[CHAPTER 7] XXME BASTARD!!!

XXME7

Title: XXME BASTARD!!! | Author: Cimolxx92 | Main Cast: BIGBANG’s Kwon Jiyong  (G-Dragon), Sandara Park (2NE1), Jennie Kim (New YG Artist), Nam Taehyun (WINNER), Mizuhara Kiko |Support Cast: YG FAMILY |Rating: PG-15| Genre: Romance, Family, Friendship |Length: Chapter

Disclaimer

Plot Is Mine. The Characters are belong to God. Say No To Plagiarism!

Previous: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

©2016

But but but but I love you, girl. I wish you would just stay with me…

But but but but I love you, girl. I wish you would just onto me…

But but but but I love you, girl.

Even if I don’t say anything,

Please understand that deep inside I don’t want you to let me go.

 

“Mizuhara Kiko?”

Kiko menengadah menatap seseorang yang berdiri dihadapannya, Kiko melirik jus tomat didepannya dengan tidak berselera, sekarang, hilang sudah nafsu makannya akibat kedatangan CEO dari agensinya yang selalu memeras dirinya dengan berbagai cara.

“Atau… aku harus mulai memanggilmu Mrs. Kwon?”

“Tolong jangan memulai.” Kiko menggertakan giginya dan melihat pria paruh baya dengan setelan jas mahal itu mulai duduk didepannya. “Mr. Takuyama, aku sudah menuruti permintaan anda.” Kiko menyipitkan matanya dan mengetukan jari rampingnya keatas meja kayu. “Bukankah sekarang aku sangat terkenal? Namaku masih ada di mesin pencarian hingga detik ini, majalah Vogue dan W Korea bahkan mengajukan kontrak eksklusif padaku. Aku menjadi orang yang sangat terkenal hanya dengan diam manis disamping seorang G-Dragon.” Kiko tersenyum bangga, dia merasa sangat bangga pada dirinya yang sudah sampai sejauh ini. Bangga akan kelicikan dan kepintarannya.

“Tsk… tapi Kiko Chan… kau melupakan sesuatu.” Mr. Takuyama menyembunyikan senyumnya dibalik tangan yang menyangga dagunya. “Posisi puncak ini kau dapatkan dengan cara yang licik, dan bodohnya kau, kau bahkan tertangkap oleh Yang Hyunsuk! Bukankah sekarang waktunya tinggal satu setengah bulan? Setelah itu YG Ent akan menggelar konferensi pers yang menyatakan hubunganmu dan G-Dragon berakhir, aku kira itu akan sangat mengejutkan para fans, tetapi fans diseluruh dunia ini tahu, kalau G-Dragon adalah seorang bad boy yang bisa mendapatkan wanita apapun yang dia inginkan. Mereka akan mengerti dan segera melupakanmu dalam waktu singkat. Kau hanya tinggal menunggu waktu, sebuah undangan indah sampai pada tanganmu, dengan nama Kwon Jiyong dan Sandara Park tertera dengan tinta emas.”

Kiko menggenggam garpu ditangannya dengan kuat hingga kuku jarinya memutih. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

“Oh, Yeah. Lalu selanjutnya apa? Membiarkan mereka menyeretmu kepengadilan? Membuatmu menjadi sampah masyarakat?” Mr. Takuyama tertawa dengan berbahaya, matanya yang dingin kembali menatap Kiko “Atau kau mau melakukan rencana baru untuk menyingkirkan Sandara Park?”

Mata Kiko melebar, melakukan hal kotor itu sekali lagi? Tidak, dia tidak sanggup melakukan itu, meskipun Kiko benar-benar ingin sekali mencekik Dara, dia tahu, jauh dilubuk hatinya, sekarang dia sedang sangat ketakutan.

“Kau takut melakukannya kan?” Mr.Takuyama kembali tertawa “Kau hanya tinggal tunggu tanggal main yang akan Yang Hyunsuk lakukan. Kau bisa duduk disini sambil menunggu dengan aman, dan menerima tawaran dari beberapa produser yang ingin memakaimu sebagai bintang dalam film porno mereka.” Mr. Takuyama mulai berdiri dan dengan senyum merendahkan, dia meninggalkan Kiko yang masih membeku ditempatnya.

