[Chapter 9] Forbidden Love

Forbidden Love

We shouldn’t have lived in the same building.

by Shinyoung (ssyoung)

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Kim Jongin & Jung Krystal || Genre: School Life & Romance || Length: Chapter 9/? || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: goldenblood || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015-2016 by Shinyoung.

Chapter 9 — Road to You

Prologue | Characters | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

*

Jung Eunji yang sedaritadi memperhatikan Naeun akhirnya menyadari sesuatu.

Ada yang salah dengan gadis itu. Dia sangat yakin bahwa gadis itu tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Selain itu, ia juga yakin bahwa sejak gadis itu dekat, lebih tepatnya mengenal Kim Myungsoo, Naeun menjadi lebih pendiam—bukan pendiam, tapi menjadi lebih nurut.

Bahkan, sebelumnya Naeun yang sering memberontak pada kakaknya pun kini mulai mematuhi perintah laki-laki itu satu per satu. Eunji mengerti bahwa semakin bertambahnya hari, seseorang akan semakin dewasa.

Di dalam hati Eunji, sebenarnya dia ingin bertanya kepada Myungsoo, apa yang telah dilakukan oleh Myungsoo sehingga dapat mengubah Naeun seperti itu? Apa yang telah Myungsoo katakan padanya? Apa yang telah membuat Naeun mau mengubah dirinya?

“Kau terlalu serius, Son Naeun.”

Cukup lama bagi Naeun untuk merespon Eunji, hingga akhirnya gadis itu melirik Eunji sambil menggigit bibir bawahnya. Dari gerak-geriknya, Eunji langsung tahu bahwa gadis itu sedang gugup atau lebih tepatnya mengkhawatirkan sesuatu. Dibuat penasaran oleh Naeun, ia pun mengikuti arah pandang Naeun yang rupanya telah terjatuh pada Kim Myungsoo yang tengah bersiap untuk menceburkan dirinya menggunakan kaus lebar dan celana selutut.

“Aku tidak seserius itu. Aku hanya khawatir sesuatu terjadi padanya dan Dongwoon oppa akan memarahiku.”

Eunji menolehkan kepalanya pada Naeun lagi dan tersenyum miring, seolah mempertanyakan kepastian Naeun. “Apa kau yakin tentang itu?”

“Ya, aku yakin.”

“Maka, berhentilah menatapnya seolah dia akan meninggalkanmu.”

Tepat saat Eunji mengatakan hal tersebut, terdengar suara ceburan air. Eunji pun menyadari bahwa Myungsoo baru saja melompatkan dirinya dari ketinggian 10 meter ke dalam kolam renang sedalam 3 meter itu. Eunji pun langsung tahu bahwa Naeun tidak mendengar kalimat yang baru saja diucapkannya.

Ia memperhatikan Naeun yang terlihat gugup ketika Myungsoo tidak muncul-muncul ke atas permukaan air. Bomi, Dongwoo, dan Hoya yang berada tidak jauh dari papan luncur pun berusaha mencari-cari laki-laki itu dari atas. Tak lama kemudian, laki-laki itu muncul dengan rambut basahnya.

Eunji bisa mendengar Naeun yang langsung menghela napas lega.

“Ah, gadis ini,” ujar Eunji sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat Naeun berlari menuju Myungsoo dengan membawa handuk tebal yang sebelumnya dibawakan oleh Eunji untuk Naeun.

 

 

Perkemahan yang telah berlangsung selama dua hari pun diakhiri dengan permainan mencari harta karun yang dilaksanakan berdasarkan kelompok yang telah dibentuk. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk mencari harta karun yang di dalamnya terdapat hadiah dengan jumlah besar.

Tentu saja, setiap anak menanti-nanti permainan dengan hadiah yang berjumlah besar ini.

“Kita harus menentukan ketua kelompoknya,” kata Bomi sambil menghela napas pelan. “Siapa di sini yang merasa paling bertanggung jawab untuk menjadi ketua dan juga bersedia untuk mendapatkan hukuman jika kelompok kita melakukan kesalahan?”

Mereka semua diam.

Naeun melirik Hoya yang ia pikir menjadi satu-satunya kandidat, namun Hoya menggelengkan kepalanya pelan. Ketika ditanya, Hoya menjawab bahwa Myungsoo lebih bertanggung jawab daripada dirinya.

“Kalau begitu, kita tentukan dengan gunting-batu-kertas saja,” usul Eunji.

“Ide bagus,” sahut Hoya.

