[Chapter 8] Forbidden Love

Forbidden Love

We shouldn’t have lived in the same building.

by Shinyoung (ssyoung)

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Kim Jongin & Jung Krystal || Genre: School Life & Romance || Length: Chapter 8/? || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: goldenblood || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015-2016 by Shinyoung.

Chapter 8 — Camp of Truth (2)

Prologue | Characters | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

*

Mata Naeun langsung membulat dua kali lipat saat mendengar itu.

Tentu saja, dia tidak mau melakukan hal tersebut. Jika dia mendapatkan giliran, dia pasti akan diminta untuk melakukan sesuatu yang aneh atau diintrogasi oleh teman-teman sekelasnya.

Intinya, dia tidak percaya siapa pun.

Ya! Aku tidak mau melakukannya. Apa pun itu!” kata Naeun kesal.

“Son Naeun, padahala permainannya belum dimulai dan kau sudah menolak untuk memainkannya? Kau punya kemungkinan sekitar 20% untuk tidak kebagian. Ini bukan berdasarkan botol yang diputar,” kata Chorong santai.

“Lalu, bagaimana kita melakukan permainan ini?” tanya Seulgi bingung.

“Tentu saja kita dapat melakukannya dengan permainan terlebih dahulu,” jawab Woohyun. “Permainannya adalah permainan 3, 6, dan 9. Kita akan menyebutkan angka berurutan dari 1. Jika kau mendapat giliran untuk menyebutkan angka 3/6/9 kalian harus menepuk tangan kalian satu kali tanpa mengucapkan angka tersebut. Berapa pun angka tersebut yang ada angka 3/6/9-nya, kalian harus menepukkan tangan kalian. Jika angka itu adalah angka seperti 33/36/39 atau yang lainnya kalian harus menepukkan tangan kalian dua kali.”

“Mudah!” seru Namjoo bersemangat.

“Percaya diri sekali,” sahut Sunggyu di sampingnya. “Taruhan denganku sebesar 5000 won, kau akan kalah di ronde pertama. Kalau aku salah, aku akan membayarmu dua kali lipat!”

“Baiklah!”

Namjoo menerima tantangan tersebut dengan berjabat tangan dengan Sunggyu. Murid 2-2 yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang bersaudara itu.

Sedangkan Myungsoo, dia hanya bisa diam tak berkomentar. Lebih baik dia mengikuti apa yang diinginkan oleh kedua anggota dewan murid tersebut daripada dia diam sendirian di tenda.

“Naeun, aku mau tanya padamu.”

Naeun menolehkan wajahnya pada Myungsoo yang duduk di sampingnya. Ia mengerutkan keningnya bingung. Tidak biasanya Myungsoo diam-diam bertanya seperti itu padanya.

Eo, wae?

“Kenapa saat di mall kau menangis di kamar mandi?” tanya Myungsoo.

Naeun terdiam cukup lama membuat Myungsoo teringat sesuatu. Sejujurnya, sudah lama Myungsoo ingin menanyakan hal tersebut, namun dia tidak mendapatkan kesempatan. Selain itu, saat di mall, dia tidak berani menanyakan hal itu karena ia takut menyinggung perasaan Naeun.

Mendadak Myungsoo terdiam menyadari bahwa dia mulai mengerti perasaan seseorang. Sebelumnya, dia tidak pernah seperti ini. Dia tidak pernah peduli dengan apa yang orang lain pikirkan.

“Saat itu, aku merasa bodoh,” kata Naeun pelan sambil tersenyum tipis. Dia tidak menatap Myungsoo sama sekali, hanya menundukkan wajahnya ke bawah menatap kuku-kuku jarinya.

Sementara yang lain masih sibuk menentukan permainan apa yang tepat untuk menjalankan Truth or Dare tersebut. Mereka tidak memperhatikan bahwa Myungsoo dan Naeun tengah terlibat dalam suatu pembicaraan yang sangat serius. Bahkan, Eunji yang duduk di samping Naeun dan Sunggyu yang di samping Myungsoo tidak mendengar permbicaraan mereka sama sekali.

“Aku merasa bahwa aku telah gagal menjadi adik,” lanjut Naeun. “Saat itu, aku senang karena untuk pertama kalinya ada tetangga yang baik seperti Kim Jongin. Padahal, Dongwoon oppa telah mengingatkanku malamnya agar aku tidak mendekatinya. Aku terus bertanya pada oppa apakah yang sebenarnya ia sembunyikan, tapi dia diam saja.”

Naeun mendongakkan wajahnya dan menatap anak-anak yang lain yang tengah sibuk mendiskusikan permainan. “Setelah mendengar bahwa Kim Jongin adalah orang seperti itu, aku merasa bahwa aku sangat menyesal telah menolak permintaan Dongwoon oppa. Aku merasa bahwa aku ini adalah adik yang tidak nurut. Jika saja aku mendengarkannya, mungkin dia tidak akan sulit-sulit menjauhkanku darinya.”