Air mata menetes pelan dari mata Kiko, dia menangis bukan karena merasa sedih, tetapi karena rasa marah yang membuncah didalam dirinya. Semua ini terjadi karena Sandara Park! Semuanya karena SANDARA PARK!!! Kiko berteriak dalam hati dan menancapkan garpu ditangannya ke meja kayu, berharap dirinya benar-benar bisa menancapkan benda tajam itu ke leher Sandara Park.

***

“Semuanya baik-baik saja?”

Jennie tersentak saat mendengar suara Dara dibalik punggungnya, Dia menoleh dan melihat Dara sudah duduk diseberang mejanya membawa kopi dan tersenyum hangat padanya.

“Unni, bukankah kau akan berangkat untuk AON?” Jennie mulai menutup tab pada komputernya dan menatap Dara dengan penasaran, Dara jarang sekali nongkrong di café YG. Dia lebih sering mengurung diri di ruang dance atau sekedar mencari angin segar diatap gedung YG.

“Uhm, sehabis makan siang.” Dara menjawab singkat dan memainkan busa pada cangkirnya. “Apa yang kau lakukan? Kau terlihat aneh jika sedang serius seperti itu.”

“Ahahaha, aku sedang mencoba melanjutkan novel onlineku.” Jennie menjelaskan dengan sedikit malu. “Entah kenapa, rasanya semakin aku membaca komentar para pembaca, aku jadi ingin lebih cepat menyelesaikannya.” Jennie berkata riang.

“Kau benar-benar ingin tahu rasanya berciuman?” Dara memajukan wajahnya dan tersenyum jahil pada Jennie.

“Waaah, Unni, Aku benar-benar penasaran. Pertama, aku mengincar Jiyong Oppa untuk menciumku. Tapi rasanya itu sedikit mustahil, walau aku sudah berdandan seperti gadis dewasa, dia tetap memicingkan matanya seperti seorang Ayah yang tidak suka dengan apa yang dipakai oleh putri satu-satunya.” Jennie menghela napas kesal dan menopang dagunya dengan tangan kirinya sambil cemberut. “Apa dia benar-benar pandai berciuman?”

“Huh?” Dara menatap Jennie sesaat, kemudian dia bisa merasakan wajahnya mulai memanas.

“Huaaaah, Unni, APAKAH SEPANDAI ITU DIA MENCIUMMU?” Jennie berteriak tanpa sadar, seluruh staff yang sedang makan dan mengobrol menatap mereka berdua sambil tersenyum geli.

“Sssst… Kau selalu seperti ini!” Dara berkata pasrah pada gadis remaja dihadapannya yang sedang terkikik geli sambil memegangi perutnya. Dara terpaksa ikut tertawa melihat tingkah Jennie, gadis didepannya benar-benar langka, dia bersikap sesuka hati dengan kepolosan dan keluguan anak seusianya, menjadi dirinya sendiri dan tidak peduli dengan penilaian orang lain. Jennie benar-benar gadis manis yang luar biasa, Yang Hyunsuk tidak pernah salah memilih dan menilai orang.

Daebak, Unni, Ceritakan padaku tentang malam pertama kalian.” Jennie berkata dengan penuh semangat, dia meminum jus Strawberry sekali teguk, membuka sebuah note dan menyiapkan pulpen. Jennie terlihat seperti seorang Reporter yang sedang mewawancarai narasumbernya.

“Malam pertama?” Sandara mengerutkan kening. “Tidak ada yang namanya malam pertama untuk kami.”

Heol.” Jennie memasang wajah kecewa. “Kau bohong.”

“Itu benar. Jiyongie tidak pernah tidur denganku, dia hanya bisa memeluk dan mencium saja, tidak lebih.”

Heol, Unni, itu kan gaya pacaran anak remaja. Dasar si otak mesum menyedihkan.” Jennie kembali memasukan notenya dengan asal kedalam tas ransel besarnya. Dia mulai mencari keberadaan ponselnya.

“Ya, Jennie, sebenarnya kau bisa memasukan Gaho kedalam tasmu, aku serius, apa saja yang kau bawa?”

