[Chapter 7] Forbidden Love

Forbidden Love

We shouldn’t have lived in the same building.

by Shinyoung (ssyoung)

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Kim Jongin & Jung Krystal || Genre: School Life & Romance || Length: Chapter 7/? || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: goldenblood || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015-2016 by Shinyoung.

Chapter 7 — Camp of Truth (1)

Prologue | Characters | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

*

“Dia menelponmu?”

“Tidak,” jawab Myungsoo sambil menatap ponselnya dengan gugup.

Dongwoon menghela napas berat. “Dimana sih, dia? Kenapa dia tidak menjawab telponku, ya. Apa benar dia ke kamar mandi? Dia bilang tadi dia akan menyusul kita, bukan?”

Myungsoo mengangguk. “Kau yakin bahwa dia benar-benar tidak mendengar pembicaraan kita, bukan?” tanya Myungsoo sekali lagi. Dongwoon menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu, kita tidak perlu khawatir. Mungkin dia bertemu seseorang saat ke sini atau dia ada urusan. Lagi pula dia bukan anak kecil.”

“Benar, dia bukan anak kecil…”

Keduanya pun memasuki supermarket yang berada di dalam mall tersebut. Myungsoo melirik ponselnya beberapa kali. Meskipun memang benar bahwa dia mengatakan ia tidak khawatir pada Naeun, di dalam hatinya dia merasa sangat khawatir.

Pikirannya berkecamuk. Seluruh pertanyaan beradu dalam pikirannya. Pikiran-pikiran negatif mengenai kejadian yang mungkin menimpa Naeun kini berlalu-lalang dalam pikirannya. Namun, Myungsoo berusaha keras menolak pikiran-pikiran negatif tersebut.

“Aku sebaiknya menyusulnya,” kata Myungsoo akhirnya pada Dongwoon.

“Myungsoo!”

Panggilan Dongwoon bagaikan angin kecil tak terdengar bagi Myungsoo. Laki-laki itu telah berlari meninggalkan Dongwoon untuk mencari Naeun. Ia menuju lift dimana banyak orang tengah menunggu untuk menggunakan fasilitas tersebut. Myungsoo berdiri di barisan belakang, menunggu, hingga akhirnya dia menghembuskan nafas berat dan berlari menuju pintu emergency.

Ia berlari menuruni tangga yang begitu banyak menuju lantai bawah tanah dimana Naeun tadi meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Ia berlari menuju bagian kamar mandi, ia berdiri di depan pintu kamar mandi dan menunggu satu persatu wanita yang keluar dari sana.

“Sedang apa dia berdiri di sini? Mau mengintip?”

“Tampan seperti itu masa mau mengintip?”

Myungsoo menghela nafas berat, lalu ia bertanya kepada seorang petugas kebersihan yang baru saja keluar dari kamar mandi wanita. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Naeun yang ada digunakan gadis itu sebagai foto profil KakaoTalk-nya.

“Apa kau melihat gadis ini di dalam kamar mandi?”

Wanita itu menajamkan matanya ke arah foto tersebut, setelah itu ia menghela nafas berat. Seperti yang sudah diduga oleh Myungsoo sebelumnya. “Ya, dia ada di dalam sana tengah menangis. Sudah seperempat jam dia ada di dalam kamar mandi. Tangisannya mengganggu orang-orang yang ingin menggunakan kamar mandi. Aku juga bingung bagaimana caranya untuk menghentikannya, akhirnya sekarang aku ingin menghubungi petugas keamanan.”

Myungsoo membulatkan matanya. “Jangan! Tolong kumohon. Biarkan orang-orang menggunakan kamar mandi lain, aku akan membuatnya keluar dari sana.”

Wanita petugas kebersihan itu mengerutkan keningnya. “Apa kau mengenalnya? Kau pacarnya? Kau yang membuatnya menangis atau bagaimana? Tolong keluarkan dia sekarang.”

“Um, aku sahabatnya. Aku bisa membujuknya untuk keluar dari sana,” kata Myungsoo sambil tersenyum tipis agar petugas wanita itu percaya dengan ucapannya.

Wanita itu menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Aku akan meminta orang-orang untuk keluar. Gadis itu beruntung karena hari ini hanya sedikit yang menggunakan kamar mandi basement. Kau tunggu di sini sampai aku keluar, baru kau bisa masuk ke dalam.”

Myungsoo tak memberikan komentar dan menuruti apa yang diperintahkan wanita itu. Setelah kamar mandi itu tidak ada lagi orang-orang, Myungsoo akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi wanita dan mencari bilik di mana ia mendenar Naeun tengah menangis.

“Son Naeun?”

“Uh? Myung… Soo?”