Setelah selesai mengatakan hal itu, Myungsoo langsung menepuk puncak kepala gadis itu dan mengusapnya perlahan. “Kau tidak salah. Kau telah melakukan hal yang tepat.”

Naeun sedikit terkejut dengan perilaku Myungsoo. Sebelum ia sempat menoleh pada Myungsoo, laki-laki itu telah melepaskan tangannya dan membuat Naeun hanya menatapnya dengan bingung. Sedangkan Myungsoo, mengacuhkan Naeun yang menatapnya.

Arasseo! Kita sudah putuskan permainannya tetap permainan 3,6, dan 9 agar mudah,” ujar Chorong.

“Kita mulai dari Woohyun,” ujar Chorong dengan senyum lebar. “Kita putar sesuai dengan arah jarum jam. Berarti setelah Woohyun ada Sunggyu, lalu Myungsoo, Naeun, Eunji, dan seterusnya.”

“1.”

“2.”

Myungsoo pun menepuk tangannya.

“4.”

“5.”

Kini giliran Bomi yang menepuk tangannya. Permainan terus berlanjut hingga akhirnya Namjoo pun yang kalah karena dia lupa menepukkan tangannya saat di angka 23. Anak-anak pun bersorak bahagia karena Namjoo menjadi sasaran pertama.

“Kau ingin Truth atau Dare?” tanya Chorong.

I pick dare.

Sunggyu tertawa bahagia. “Kalau begitu, menarilah lagu EXID ‘Ah Yeah’ di tengah-tengah tanpa melakukan kesalahan sedikitpun!”

Namjoo melirik laki-laki itu dengan kesal. “Arasseo!

Anak-anak pun hanya bisa tertawa melihat mereka dan lagu EXID ‘Ah Yeah’ pun langsung diputar melalui ponsel milik Irene. Sedangkan Namjoo yang mulai menari di tengah-tengah mereka, anak-anak pun ikut bertepuk tangan. Hayoung yang tidak sabar pun ikut muncul ke tengah bersama Joy dan Yerim untuk menari bersama.

Lagu pun berakhir dengan tepuk tangan yang ramai. Tak hanya itu, Namjoo harus membayar 5000 won kepada Sunggyu yang berhasil menebak kekalahannya.

Permainan pun kembali berlanjut dan kali ini Hoya yang kalah karena terlalu lama untuk menebak angka selanjutnya. Hoya yang memilih Truth pun langsung diserbu pertanyaan. Akhirnya, ia memilih Irene sebagai orang yang akan mengajukan pertanyaan.

“Apa kau menyukai Jung Eunji?” tanya Irene dan membuat semua orang langsung bersorak bahagia karena rupanya mereka pun ingin menanyakan hal yang sama seperti Irene. “Ayo, jawab, Lee Hoya! Aku tau kau pasti bisa menjawabnya! Kau harus menjawabnya! Kalau kau berbohong, ponselku akan mengetahuinya karena ini sangat akurat. Sebaiknya kau jujur sekarang!”

Sebelumnya, mereka memang telah menggunakan ponsel Irene sebagai pendeteksi kebohongan. Mereka memang mengunduh salah satu aplikasi paling akurat yang bisa mendeteksi kebohongan seseorang. Woohyun dan Chorong telah menguji-coba aplikasi tersebut dan memang benar bahwa aplikasi tersebut dapat mendeteksi kebohongan.

“Ya, aku menyukainya!” jawab Hoya dengan lantang.

Setelah itu, semua orang pun langsung bersorak-sorak dan aplikasi Irene pun menyatakan bahwa Hoya tidak berbohong. Tentu saja, baik Hoya dan Eunji langsung mengalihkan pandangan mereka. Eunji yang terkejut pun tidak berkomentar sama sekali.

“Kau baru saja mendapat pernyataan, sebaiknya kau menjawabnya,” usul Naeun sambil menyenggol bahu gadis itu. Eunji hanya diam dan mencoba menutup wajahnya yang semakin merona.

Hari semakin larut dan permainan kembali berlanjut. Kali ini, Myungsoo yang mendapatkan kekalahannya karena ia justru menepukkan tangannya di angka 40. Dia pun meringis pelan. Dia tahu, ini akan menjadi malam yang panjang.

“Kau pilih apa, Kim Myungsoo?

Dare.

“Ya, kenapa banyak sekali yang memilih dare malam ini?” tanya Chorong dengan kesal. “Padahal aku sudah menyiapkan satu pertanyaan hangat untukmu, Kim Myungsoo. Sudah Namjoo, Irene, Minseok yang memilih dare. Baru Hoya dan Hayoung yang memilih truth.”

“Ya, biarkan saja dia pilih dare!” seru Eunji dengan penuh semangat.

“Jawab saja dulu pernyataan Hoya,” sahut Myungsoo.