Naeun pun berdeham pelan. Dia tahu bahwa sejak kejadian tadi malam, keduanya tidak pernah bicara bahkan sampai saat ini. Terakhir kali Naeun melihat mereka berdua adalah sepulang dari kolam renang, ia melihat Hoya yang tampak berusaha mengajak Eunji untuk berbicara, namun Eunji hanya mengabaikannya.

Bahkan, sampai di tenda pun dia merasakan hawa kegelisahan Eunji akibat pernyataan Hoya. Naeun yang memutuskan untuk memainkan ponselnya lebih dulu pun menyadari bahwa Eunji bergerak gelisah karena tidak bisa tidur. Dia tahu bahwa Eunji pasti memikirkan Hoya.

“Kalau gitu, kita langsung saja,” ujar Bomi.

“Gunting-batu-kertas!”

Kali ini Naeun mendapat keberuntungan karena dia berhasil keluar dari kandidat untuk menjadi ketua kelompok. Begitu pula dengan Dongwoo dan juga Bomi yang berhasil keluar dari sana. Tersisa Hoya, Myungsoo, dan Eunji yang harus mempertaruhkan nasib mereka. . .

“Gunting-batu-kertas!”

Eunji pun memenangkan permainan, sehingga Hoya dan Myungsoo harus melakukan duel ‘gunting-batu-kertas’. Ketua kelompok di pilih melalui pemenang dari duel tersebut. Jadi, untuk menghindari menjadi ketua kelompok, salah satu dari mereka harus kalah.

“Kalian berdua berbalik badan, tempelkan punggung kalian,” ujar Eunji. “Keluarkan pilihan kalian dengan mengangkat tangan kalian tinggi-tinggi. Ingat, siapa pun yang menang akan menjadi ketua kelompok.”

“Baiklah,” jawab keduanya.

Kemudian, baik Hoya maupun Myungsoo segera membalikkan tubuh mereka, mereka menyenderkan punggung mereka masing-masing ke satu sama lain. Setelah siap, Eunji pun langsung memulai permainan itu.

“Gunting-batu-kertas!”

“Oh!”

Daebak.”

Myungsoo mengeluarkan gunting.

Hoya mengeluarkan kertas.

Maka, pemenangnya adalah Myungsoo. Keduanya pun membalikkan badan dan begitu mengetahui hasilnya, Myungsoo langsung menghela napas berat. Ini adalah pertama kalinya dia merasa sedih dengan kemenangannya. Itu artinya, dia harus mengawasi satu persatu anggota kelompoknya dan harus bertanggung jawab sepenuhnya.

“Maka, Kim Myungsoo adalah ketuanya!” ujar Bomi.

“Tempelkan stikernya!” seru Eunji pada Naeun yang memegang stiker bintang.

Siapa pun yang mendapatkan posisi sebagai ketua kelompok akan mendapatkan stiker bintang yang ditempelkan pada dada. Stiker tersebut untuk memudahkan guru-guru melihat siapa ketua kelompoknya.

“Jika kalian telah selesai menentukan ketuanya, sekarang ketua kelompok hampiri Guru Hyuna. Siapa cepat akan mendapatkan petunjuk lebih besar daripada yang lain!” seru Hyunseung, membuat murid-murid pun langsung berlari menuju Hyuna yang berdiri tak jauh dari Hyunseung.

Myungsoo yang sudah berlari sejak awal pun mendapat urutan nomor 2, tepat di belakang Kim Jongin yang lebih awal mencapai Hyunseung. Jongin sempat meliriknya dengan wajah penuh kemenangan. Namun, Myungsoo hanya mengabaikannya.

Setelah Hyuna memberikan sebuah perkamen kertas kepada Jongin, laki-laki itu pergi meninggalkan barisan tersebut. Myungsoo pun maju ke depan mendapatkan gilirannnya.

“Setelah ini, segera ke pos pertama dan gunakan petunjuknya untuk menyelesaikan misi di sana, ya, Kim Myungsoo.” Hyuna tersenyum tipis padanya.

Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Terimakasih, Hyuna ssaem.”

Setelah itu, Myungsoo pun meninggalkan tempat tersebut, kemudian ia kembali pada anggota kelompoknya.

“Ayo, kita harus bergerak sekarang,” ajak Myungsoo.

“Huh? Memangnya kita harus kemana?” tanya Naeun bingung.

“Kita harus ke pos pertama dahulu. Kita harus mencarinya.”

“Wah!” seru Bomi. “Aku harap ini tidak akan menjadi hari yang panjang.”

