Nayoung sangat mirip dengan ibunya.”

Aku tidak menyangka. . . Mereka telah mengenal satu sama lain, ucap Naeun dalam hati. Gadis itu terus memejamkan matanya, bersikap layaknya ia tengah tertidur lelap. Pantas saja, mereka tampak membenci satu sama lain. Ternyata ini semua alasannya mereka.

“Besok dua tahun meninggalnya Nayoung,” kata Dongwoon akhirnya.

“Aku tidak akan ke sana,” ucap Myungsoo dengan tenang. “Aku sudah mengunjunginya tahun lalu. Aku rasa sekarang aku tidak perlu menemuinya lagi karena. . . Seharusnya, Jongin lah yang datang ke sana untuk meminta maaf atas segalanya. Kalau saja saat itu dia tidak mengucapkan hal itu dan membiarkan segalanya, maka Nayoung masih ada di sini.”

“Tidak ada yang perlu kau sesali,” kata Dongwoon.

“Memang seharusnya aku tidak menyesalinya karena aku justru bertemu dengan adikmu,” kata Myungsoo. “Aku seperti melihat Nayoung yang terlahir kembali. Tapi, aku tidak bisa mengatakan bahwa mereka sangat mirip karena aku sadar bahwa Naeun adalah Nayoung yang lebih baik. Karena itu lah. . . Aku memutuskan untuk melindunginya dari Kim Jongin. Aku tidak akan membiarkan Naeun jatuh cinta pada Jongin sama seperti apa yang dilakukan oleh Nayoung saat itu.”

“Itu lah mengapa aku meminta bantuanmu,” ujar Dongwoon sambil menghentikan mobilnya. “Aku tidak ingin adikku berada dalam keadaan yang sama. Selagi menghentikan Naeun mendekati Jongin, kumohon kau lah satu-satunya orang yang bisa mengubah sifat Jongin. Tolong.”

“Aku. . . Aku akan berusaha.”

Dongwoon melirik ke belakang memperhatikan Naeun yang ia pikir masih terlelap tidur. Laki-laki itu menepuk punggung lengan adiknya dengan pelan, sambil memanggil namanya berkali-kali.

Sementara itu, Naeun yang sebenarnya tidak tidur bersikap seolah ia baru saja baru bangun tidur. Gadis itu mengerjap berkali-kali, sampai akhirnya ia menemukan wajah kakaknya dan Myungsoo yang tengah memperhatikannya. Gadis itu lantas menegakkan tubuhnya.

“A-ah! Sudah sampai, ya?” tanya Naeun dengan kikuk. Ia memegang perutnya tiba-tiba dan membuka pintu mobil dengan cepat. “Mendadak aku sakit perut! Aku mau ke kamar mandi dulu, ya! Setelah itu aku akan menghubungi kalian, oke?”

Belum sempat menjawab pertanyaan Naeun, Naeun sudah melenggang pergi meninggalkan Myungsoo dan Dongwoon dengan tatapan heran. Baik Myungsoo dan Dongwoon memperhatikan gadis itu hingga ia hilang dari pandangan mereka. Dongwoon menolehkan kepalanya pada Myungsoo dengan kening berkerut, begitu juga dengan Myungsoo.

“Mungkinkah… Kau memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Dongwoon.

“Dia tidak mendengar pembicaraan kita, bukan?” tanya Myungsoo balik.

Dongwoon menggelengkan kepalanya. “Tidak, dia pasti tidak mendengarnya karena kalau dia mendengarnya, dia tidak bisa menahan akting pura-pura tidurnya. Aku sudah mengeceknya tadi, dia memang benar-benar tertidur. Mungkin dia sedikit mual karena terlalu lama di jalan.”

Myungsoo menghela napas. “Aku berharap demikian. Akan jadi hal yang sangat memalukan jika dia mendengar bahwa aku akan melindunginya.”

“Kau tidak perlu malu karena itu hal yang wajar.”

“Wajar?” tanya Myungsoo.

“Ya, wajar. Kau pasti menaruh hati padanya.”

 

To be Continued 

January 29, 2016 — 03:00 P.M.

::::

a.n.: Jangan lupa komentar, like, rate, dan segala macam feedback lainnya, ya!♥

11 thoughts on “[Chapter 6] Forbidden Love

  1. yeayyyyy,,finally,,past jongin and myungsoo,,
    ahh,,jongin nappeun namja rupanya,,hohoho
    next chap,,author-nim,,
    d tnggu nie klnjutannny,,
    keep writng n hwaiting,,kamsa^^

  2. AKHIRNYAA kebongkar juga masa lalu myungsoo & jongin ;;; trnyata dulu myung sempet playboy jg toh wkss Gasabar sm lanjutannya nih MyungEun buruan jadian juseyong(?)
    “Kau tidak perlu malu karena itu hal yang wajar.”
    “Wajar?” tanya Myungsoo.
    “Ya, wajar. Kau pasti menaruh hati padanya.”

    Baca dialong terakhir ini bikin hebring ih suka>< keep writing young! ♡

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s