Eunji langsung terdiam sambil mendesis kesal ke arah Myungsoo. Myungsoo pun hanya tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan itu, anak-anak mulai kebingungan apa yang harus mereka berikan untuk Myungsoo karena mereka tidak mengenal Myungsoo begitu baik. Selama ini, Myungsoo hanya diam di kelas dan mereka baru bisa mengetahui sikap asli Myungsoo yang cukup emosional jika berhadapan dengan Naeun.

“Ah, aku tahu!” ucap Bomi akhirnya.

“Apa?” tanya Myungsoo.

“Kau harus mengucapkan ‘Aku menyukaimu sejak kita menjadi dekat’ kepada Son Naeun dengan menatap matanya dan letakkan kedua tanganmu di pipinya. Kau harus menatap matanya! Kalau kau tidak menatap matanya—”

“Kau harus memilih truth!” sambung Irene bersemangat.

Ya! Kenapa aku yang jadi korbannya?” tanya Naeun kesal.

“Karena kau duduk di samping Myungsoo! Kalau Krystal atau yang lain yang duduk di sampign Myungsoo, aku pasti akan memilih orang itu juga,” kata Bomi, lalu ia menjulurkan lidahnya pada Naeun.

Naeun hanya bisa mendesah berat. Sedangkan itu, anak-anak lain pun menunggu jawaban Myungsoo. Tentu saja, ini adalah pilihan yang berat karena Myungsoo sendiri tidak mau menjawab apa pun pertanyaan yang diajukan oleh Chorong.

“Jadi, bagaimana Kim Myungsoo?” tanya Chorong.

“Uh…” Myungsoo menelan ludahnya dalam-dalam. Ia menggosok tangannya dengan gugup. “Baiklah aku akan melakukannya.”

Anak-anak pun langsung bersorak bahagia. Sementara itu, Naeun pun langsung memutar tubuhnya menghadap Myungsoo yang duduk di sampingnya. Sejak Bomi menyebutkan dare-nya, gadis itu sudah panik tak karuan.

Jantungnya sudah berdegup kencang daritadi. Dia sendiri tidak tahu mengapa hal tersebut terjadi padanya. Padahal, sebelumnya ia pernah memainkan dare semacam ini dengan Sehun dan dia tidak segugup ini. Selain itu, jantungnya tidak pernah berdetak sekencang ini.

Sedangkan Myungsoo sendiri pun ikut memutar tubuhnya menghadap Naeun yang telah menghadapnya daritadi.

“Cepat lakukan itu. Jangan menatapku, tatap saja orang yang ada di belakangku,” bisik Naeun. “Kalau kau tidak melakukannya dengan benar, aku akan pastikan kau habis di tanganku sepulang kemah.”

“Baiklah, tenang saja,” kata Myungsoo.

Perlahan, Myungsoo mendekatkan kedua tangannya pada pipi Naeun kemudian menyentuhnya. Naeun pun langsung terkejut saat kedua tangan itu menyentuh pipinya, ternyata tangan Myungsoo begitu hangat. Gadis itu menatap sarung tangan yang ada di samping Myungsoo—sebelumnya berada di belakang laki-laki itu.

Naeun hanya bisa tersenyum tipis. Rupanya, laki-laki itu cukup lemah karena tidak tahan denan udara malam yang cukup dingin. Terutama, di sekitar kolam renang, suhu udara pun semakin rendah.

“Naeun, aku akan mengatakannya,” bisik Myungsoo. Kemudian, ia menatap kedua mata gadis itu.

Perlahan tapi pasti, Myungsoo menyadari bahwa mata Naeun memang indah dipandang dari dekat. Selama ini, dia tidak pernah menatap Naeun tepat di matanya.

Dari dekat, Myungsoo menyadari bahwa Naeun memiliki bentuk mata yang hampir mirip dengan miliknya. Tatapan matanya tajam namun ada kehangatan di dalamnya. Tatapannya mendalam dan dia menyadari bahwa jantungnya pun kini ikut berdetak dengan kencang. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.

“Apa dia menyukainya? Tidakkah mereka bertatapan terlalu lama?” tanya Woohyun pada Chorong.

Chorong hanya tersenyum kecil meminta anak-anak yang lain agar diam untuk tidak mengganggu mereka. “Jangan ada yang ganggu mereka. Aku tahu sebenarnya mereka saling menyukai, hanya saja mereka tidak mau mengakuinya.”

 

 

Kim Jongin yang selama ini hanya diam saja pun memilih untuk bangkit dengan perlahan meninggalkan kerumunan anak-anak yang sibuk memperhatikan Myungsoo dan Naeun.

Rahang laki-laki itu langsung mengeras begitu ia berhasil meninggalkan tempat tersebut. Dia memang tidak akan pernah bisa merebut Son Naeun dari Kim Myungsoo. Dia menyadari bahwa Myungsoo akan terus menjadi penjaga gadis itu.

