That Glazed Winter – Chapter 5

that glazed winter

THAT GLAZED WINTER

“Neither You Nor Me”

BY

Kiran

 Casts :  Sulli (f(x)) &  Do Kyungsoo (EXO-K)  ||  Support Casts  : Kai, (EXO-K), Tiffany (SNSD), Baekhyun (EXO-K), Kris (EXO-M),   ||  Genre  :  Romance, Fantasy, Western  ||  Rating  :  PG-16 ||  Length  :  Chapter  ||  Credit Poster  : funluobell

Inspired by C.S. Lewis’s The Chronicles of Narnia & Eloisa James’s Desperate Duchess Series

Previous Chapter  :

Prologue | 1 | 2 | 3 | 4

*****

More Detail:

Sulli as Sulli Mareviere, putri dari James Mareviere, Duke of Rovaldine

D.O as Dio Soilaven, pewaris keluarga Nobel of Ritzoviral

Tiffany as Tiffany Reindfelt, putri Navis Reindfelt, Nobel of Everolen

Baekhyun as Baekhyun Byun, pewaris keluarga Nobel of Zousanorve [sub-urban family]

Kris as Kris Mareviere, pewaris keluarga Duke of Rovaldine

*****

“Ah, benar. Pertanyaan yang bagus, Duke!” seru Kai saat ia mulai ditanyai tentang kapan pernikahan kerajaan akan dimulai. “Istana telah merencanakannya dalam waktu dekat. Musim gugur tahun ini mungkin.”

“Empat bulan lagi?” ucap Duchess membatalkan kunyahan pienya yang tinggal seperempat. “Apakah tidak terlalu cepat, Sulliku sayang?”

Sulli hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu terhadap siapa gelengan itu ditunjukkan. Pertanyaan sang Duchess kah atau makanan lezat yang tiba-tiba hambar karena sesuatu yang tak bisa dijelaskan?

“Sulli, jawab pertanyaan Ibu Mertua, Sayang.” ucap Kai sambil memegang jemari Sulli yang telah dihadiahi sebuah cincin. “Dia menunggu jawaban kita. Dan kau tahu aku menyerahkan segalanya padamu.”

“Pernikahan adalah hadiah dari Aslan. Aku menyerahkan segalanya pada apa yang sudah ditentukan.” ucap Sulli memandang hampa gelas kristal yang ada di depannya. “Dulu aku berpikir aku tak ingin menikah karena ingin jadi perempuan suci di Cair Paravel, saat itu aku tidak tahu ada takdir yang lebih baik yang bisa kumiliki.”

“Sayang,” tegur Duke saat memperhatikan kata-kata Sulli.

“Kalau kau lelah, kau bisa kembali ke kamar sekarang. Aku dan pihak istana akan  mengusahakan pernikahan kita seperti yang kau inginkan.” ucap Kai mengakhiri makan malamnya. “Your Grace, tolong jaga Sulli untukku.”

Kai berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa salam. Ia ditolak. Dengan sangat eksplisit. Dan gadis itu harusnya segera tahu bagaimana dunia yang dilihatnya akan berubah saat laki-laki itu mulai marah.

“Maafkan Ayah, Sulli.”

Makan malam itu terasa kegiatan yang penuh dosa…

~k~

“Your Grace!” sambut Letitia di depan pintu kamar gadis itu. Ia mengikuti langkah Sulli Mareviere yang tampak lengah. Ia sedikit menguping pembicaraan sakral di ruang makan tadi saat ia melewatinya.

“Aku baik-baik saja, Letitia. Kau boleh meninggalkanku sekarang.” ucapnya.

Letitia menutup pintu itu dari luar.

Tubuh Sulli lemas, terlihat kalah. Awalnya ia hanya membuang napas. Lalu, karena angin yang datangnya tak jelas dari mana, tubuhnya bergetar. Ia mulai membayangkan Dio dan terjatuh begitu saja sambil memelankan suara tangisnya.

“Aku tahu kau akan begini, Your Grace,” ucap Letitia di balik pintu itu pelan. Tak tersampaikan.

“Dia menangis?” ucap Duke yang tiba-tiba ada di sana.