Suara gadis itu bergetar, tentu saja Myungsoo hanya bisa menghapus bulir-bulir keringat yang menjalari keningnya. Laki-laki itu akhirnya menyenderkan tubuhnya pada salah satu dinding bilik kamar mandi sambil mengatur napasnya.

“Kau tahu Dongwoon hyung mencarimu dan mengkhawatirkanmu!” kata Myungsoo dengan kesal. “Cepat keluar sekarang, orang-orang jadi terganggu karena dirimu, Mereka ingin ke kamar mandi, tapi karena mendengar tangisanmu, mereka membatalkan keinginan mereka tahu.”

Naeun tak menjawab sama sekali, Myungsoo hanya bisa mengeluh pelan. Dia tidak tahu kenapa jantungnya terus berdegup dengan cepat—mungkin karena ia baru saja berlari, namun dia merasa kesal dengan jantungnya yang terus-menerus berdegup dengan kencang semenjak ia memasuki mall itu.

Akhirnya, tak lama kemudian, Naeun membuka pintu bilik toiletnya dan mengintip keluar untuk memastikan bahwa tak ada siapa pun di sana.

“Tidak ada siapa-siapa tahu, mana mungkin aku masuk ke dalam kamar mandi wanita tanpa minta izin pada petugas kebersihan yang tadi mengomel padaku itu,” kata Myungsoo saat menyadari gerak-gerik Naeun.

Naeun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil melangkah keluar dari sana. Myungsoo menghela napas berat, lalu ia menarik gadis itu agar segera keluar dari kamar mandi itu dan petugas kebersihan itu langsung tersenyum tipis pada Myungsoo selagi menghela napas lega.

“Maafkan aku karena ketidaknyamanannya,” ujar Myungsoo.

“Sudahlah,” kata petugas kebersihan itu sambil melangkah masuk ke dalam.

Sementara itu, beberapa orang yang baru saja ingin menuju kamar mandi memperhatikan mereka. Myungsoo melirik Naeun yang rupanya menampakkan wajah sehabis menangis parah. Orang-orang mungkin berpikir bahwa Myungsoo lah yang menyebabkan Naeun menangis.

Myungsoo pun memutuskan untuk berhenti. Naeun langsung menatapnya dengan wajah penuh tanya. “K-kenapa berhenti? Oh ya, jangan beritahu Dongwoon oppa—.”

“Tenang saja, aku tidak akan memberitahunya,” kata Myungsoo sambil berdiri di hadapan Naeun, lalu ia melepaskan jaket hitamnya. Myungsoo memasangkan jaket itu pada Naeun, Naeun yang ingin bertanya langsung dipotong oleh Myungsoo. “Jangan bertanya apa pun, aku tidak mau orang-orang salah paham dengan kita.”

Setelah Naeun selesai mengenakan jaket hitam Myungsoo, Myungsoo kembali berdiri di samping Naeun, lalu mereka mulai melangkah. Ketika mereka memasuki koridor tengah mall, Myungsoo menyadari bahwa keadaan di sekitar mereka mulai ramai, maka Myungsoo pun memasangkan hoodie jaketnya pada Naeun dan merangkul gadis itu erat-erat.

“Anggap saja kau punya hutang padaku,” kata Myungsoo.

“Hm, terima kasih,” kata Naeun pelan dengan wajah yang ditundukkan. Dia sendiri tidak dapat menahan senyumnya yang begitu tipis karena perilaku Myungsoo.

 

 

“Krystal-ah!”

Panggilan itu langsung membuat Krystal langsung membalikkan badannya. Ia menemukan sosok Seulgi yang telah berdiri di belakangnya sambil melambai-lambaikan tangannya. Gadis itu segera menghampiri Krystal dengan pakaian jogging-nya.

Krystal pun meneruskan aktifitasnya. “Wae? Tidak seperti kau pagi ini. Sejak kapan kau mau berolahraga di pagi hari? Biasanya kau masih di atas tempat tidur dengan ponselmu dan baru bangun pukul 9 pagi. Ini hari libur pula.”

Seulgi mendengus. “Aku ada permintaan denganmu!”

“Permintaan?” tanya Krystal sambil melirik Seulgi dengan curiga. “Jangan meminta yang aneh-aneh padaku. Kumohon kali ini saja, Kang Seulgi. Aku selalu mendapatkan permintaan yang aneh-aneh darimu.”

“Tidak! Kau sudah dapat kelompok perkemahan?”

“Belum… Kau ingin sekelompok denganku?” tanya Krystal.

“Tepat sekali!” ujar Seulgi sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Krystal dengan senyum lebarnya. “Kebetulan sekali kelompokku kekurangan dua orang! Kau bisa mengajak siapa pun di kelasmu jika kau ingin.”

Arasseo. Aku akan sekelompok denganmu. Kau sekelompok dengan siapa saja?”