Tanpa tujuan, Jongin pun melangkah menuju lapangan basket. Dia menyadari bahwa tinggal kelas mereka saja yang masih bermain. Kelas lain telah memilih untuk kembali ke tenda masing-masing.

Jongin mengambil sebuah bola basket dan mencoba untuk bermain sendiri. Tepat, ketika dia berhasil memasukkan basketnya ke dalam ring basket, sebuah tepuk tangan menyambut keberhasilannya.

Setelah mengambil bola basketnya, dia langsung menolehkan wajahnya ke arah sumber suara dan mendapati sosok Jung Krystal yang telah berdiri tak jauh darinya dengan celana training dan jaket yang diresleting sampai lehernya. Rambut panjang gadis itu dibiarkan tergerai dan wajahnya tidak dihiasi make-up tipis yang biasanya digunakannya untuk ke sekolah.

Three point, ya?” tanya Krystal sambil tersenyum miring.

“Kau tahu cara bermain basket juga, ya?”

Jongin sambil mendribel bolanya, lalu melemparkannya pada Krystal. Krystal menerima bola tersebut dengan mudah dan mendribelnya menuju ring basket, lalu mencetak gol dari dekat yang tampak seperti slam dunk. Jongin mengambil bola yang baru saja terjun bebas dari ring basket.

“Bagaimana kalau kita one on one? Yang menang boleh minta apa pun, termasuk mengeluarkan yang kalah dari sekolah. Bagaimana?”

“Mudah saja,” jawab Krystal lalu tersenyum penuh kemenangan. “Izinkan aku mengganti sepatuku, setelah itu kita bisa mulai permainannya. Ingat? Yang kalah akan melakukan apa pun yang diminta oleh yang menang.”

“Setuju.”

Krystal pun pergi meninggalkan Jongin dan segera mengganti sandalnya dengan running shoes-nya. Meskipun sepatu itu memang tidak untuk bermain basket, setidaknya ia bisa menggunakan sepatu yang nyaman. Sekembalinya gadis itu, permainan pun dimulai.

Karena memenangkan tos koin, Jongin mengawali permainan dengan mencetak skor. Krystal yang berhasil merebut bola dari Jongin pun langsung mendribel bolanya menuju area three point dan melemparkan bolanya dari posisi tersebut. Gadis itu berhasil mendapatkan 3 poin.

Sehingga kedudukannya sekarang adalah 1-3. Krystal memimpin. Melihat itu, Jongin pun sedikit terkejut dengan cara bermain Krystal. Dia kini cukup yakin bahwa Krystal adalah salah satu pemain basket di Skoolite High School. Bagaimana bisa dia tidak tahu mengenai hal itu?

Padahal, dia yakin bahwa dia telah membaca daftar orang-orang yang patut ia ketahui di Skoolite High School.

Terlalu lama sibuk dengan pikirannya sendiri, Krystal telah berhasil mencetak 2 poin karena melemparkannya dari tengah lapangan. Melihat itu, Jongin cepat-cepat merebut bola yang baru saja memasuki ring basket dan mencetakkan 2 poin juga ke arah ring basket milik Krystal.

Permainan berlangsung cukup lama. Kini kedudukan mereka 11-13. Krystal lagi-lagi lebih unggul 2 poin daripada laki-laki itu.

“Jadi, bagaimaana, Kim Jongin?” tanya Krystal sambil mendribel bolanya.

Jongin tersenyum tipis tidak menjawab pertanyaan Krystal. Matanya terfokus pada bola basket yang masih ada di dalam penjagaan Krystal. Gadis itu telah bersiap untuk melemparkan bolanya menuju ring basket milik Jongin.

“Lumayan,” jawab Jongin.

Laki-laki itu berlari menuju Krystal dan berusaha merebutnya, namun Krystal sudah lebih awal melemparkan bolanya menuju ring basket Jongin dari lapangan. Dia pun berhasil mencetak dua poin.

Permainan selesai dengan hasil akhir 11-15.

Jongin menghela napas berat. Baru pertama kalinya, ada seorang gadis yang berhasil mengalahkannya dalam basket. Laki-laki itu duduk di tengah lapangan dan merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang dan juga bulan yang bersinar terang.

“Pertama kalinya dikalahkan oleh perempuan?” tebak Krystal.

“Uh.”

Krystal tersenyum senang. Ia mengambil botol minumannya yang diletakkan di bangku penonton. Ia menegak setengah botolnya dan menarik napas lega. Gadis itu duduk di atas bangku tersebut memperhatikan Jongin.

“Apa yang kau lakukan sendirian di sini?” tanyanya penasaran.

“Hanya… Mencari udara segar,” jawab Jongin.

Jongin terbangun dari posisinya dan memberikan tanda pada Krystal agar melemparkan botol minuman gadis itu. Gadis itu hanya diam tak berkomentar dan menyetujui permintaan Jongin. Jongin meminum air tersebut sampai habis.

“Buang saja botolnya, itu bukan botolku,” kata Krystal saat Jongin ingin mengembalikannya.