“Your Grace,” salam Letitia sopan pada pria yang ada di hadapannya. “Ini sudah waktunya Anda istirahat.”

“Sulli adalah perempuan yang hatinya paling ingin kujaga.” ucap Duke sedikit menunduk. “Tapi saat kau tahu kau memiliki batas, segalanya menjadi lebih sukar.”

Letitia sedikit melirik Duke yang ada di depannya. Ia tahu semua orang di rumah ini sangat menyayangi gadis yang ada di balik pintu itu. Duke dan Duchess bukanlah seseorang yang gila kekuasaan atau apapun itu, dan Letitia yakin, semua ini murni karena kecelakaan—karena wajah Sulli yang bersinar anggun dan membawa kedamaian itu berubah muram menanggung beban.

“Saya kira semua penyakit yang datang dari hati sembuhnya hanya dengan kata ‘nanti’. Ini bukan masalah yang mudah ketika Anda harus melepaskan perempuan yang Anda pikir Anda akan berjuang lebih untuknya.” ucap Letitia menghadap Duke sopan. “Nona Sulli bukan seseorang yang mudah dipahami keinginannya. Ia hanya memiliki ketertarikan yang berbeda.” Dan karena itu ia tidak bisa berhenti menyukai Nobel of Ritzoviral. “Itu saja.”

“Kau begitu memahaminya, Letitia.” ucap Duke. Rasanya ia ingin bercerita bagaimana menderitanya dia saat segalanya tidak mudah seperti ini. “Segera carikan dia tempat yang nyaman untuk menangis.”

“Ya, Your Grace.”

~k~

 Dio Soilaven tak percaya pada apa yang diucapkan Pangeran Kai. Bagaimana mungkin ia menolak Krystal dan memilih gadis lain yang bahkan baru ditemuinya sekali? “Your Majesty, apa Anda yakin dengan pilihan Anda? Maksudku adalah—kukira Anda sangat menyukai kekasihmu itu. Jadi—”

“Cinta lelaki adalah hal yang mudah berubah.” ucapnya yakin sambil membaca beberapa surat yang ditujukan untuknya.

“Anda bukan orang yang seperti itu, Your Majesty.” ucap Ritzoviral mengingatkan. “Cinta pada pandangan pertama tidak berlaku untuk seseorang yang hatinya sedang tidak suci.”

“Tidak suci? Apakah maksudku hatiku benar-benar terisi oleh Krystal?”

“Siapakah dia, Your Majesty?” tanya Dio tak tahan. Gadis ini telah membuat satu-satunya pria penerus kerajaan Pevensie ini kehilangan kepribadian, dan menurut Dio, ini bukanlah keadaan yang baik.

“Sulli Mareviere, putri Duke Rovaldine.”

Seketika ada udara yang tidak bisa keluar dari napasnya. Pria itu, Dio Soilaven, tiba-tiba berubah pucat. Kemungkinan-kemungkinan itu memang selalu menghantuinya, tapi ketika jatuhnya tidak dalam momentum yang tepat, hal-hal yang mungkin bisa dilaluinya dengan bijak, menjadi sesuatu hal yang tidak bisa dikendalikan dengan benar.

“Dia sepertinya tidak menginginkan pernikahan ini. Baca ini.” ucap Kai sambil menyerahkan beberapa tumpukan kertas yang diambil dari laci mejanya kepada Dio.

“Apa?” tanya Dio tak mengerti, lebih kepada bagaimana semua hal yang dilaluinya telah terkoneksi dengan ikatan-ikatan tertentu yang tak pernah dipahaminya.

“Dia begitu baik, tetapi juga membuatku marah.” ucap Kai memandang Dio. Ia tahu pria dihadapannya sedang tidak mengerti. Ia sedang memahami kebingungan ini. “Dia memiliki takdir yang mungkin menurutnya salah sejak awal karena dirinya berada dalam lingkungan bangsawan, dan sekarang aku berusaha mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyenangkan, seperti yang ia harapkan.”

“Apa maksudnya?”

“Kau akan memahaminya ketika kau membacanya.”