Seulgi meliriknya. “Memangnya itu penting, ya? Yang penting kau sekelompok denganku! Aku sekelompok dengan—um, siapa, ya? Aku lupa… Ah! Hayoung, Sungjong, dan… Kim Jongin!”

Krystal berhenti berlari dan menoleh pada Seulgi dengan wajah penuh tanya. “Kim Jongin? Kim Jongin yang tidak mau membantumu itu? Kita akan sekelompok dengannya? Ya! Aku batal sekelompok denganmu!”

Seulgi pun ikut berhenti. Ia mengerutkan keningnya. “Ani, wae? Aku lah yang punya masalah dengannya. Kenapa kau yang marah pada. . .”

Perlahan-lahan, Seulgi menghentikan kalimatnya dan menyadari sesuatu, kemudian  ia kembali teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu di mana Kim Jongin tiba-tiba menghampirinya dan memberikannya tugas yang harusnya ia kerjakan. Saat itu, Seulgi tengah mencari-cari buku yang menjadi referensi untuk tugasnya itu di perpustakaan, namun tiba-tiba Kim Jongin menghampirinya. . .

.

.

.

“Kau membutuhkan ini, bukan?”

Kalimat itu langsung membuat Seulgi menghentikan pencariannya dan menolehkan wajahnya ke arah kertas yang diberikan oleh Jongin. Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya satu per satu sampai selesai.

Memang benar, itu lah yang ia cari.

Awalnya, dia memang telah meminta Jongin untuk mencari bagiannya, namun karena kejadian itu, Seulgi memutuskan untuk mencarinya sendiri. Namun, rupanya tanpa bantuan orang, dia tidak bisa menyelesaikan tugas itu sendirian.

“Bagaimana—“

“Tidak usah ucapkan terima kasih padaku,” potong Jongin.

Kalimat itu langsung membuat hati Seulgi sedikit tertohok. Gadis itu lantas menatap Jongin dengan pandangan bingung. “Kenapa kau tiba-tiba mengerjakan tugasmu? Bukan kah kau bilang bahwa kau tidak akan melakukannya beberapa hari yang lalu?”

Jongin melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Bukan aku yang mau mengerjakannya, tetapi temanmu itu. Karena dia, aku merasa bersalah padamu. Kalau bukan dia yang bilang itu, aku tidak akan melakukannya untukmu.”

Setelah mengatakan hal itu, Jongin lantas pergi meninggalkan Seulgi sendirian dengan tatapan bingung. Gadis itu belum sempat memanggil Jongin, namun ia sadar bahwa ia berada di dalam perpustakaan. Maka, ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya, namun ia terus menerus melupakan hal itu.

.

.

.

“Aku baru ingat. . .”

“Kenapa?” tanya Krystal kesal.

“Jongin—dia mengerjakan tugas itu karena kau, bukan?”

“Aku?” Krystal menatapnya dengan tatapan tidak percaya, lalu tertawa kecil. “Mana mungkin dia mengerjakan tugasnya karena aku? Aku hanya bilang padanya di hari kau tidak masuk itu bahwa kau harus jadi tidak masuk sekolah karena harus mengerjakan tugas itu. Kenapa dia harus mengerjakan tugas itu karena aku?”

Seulgi memutar bola matanya kesal. “Ya! Dia mengerjakannya karena kau. Jelas-jelas, dia berkata padaku bahwa aku harus berterima kasih pada temanku. Lagi pula, hari itu aku tidak masuk karena aku harus mengantar kakakku ke bandara, pabo-ya!”

Krystal tersenyum tipis saat melihat Seulgi menatapnya kesal.

 

 

Hari Jumat pagi, puluhan murid telah berkumpul di lapangan SMA Skoolite tepat sebelum setengah 6 pagi. Aroma kantuk jelas tertera di wajah mereka, bahkan Eunji dan Bomi pun membawa bantal leher. Seperti apa yang dibawa oleh Eunji dan Bomi, Naeun juga sepakat untuk membawa bantal leher.

“Tendanya hanya untuk tiga orang, ya?” tanya Eunji.

“Iya,” jawab Bomi sambil menguap lebar-lebar, kemudian ia menampar pipirnya berkali-kali agar tidak mengantuk. “Memangnya kenapa? Kita sudah pas 3 orang. Kau, aku, dan Naeun. Tidak perlu tambah orang lagi.”

“Bukan itu. Memangnya tenda itu cukup untuk kita bertiga?”

“Bodoh!” Bomi memukul kening gadis itu dengan penuh semangat. “Tentu saja cukup! Kau meremehkan ukuran tubuhku, ya?”