“Bukan botolmu?”

Krystal menggerakkan dagunya pada vending machine yang tak jauh dari tempat ia duduk. Jongin pun mengikuti arah pergerakan dagu Krystal dan menemukan mesin tersebut. Ia lantas melempar botol kosong tersebut menuju tempat sampah di samping mesin itu dan berhasil masuk ke dalam sana.

“Lemparan yang bagus,” komentar Krystal.

“Apa yang kau lihat tadi saat aku main basket?”

“Aku tidak melihat apa-apa.”

“Terserah kau saja.”

“Jadi,” lanjut Krystal. “Kau tidak mengenalku?”

Jongin menggelengkan kepalanya sambil kembali merebahkan tubuhnya di atas lapangan basket itu. Matanya kembali menelusuri satu per satu bintang-bintang yang bertebaran di atas sana.

“Kau membaca data-data murid satu per satu?” tanya Krystal.

“Ya, aku memang melakukannya sebelum aku pindah ke sini,” jawab Jongin. “Aku harus mengetahui siapa saja anak-anak yang sekolah di sekolah milik ayahku. Apakah mereka sebaik yang dibicarakan oleh orang-orang atau tidak. Aku tahu bahwa banyak orang yang ingin masuk ke sini, namun tidak mudah.”

“Kau tidak perlu memberitahuku hal itu, aku sudah tahu kau adalah anak dari pemilik Skoolite High School,” kata Krystal. “Jadi, kau yang menyeleksi murid-muridnya?”

“Tidak,” jawab Jongin jujur. “Ada orang-orang yang telah dipilih oleh ayahku untuk menyeleksi mereka. Seperti Park Chorong. Jika saja orang tuanya tidak mengenal ayahku, mungkin dia tidak akan masuk sini. Dia tidak punya uang dan mendapat beasiswa untuk masuk sini. Bahkan, dia mendapat posisi sebagai wakil ketua murid. Sungguh menakjubkan.”

Krystal tertawa sinis. “Park Chorong mendapatkannya dengan kemampuannya.”

Jongin pun terbangun dan menatap Krystal dengan tatapan malas. “Memangnya kau tahu apa? Kau tidak tahu bahwa Woohyun adalah pacarnya? Dia bisa saja menerima Chorong masuk menjadi anggota dewan murid dengan mudah karena dia adalah kekasihnya.”

“Aku tahu karena aku adalah anggota dewan murid juga.”

 

 

“Aku menyukaimu sejak kita menjadi dekat.”

Myungsoo segera melepaskan kedua tangannya dari pipi Naeun dan mengalihkan pandangannya. Tepat saat Myungsoo melepaskan tangannya, Naeun mulai merasakan bahwa hawa panas kini menjalari pipinya. Suhu tubuhnya pun ikut meningkat.

Sementara itu, anak-anak pun bersorak bahagia melihat adegan tersebut. Tentu saja, setelah ini, baik Myungsoo maupun Naeun tidak akan berbicara satu sama lain. Permainan itu pun selesai ketika Chorong menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Mereka seharusnya sudah berada di tempat tidur.

“Sebaiknya sekarang kita tidur karena sudah larut malam. Aku takut besok kalian tidak bisa bangun pagi,” kata Chorong.

“Ya, sebaiknya sekarang kita kembali ke tenda masing-masing,” Woohyun menyetujui.

Anak-anak kelas 2-2 itu langsung melangkah keluar dari sana dan meninggalkan kolam renang secara bergiliran. Sementara itu, Naeun, Eunji, dan Bomi masih di sana terdiam tanpa mengucapkan sepotong kata pun. Dongwoo yang menyadari hal tersebut menepukkan tangannya di depan wajah mereka.

“Apa yang kalian lakukan? Kalian mau tidur di sini?”

Bomi menggeleng pelan. “Bukan itu, kami sudah berjanji akan melakukan sesuatu. Sebaiknya kalian tinggalkan kami karena ini sesuatu yang memalukan.”

Eunji mengangguk setuju. “Bomi benar. Kau sebaiknya keluar dari sini atau kau akan ikut dalam permainan kami.”

“Permainan?” tanya Dongwoo dengan mata berbinar-binar.

Dia pun langsung berlari menuju Hoya dan Myungsoo kemudian menarik kedua orang tersebut kembali menuju tempat dimana Eunji, Bomi, dan Naeun masih duduk terdiam.

“Kita siap bermain!”

“Bermain apa?” tanya Myungsoo bingung. Lalu, melepaskan tangan Dongwoo dari bahunya. “Aku tidak mau bermain lagi. Aku mau kembali ke tenda. Ini sudah larut malam. Sebaiknya kita tidur.”

“Oh, sayang sekali! Kau tidak bisa kembali ke tenda tanpaku,” kata Dongwoo sambil mengeluarkan kunci pintu tenda mereka dari dalam saku jaketnya. Ia menggoyang-goyangkan kunci tersebut ke arah Myungsoo dengan senang.