 

 

Permainan mencari harta karun berlangsung dengan cepat dan kelompok Naeun mendapatkan posisi nomor 3. Setelah membagi rata hadiah yang mereka dapatkan, mereka pun kembali ke bus.

Murid Skoolite High School merasa sedikit menyesal karena perkemahan berlangsung begitu cepat. Tanpa terasa, mereka telah kembali ke sekolah dengan selamat dan segera menuju rumah masing-masing.

Begitu pula dengan Naeun yang telah menemukan kakaknya di antara kerumunan murid-murid kelas 2-1.

Oppa!” panggilnya sambil melambaikan tangan kanannya tinggi-tinggi.

Saat gadis itu menghampiri kakaknya, Dongwoon pun mengusap kepala adiknya itu sambil tersenyum lebar. Murid-murid yang ada di sekitar mereka tentu saja memperhatikan pasangan kakak-adik tersebut. Ada puluhan pasang mata yang memperhatikan kedekatan mereka.

“Ayo, pulang,” ajak Naeun.

“Uh, sekarang? Kita harus menunggu—”

“Jangan bilang Kim Myungsoo lagi?” tebak Naeun, matanya menyipit.

Dongwoon hanya tersenyum lebar tanpa menampilkan barisan giginya, seolah ia menahan bibirnya agar tidak terbuka.

Naeun menghela napas berat. Ia meletakkan tasnya di samping kakinya karena berat. Rasa kantuk yang telah menjalari matanya membuat ia merasa lebih cepat lelah. Penyebab rasa kantuk itu adalah karena permainan tadi malam, membuatnya baru bisa kembali ke tenda bersama Eunji dan Bomi pada pukul 1 dini hari.

Selain itu, dia tidak bisa membiarkan Myungsoo yang mau menggantikan dirinya terserang penyakit. Mencegah lebih baik daripada mengobati, prinsipnya. Jadi, dia memutuskan untuk memberikan Myungsoo handuk secepat mungkin dan membantu laki-laki itu mengeringkan rambutnya tanpa disuruh.

“Ayo, Myungsoo.”

Ne, Hyung.

Naeun meliriknya kesal, namun Myungsoo hanya membalasnya dengan tatapan datar. Begitu Myungsoo memalingkan wajahnya, jantung Naeun segera berdentum dengan keras. Gadis itu memegangi dadanya yang berdegup lebih kencang aripada biasanya.

“Apa yang kau lakukan disitu?!” tanya Dongwoon kesal saat menyadari bahwa Naeun tidak bergerak dari posisinya. “Kau yang tadi mengajakku pulang, Son Naeun!”

Naeun pun tersadar dari lamunannya. Gadis itu menoleh ke bawah mencari tasnya yang sebelumnya ia letakkan di samping kakinya. Kini, tas tersebut hilang, panik, dia mencari-cari tasnya hingga ia menoleh pada Myungsoo yang telah jauh berada di depannya sambil menenteng tasnya.

Lantas, gadis itu menghela napas lega. Ia pun berlari menyusul Myungsoo, kemudian mengambil tasnya dari laki-laki itu sambil meliriknya tajam. Namun, Myungsoo yang balik menatapnya langsung membuatnya terdiam.

“Kau tidak mau mengucapkan apa-apa?” tanya Myungsoo.

“Aku mau mengucapkannya!” bentak Naeun. Namun, ia segera menutup mulutnya dan langsung membuang mukanya ketika menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya melirik ke arahnya. Bahkan, Dongwoon yang baru ingin memasuki mobil pun ikut menoleh.

Myungsoo memasuki mobil, setelah itu disusul oleh Naeun. Gadis itu menenggelamkan dirinya di atas jok mobil belakang. Sambil menghela napas berat, ia menatap ponselnya yang menunjukkan pukul 12 siang.

Dongwoon memasang sabuk pengamannya lalu melirik ke belakang. Diperhatikannya adiknya yang tengah menatap ponselnya dengan lemas. Dongwoon hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah, sementara murid-murid lain masih menunggu kehadiran orang tua mereka.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Myungsoo yang menatap Naeun melalui spion tengah. “Kau tidak memasang sabuk pengamanmu?”

Naeun balik menatap Myungsoo melalui spion tengah. Naeun pun menyadari bahwa tatapan Myungsoo begitu tajam, sampai-sampai Naeun memilih untuk tidak lama-lama menatap mata Myungsoo. Menatap mata laki-laki itu sama saja membuat matanya menjadi pedas.