“Tidak mungkin,” bantah Dio ketika membaca salah satu judul laporan penelitian yang ada di tangannya. “Ini…” Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dibacanya sekarang tidak benar. Bahwa segalanya tidak mungkin serumit ini… bahwa segalanya akan tetap bisa diselesaikan dengan cara yang manusiawi.

“Itulah alasan Reine Descravyt dan Florence Hertz meninggal sebelum hari pernikahannya dengan King Edwin V dan Harry II. Kau akan mengetahui detailnya di Roudevz Reaserch Center.”

“Your Majesty, aku tidak bisa masuk ke sana tanpa—“

“Aku akan memberikan surat berstempelnya. Dan sekarang aku menyerahkan masalah ini padamu. Aku memberikan pilihan untuk kau melakukannya atau menolaknya dan aku tidak akan menyuruh orang lain kalau kau menolaknya. Aku percaya padamu, Soilaven. Kau akan membantuku menentukan pilihan yang bijak.”

“Dia adalah wanita yang berharga… untuk keluarganya, orang-orang yang mencintainya, dan mungkin Anda, orang yang dipikirnya akan  berusaha memberikan yang terbaik untuk takdir yang salah menimpanya.”

“Aku pernah mempunyai pikiran yang sama.” ucap Kai singkat.

“Aku akan memikirkannya dengan baik-baik. Jawabannya akan kuputuskan setelah aku mengetahui detailnya dengan benar. Selamat siang, Your Majesty.”

Dio menghilang di balik pintu besar. Sekarang pikirannya sudah tak bisa digambarkan. Bayak gejolak yang tiba-tiba merebak, banyak kenyataan yang tiba-tiba jatuh berserakan. Bahwa ia tidak bisa menjaga Sulli sampai ia mati. Bahwa cinta itu berpotensi untuk sebuah pembunuhan keji. Bahwa segalanya akan menjadi jelas kalau… kalau… hubungan ini akan hanya sampai di sini.

~k~

“Your Grace,” ucap Kai dari dalam rumah saat melihat Kris dan Victoria turun dari kereta kuda.

“Kris!” seru Sulli kemudian menghambur ke pelukan pria itu. Kedatangan inilah yang dipersiapkan. Demi Tuhan! Ia kira tadi adalah Kris, bukan Kai. Tapi, pria itu datang lebih dulu dan mengguncang segala dunia yang ada di pikiran Sulli.

“Milady,” ucap Kai mencium tangan Victoria. “Kuharap kalian memiliki bulan madu yang indah.”

“Terima kasih, Your Majesty.” balas Victoria hangat. “Kami juga membawa berita baik.”

“Apakah sudah ada bayi di dalam sana?” ucap Sulli sambil melirik perut Victoria. Wanita itu hanya tersenyum. Ya, sepertinya memang sudah ada. Lagipula, sudah tiga bulan mereka menikah.

“Your Majesty,” sapa Kris sambil menunduk memberikan hormat. “Kudengar pernikahannya sebulan lagi. Apakah kau datang untuk memberitahukan tanggalnya?”

“Belum, aku belum mendengar kabar dari Istana Bintang tentang tanggal pernikahan. Aku datang karena aku ingin menanyakan sesuatu pada Sulli.” jawab Kai apa adanya. Ia memang datang untuk memberitahukan hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum pernikahan dan karena—sejujurnya ia ingin mengetahui apakah Sulli benar-benar depresi dengan pilihan sepihak yang dibuatnya tentang pernikahan ini sampai tidak pernah keluar rumah dan menolak kunjungan.

“Dan sepertinya aku datang di saat keluarga Rovaldine sedang akan berpesta, melihat Sulli berpakaian rapi dan kau benar-benar ada di sini. Aku berharap tidak menggangu acara kalian.”

“Ya, tentu tidak. Nikmati waktumu bersama kami.”

Mereka berempat datang bersamaan di ruang pertemuan. Duke dan Duchess menyambut Kris dan Victoria dengan hangat. Mereka tidak berhenti tersenyum saat Victoria memberikan kabar tentang kehamilannya. Setidaknya, ini adalah kabar yang membahagiakan diantara kabar-kabar yang statusnya tidak jelas—apakah itu membahagiakan, apakah itu menyedihkan—seperti kabar pernikahan itu misalnya.