“Tas ini?” Jennie menepuk tasnya dengan bangga dan menyeringai. “Tas ini, pokoknya bisa menyelamatkan siapapun yang sedang dalam bahaya, dan Unni…” Jennie mengecilkan suaranya hingga menyerupai sebuah bisikan dan memajukan wajahnya pada Dara. “Aku sudah meng-upgrade tas ini, aku menyiapkan banyak senjata untuk melawan pelacur itu, tenang saja, aku akan melindungi Unni!”

Dara tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi dia meraskan kehangatan mengaliri hatinya dan menyadari satu hal. “Terimakasih Jennie, aku benar-benar gadis yang sangat beruntung.” Sandara tersenyum tulus pada Jennie yang menatapnya dengan berbinar. Ada banyak orang yang mencintaiku, aku benar-benar beruntung. Apa wanita itu juga memiliki orang-orang yang hangat seperti ini disekelilingnya?  Untuk pertamakalinya, Dara merasa sangat kasihan pada Mizuhara Kiko.

“Aku akan memarahi Jiyong Oppa, Unni tenang saja.” Jennie berkata serius sambil mengotak-atik ponselnya.

“Huh? Apa maksudmu?” Dara menghirup kopinya dengan pelan saat menyadari apa maksud gadis didepannya.

“Yak! Ajjushi!!!” Jennie berteriak pada ponselnya. Dara hanya bisa membesarkan mata saat tahu siapa yang sedang berbicara pada Jennie, dia memasang tanda X pada tangannya, berusaha menghentikan Jennie mengatakan hal yang memalukan – Lagi.

Kenapa kau selalu menggangguku disaat aku sedang dalam imajinasi indah? Benar-benar menyebalkan. Ada apa lagi sekarang?” Jiyong menjawab dengan nada kesal.

“Imajinasi indah?” Jennie melirik Dara yang sedang berkomat-kamit padanya. “Ah~ Apa kau sedang membayangkan Dara Unni  memakai pakaian dalam seksi yang bisa dimakan?”

“YAAK!!! DARIMANA KAU TAHU HAL SEPERTI ITU?!!!” Jiyong berteriak kencang hingga Jennie harus menjauhkan ponselnya sejenak. Dara sekarang menyandarkan kepalanya pada meja dan merasa terpuruk atas apa yang baru saja Jennie katakan.

“Ajjushi, kau tahu, kau itu sangat pengecut, kau sudah meniduri banyak wanita tetapi tidak dengan Dara Unni, kenapa begitu? Kau tahu kalau Dara Unni sangat sedih akan hal itu?!!! Ajjushi mesum macam apa kau ini? Apa kau akan terus begini? Menunggu hingga Dara Unni berubah menjadi nenek-nenek?” Jennie kehabisan napas karena berbicara tanpa jeda dan melirik Dara yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.

Tidak ada yang bisa menghentikanmu yah? Ya sudah, aku akan menghubungi Namtae.”

“Namtae? Kenapa Ajjushi malah mengalihkan pembicaraan ke si teripang? Aku…” tut… tut… tut… Jennie mengerutkan kening pada ponselnya dan menggeram seperti kucing. “Dia benar-benar tidak punya sopan santun. Unni, apa sih yang kau suka dari Ajjushi ini? Dia benar-benar menyebalkan.”

“Jennie… kau membuat kepalaku sakit.” Dara berkata lesu dan menatap gadis didepannya yang tampak sangat kebingungan. “Jennie-ya, Ciuman itu tidak bisa dilakukan sembarangan, Ciuman harus dilakukan dengan orang yang kita sukai.”

“Harus dengan orang yang disukai?”

“Hum.” Dara mengangguk dan tersenyum “Kau tidak ingin sembarangan menempelkan bibirmu pada orang yang kau temui dijalan kan? Kau tidak akan merasakan perbedaan apapun dan tulisanmu akan tetap dianggap jelek.”

Jennie terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang dikatakan Dara. “Jadi… Aku harus bagaimana?”

“Lakukanlah bersama seseorang yang membuat jantungmu berdegub kencang.”

“Bersama seseorang yang membuat jantungku berdegub?”

“Hum, Saat kau berada didekatnya, atau kau sedang bersamanya, kau merasa sangat nyaman dan terlindungi. Semua indramu menjadi sangat peka bahkan hanya untuk hal-hal kecil, seperti harum shampoo yang digunakannya, atau parfum. Saat dia tersenyum dan berbicara, kau akan menanggapinya dengan gembira. Dan tidak ada orang lain selain dirinya yang bisa menatapmu tepat di bola matamu, karena orang itu benar-benar berbicara jujur padamu dan ingin menyampaikan perasaannya dengan baik.”