Tanpa berkata apa-apa, Naeun memasang sabuk pengamannya. Myungsoo pun tersenyum tipis. Dongwoon yang duduk di sampingnya pun melirik laki-laki itu, lalu menatapnya bingung. Menyadari tatapan Dongwoon, Myungsoo balik menatapnya sambil mengangkat kedua alisnya. Namun, Dongowoon hanya menggeleng tanpa suara.

 

 

Pagi yang sangat cerah.

Jam menunjukkan pukul 6 pagi dan Krystal baru saja selesai mandi. Wangi sabun yang digunakannya menyeruak ke dalam kamarnya. Rambutnya yang ia ikat sebelumnya, ia biarkan terurai dan langsung terjatuh tepat di balik punggungnya. Ditatapnya cermin yang memantulkan dirinya.

Ia mengehla napas panjang, lalu menatap meja belajarnya. Dia telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya semenjak beberapa minggu yang lalu, jadi dia tidak perlu mengerjakannya sekarang di Hari Minggu yang tenang ini.

Krystal melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Ditatapnya layar ponselnya yang menyala itu sambil berpikir dalam-dalam. Ia menggeser layar ponselnya ke atas, lalu ke bawah—berkali-kali sampai akhirnya ia merasa bosan. Ponselnya pun di lempar tepat di sampingnya, lalu helaan napas berat pun keluar darinya.

Mwohae?”

Ya!

Dengan refleks, Krystal langsung terduduk di atas tempat tidurnya begitu terkejut saat seorang gadis tanpa aba-aba telah berdiri di depan pintu kamarnya, menyenderkan tubuhnya pada kusen pintu sambil menatap ke arahnya.

“Ketuk dahulu agar aku tidak terkejut!” pekik Krystal kesal.

“Aku sudah mengetuknya,” jawab gadis itu tak peduli. “Kau terlalu fokus dengan ponselmu. Lalu, kenapa juga kau sibuk dengan ponselmu? Ada apa di dalam sana? Daritadi aku lihat kau terus memandanginya, menghela napas berat, lalu melemparnya. Kau punya pacar baru?”

“Kau gila, ya?”

Ya! Aku ini kakakmu!”

Krystal memutar bola matanya. “Sudahlah,” jawabnya kesal. “Ada apa kau ke sini? Bukannya kau sibuk mengurusi apartemen barumu itu dengan Gina unnie?”

Jung Sooyeon atau yang biasa dipanggil Jessica itu menggelengkan kepalanya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar Krystal, kemudian duduk di kursi roda yang biasanya digunakan Krystal untuk belajar. Ia memperhatikan foto dibingkai yang ada di atas meja belajar Krystal; foto mereka berdua yang diambil 2 tahun yang lalu.

“Kau memasang foto ini?”

“Aku bertanya, ada apa kau ke sini?” tanya Krystal balik.

“Aku hanya ingin mengecek keadaanmu saja. Apa kau makan dengan baik?” tanya kakaknya dengan mata yang menyorot pada wajah Krystal dalam-dalam. “Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Tapi, kau pasti tidak akan membuat masalah di sekolah, bukan?”

“Tentu saja,” jawab Krystal singkat.

Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu kembali mengambil ponselnya. Ia membuka layar ponselnya, lalu kembali menatap kontak ‘KakaoTalk’ seseorang yang daritadi terus mengusik pikirannya. Kontak itu baru saja ia dapatkan sepulang dari kegiatan perkemahan, namun ia belum sempat menghubungi kontak itu.

Kim Jongin.

Ia menggigit bibir atasnya—tanda bahwa ia memilih keputusan terburuk. Ia pun menekan sebuah logo pesan dan mulai mengetikkan pesannya di sana. Di saat ia hendak mengirimkannya, ia pun membatalkannya, menghapus pesannya lalu mengetik ulang kalimatnya dengan kalimat baru.

“Sepertinya kau sedang sibuk dengan ponselmu,” kata Jessica akhirnya.

“Ya, aku sedang sibuk. Pulanglah dan jangan ke sini lagi.”

Setelah Jessica pergi, Krystal baru bisa menghela napasnya dengan lega. Matanya tetap memandang lurus pada layar ponselnya yang membuka aplikasi ‘KakaoTalk’ tepat sebelum Jessica memasuki kamarnya.

jungkrysoo    : Kau masih ingat dengan hutangmu, bukan?

KimJongiin    : Ya, tentu saja

jungkrysoo    : Kau punya ingatan yang bagus. Datang ke rumahku sekarang.

KimJongiin    : Kirimkan alamat rumahmu

jungkrysoo    : Untuk apa? Kau punya, bukan?