Perkelahian itu tidak berhenti sampai situ saja, Naeun sendiri hanya bisa memperhatikan kedua sahabatnya tanpa berkomentar apa pun. Sedangkan itu, Myungsoo dari kejauhan baru saja selesai mengecek satu per satu anggota kelompoknya. Dia terpaksa mendapatkan posisi sebagai ketua kelompok karena kalah dalam permainan gunting-batu-kertas.

Selain itu, dia harus duduk dengan Naeun selama di bus maupun di kereta karena namanya yang berada di atas nama Naeun. Urutannya adalah Bomi-Dongwoo, Eunji-Hoya, dan Myungsoo-Naeun. Dia lagi-lagi tidak bisa menolak, di sisi lain dia juga harus tetap menjaga gadis itu tetap berada di dekatnya karena dia yakin di saat-saat seperti ini, Jongin akan menggunakan kesempatannya untuk mendekati Naeun.

Meskipun Naeun memang sudah tahu kenyataannya, Myungsoo tidak bisa mempercayakan Naeun untuk melindungi dirinya sendirian.

“Apa yang kau lakukan?”

Pertanyaan itu sontak membuat Myungsoo terkejut, hingga dia tidak sengaja menjatuhkan kertas absensi yang dipegangnya beserta pena yang berada pada genggaman jari-jarinya. Ia segera memungut kedua barang tersebut, sebelum rusak/basah.

“Maaf.”

“Bukan masalah,” kata Myungsoo sambil melipat kertas absensinya, lalu memasukkan penanya ke dalam saku seragamnya. Ia mendongakkan wajahnya pada orang yang baru saja mengajaknya berbicara. “Ada apa?”

Krystal menggeleng pelan. Gadis itu lantas tersenyum tipis, membuat Myungsoo langsung curiga. “Aku sudah memperhatikanmu daritadi, rupanya kau benar-benar menyukainya, ya? Tidak bisa kah kau berhenti memperhatikannya? Kalau seperti itu terus, satu sekolah pun akan tahu bahwa kau suka padanya.”

Myungsoo mengerutkan kenignnya. “Siapa? Aku tidak suka padanya.”

Krystal pun tersenyum miring. “Memangnya kau tahu siapa orang yang aku maksud? Padahal aku belum menyebutkan namanya sama sekali.”

“Son Naeun, bukan?”

“Berarti kau menyukainya,” ujar Krystal sambil tersenyum penuh kemenangan. “Oh, ayo lah, Kim Myungsoo. Kau ini tidak pandai untuk menyembunyikan perasaanmu, ya? Seperti yang telah aku katakan padamu, semua orang di sekolah pun akan tahu jika kau menyukainya kalau kau terus-menerus bersikap seperti itu!”

“Berhentilah bersikap baik padaku,” kata Myungsoo akhrinya. “Kau membutuhkan sesuatu dariku, bukan?”

Krystal tersenyum tipis. “Kau membaca pikiranku, ya? Aku dengar kau mengenal Kim Jongin sejak lama. Apa kau benar-benar mengenal lelaki itu?”

Myungsoo terdiam sejenak, lalu menyadari sesuatu. “Ada apa? Kau menyukainya?”

 

 

Sesampainya di area perkemahan, anak-anak langsung turun dari bus. Myungsoo yang baru saja terbangun meregangkan otot-ototnya, kemudian ia melirik ke samping dimana Naeun duduk di sampingnya—lebih tepatnya, tengah tertidur.

Laki-laki itu ingin menertawakannya, namun ia sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat.

“Ayo, semuanya turun dan ambil barang-barang kalian yang ada di bagasi, ya!” ujar Kim Hyuna dengan mikrofonnya.

Myungsoo mengusap wajahnya dengan helaan napas panjang. Lalu, ia menggoyang-goyangkan bahu gadis itu, membuat Naeun terbangun dari tidur lelapnya. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali dan menatap Myungsoo dengan bingung.

“U-uh?”

“Kita sudah sampai,” jawab Myungsoo, mengetahui bahwa gadis itu kebingungan. “Kita harus turun sekarang dan ambil barang-barang di bagasi.”

“Uh…” Naeun mengeluh pelan. “Baiklah.”

Setelah itu, keduanya turun dari bus dan mereka pun mengantri untuk mengambil tas mereka yang berada di bagasi. Untungnya, mereka tidak perlu kerepotan untuk membawa alat masak sendiri karena sekolah telah menyediakannya. Begitu pula dengan bahan-bahan masakan yang telah dibeli oleh per kelas dan diletakkan dalam satu mobil.

Skoolite High School hanya menerima 5 kelas, sehingga jumlah murid per angkatannya hanya 130 murid. Untuk mengatur 130 murid tidak cukup sulit, selain itu mereka bukanlah kumpulan murid-murid yang nakal.