“Aku tidak memiliki seseorang seperti itu.” Jennie berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Membayangkan dirinya merasakan semua yang dikatakan Dara adalah hal paling konyol yang pernah ada.

“Kau yakin?”

Jennie membuka mulutnya untuk menjawab Dara, tapi segera membungkam saat matanya menatap sosok seseorang yang berjalan kearahnya. Sepertinya ini bukan pertamakalinya dia melihat Namtae, tetapi perasaannya mulai aneh dan tangannya mulai berkeringat. Namtae berpenampilan seperti biasa saat dia tengah sibuk didalam studionya. Earphone yang menggantung dilehernya yang jenjang, Sweater berwarna biru toska dan Jeans yang tampaknya kumal dan belum masuk mesin cuci selama beberapa hari. Dia begitu NORMAL. Dan kenapa Jennie merasa perutnya diremas oleh sesuatu yang tidak terlihat.

“Kau membuat ulah lagi?” Namtae langsung duduk disamping Jennie dan menyapa Dara. “Nuuna, apa dia menyusahkanmu lagi?”

“Ahaha, tidak, tidak sama sekali. Aku cukup menikmati waktuku bersama dengan Jennie… Yang sedang diam seribu bahasa sekarang.” Dara berkata sambil berusaha menahan tawanya yang hampir meledak. Gadis didepannya benar-benar tampak seperti patung lilin.

“Ya! Kau kenapa? Apa kau sakit?” Namtae menatap Jennie yang tampak sedang menahan buang angin. Wajahnya tampak memerah. “Kau demam?” Namtae menempelkan tangannya ke kening Jennie. Gadis itu masih diam dan tidak bergeming sedikitpun.

“Jennie-yaaa, ingat kata-kataku tadi ya!” Dara mulai bangkit dari tempat duduknya dan merasa geli melihat Namtae yang mengerutkan keningnya dalam-dalam karena kebingungan. “Taehyuna, Kau cepat juga datangnya.”

“Jiyongie Hyung membentakku dan menyuruhku segera lari kesini untuk membungkam mulut Gizibe ini, tapi… dia tampaknya benar-benar bungkam sekarang.”

“Benar-benar ajaib bukan? Ini semua berkat kehadiranmu!!!” Dara terbahak sambil menyampirkan tas dipunggungnya.

“Huh?”

“Urus dia baik-baik, aku pergi.”

“Nuuna, tolong jelaskan kenapa dia seperti ini?” Namtae berteriak saat Dara mulai berlari kecil meninggalkan Café. Dia menghela napas panjang melihat Jennie yang sedang menatapnya tidak berkedip sama sekali. “Apa kepalamu terbentur disuatu tempat? Ya! Kau harus lebih berhati-hati, Kau tidak bisa terus berlarian kesana kemari seperti Hyena! Kau harus ingat kalau kau itu cewek! Bagaimana jika kau jadi gila? Aku tidak mau punya teman yang punya sakit jiwa, Aku pernah baca kalau gila itu bisa menular, bagaimana ka…” Namtae tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena tangan Jennie tiba-tiba membungkam mulutnya.

“Kau berbicara seperti seorang kakek berbau balsam.” Jennie mendesis kesal.

“Are you… Okay?” Namtae berkata saat Jennie melepaskan tangannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya begitu cepat, seolah dia sedang mengusir ribuan nyamuk yang berdengung berisik disekitar kepalanya.

“YA! KAU JANGAN NEMPEL-NEMPEL PADAKU BEGINI!!!” Jennie berteriak nyaring hingga seluruh orang didalam café menghentikan aktivitas mereka dan menoleh menatap Jennie dan Namtae.

“A… AHAHAHAHA… Kepalanya baru saja terbentur sesuatu… maaf…” Namtae berdiri dan membungkuk kesegala arah. Rasanya dia ingin sekali membawa gadis itu ke Rumah Sakit jiwa sekarang juga.

“Kau…” Namtae menggeram. “YA! Memangnya siapa yang mau nempel-nempel pada cewek bar-bar sepertimu!”