KimJongiin    : Cepat kirimkan atau aku tidak akan datang ke sana

jungkrysoo    : Kau yakin?

KimJongiin    : Ya

jungkrysoo    : Kalau begitu aku akan ke rumah ayahmu sekarang

Melihat tidak adanya balasan dari Kim Jongin, Krystal langsung tersenyum puas. Dia tahu ancaman itu sangat cocok untuk diberikan bagi Kim Jongin. Yang pasti, laki-laki itu memang punya masalah dengan ayahnya.

Tak lama setelah itu, pintu kamar Krystal kembali terbuka. Kakaknya memandangnya dengan tatapan sangat kesal. Krystal bangkit dari tempat tidurnya seolah dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Jessica padanya.

“Ada yang menca—”

“Ya, aku sudah tahu, unnie,” potong Krystal sambil mengambil jaketnya. “Kim Jongin, bukan?”

“Kau yang mengundangnya ke sini?” tanya kakaknya. “Apa kau tahu apa yang akan ayah katakan padamu jika dia tahu kau mengundangnya ke sini? Jangan pernah mengundangnya lagi ke sini, Jung Krystal!”

Krystal hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan Jessica yang menatapnya dengan mata berapi-api. Krystal menuruni anak tangga dengan cepat, lalu melangkah menuju ruang tamu di mana Jongin telah duduk di sofa dengan ponselnya.

“Apa yang kau lakukan? Ayo, ikut aku,” ajak Krystal.

Jongin mematikan ponselnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Krystal. Lelaki itu mengerutkan keningnya bingung. “Apa maksudmu? Kau menyuruhku ke sini dan kau langsung mengajakku keluar dari isni lagi?”

Krystal tersenyum. “Kau ini berisik sekali? Apa kau ingin bertemu dengan ayahku?”

Jongin hanya diam, lalu menuruti perintah Krystal. Keduanya pun melangkah keluar dari rumah megah tersebut. Krystal menitipkan beberapa pesan singkat bagi ayahnya melalui penjaga rumahya dan juga pembantu rumahnya. Setelah itu, ia segera bergegas pergi meninggalkan rumah itu menggunakan mobil Jongin.

“Aku lupa kalau ayahmu lah yang bertugas sebagai jaksa dari kasusku dengan Nayoung saat itu,” kata Jongin mengawali pembicaraan.

Krystal hanya mendengus kecil, tertawa pelan, seolah mengejek ingatan Jongin yang begitu buruk. Gadis itu menenggelamkan dirinya di atas jok mobil Jongin dan memejamkan matanya, sembari menghirup napas dalam-dalam. Lagu klasik yang melantun dari radio mobil Jongin membuatnya merasa lebih tenang.

“Bukan masalah,” kata Krystal.

Gadis itu membuka matanya perlahan. Ia menoleh pada Jongin dan menatap wajah laki-laki itu dalam-dalam. Jongin yang menyadari hal itu langsung meliriknya balik seolah bertanya apa yang sedang dilakukannya.

“Tenang saja, aku sedang berpikir kira-kira aku ingin kau melakukan apa untukku,” ujar Krystal menyadari tatapan Jongin yang terkesan bingung.

Keduanya kembali tenggelam dalam diam, hingga akhirnya Krystal pun teringat sesuatu, gadis itu pun memekik cukup kencang—membuat Jongin terkejut tentu saja, hingga laki-laki itu menginjak rem mobilnya, membuat mobil-mobil di belakang mereka langsung memberikan klakson begitu kencang.

Ya!” Krystal memekik dengan kencang sambil memukul lengan lelaki itu.

Jongin meringis, meliriknya. “Kau lah yang membuat ini! Kau tiba-tiba berteriak dan tentu saja aku langsung menginjak rem, aku pikir ada sesuatu di depan mobil yang memungkinkanku menabraknya. Jangan berteriak tiba-tiba!”

Krystal hanya diam, menarik napasnya dalam-dalam. Seolah nyawanya telah direnggut akibat kejadian tersebut. Jongin yang di menjadi supir terpaksa turun dari mobil, lalu segera meminta maaf sedalam-dalamnya kepada para pengemudi yang ikut menjadi korban dari kejadian tersebut.

Setelah selesai dengan kegiatan meminta maaf kepada para korban, Jongin kembali masuk dengan napas tersenggal-senggal.

“Jangan sekali lagi kau mengulangi hal seperti itu!”

Krystal langsung terkesiap saat mendengar seruan Jongin yang begitu tegas dan tak pernah didengarnya sebelumya. Bahkan, tatapan tajam laki-laki itu sejenak membuatnya sadar bahwa laki-laki itu memang cukup ‘galak’.