Sulli jelas-jelas tidak menunjukkan emosi apapun meskipun kelihatan tertawa-tawa saat mendengarkan dan mengomentari beberapa cerita dari Kris. Kai hanya tersenyum, terus memegang jemari Sulli, dan kadang-kadang mulai berpikir tidak jelas tentang karakter orang-orang yang ada di hadapannya ini.

Duke jelas tidak seperti pria yang tertarik untuk memelihara gundik melihat ia selalu terlihat menyayangi Duchess dan keluarganya. Kris, dia dingin, hanya tertawa pada Sulli, dan Victoria bukanlah wanita yang dicintainya dengan sangat. Ia sedang belajar mencintai, mungkin? Entahlah, karakternya tidak mudah dibaca. Pria itu mengingatkannya pada Dio Soilaven.

Duchess, ia harus diperlakukan dengan baik dimanapun ia berada. Ia hangat, sama seperti Sulli. Gadis itu, kalau ia memperhatikan tempo dulu, terlihat bersinar dan bahagia. Cantik, menyenangkan, ramah, dan selalu terlihat cerdas. Tapi apa yang dilihatnya sekarang berbeda. Ia seperti perempuan yang sedang menahan hatinya supaya tidak benar-benar patah. Bagaimana menyampaikannya? Terlihat berusaha bahagia?

“Sulli, sebentar lagi dia akan menikah. Rumah ini akan menjadi sepi.”

“Mama, tidak. Kau akan segera punya cucu.” bantah Sulli sambil tersenyum kepada kedua orangtuanya. “Victoria akan melahirkan banyak anak.”

“Kuharap kau juga.” ucap Duke sambil tersenyum. “Your Majesty, kau akan memberikan berapa anak untuknya?”

“Your Majesty,” ucap Sulli memecah lamunan Kai. “Duke bertanya padamu.”

“Ya, Your Grace?”

“Ia bertanya berapa banyak kau akan memberiku anak.” ucap Sulli tersenyum pahit. Demi Aslan! Mengetahui dia akan menikahiku saja membuatku demam tiga hari! Bagaimana nantinya aku harus bertahan hidup ketika aku tahu aku telah hamil?

“Your Grace, maafkan aku karena melamun. Aku sungguh senang Sulli dibesarkan dengan baik di keluarga ini. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya di sini, belajar banyak hal bersama kalian. Dan baiklah, sebenarnya aku juga sedang memikirkan itu. Berapa jumlah anak yang kau inginkan, Sulli?”

“Your Majesty,” Sulli menunduk, menandakan ia tidak bisa menjawab—tidak mau menjawab.

Duke tertawa, pembicaraan ini malah membuat suasana menjadi kikuk. “Berusahalah, Your Majesty. Dia memang begitu. Mungkin kalian harus membicarakannya berdua saja? Ah, bukankah kau datang untuk mengatakan sesuatu kepada Sulli?”

“Ah, ya. Itu nanti saja.”

~k~

 Setelah keluar dari Roudevz Research Center, Dio segera menuju Rown Manor, tempat dimana ia biasanya menghabiskan waktu istirahatnya dan menulis jurnal penelitian. Ia terlihat terburu-buru. Ia harus menggabungkan beberapa hasil penelitian untuk kemudian menyatakan hasil yang tepat.

Tubuhnya sibuk berpindah dari satu rak ke rak lainnya. Pikirannya sedang mengingat-ingat beberapa judul buku dan literatur lain yang berhubungan dengan kasus ini.  Ia telah mereplikasi beberapa penelitian dengan sedikit modifikasi dan beberapa alat uji lain yang mungkin lebih akurat. Ia tidak menemukan fakta lain selain kenyataan bahwa semuanya jalan telah buntu, mengarah ke satu hal. Sperma mereka beracun dengan indikasi virus D5QI-03.

Ia frustasi. Rasa kecewa atas kebenaran itu telah mengguncang segala akal sehatnya. “Shit!” umpatnya yang ketiga kalinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu bagaimana caranya terlihat normal ketika ia menjumpai kenyataan ini.