“Kau!” Jennie membesarkan matanya yang bulat sempurna. “Kau nempel-nempel padaku, apa kau sedang merusaha mencium aroma shampooku?”

“Huh?”

Hening

Jennie menghentakkan kakinya kesal dan memasukkan semua barang-barangnya yang berantakan diatas meja. “Aku punya rencana besar.”

“Oh yeah, kalau begitu selamat bersenang-senang mengurus “rencana besarmu” itu.” Namtae mulai melangkahkan kakinya tetapi segera tertahan karena Jennie berhasil menarik sweaternya hingga sangat melar.

“Karena kau suka nempel-nempel padaku, aku berbaik hati mengajakmu bersenang-senang.”

“Terimakasih banyak.” Namtae berbalik dan mengumbar senyum malaikatnya. “Tapi aku benar-benar sibuk kau bisa bersenang-senang sendiri.”

“Oh, Ayolaaaaaah…” Jennie menarik-narik sweater Namtae dan memasang wajah merajuk. “Ini berkaitan dengan Dara unni… Bantulah aku…”

“Dara Nuuna?”

Mereka berdua terdiam dan saling berpandangan. Dan secara bersamaan, seringai licik mulai tergambar diwajah mereka berdua.

“Ajak Mino juga, Okay?”

“Kenapa harus mengajak dia sih?”

“Agar kau tidak nempel-nempel terus padaku.” Jennie bangkit dan mulai berjalan dengan tas super besar dipunggungnya. Meninggalkan Namtae yang masih berdiri terpaku, kehabisan kata-kata karena apa yang dikatakan Jennie adalah kebenaran.

***

Rintik hujan perlahan turun membasahi Tokyo. Kiko duduk diam, wajahnya dan pandangan matanya fokus pada seorang pria yang sedang duduk didepannya.

“Kau kembali ke apartemen lamamu?”

“Ya, belakangan ini aku butuh ketenangan.” Jemari Kiko bertaut pada cangkir, dengan pandangan intens, dia menghirup tehnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

“Kau jadi semakin licik.”

“Untuk bertahan hidup didalam hutan rimba, kau harus memakan mangsamu dengan cepat, sebelum direbut oleh yang lain.” Kiko berkata tenang, setenang rintik hujan yang semakin lama semakin turun dengan deras.

“Kiko-Chan… Jika ini gagal…”

“Jika ini gagal… Aku akan menerima tawaran bermain dalam film porno yang kau bintangi Hiiro-san.” Kiko menyunggingkan senyumnya, Tangannya dengan anggun menaruh kembali cangkir yang diangkatnya keatas meja. Sebuah noda merah dari lipstick dibibir wanita itu terpeta jelas pada porselen berwarna putih tulang itu.

“Berapa sisa waktumu?

“Hmmm… sekitar satu setengah bulan?” Kiko berkata sambil mengeluarkan desahan yang mampu membuat siapapun pria yang mendengarnya merasa bergairah.

“Bercintalah denganku.”

“Ckckck… bukankah kata-kataku sudah sangat jelas, Hiiro… Jika kau mau bercinta denganku… bercintalah dulu dengan perawan tua itu.”

“Dia seorang bintang papan atas, aku tidak bisa memperkosanya begitu saja.”

“Tentu kau bisa… kau pikir, untuk apa aku mencarimu?” Kiko tertawa keras saat melihat seringai lebar diwajah pria didepannya. “Aku punya rencana Hiiro-san. Dan rencanaku kali ini tidak akan gagal dengan mudah.”

“Kau benar-benar berbahaya.”

“Tentu saja.” Kiko menghampiri pria didepannya, menarik kerah kemeja pria itu, duduk diatas pangkuannya, dan mencium pria itu, mereka berciuman lama, tenggelam dalam gairah masing-masing.

“Jangan terlalu kasar padanya…” Kiko berkata disela ciuman mereka yang membara. “Seseorang akan menjadi gila karena wanita sial itu… dia barang yang berharga…”

Mereka berdua menghentikan aktivitas berbahaya mereka, saling berpandangan, dan tersenyum dengan puas.

“Aku jadi tidak sabar…” Pria itu berkata gembira, menatap sebuah foto seorang gadis yang tergeletak diatas meja kaca. “Melihat kulit putihnya saja membuatku hampir mencapai puncak.”