Tanpa membantah, Krystal hanya bergumam meminta maaf sebelum mobil kembali melaju.

 

 

Naeun memejamkan matanya.

Suara-suara burung yang tengah bersahutan di pagi hari membuatnya merasa malas untuk merangkak keluar dari tempat tidur, bahkan jika bisa ia ingin tetap berada di atas tempat tidurnya yang empuk dan di balik selimut hangatnya, ditemani oleh sebuah guling di pelukannya, dan sebuah bantal nyaman yang menyangga kepalanya menuju mimpi.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Dongwoon begitu membuka pintu kamar Naeun. Pemuda itu melangkah masuk ke dalam kamar Naeun dan membuka tirai jendela—membiarkan cahaya matahari masuk dan membuat Naeun langsung meringis pelan.

Oppa, aku masih ingin tidur…” gumam Naeun pelan.

“Tentu saja, kau masih ingin tidur, ini hari Minggu,” kata Dongwoon sambil menyibakkan selimut adiknya itu, membuat gadis itu langsung menggigil seolah-olah mereka sedang berada dalam musim dingin, padahal mereka masih berada di musim panas.

“Ah! Benar-benar, ya!”

Naeun pun terbangun dengan wajah kesal. Rambutnya berantakan akibat tidur, kancing pakaian tidurnya pun tidak teratur, mukanya sangat kusut, dan ada kantung hitam kecil di bawah kedua matanya. Diusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu dipukul kedua pipinya berkali-kali—hal yang selalu ia lakukan agar ia tersadar.

“Ayo, bangun! Aku sudah membuatkanmu sarapan pagi.”

“Aku sarapan nanti saja. Aku mau olahraga!” jawab Naeun kesal. Ia keluar dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi sambil membanting pintu kamar mandinya.

Dongwoon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat tingkah adiknya itu. Diliriknya jam dinding yang menempel pada kamar Naeun, menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Belum terlambat untuk melakukan olahraga pagi.

Tiba-tiba, pemuda itu tersenyum miring teringat akan sesuatu. Ia merogoh ponsel dari dalam saku celananya dan membuka aplikasi ‘KakaoTalk’ dengan cepat dan mengirimi pesan ke salah satu kontak yang selalu ia ajak berbicara selain adiknya.

son_dw1990  : Kim Myungsoo!

kimmyungs    : Wae?

son_dw1990  : Kau sedang apa? Kalau tidak sibuk, ayo berolahraga

kimmyungs    : Berolahraga? Tidak, aku malas

son_dw1990  : Ayo lah! Hanya hari ini saja!

kimmyungs    : Baiklah. Aku akan bersiap

son_dw1990  : Kita akan bertemu di sana pukul 7 kurang 15

kimmyungs    : Ok

Naeun yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk menggantung di bahunya pun menatap kakaknya dengan penasaran. Gadis itu mendekati kakaknya yang sibuk dengan ponselnya.

“Woah!”

Dongwoon langsung menarik ponselnya dari tatapan Naeun dan menyimpan lagi ponselnya di dalam saku celananya. Jantungnya berdebar dengan cepat, ia bersyukur di dalam hatinya karena dia telah keluar dari aplikasi ‘KakaoTalk’ sebelum Naeun sempat melihatnya.

“Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanya Naeun marah.

“Tidak!” Dongwoon menggeleng cepat. “Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu. Ini adalah kumpulan nilai Biologi kelas kalian. Tentu saja aku tidak bisa menunjukkannya padamu. Kau bisa memberitahu teman-temanmu. Aku tidak bisa membiarkanmu.”

“Benarkah?”

Naeun menatap mata kakaknya dalam-dalam, menelusuri kebenaran di balik mata milik kakaknya itu. Sekeras apapun ia mencoba, dia tidak akan menemukan apa pun di sana.

“Tentu saja! Untuk apa aku berbohong?”

“Untuk suatu hal yang tidak bisa aku ketahui mungkin,” jawab Naeun. Lalu, ia mendorong tubuh kakaknya keluar dari kamarnya. “Cepat keluar! Aku mau ganti baju. Setelah itu ke ruang fitness. Kau mau ikut atau tidak?”

Dongwoon terdiam sebentar. Dia akhirnya menggeleng. “Tidak. Aku malas untuk berolahraga. Kau tidak lihat tubuh kakakmu yang indah ini?” tanya laki-laki itu sambil mengangkat bajunya ke atas menunjukkan perutnya yang rata, tidak ada lemak sama sekali.