Ia begitu merindukan gadisnya… gadis yang tak bisa dipertahankannya.

Demi Tuhan—kalau Dia memang benar ada! Dia begitu letih dengan kenyataan bahwa ia mungkin telah melepaskan wanita itu! Tiga harinya sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Mungkin, tanggal akan segera ditentukan. Apakah Sulli nantinya akan bisa menerima kenyataan ini?

Haruskah perempuan itu tahu bahwa keduanya takkan pernah bisa menikah?

Dio Soilaven hanya tertunduk lesu. Sekarang ia harus menemukan antivirusnya. Semoga semua ini takkan pernah terlambat. Setidaknya untuk mereka yang memendam cinta  dengan cara yang sama seperti dirinya.

~k~

Sulli tidak tahu apa yang harus dikatakannya ketika ia digiring Kai ke Ruang Kuning hanya berdua saja. Saat sampai di dekat pintu, ia melihat ruangan itu telah menjadi sepi tanpa satupun pelayan dan hanya tersisa seorang pria asing yang sedang menunggu mereka sambil tersenyum.

“Duduklah Sulli.” ucap Kai sambil menunjuk pada satu-satunya kursi di ruangan itu. Sulli terduduk, ekspresinya seperti menunggu hukuman mati.

“Baik, Your Grace. Saya akan membacakan peraturan umum sekaligus permintaan yang dibuat oleh Pangeran Kai untuk calon putri mahkotanya.” ucap pria asing itu. Ia tampak seperti pengawal pribadi yang selalu menemaninya kemana-mana.

“Pertama,” ucap pria itu dengan jeda. Ia melirik Kai untuk memastikan bahwa peraturan itu layak dibacakan untuk Sulli. “Pangeran Kai selalu benar, mengingat beliau adalah calon suami Anda dan calon Raja Narnia dari dinasti Thelmarines. Anda harus mendengarkan dan mematuhi perkataannya dengan penuh kebijaksanaan.”

Sulli menunduk. Ia tahu Kai tidak boleh melihat ekspresi apapun dari perempuan rapuh itu. Ia tidak boleh terlihat lemah dan kalah. Ia harus tetap menunjukkan ketegaran sebagai pembelajaran pertama yang harus diterimanya dari situasi ini.

“Kedua. Pangeran Kai menuntut tiga hal dari Sulli Mareviere, kesetiaan, kemampuan untuk menghindarkan diri dari kecemburuan, dan seorang calon putra mahkota. Pangeran Kai akan terus mengusahakan kelahiran seorang putra. Dan—“

Ia telah mendengar peraturan seperti ini. Ia telah mendengar banyak dari beberapa wanita yang lebih suka menjadi istri bangsawan biasa daripada bangsawan yang berurusan dengan istana. Ia tahu istana tidak membebaskan wanita. Ia tahu dan ia sangat membenci cerita klasik—dongeng penghantar tidur—yang ternyata penuh kebohongan tentang seorang gadis yang hidup bahagia dengan sang pangeran. Kenyataannya adalah tidak ada kehidupan istana yang tidak menderita. Bahwa tidak ada perempuan dan laki-laki yang hidup bersama tanpa ada gangguan dan pihak ketiga.

“apabila Sulli Mareviere nantinya tidak bisa melanjutkan kewajiban tersebut, maka hal tersebut akan dilimpahkan ke wanita lain.”

Ia tidak pernah mendengar ini, tapi ia tahu maksudnya. Setiap pria diizinkan untuk memiliki simpanan. Dan setiap wanita ditakdirkan untuk menanggung semua malu, rasa hina, dan kepedihan atas perilaku—yang seluruh dunia pun tahu—bukan dia yang melakukannya.

Ayahnya mungkin pernah punya. Ia tidak menampik itu. Semua pria memang begitu. Mereka tidak akan bisa disebut “telah menjadi pria” tanpa pernah melakukan perselingkuhan.

“Ketiga. Peraturan lain yang tidak disebutkan, akan dikembalikan sesuai dengan peraturan pertama.”