Dongwoon yang memiliki posisi sebagai wali kelas 2-1 pun menggiring murid-muridnya menuju lapangan. Begitu pula dengan Hyuna yang berposisi sebagai wali kelas 2-2, Hyunseung sebagai wali kelas 2-3, Heo Gayoon sebagai wali kelas 2-4, dan Yoon Doojoon sebagai wali kelas 2-5.

Sebagian besar murid menguap dengan lebar karena jam masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi. Lain dengan Naeun yang sudah mengisi penuh energinya. Ia memilih untuk tidur selama di bus dan di kereta. Sama halnya dengan Bomi dan Eunji yang tampak bersemangat.

Murid-murid di sekitar mereka hanya melirik mereka dengan pandangan bingung.

“Ya, mereka aneh. Bagaimana bisa mereka penuh dengan semangat?”

“Aku mendengar kata-katamu, Son Wendy,” ujar Eunji sambil melirik ke arah Wendy lalu menjulurkan lidahnya. Sedangkan itu, Wendy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, memaklumi Eunji.

“Semuanya! Kalian akan membangun tenda lebih terdahulu, setelah itu kalian bisa memasak sarapan kalian dengan bahan-bahan makanan yang telah kalian beli,” kata Hyunseung.

Seorang murid bernama Lee Jaehwan mengangkat tangannya. “Bukankah di jadwalnya kita memasak sarapan dulu baru membangun tenda?” tanyanya dan membuat murid-murid pun mengangguk dengan setuju.

Hyunseung terseyum tipis. “Pertanyaan bagus, Lee Jaehwan. Kami menukar jadwalnya. Jadi, kalian bangun tenda kalian dahulu, karena aku yakin kalian akan mengalami kesulitan jika kalian tidak membangun tenda terlebih dahulu.”

Anak-anak pun hanya menganggukkan kepala mereka menyetujui perkataan Hyunseung.

“Sekarang, kalian bisa mengunjungi tenda kalian masing-masing. Para guru telah menancapkan papan nama kalian di depan tenda yang belum terpasang. Tenda perempuan ada di bagian kananku dan tenda laki-laki ada di bagian kiri. Kalian bisa mulai sekarang! Jika ada yang kebingungan bisa tanya padaku atau Guru Yoon,” jelas Hyunseung sambil menunjuk Yoon Doojoon yang berdiri tak jauh darinya.

Doojoon menganggukkan kepalanya setuju.

Setelah itu, para murid langsung berhamburan mencari tenda mereka masing-masing. Kelompok Naeun dengan mudah menemukan tenda mereka. Mereka langsung meletakkan tas mereka di atas meja yang terdapat di depan setiap masing-masing tenda.

Setiap tenda memiliki satu meja dan tiga kursi yang bisa digunakan untuk duduk atau makan. Selain itu, jarak antar tendanya tidak terlalu jauh, sehingga para murid bisa berinteraksi. Tenda guru-guru berada di bagian tengah dan paling belakang. Tenda-tenda dibentuk untuk mengelilingi sebuah lapangan.

Di belakang tenda para perempuan terdapat sebuah kolam renang yang tampaknya menyegarkan. Kolam renang dikelilingi oleh dinding kaca yang kokoh dan ditutupi oleh sebuah atap transparan yang membiarkan cahaya matahari tetap masuk menyinari kolam renang tersebut. Di belakang kolam renang tersebut terdapat puluhan kamar mandi perempuan dan laki-laki.

Sedangkan itu, di belakang tenda para laki-laki terdapat sebuah lapangan olahraga—lapangan futsal yang bisa merangkap menjadi lapangan basket dan sebuah lapangan tenis yang bisa merangkap menjadi lapangan badminton.

Lain halnya dengan anak-anak yang sibuk menyelesaikan tenda mereka, para guru dan orang-orang yang telah disewa untuk ikut membantu melancarkan kegiatan perkemahan tersebut mulai menyiapkan meja-meja berukuran besar di tengah lapangan yang dikelilingi oleh tenda-tenda. Guru-guru pun menyiapkan bahan-bahan makanan yang masih di dalam kantung plastik.

Setiap kelas mendapatkan mejanya masing-masing. Alat-alat masak pun di siapkan, baik kompor, pemanggang, maupun oven. Terminal listrik yang telah disiapkan oleh pihak perkemahan pun telah disiapkan dan diletakkan di tempat yang tidak akan terkena hujan. Di setiap tenda murid-murid pun mendapatkan satu terminal listrik.

Semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

 

 

Jam menunjukkan pukul 8 seperempat pagi. Murid-murid telah selesai dengan tenda masing-masing dan mereka sudah berkumpul di tengah lapangan untuk bersiap memasak sarapan mereka.