Suara petir menggelegar, dilatarbelakangi suara tawa terbahak yang pecah dari dua manusia yang kembali menautkan bibir mereka dalam keremangan sebuah apartemen yang reyot.

***

“Banyak orang yang mengharapkan kalian untuk benar-benar menjadi pasangan, tapi harapan itu hancur dalam sekejap karena kehadiran si jalang itu.”

“Bisakah kau berhenti membual? Aku sudah mendengar ceramahmu selama tiga puluh menit.” Jiyong berkata kesal pada Yongbae yang sedari tadi menghirup es serutnya sambil terus mengoceh tentang tragedy yang terjadi didalam hidupnya. Sekarang mereka sedang berjalan pelan di kesibukan shibuya, memilih beberapa cemilan dan berusaha membunuh kebosanan mereka.

“Ya, ini semua jelas adalah salahmu! Dan aku benar-benar tidak mengerti dengan Sandara. Kenapa dia masih saja peduli pada brengsek sepertimu sih?!” Yongbae tampak semakin kesal dengan ocehan yang dihasilkannya sendiri. “Apa kurangnya seorang Sandara Park! Dia hampir tiga puluh dan wajahnya tampak seperti gadis berusia dua puluh, dia benar-benar seorang vampire, banyak idol pria dan aktor rela antri untuk kencan dengannya, kenapa dia malah bertahan pada pecundang sepertimu?”

“Aku bukan pecundang.” Jiyong menyahut dengan malas, meladeni Yonbae dalam Ahjumma mode-nya adalah hal paling buruk sepanjang perjalanan hidupnya, jika Yongbae sudah cerewet seperti ini, dia bisa mengalahkan ibunya sendiri.

“Kau jelas pecundang, lagi pula, apa yang kau pikirkan ketika tidur dengan si jalang itu hah? Kau membayangkan kalau dia itu Dara? Yang benar saja, Apa segitu enaknya tidur dengan jalang itu?”

“Yongbae, kata-katamu mulai aneh.”

“Apa pedulimu? Kau tidak akan mendengarkanku. Sijalang itu bahkan punya dada lebih rata dibandingkan Dara.” Yongbae berkata dengan nada tanpa penyesalan dan membuat suara berisik saat dia kembali menghirup es serutnya. “Dara, sudah terlalu sering terluka. Jika dia terluka lagi, aku kira dia tidak akan bertahan.”

“Manusia belajar dari kesalahan yang dibuatnya, kau pikir aku tidak belajar dari kesalahan yang kubuat?” Jiyong menghentikan langkahnya saat melewati pedagang kaki lima yang menjual beberapa pernak-pernik.

“Kalau begitu kau mau apa? Kau tidak akan pernah bisa menebus kesalahanmu pada wanita yang sudah kau cintai selama beberapa tahun, kau hanya terus mengikatkan tali pada pergelangan tangannya dan melarangnya bergerak bebas. Dia memang berhati malaikat, tapi jangan harap, satu lagi kesalahan yang kau buat, kau akan… keeeuuttt.” Yongbae menaruh tangannya dilehernya. Mendemonstrasikan sebuah leher yang dipotong oleh sebuah pisau dengan gaya dramatis. Kemudia tertegun saat melihat Jiyong memilih sesuatu dari pedagang kaki lima itu.

Daebak, kau serius?”

“Apa?”

“Jangan beli sesuatu yang menunjukan kalau kalian couple.”

“Kenapa?”

“Kau akan mengacau lagi?”

“Kalau begitu… Ayo jalan, aku akan ambil pesananku di toko perhiasan seberang jalan itu.”

“Pe… Pesanan?”

“Hum…” Jiyong mengangguk yakin, membetulkan letak topinya dan tersenyum layaknya remaja yang sedang kasmaran. “Sebuah cincin dengan batu permata kecil berwarna pink.”

Yongbae tidak bergerak ditempatnya berdiri. Dia menatap punggung sahabatnya yang mulai menjauh. Dan teringat akan kata-kata yang selalu diucapkan Jiyong saat sedang mabuk berat. Aku tidak bisa melihat masa depanku bersamanya… Yongbae-yaaa… Rasanya jalan didepan kami dipenuhi kabut yang sangat tebal.”