“Keempat—ini permintaan Pangeran Kai.”

“Biar aku yang menyampaikannya, Ralph.” potong Pangeran Kai. “Aku hanya akan bicara berdua dengan Sulli.”

“Ya, Your Majesty.” Ralph menyingkir dan menutup pintu ruangan itu dari luar.

Sekarang hanya tinggal Sulli dan Kai yang berada di ruangan dengan tembok dan tirai warna kuning itu. Mereka belum saling bicara. Kai malah berkeliling mengagumi pajangan dinding, lukisan, dan beberapa patung hias. Sulli melihat sekilas ke arah laki-laki itu, perempuan itu masih duduk tenang di satu-satunya kursi di ruangan itu.

Kai mendekat ke arah piano di ruangan itu. “Kau bermain musik, Your Grace?”

“Kadang-kadang.” jawab Sulli singkat. Kai hanya mengangguk-angguk dan terus berkeliling.

“Semua calon pengantin kerajaan dibacakan peraturan itu. Aku hanya akan menambahinya sedikit.”

“Ya, saya akan mendengarkan tambahan yang nantinya akan Anda umumkan kepada saya, Your Majesty.”

“Your Grace,” ucap Pangeran Kai yang mulai mendekat ke arahnya. Ia menunduk, mencium lembut tangan kanan Sulli dan menarik tangan lainnya untuk ditangkupkan di atasnya. “Kau melihat cincin ini? Kau tahu apa artinya?”

“Anda memiliki hak milik atas saya, Your Majesty.”  Ia benci mengatakan itu, tapi itulah kebenarannya. Pria itu hanya mencoba mencocokkan pendapat tentang takdir mereka. Bahwa cincin itu hanya dipakai oleh pihak yang termiliki. Dan disini, mirisnya, hanya ia yang memakai cincin itu. Mungkin memang sudah sifat dasar pria hanya mau memiliki, tanpa termiliki.

“Ayahku sangat menyukaimu. Banyak cara yang harus kulakukan untuk membuatku juga tetap disukainya. Seperti misalnya, aku telah mengatakan padanya kalau aku terima kau menjadi istriku dengan berbagai syarat yang akhirnya disetujuinya.”

“Aku mengizinkan siapapun menjadi wanitamu, Your Majesty. Aku tahu kau harus menjaga hatinya.” ucap Sulli pilu, menyadari bahwa apa yang direlakan pergi tidak dianggap pria itu sebagai pengorbanan yang berarti. Karena ia tak punya hak, terikat sepihak, dan tak punya kata-kata lain yang bisa dituturkannya dengan bijak. Bahwa kebijaksanaan yang dimaksud adalah mengiyakan semua permintaan. Bahwa semua yang dijaganya dengan senyuman, akhirnya termakan kepalsuan.

Tidakkah ia tahu bahwa ia juga memiliki seseorang yang ingin ia jaga hatinya sebesar pria itu ingin menjaga hati gadisnya?

“Your Grace, bukan begitu.” ucap Kai menginterupsi pemikiran Sulli. Tapi sesungguhnya, memang benar seperti itu. Semua ini hanya berputar-putar pada penyampaian yang lebih halus. “Baiklah. Aku akan mengatakannya dengan jelas.”

Kai mendekat. “Aku menyukai seseorang. Aku berencana menjadikan dia milikku. Tapi kau tahu—semuanya menjadi tidak mudah ketika kau yang terpilih untuk dijadikan istriku. Aku ingin memberinya anak, tapi hal yang sangat mengusik pikiranku adalah  kau harus mengandung terlebih dulu. Dan itu harus seorang putra—“

Tidakkah pria itu tahu apa yang dikatakannya? Bagaimana bisa segala tujuan hanya bisa diraih berdasarkan takdir yang bekerja di rahimnya? Apakah tubuh perempuan itu lotre? Yang hanya berupa mainan di hadapannya?

“Bisakah kita melakukannya dalam jangka waktu tiga tahun saja? Aku mungkin tidak bisa menahan hasratku untuk bercinta dengannya lebih lama dari itu.”