“Sekarang kalian bisa mulai memasak dengan bahan-bahan yang telah disiapkan. Porsi untuk satu kelas dan juga untuk wali kelas kalian,” jelas Dongwoon. “Anggota dewan murid* bisa berkumpul dengan  guru-guru sekarang untuk menyiapkan permainan, kalian tidak perlu ikut memasak.”

Setelah itu, Woohyun dan Chorong yang merupakan ketua dan wakil ketua murid pun segera menghampiri Dongwoon. Selain itu, murid kelas 2-2 pun mulai mempersiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak.

Sebagai orang yang dianggap paling sering masak, Sungjong dan Hayoung pun ditunjuk sebagai ketuanya.

“Kalau begitu, kita bisa mulai sekarang,”  ujar Sungjong.

“Sunggyu, Namjoo, Yookyung, dan Sungyeol bisa langsung memasak nasi,” kata Hayoung dan mereka pun langsung melangkah pergi. “Sedangkan, Seulgi dan Jongin bisa mencuci sayur dan memotongnya. Baekhyun, Chanyeol, dan Yerim bisa siapkan dagingnya dan potong-potong. Irene dan Sehun akan memanggang dagingnya. Joy, Kyungsoo, dan Minseok bisa siapkan bumbu-bumbu yang dibutuhkan.”

“Yang sudah selesai dengan tugas masing-masing bisa hampiri aku lagi dan aku akan memberikan tugas yang lainnya,” kata Sungjong. “Karena ada banyak yang harus kita masak.”

“Myungsoo, Naeun, Bomi, dan Dongwoo akan memasak. Yang sudah selesai dengan bagian sayuran bisa memberikannya pada Bomi dan Dongwoo. Myungsoo dan Naeun akan memasak bumbu,” jelas Hayoung lagi.

Setelah itu, mereka semua segera berhambur dan melangkah menuju tempat masing-masing. Myungsoo, Naeun, Bomi dan Dongwoo pun menyiapkan peralatan masak mereka. Sementara itu, mereka juga membantu yang lainnya karena mereka tidak bisa diam saja menunggu yang lainnya.

 

 

Krystal menghela napas sambil membawa bahan-bahan masakan yang telah diperintahkan oleh Luna padanya menuju wastafel terbuka yang terdapat di dekat kolam renang. Gadis itu melangkah sambil menatap ke bawah.

Brak!

Gadis itu langsung terjatuh ke depan, menabrak seseorang yang ada di hadapannya. Gadis itu meringis pelan dan menyadari bahwa ia telah menimpa seorang laki-laki. Dengan cepat, ia bangkit dari sana.

“Aku minta maaf!”

Laki-laki itu menghela napas berat dan bangkit dari posisinya. Kemudian, ia membalikkan badannya dan menatap Krystal kesal. Gadis itu langsung terkejut begitu mengetahui bahwa laki-laki yang baru saja ia tabrak adalah Kim Jongin.

“Kau…” Krystal memutar bola matanya. “Lupakan saja, anggap saja aku memang tidak sengaja menabrakmu.”

Setelah itu, gadis itu segera melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu. Jongin yang merasa bahwa Krystal tidak adil langsung menghentikan gadis itu dengan menahan pergelangan tangannya.

Ya!”

“Kau belum minta maaf padaku,” kata Jongin.

Gadis itu meringis lalu mencoba melepaskan tangannya. Namun, genggaman tangan Jongin tentu saja lebih kuat daripada Krystal yang berusaha melepasnya. Gadis itu menatap Jongin dengan marah.

“Lepaskan! Atau aku akan berteriak sekarang,” ancam Krystal.

“Terserah, silahkan teriak. Aku akan menutup mulutmu sebelum kau berteriak,” kata Jongin. “Kau hanya perlu mengucapkan maaf kepadaku dan aku akan membiarkanmu pergi. Apa kau punya masalah denganku?”

“Ya! Aku punya masalah denganmu. Masalah besar,” kata Krystal.

Jongin melepaskan tangannya dari pergelangan tangan gadis itu, lalu menyimpan tangannya di dalam saku celananya. “Bukankah aku sudah membantu temanmu itu, ya? Memangnya dia tidak menceritakannya padamu?”

Krystal terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia mendesah berat. “Ya, dia sudah cerita padaku. Tapi, aku tidak akan pernah terima dengan perbuatanmu itu saat di kafe. Kau telah membuatnya menangis. Kau pikir semua orang bisa hidup di bawah perintahmu?”

“Memangnya tidak?” tanya Jongin sambil tersenyum miring. “Aku bisa mengendalikan orang-orang seperti dirimu. Kalian hanyalah orang-orang kecil di hadapanku. Aku bisa mengeluarkanmu dari sekolah kalau bisa.”

“Ah…” Krystal tersenyum sinis. “Uang?”