Naeun mendengus pelan. “Kau akan gendut setelah kau menikah!”

Dongwoon menautkan alisnya ke arah adiknya. “Benarkah? Aku tidak yakin.”

“Terserah kau saja!”

 

 

Jongin tak berkedip saat mendengar Krystal yang berteriak kencang—lebih tepatnya seperti teriakan kebebasan—ketika mereka tiba di sebuah taman hiburan kota. Teriakan tersebut membuat beberapa orang di sekitar mereka sempat melirik, namun mengabaikan mereka ketika melihat Jongin yang memberikan mereka lirikan tajam.

“Jangan membuatku malu, Jung Krystal!” desis Jongin marah.

Krystal hanya tersenyum tipis. “Kau malu dengan sikapku? Tenang saja aku tidak akan membuatmu malu lagi. Kau hanya perlu menemaniku berbelanja. Selama ini, aku tidak pernah mendapatkan kebebasan seperti ini.”

Jongin mengerutkan keningnya bingung, namun dia memilih untuk tidak berkomentar. Dia tidak ingin bertanya apa pun pada gadis itu, daripada dia membuat gadis itu marah, dan berujung pada pertengkaran yang sengit. Dia hanya berusaha menyamakan langkahnya dengan gadis itu.

Gadis yang berdiri di sampingnya itu tampak sangat bahagia. Jongin cukup terkesiap saat melihat tingkah gadis itu, terutama saat gadis itu memutar tubuhnya sambil merentangkan tangannya, menghirup napas dalam-dalam.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jongin.

“Aku?” Krystal berhenti memutar tubuhnya, lalu menghadap Jongin. “Tentu saja, aku sedang menikmati kebebasan. Ayo! Sekarang temani aku. Kau sudah berjanji kau akan melakukan apa pun untukku, bukan?”

Belum sempat Jongin menjawab, Krystal telah menariknya memasuki taman hiburan tersebut. Jongin yang hanya mengikuti pun memandangi tangannya yang menggenggam erat jemari-jemari Krystal. Gadis itu menariknya menuju salah satu wahana dan mengajaknya untuk menaiki wahana tersebut.

Jongin menolak untuk menaiki wahana tersebut dan memilih untuk menonton saja, namun Kyrstal memaksanya. Gadis itu menatapnya dalam-dalam, seolah memaksa Jongin dengan halus untuk ikut menaiki wahana bersamanya.

Ya! Kau harus mau naik denganku!”

“Oh, ayo lah…”

Jongin dengan malas mengikuti gadis itu menaiki wahana tersebut. Ketika wahana roller coaster tersebut mulai bergerak, Jongin mulai mencengkram jari-jarinya pada pegangan yang berada di depannya. Laki-laki itu sebenarnya sudah lama tidak pernah ke taman hiburan seperti ini. Ini adalah mungkin kali keduanya ia ke tempat ini.

Gadis yang berada di samping Jongin justru tampaknya sangat menanti-nantikan permainan ini. Dalam hitungan detik, roller coaster mulai melunucr dengan cepat. Teriakan ketakutan dan teriakan senang saling bersahutan memenuhi udara. Jongin yang awalnya tenang langsung berteriak saat roller coaster melalui lintasan putaran 360 derajat.

Krystal justru berteriak dengan gembira. Gadis itu bahkan mengangkat tangannya ke atas seolah-olah dia merasa terbang ketika menaiki wahana itu.

“Apa kau sudah gila?!” tanya Jongin dengan teriakan.

“Tidak! Masih ada banyak permainan yang belum kita naiki.”

“Aku mau turun!”

Mendengar Jongin yang berteriak hal seperti itu membuat Krystal langsung tertawa puas. Tawa yang sangat lebar, yang tidak pernah Jongin lihat sebelumnya. Selama ini, gadis itu selalu dibicarakan oleh murid-murid karena sikap dinginnya dan juga dirinya yang tidak suka bergaul. Dia hanya berteman dengan Kang Seulgi.

Ia bertanya-tanya mengapa Krystal tidak mengajak sahabatnya, Kang Seulgi? Mengapa gadis itu justru mengajak dirinya dengan alasan bahwa ia berjanji akan melakukan hal apa pun bagi gadis itu?

Mwohae?!

“Uh?”

Jongin pun sadar bahwa roller coaster telah berhenti dan dia belum juga turun dari sana. Saat melihat Krystal yang memasang wajah bingung dan marah karena Jongin tidak bergerak cepat untuk keluar dari sana, Jongin hanya bisa terdiam.