“Ah… Benar-benar, ya.”

“Sudahlah, ikuti saja,” kata Hoya dengan wajah mengantuk.

Dongwoo mengangguk setuju. “Jadi, apa permainannya?” tanyanya pada Eunji.

Eunji menghela napas berat. “Kita bertiga telah melakukan permainan ini dan Naeun kalah. Dia harus berenang dengan pakaian yang dikenakannya sekarang dari ujung ke ujung. Setelah itu, dia harus kembali ke tenda dalam keadaan basah kuyup tanpa handuk.”

“Oh, menyenangkan!” sambut Dongwoo.

“Apanya yang menyenangkan?” sahut Myungsoo dengan kesal.

“Ayolah, hidupmu harus berwarna, Kim Myungsoo!”

“Permainannya mudah. Kau hanya perlu bermain ‘Katakan Tentu Saja’ seperti yang ada pada X-Man. Kalian pasti pernah menonton variety show tersebut, bukan? Yang kalah akan melakukan hal yang sama yang akan dilakukan oleh Naeun,” jelas Bomi.

Naeun mengangguk. “Setidaknya, aku punya teman untuk kembali ke tenda dalam keadaan basah.”

“Caranya mudah,” kata Bomi dengan tenang. “Kau hanya perlu menjawab ‘tentu saja’ setiap kali lawanmu menanyakan sesuatu. Permainan ini menyingkirkan umur, posisi, dan sebagainya. Kau diizinkan untuk menggunakan banmal meskipun orang tersebut lebih tua atau lebih muda daripada dirimu. Kalau kau tidak bisa menjawab ‘tentu saja’, kau dinyatakan kalah atau kau tertangkap basah merasa kesal dengan pernyataan/pertanyaan yang diajukan lawanmu, kau kalah.”

“Aku tidak mengerti,” kata Myungsoo.

“Aku juga,” kata Hoya. “Aku tidak pernah menonton acara itu. Bukannya acara itu ada saat kita masih SD? Aku tidak diizinkan untuk menonton acara semacam itu saat masih SD.”

“Kau ini,” Eunji berkomentar. “Kau bisa menontonnya saat kau sudah beranjak remaja. Acara itu patut kau tonton karena… Menyenangkan! Tentu saja, menyenangkan!”

“Kalau begitu, kenapa tidak kalian contohkan saja?” tanya Myungsoo. “Atau kalian bisa bermain ulang?”

“Ide yang bagus! Jadi adil. Aku mendapat kesempatan sekali lagi,” kata Naeun menyetujui ide Myungsoo.

Dengan berat hati, Eunji dan Bomi pun menyetujui pernyataan Myungsoo. Melalui gunting-batu-kertas, Naeun bisa langsung menghadapi pemenang di antara Eunji dan Bomi.

“Kita mulai,” kata Bomi. “Aku duluan.”

“Baiklah sesuai dengan gunting-batu-kertas.”

“Sebenarnya, kau ingin membalas perasaan Hoya, bukan?” tanya Bomi melakukan serangan pertamanya.

Mendadak wajah Eunji langsung berubah menjadi merah padam saat Bomi menanyakan hal tersebut. Tentu saja, mau tidak mau, Eunji harus mengatakan ‘tentu saja’ atas pertanyaan tersebut. Namun, pikiran dan mulut berkata lain.

Bagaikan patung, lidah Eunji mendadak jadi kaku saat ia ingin menjawab pertanyaan tersebut.

“Tentu saja,” jawab Eunji akhirnya sebelum ia kehabisan waktu.

“Woah,” Naeun menyahut. “Kalau gitu balas perasaannya sekarang.”

“Diam kau, Son Naeun.”

“Kau… Kau sebenarnya tidak pernah menggosok gigimu saat pagi hari, bukan?”

“Tentu saja.”

Kali ini Bomi kembali mendapat giliran. “Selama ini, kau sudah memendam perasaan kepada Hoya, bukan?”

Lagi-lagi Eunji merasa tertohok dengan pertanyaan Bomi. Dalam hitungan mundur 5 detik, Eunji pun terkalahkan oleh pertanyaan tersebut. Eunji pun kalah.

“Sekarang, giliranku,” kata Naeun.

Arasseo.

“Kau sebenarnya menggunakan obat untuk menurunkan berat badanmu, bukan?”

“T-tentu saja.”

“Saat Myungsoo tadi meletakkan tangannya di pipimu, kau merasa jantungmu berdegup dua kali lebih cepat, bukan?”

Naeun langsung menghela napas berat. Tentu saja, dia tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Maka, ia pun dinyatakan kalah. Serangan Bomi berhasil membuat Eunji dan Naeun langsung kalah telak. Karena poin Eunji lebih tinggi daripada Naeun, Naeun diputuskan orang yang kalah dalam permainan ini.