Yongbae menghela napas panjang, punggung sahabatnya semakin menjauh, seolah tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan langkahnya sekarang.

***

“Kau bercanda.”

Ruang latihan dance dipenuhi suara gaungan seorang Song Mino. Mereka bertiga berkumpul ditengah saat selesai latihan individual.

“Aku sudah katakan ribuan kali kalau kepalanya pasti terbentur disuatu tempat.”

“Maksudmu, Si pria itu sudah melakukannya dan menyebarkannya diberbagai tempat, tapi dia belum pernah menyebarkan di tempat yang seharusnya dia sebarkan.”

“Kau berbicara seolah yang disebarkan itu hanya benih sayur-mayur yang bisa dimasak oleh omma-ku dirumah.” Namtae berkata pasrah.

“Benar! Benih itu harusnya disebarkan ditempat yang benar!” Jennie berkata dengan semangat ber api-api dan setuju dengan komentar Mino. “Mino, level kecerdasanmu memang berbeda dengan si teripang! Aku salut padamu!”

“Apa?!” Namtae ingin menjitak kepala Jennie tapi segera ditahan oleh Mino.

“Kau tidak dengar? Tadi Jennie bilang untuk tidak nempel-nempel.”

“YA! Sekarang kau adalah bodyguardnya?”

“Tidak, aku hanya menemukan fakta menarik, bahwa kau memang suka nempel-nempel pada Jennie, aku tidak mau kau melanggar peraturan yang dibuat YG.”

“Maksudmu tidak boleh pacaran?” Namtae mendengus tidak percaya. “Aku tidak punya niatan sedikitpun pacaran dengannya!”

“Terserah katamu, kau bisa kena karma jika terus menyangkal begitu.”

“Kau seperti seorang biksu yang baru turun dari gunung Mino, dengan rambutmu yang sedikit cepak itu.” Jennie berkomentar kagum. Membuat alis Mino terangkat, apanya yang membuatnya kagum?

“Jadi apa rencanamu.”

“Membuat suasana romantis?” Mino bertanya sambil memperhatikan Namtae yang cemberut dan tampak kesal.

“Tidak, tidak, itu hanya akan sia-sia. Gaya pacaran mereka itu seperti anak sekolahan. Pegangan tangan, peluk-pelukan, nempel-nempel, terus berciuman. Hanya sebatas itu.” Jennie berkata kesal.

“Howaaa, aku benar-benar tidak percaya mereka belum pernah melakukannya sekalipun.” Mino menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan membaringkan tubuhnya dilantai kayu. “Coba kalian pikir, dia bermain dengan begitu liar diantara rusa betina, tetapi tidak pernah mendekati si singa betina yang cantik. Hanya mengendusnya dan menjaganya dari incaran singa jantan lain.”

“Tragis ya.” Jennie menanggapi.

“Menurutku sih biasa saja, maksudku, tidak semua singa jantan menerkam singa betina yang disukainya dengan buas kan. Dia sudah cukup hanya dengan menjaganya dan mengendusnya saja.” Namtae berkata pelan, tanpa sadar sudut matanya menangkap sosok Jennie yang sedang bermain dengan rambut hitam panjanggnya.

“Jadi kau juga mau seperti itu?” Mino menyeringai saat menyadari kemana arah mata Namtae.

“Apanya?”

“YA! Jadi kita harus bagaimana?” Jennie menyela. “Apa aku harus membeli obat perangsang dan mencekoki mereka berdua?.”

“Ya! Cara berpikirmu itu benar-benar pendek. Segala sesuatu yang instan itu tidak baik bagi kesehatan penyebaran benih, kau tidak mau kan, tidak pernah mengingat pernah melakukan itu saat kau terbangun dipagi hari.” Mino nyengir lebar saat menatap wajah Jennie yang terkagum-kagum padanya.

“Kau benar Mino Sensei.” Jennie terkikik gelid dan ber-High Five dengan Mino.

“Kau memanggilnya Sensei? Kalau begitu berhenti memanggilku Teripang!”

“Tidak mau! Kau itu kan memang teripang!” Jennie menggembungkan pipinya pada Namtae. Membuat Namtae kehabisan kata-kata untuk protes.