Jongin tak menjawab pertanyaan Krystal. Laki-laki itu hanya diam membisu.

“Kalau kau tidak punya uang, lalu bagaimana kau bisa hidup?” tanya Krystal. “Apa kau akan terus-menerus mengandalkan uang? Kalau kau mengeluarkanku dari sekolah, kau akan sangat menyesal telah mengeluarkanku karena aku akan menuntutmu.”

Menyadari itu, Jongin mendecak pelan. “Sial.”

 

 

Mereka menghabiskan sarapan dalam waktu satu jam dan mereka melanjutkannya dengan permainan yang telah disiapkan oleh para guru dan dewan murid. Setelah selesai bermain, mereka pun kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat.

Sampai jam 2 siang, mereka mendapatkan kebebasan.

Naeun menyalakan ponselnya dan tiba-tiba sebuah pesan LINE masuk ke dalam ponselnya. Gadis itu membuka pesan tersebut dan mengetahui bahwa pesan tersebut dari kakaknya. Ia mengerutkan keningnya bingung.

Dongwoon     : Cepat ke kolam renang sekarang.

Naeun             : Apa ada masalah?

Dongwoon     : Jangan banyak tanya

Gadis itu menghela napas berat, lalu ia menyimpan ponselnya di dalam saku celana jeans-nya. Ia melangkah keluar dari tendanya. Eunji dan Bomi yang kebetulan sedang duduk di kursi yang terdapat di depan tenda pun menoleh pada gadis itu.

“Kau mau kemana?” tanya Eunji.

“Aku mau menemui Dongwoon oppa,” jawab Naeun sambil mendesah. “Dia sepertinya ingin membicarakan sesuatu. Benar-benar merepotkan sekali. Kalau ada yang mencariku, bilang saja pada mereka aku sedang pergi sebentar.”

Arasseo.” Eunji menganggukkan kepalanya. “Lagi pula, memangnya siapa yang akan mencarimu, huh? Temanmu hanya ki—oh, ya, kau sekarang berteman dengan Kim Myungsoo. Lebih tepatnya, menjalin hubungan dengan Kim Myungsoo.”

Ya!

Eunji hanya tertawa pelan bersama dengan Bomi yang ikut menertawakannya. Setelah itu, Naeun segera pergi meninggalkan mereka. Gadis itu melangkah menuju kolam renang yang tak jauh dari tendanya.

Dia menemukan Dongwoon yang tengah asik memainkan games di dalam ponselnya.

Wae?

“Oh, kau sudah datang?” tanya Dongwoon yang masih sibuk memainkan games-nya tanpa memperhatikan kehadiran Naeun. Laki-laki itu pun sibuk bermain sampai akhirnya ia menyelesaikannya. Ia menyimpan ponselnya, lalu mendongakkan kepalanya. “Nah, kau bisa duduk di sini.”

Naeun menatap kursi putih yang terdapat di samping Dongwoon. Lalu, ia menghampiri kursi tersebut dan duduk di sana. Kursi yang menghadap ke arah kolam renang itu sebenarnya digunakan untuk pengguna kolam renang.

“Ada apa kau sampai memanggilku ke sini? Kau mengganggu waktu istirahatku.”

“Kau ini,” Dongwoon meliriknya sekilas. “Kau sudah tahu apa yang akan kita lakukan besok pagi? Aku memberitahumu ini karena aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan olehmu atau yang lain.”

“Jangan membuatku takut, oppa.

Dongwoon mendesis pelan. “Aku sungguh-sungguh. Besok pagi akan dilaksanakan permainan mencari harta karun. Aku memintamu untuk menjauhi Kim Jongin. Aku takut dia akan melakukan sesuatu padamu. Kau sudah tahu masa lalunya, bukan?”

Naeun terdiam. “Ya, aku sudah tahu. Baiklah kalau kau mau aku melakukannya. Aku akan menjauhinya. Memangnya dia akan membunuhku atau sebagainya, ya? Dia tidak akan melakukan hal itu, bukan?”

“Dia memang tidak akan melakukan hal itu, tapi kau yang akan melakukannya,” kata Dongwoon. “Waktu itu, Nayoung bunuh diri karena Jongin mengancamnya. Jadi, aku harap kau tidak perlu berteman lagi dengannya. Dia adalah orang yang mengandalkan uang untuk melakukan apa pun.”

“Kenapa tidak kita balas dengan uang lagi?” tanya Naeun bingung.

“Kau ini bodoh sekali. Kalau kita melakukan hal itu, kita akan merepotkan orang tua kita,” kata Dongwoon sambil menyentil kening Naeun. Gadis itu meringis pelan. “Sudah, intinya hanya begitu saja. Jangan jauh-jauh dari Kim Myungsoo. Aku sudah berpesan padanya untuk tetap mengawasimu selama perkemahan.”