Setelah melihat contoh permainan itu, Hoya dan Myungsoo pun mengerti cara kerja permainan itu. Mau tidak mau, untuk menjadi pemenang, kau harus mengetahui seluk-beluk orang tersebut. Tidak mudah untuk menjadi pemenang.

“Kita akan mulai permainannya,” kata Bomi.

 

 

Jongin bangkit dari posisinya, kemudian membersihkan punggungnya.

Krystal hanya memperhatikan laki-laki itu tanpa berkomentar. Kakinya memainkan bola basket dengan menggelindingkannya ke depan lalu ke belakang, begitu seterusnya.

“Kau tidak balik ke tendamu?” tanya Jongin akhirnya.

“Tidak,” Krystal menjawab. “Aku masih mau di sini.”

Jongin hanya diam, tidak mengomentari jawaban Krystal. Laki-laki itu mengeluarkan selembar uang 1000 won-nya, lalu memasukkannya ke dalam vending machine tersebut. Ia mengambil botol air minumnya yang baru saja jatuh.

“Kau gila, ya?” tanya Jongin.

“Gila?” Krystal melirik laki-laki itu, kemudian mengerutkan keningnya. “Ada apa? Apa yang salah denganku? Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu padaku, huh?”

“Ini sudah jam 11 malam dan kau masih mau duduk di sini?”

“Ini urusanku,” jawab Krystal kesal.

“Ini juga urusanku jika aku meninggalkanmu sendirian di sini dan mendadak kau menghilang dari sini! Aku yang akan bertanggung jawab kalau kau menghilang!”

Krystal terdiam. “Kau mengkhawatirkanku?”

“Kau gila, ya? Aku mengkhawatirkan diriku. Aku tidak mau mendapatkan masalah.”

“Baiklah. Baiklah. Kau ini cerewet juga.”

Jongin tidak berkomentar lagi, kemudian dia beranjak meninggalkan tempat tersebut. Dia tidak mau berdebat lagi dengan gadis itu, terutama dia tidak pernah menyukai gadis itu semenjak mereka berkenalan—lebih tepatnya saling mengetahui keadaan masing-masing di Skoolite High School.

Setelah itu, Krsytal bangkit dari bangku yang ia duduki. Kemudian, ia pun mengikuti Jongin yang melangkah meninggalkan lapangan basket tersebut.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Jongin kesal.

“Aku tidak mengikutimu! Aku mau kembali ke tendaku juga!”

“Ya sudah, tidak usah berteriak. Kau akan membangunkan yang lain. Aku akan kena masalah jika mereka tahu bahwa aku bersamamu. Jangan buat masalah.”

Krystal mendecak pelan. “Egois sekali.”

Jongin menolehkan kepalanya. “Kau bilang kau sudah mengetahui segalanya tentangku. Kenapa kau tidak tahu bahwa aku adalah orang yang egois?”

“Aku tidak bilang bahwa aku mengetahui segalanya tentangmu,” tandas Krystal. “Aku bilang bahwa aku sudah tahu bahwa kau adalah anak dari pemilik Skoolite High School.”

“Benarkah?”

“Lupakan itu,” jawab Krystal akhirnya. “Kau harus melakukan semua permintaanku karena aku menjadi pemenang one on one itu. Ingat? Kau tidak boleh membatalkannya karena aku telah merekamnya.”

Jongin menghentikan langkahnya, kemudian ia kembali membalikkan tubuhnya, menghadap Krystal. Laki-laki itu lantas membulatkan matanya dua kali lipat.

“Kau merekamnya?”

“Ya,” jawab Krystal dengan percaya diri.

Tak lama setelah itu, terdengar percakapan di antara mereka. Jongin pun langsung mengumpat pelan. Dia tidak percaya bahwa Krystal telah mengincarnya sejak awal.

 

 

Sementara itu, permainan berlangsung.

Myungsoo sebenarnya tidak mau melakukan permainan ini, jika saja kunci tenda tidak ada pada Dongwoo. Setiap tenda memang memiliki kunci sehingga tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dengan wajah kesal, kedua laki-laki itu berhadapan. Setelah melakukan gunting-batu-kertas, Dongwoo berhasil mendapatkan kesempatan untuk menyerang Myungsoo terlebih dahulu.

“Sebenarnya, selama ini kau menyukai Son Naeun, bukan?”

Myungsoo menggigit bibir bawahnya, kemudian dia menarik napas dalam-dalam. Kemudian, ia menjawab, “Tentu saja.”

“Sebenarnya, kau membenci Hoya, bukan?”

“Tentu saja,” jawab Dongwoo dengan senang.

Permainan pun berlangsung selama sepuluh menit, hingga akhirnya sebuah pertanyaan yang kritis pun membuat Myungsoo tidak bisa membuka mulutnya sama sekali.

“Sebenarnya, kau ingin kalah agar bisa terjun ke kolam renang dengan Son Naeun, bukan?”