Lalu denganku tidak disebut bercinta? Apa sebutannya? Bersetubuh? Melampiaskan nafsu? Menjalankan tugas? batin Sulli. Seumur hidup ia tidak pernah dilecehkan seperti ini. Ia tidak biasa diremehkan. Tapi apa yang telah dilakukan pria ini? Calon suaminya sendiri, mengatakan hal yang paling tidak pernah ia bayangkan.

Bukankah di harapan-harapannya sebelum tidur ia selalu membayangkan pria ini mungkin telah mencintainya sebelum ia bisa melupakan Dio Soilaven? Jadi semuanya akan tetap terlihat baik-baik saja. Tapi ini kenyataannya….

“Kuharap kau memahami perasaanku, Your Grace. Aku telah mengungkapkan semuanya padamu. Supaya kau mungkin lebih siap dan bisa mengatur apapun yang kau mau tentang istana kita nanti.”

“Aku tidak pernah berharap apapun kecuali kita yang terpaksa bahagia.” ucap Sulli marah. “Aku tidak sehina itu menjual tubuhku demi kekuasaan yang bahkan tidak pernah terbayangkan di hidupku. Demi Tuhan, seumur hidup aku tidak pernah membayangkan menjadi seorang putri mahkota atau apapun itu namanya! Terima kasih telah membuatku terikat dan tak bisa berkata-kata! Terima kasih! Kau memang selalu benar.”

“Sulli, mungkin ini terlalu kejam untukmu. Tapi tahukah kau bahwa tidak ada seorangpun yang bisa berbahagia seumur hidupnya? Kau mungkin telah berbahagia sampai sebelum kau mendengar pernyataanku ini tapi—aku juga tidak bisa seumur hidup selalu berada di bawah tekanan.” ucap Kai memproyeksi pemikiran Sulli.

Ia hanya diam, takut kalau menanggapi pembicaraan ini ia telah melanggar peraturan pertama. Ia memang tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Kai tidak pernah tercipta untuk mendengarkan keluhan, keluhan hatinya.

“Ayahku tidak ingin ada wanita yang mengandung bayiku sebelum kau melahirkannya lebih dulu, Your Grace. Kuharap kau mau bekerja sama denganku. Apakah ada yang ingin kau katakan? Sepertinya hanya itu yang ingin kusampaikan.”

Sulli diam. Ia tidak menggeleng ataupun mengangguk. Ia seperti tidak mendengar.

“Kalau aku mempercepat prosesnya apakah kau keberatan?” tanyanya setelah ia tak menemukan apapun di wajah Sulli. Ia mendekat, menatapnya sekilas lalu berusaha memangut bibir perempuan itu. Tangannya menggerayang, ke mana-mana, mencari cara bagaimana gaun itu bisa membuka sepenuhnya.

Mulutnya telah berpindah, ke leher, ke sebagian tubuhnya yang telah terbuka. Bahu, dada.

“Keji,”

Kai berhenti, ia melihat ada butiran yang jatuh di mata gadis itu. Tiba-tiba ia merasa sepenuhnya telah menanggung dosa. “Your Grace,” ucap pria itu spontan, tak berarti, dan tak bermaksud. Kemudian ia hanya memalingkan pandangannya. Mundur, berbalik, dan menghilang di balik pintu.

Dan benar, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang seluruh hidupnya berisi kebahagiaan.

~k~

Dio mematung di tengah Lembah Downstevy. Daun-daun di tempat ini mulai menguning, pertanda musim semi akan segera berlalu. Ia hanya diam, memikirkan kenangan-kenangan tentang perempuan itu. Ia merindukannya, cara senyumnya, cara berjalannya, cara ia menuntukkan bahwa ia sedang malu. Perempuan yang mungkin akan mengacaukan dunia apabila ia pertahankan, dan perempuan yang mungkin juga akan membuatnya terbenam dalam rindu yang dalam apabila ia lepaskan. Jenis perempuan yang mungkin bisa membasahinya dengan tangis…

Proyeknya telah gagal. Perempuan itu harus ia lepaskan. Lagipula pernikahannyadengan sang pangeran semakin dekat. Ia memang harus mundur, dengan cepat, dan kalau bisa memang tidak perlu bertemu lagi.