“Bagaimana kalau minta bantuan Chaerin Unni?” Mino bangkit dan mengusulkan sarannya. “Dia tahu Password apartemen Dara Nuuna, kita bisa merombak tempat itu dan menciptakan suasana yang mendukung.”

“Ide bagus.” Jennie bertepuk tangan senang.

“Aku pernah baca disebuah blog… mereka menjual lilin aroma terapi yang bisa membangkitkan keinginan untuk menebar benih.”

“Atas nama Tuhan… kau membuka blog seperti itu?” Jennie berbicara dengan nada melengking, dia tidak tahu kenapa, tetapi melihat Namtae yang sepertinya bertampang innocent itu mencari-cari sesuatu seperti itu… membuatnya sedikit marah.

“Aku menemukannya tidak sengaja! Kau pikir aku mesum?! Blog itu muncul saat aku mau main game online, dan bentuk lilinnya menarik jadi… Aaakh tunggu, kenapa aku harus menjelaskannya padamu sih?!”

“Tenang… harap tenang… disini tidak menerima pertengkaran suami istri.” Mino berkata dengan geli.

“YA! Sedari tadi aku ingin sekali mengulitimu hiudp-hidup!” Namtae berkata gemas dan membekap Mino kedalam pelukannya, membuat Jennie terkikik melihat Mino kehabisan napas.

“Baiklah!!! Sekali lagi kita akan beraksi!!! Spongebob dan Patrick!!!” Jennie bersorak dan meninjukan tangannya diudara, dia menatap Namtae dan Mino untuk bergabung. Mereka berdua berkumpul sambil menyatukan tinju tangan mereka dan tersenyum dengan puas.

“Tapi… Tolong jangan gunakan kata Spongebob dan Patrick lagi.” Namtae meringis saat melihat Jennie menjulurkan lidahnya padanya.

“Kau tidak akan menyuruh kami cosplay lagi kan?” Mino berkata khawatir dan melirik tas besar milik Jennie yang ada di pojok ruangan.

“Tidak-tidak!” Jennie menggeleng dengan cepat. “Mungkin ini adalah terakhirkalinya kita membantu mereka, karena itu… lakukan dengan cara yang “normal”.”

“Kata “Normal” tidak cocok untukmu J” Mino tersenyum menatap gadis didepannya yang selalu menyebarkan energi positif dimanapun dia berada.

Because we like you, just the way you are. Jennie Kim.” Namtae berkata pelan, menatap tepat dibola mata gadis itu. Entah kenapa, kata-kata yang diucapkannya benar-benar berasal dari dalam hatinya, kata-kata yang keluar begitu tulus, dan dia berharap, benar-benar berharap, gadis yang memasang senyum ceria padanya itu akan mengerti.

TO BE CONTINUED

 

A/N

Hello readers! MASIH ADAKAH YANG MAU BACAAAA… Hiks… Well, Just wanna say sorry for not update in a loooooooong time. Just HOPE YOU LIKE IT, Sorry for the typo too^^ Thank you. Terutama bagi kalian, yang masih menegur saya untuk melanjutkan kisah ini^^ Thank You So Much!!!

 

 

 

 

4 thoughts on “[CHAPTER 7] XXME BASTARD!!!

  1. Akhirnya update juga ya Tuhan… ini terakhir baca aku kelas 2 SMA sekarang aku udah semester 2 kuliah…. Aku kira kamu gak bakal update ini. Tp plis di next chapt jangan apa-apain Dara plisssss… Baca nama sadako aja udah nggak kuat aku.. Fighting!

    PS : Genoshida lanjutin lahh.. Kurang chap akhir doang kan ya?

  2. thankyou karna udah update lg huhuhu
    dan please lanjutin ini sampe end T.T
    please si ikan teri otaknya jahat bgt-,-
    ji jagain dara:’) sadako mau buat jahat:’)
    jennie bener2 ya:D dan oh namtae suka sama jennie? wkwkwk
    daragon please bertahan sampe akhir. dibalik perjuangan kalian ada bahagia di akhirnya koo:’)
    ditunggu next chap nya!! semangatt!!^^

  3. aaaa akhirnya update thor ^,^ suka bgt sm tokoh2nya, apalagi ada 2 couple yg aku shipperin di sini hehehe lanjutiiiin thor!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s