Ya! Kenapa harus Kim Myungsoo, sih?” tanya Naeun.

“Hm…” Dongwoon berpikir sejenak. “Kenapa, ya? Aku juga tidak tahu.”

 

 

Malam pun tiba dan para murid pun mulai bersemangat karena api unggun telah di siapkan di tengah-tengah lapangan. Acara pentas per kelas pun dibatalkan karena mengingat dewan murid telah menyiapkan acara masing-masing untuk setiap kelasnya.

Api unggun yang berkobar-kobar di tengah lapangan langsung membuat anak-anak merasa hangat. Mereka duduk sesuai dengan kelompok masing-masing. Naeun lagi-lagi terpaksa duduk di samping Myungsoo karena hanya itu satu-satunya tempat yang tersedia. Namun, Naeun tidak kesal juga karena di sampingnya ada Eunji.

“Tumben kau tidak bertengkar dengan Hoya?” tanya Naeun pada Eunji.

“Tidak, aku bosan,” jawab Eunji lemas. “Aku sudah lelah bertengkar dengannya setiap hari. Lagi pula, dia selalu menang berdebat denganku. Aku tak bisa apa-apa. Untuk hari ini, aku mau diam dulu.”

“Cih, seperti bukan kau,” sahut Bomi yang duduk di sampingnya.

“Oh, ya, ngomong-ngomong kau tidak dekat lagi dengan Kim Jongin? Bukannya sebelumnya kau bilang kalau kau senang berteman dengannya?” Kini giliran Eunji yang bertanya pada Naeun.

Naeun menggeleng. “Aku merasa aku tidak lagi dekat dengannya,” jawab Naeun.

Myungsoo yang duduk di sampingnya hanya melirik gadis itu.

Sementara itu, acara api unggun berlalu dengan cepat. Woohyun dan Chorong pun muncul di hadapan murid kelas 2-2 dan meminta mereka untuk berkumpul. Mereka datang dengan wajah penuh semangat.

“Semuanya! Ayo kita ke kolam renang! Kita berdua sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian semua,” kata Chorong. Woohyun menganggukkan kepalanya. “Jangan ada yang tidak ikut, ya!”

Anak-anak kelas 2-2 hanya mengangguk lalu mengikuti kedua orang tersebut. Sesampainya mereka di sana, kolam renang tersebut kosong dan tidak ada apa pun. Mereka tentu saja bingung dengan maksud sesuatu yang disiapkan oleh Chorong dan Woohyun.

“Kita akan membuat lingkaran di sini!”

Chorong menunjuk sebuah tempat kosong yang cukup bagi mereka semua untuk berkumpul membuat lingkaran di samping kolam renang. Semuanya pun menurut dan membentuk lingkaran di sana.

“Kalian semua membawa baju lebih, bukan?” tanya Woohyun.

Mereka pun mengangguk setuju. Tentu saja, semua anak bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Woohyun. Terutama Naeun yang daritadi sudah waspada dengan sikap pasangan kekasih itu.

“Apa ada yang tahu kita akan main apa?” tanya Woohyun.

Lagi-lagi, murid 2-2 hanya menggeleng dengan wajah bingung.

“Kita akan bermain Truth or Dare!

 

 

 

*dewan murid : OSIS

To be Continued 

March 26, 2016 — 02:00 P.M.

::::

a.n.: Jangan lupa komentar, like, rate, dan segala macam feedback lainnya, ya!♥

8 thoughts on “[Chapter 7] Forbidden Love

  1. Always love your story author-nim,,,
    Biarpun nunggu agak lma tpi tetap aja selalu d tngu klnjutanny,,,
    Berharap d part brikutny,,moment myungeunny tmbah bnyak lgi aplgi kjadian d part berktny d kolam renang,,,
    I hope jongin nda buat mcam2 deh eunnya,,,
    Keep writing,,d tnggu part brkutny,,,Hwaiting^^

  2. Akhirnyaa ke post juga hahahaha
    Waiting terus nih wks
    Tpi part myungeun kurang euy pen bnyk gitu kwkwkww
    Eh itu watak jongin kejam yah bner” pnasaran sma masalalunya

  3. Akk akhirnya udh update lg chap terbaru. Wah baru Myungsoo nih yg kentara suka sm Naeun, tp sbliknya kyknya blm deh hoho. Ayee udh pas tuh MyungEun sm KaiStal >< keep writing young sllu dtggu karyamu!♥

  4. huaaaa ceritanya kerennn. myungeun diam2 menghanyutkan XD. myungeunnya dibikin skinship lg dong author hehe. ditunggu part selanjutnya hehe. ngomong2 aku reader baru disini. salam kenal ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s