“Sir, sudah hampir gelap.” ucap sang pelayan yang mendampinginya dalam jarak yang dekat.

“Apakah aku bisa melepasnya setelah aku meninggalkan tempat ini?”

Tidak ada jawaban. Memang, siapa yang tahu? Seandainya perasaan adalah suatu hal yang memiliki pengaturan.

“Mister Soilaven,”

Dio menoleh. Dipandanginya sosok yang mengeluarkan suara tersebut. Seorang wanita dengan pakaian kusut dan wajah pucat karena kedinginan. Matanya hampa dengan kilasan yang berbinar. Ia masih tetap merindukannya meskipun sekarang sedang melihatnya.

“Kenapa kau tidak pernah mengubungiku?”

Dio membalikkan wajahnya. Ia tak tahan menyembunyikan rindu. “Kenapa kau datang ke sini?”

“Aku ingin bunuh diri.”

Laki-laki itu tersentak. “Bunuh diri?” Perempuan yang dipertahankannya untuk tetap hidup bahkan berpikiri untuk melepaskan hidupnya. Sesungguhnya, bagaimana cara kerja dunia ini? Apakah persamaan pikiran tidak lagi dapat ditentukan polanya?

“Sulli Mareviere,” ucap Dio lirih. Tidakkah kau tahu aku sedang berjuang mempertahankan hidupmu? Apakah terlalu egois untuk tetap melihatmu hidup… meskipun hal itu juga bukan denganku? Tidak bisakah aku mengisi sedikit kesedihanku dengan tetap melihatmu—setidaknya beranggapan bahwa kau hidup dalam keadaan yang baik-baik saja?

“Tolong aku,” ucapnya mendekat sambil memeluk pria itu dari belakang. Ia menangis, tak beraturan. Kadang-kadang juga sambil memukul pria yang sedang menahan pilu itu. Mereka berada di posisi itu sampai waktu yang tak terdefinisikan. Sampai matahari terbenam.

“Sulli, tidakkah sebaiknya kita berpindah tempat?” ucap Dio saat menyadari matahari bahkan benar-benar tenggelam. Sulli mengangguk, ia melepas pelukannya dan menarik tangan pria itu ke dalam gengamannya. “Supaya kau tidak mudah goyah.” ucap perempuan itu sambil mengangkat tangannya.

Keduanya kemudian masuk ke dalam kereta kuda. Dio mulai dapat melihat wajah Sulli dengan jelas setelah lilin di dalam keretanya dinyalakan. Ia pandangi wajah perempuan itu. Matanya sembab, kulitnya kotor oleh sisa-sisa aliran air mata.

“Apakah aku pernah mengatakan aku mencintaimu?” ucap laki-laki itu sambil memeluknya.

“Kau tidak perlu mengatakannya. Aku tahunya memang seperti itu.”

“Kau tahu mengapa hukum kerajaan Narnia tidak membolehkan kita bersama?”

Sulli menggeleng. Ia tidak pernah tahu. Lagipula, menurut siapapun, ini adalah jenis cinta yang salah karena jatuhnya tidak pada seseorang yang tepat.

“Sulli, aku akan berusaha dengan lebih baik lagi. Kau harus tetap hidup.” ucapnya sambil mengecup tangan kanan Sulli.

“Kau menyuruhku hidup dengannya? Dio—apa kau baru saja bilang aku tetap harus menikahinya?” Sulli tak memahami pernyataan lelaki yang ada di hadapannya. Apakah laki-laki itu tak mengerti kalau ia begitu putus asa pada takdir yang menimpanya?

“Aku akan merasa lebih baik apabila kau menikahinya dan tetap hidup daripada denganku tapi tak bertahan lama.”

“Apakah kebersamaan kita akan membawaku pada kematian?”

Akhirnya, sampailah mereka pada titik masa yang membuat Dio harus mengatakan segalanya. Akankah ia mampu mengatakannya? Apakah hal ini akan membuatnya baik-baik saja?

“Dio—”

“Sulli—aku…”

*****

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s