Dengan pertanyaan itu, Myungsoo pun dikalahkan oleh Dongwoo. Laki-laki itu melirik Naeun yang sudah menghela napas berat. Dongwoo kembali memenangkan permainan melawan Hoya.

Dengan begitu, orang yang akan menerjunkan dirinya ke dalam kolam renang pun telah ditentukan. Kim Myungsoo dan Son Naeun. Baik Eunji maupun Bomi telah membawakan dua orang itu handuk tebal yang mereka ambil dari loker milik kolam renang tersebut.

“Bisakah aku menggantikan Naeun yang terjun ke kolam renang?” tanya Myungsoo akhirnya. “Aku akan terjun dari ketinggian 10 meter. Aku tidak mau aku yang kena marah Dongwoon hyung kalau Son Naeun sakit.”

A-ani! Sejak kapan kau menjadi dekat dengan kakaknya Naeun?” tanya Eunji bingung. “Aku yang dekat dengan Naeun saja tidak pernah memanggil kakaknya dengan sebutan Dongwoon oppa! Dia selalu memarahiku dan kau berani memanggilnya hyung?”

“Memangnya Guru Dongwoon menitipkan Naeun padamu?” tanya Dongwoo dengan wajah curiga.

Ne!” jawab Naeun kesal. “Dia menitipkanku pada Myungsoo seolah-olah aku ini anak kecil yang harus dijaga setiap hari!”

Heol, daebak. Wanjeon daebak,” sahut Bomi sambil menepukkan tangannya berkali-kali. “Seharusnya aku tadi merekam dialog barusan jadi aku bisa mengancam kalian berdua agar mengungkapkan perasaan satu sama lain!”

Ya! Diamlah!” seru Naeun kesal.

Setelah pembicaraan yang cukup lama itu, akhirnya Myungsoo pun bersedia melompat dari papan lompat dengan tinggi 10 meter. Tentu saja, mereka kecuali Naeun cukup puas untuk melihat adegan tersebut.

Naeun yang daritadi diam memperhatikan pun mulai merasa bersalah. Dia memperhatikan laki-laki itu dengan seksama, mencoba mengawasinya jika sesuatu terjadi pada laki-laki itu. Tentu saja, dia tidak mau kena marah Dongwoon jika terjadi sesuatu pada Myungsoo.

Dalam pikiran Dongwoon, Myungsoo sudah ia anggap sebagai adiknya. Naeun tidak akan membiarkan Dongwoon memarahinya karena dia membiarkan Myungsoo mengalami hal yang tidak diinginkan.

“Kau terlalu serius, Son Naeun,” ujar Eunji yang daritadi memperhatikannya.

Naeun melirik ke arah Eunji sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat. Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak seserius itu. Aku hanya khawatir sesuatu terjadi padanya dan Dongwoon oppa akan memarahiku.”

Eunji tersenyum miring. “Apa kau yakin tentang itu?”

“Ya, aku yakin.”

“Maka, berhentilah menatapnya seolah dia akan meninggalkanmu.”

 

 

To be Continued 

April 26, 2016 — 05:00 A.M.

::::

a.n.: Jangan lupa komentar, like, rate, dan segala macam feedback lainnya, ya!♥

Advertisements

12 thoughts on “[Chapter 8] Forbidden Love

  1. what..what..whattttt. aaaa author, kenapa hrs tbc disaat yg engga tepat huhu T_T. itu gimana nasib myungsoo? trs naeun jd berenang di kolam renang kah? makin hari makin seru ffnya ><. di tunggu chapter selanjutnya author. SEMANGAT!! hehe

  2. aku ga berharap tbc disitu thor aku ga berharappp!!?! /apaini. Greget gitu ngeliat myungeun sama hoji duh duh duh bikin aku senyum senyum bacanya :”-) please bikin dongwoo bomi moment juga di chap selanjutnyaaa dan bikin moment mereka makin greget jeballll haha.fighting buat nyelesaiin ffnya yaa!! aku tau bikin ff yang bahasanya (?) enak dibaca ga semudah kita makan toppoki /apa. semoga ide idenya buat bikin ff myungeun bertambah terus yaa.duh kepanjangan ya intinya tetep semangat buat menciptakan fanfiction myungsoo naeun!!hahaha

    • huahaha. maafin yaa hehehe sengaja di tbc di situ hehehe. makasih banyak yaa udah komentar panjang dan juga saran-sarannya, juga semangatnya! makasih banyaak dan keep reading yaa ❤

  3. Tuhkan telat baca lagik 😦 Aww serius makin seru ceritanya! Apalagi pas moment MyungEun-KaiStal-HoJi bikin greget deh >< Huhuhu kapan myungeun jadian nya yah udh gasabar nih wkwk. Keep writing young!❤ smoga ide dtg ke kamu mengalir dg deras yah(?)

    • huahaha aku update setiap sekitar tanggal akhir bulan supaya biar ga telat lagi 😄 waduu makasih banyak udah komentar dan semangatnya! aamiin hehe dan keep reading yaa ❤

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s