Tanpa ia sadari, ia tersenyum tipis ke arah Krystal.

 

 

Jam menunjukkan pukul 7 dan tidak ada kehadiran Dongwoon. Myungsoo menghela napas berat, ia merasa bahwa dia telah dikerjai oleh laki-laki yang baru saja mengajaknya untuk berolahraga bersama.

Lantas, ia menghubungi nomor telepon Dongwoon dan dalam beberapa detik, sambungan telepon pun terhubung.

“Kau dimana, hyung?!”

“Oh… Begini, Myungsoo-ya, aku merasa tiba-tiba aku tidak enak badan,” kata pria itu sambil terbatuk-batuk dengan pelan, membuat Myungsoo langsung mengerutkan keningnya tidak yakin. “Tapi, kalau tidak salah Naeun pergi ke sana beberapa saat yang lalu dan mungkin sekarang—”

Tepat saat itu, Naeun melangkah masuk ke dalam tempat fitness dengan baju training-nya. Myungsoo langsung mematikan ponselnya, lalu cepat-cepat kembali ke tempatnya. Dia tidak salah lihat, bukan?

Dia kembali melirik ke arah meja resepsionis dimana Naeun tengah berbicara dengan seorang wanita, lalu memberikan kartu member-nya. Tak lama setelah itu, dengan tas yang berada di bahu kirinya, ia melangkah menuju treadmill.

Begitu menuju treadmill, gadis itu menemukan sosok Myungsoo yang tengah berolahraga juga di atas treadmill. Ia pun meletakkan tasnya di samping, lalu mulai menghidupkan mesin tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak pernah melihatmu,” ujar Naeun mengawali pembicaraan. “Apa jangan-jangan Dongwoon oppa yang memberitahumu untuk ke sini? Karena itu dia tiba-tiba tidak bisa pergi?”

“Bukan,” jawab Myungsoo datar sambil tetap melangkah di atas treadmill.

“Lalu apa? Kau mau mengikutiku?”

“Tidak, aku hanya merasa bahwa hari ini adalah hari yang pas untuk berolahraga. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu,” jawab Myungsoo.

Naeun tidak menjawab, namun dia tahu bahwa jantungnya kini berdegup dengan kencang. Dia tidak mau jantungnya itu berdegup kencang, namun dia tidak dapat mengendalikannya. Terutama, ketika gadis itu melirik Myungsoo yang sedang santai berjalan di atas treadmill-nya dengan ponsel di tangannya.

Ia mengalihkan pandangannya, kemudian meningkatkan kecepatan treadmill-nya. Ia mulai melangkah lebih cepat dari sebelumnya, seperti sedang jogging. Semakin ia memikirkan Myungsoo, semakin ia ingin mempercepat langkahnya.

“Kenapa? Kau buru-buru?” tanya Myungsoo saat menyadari Naeun mempercepat treadmill-nya lebih awal karena dia tahu itu tidak baik jika Naeun langsung mempercepat treadmill-nya padahal dia baru memulai.

“T-tidak. Aku hanya ingin lebih cepat saja.”

“Kau tahu itu tidak baik.”

Naeun melirik Myungsoo kesal. “Apa urusanmu, huh?”

Myungsoo terdiam sejenak. “Kalau kau mengalami sesuatu, toh aku juga yang harus mengurusmu. Itulah mengapa aku tidak mau merepotkan diriku karena kau. Jadi, sebaiknya kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh.”

“Hal yang aneh? Urusi saja urusanmu.”

Myungsoo hanya diam tak menanggapi. Namun, Naeun merasa sedikit menyesal karena telah berkata seperti itu. Dia merasa bahwa dia ingin sekali memarahi Myungsoo pagi ini, meskipun dia tidak tahu mengapa hatinya menggebu-gebu ketika melihat Myungsoo.

Lantas, ia mengedarkan pandangannya, namun dia tidak menemukan sosok Jongin yang biasanya ia temui saat ia sedang berolahraga.

Bukan maksudnya dia mencari Jongin, hanya saja dia penasaran. Lagipula, mereka tidak pernah saling sapa lagi, sejak dia tahu bahwa masa lalu Jongin seperti itu. Mendadak, ia jadi teringat akan kejadian dimana Myungsoo yang mencarinya sampai ke kamar mandi.

Tiba-tiba saja, rona wajah gadis itu memerah. Sejak kejadian itu, ia menyadari bahwa jantungnya seringkali berdegup lebih cepat ketika melihat Myungsoo. Dia bahkan sekarang tidak bertingkah yang aneh-aneh lagi.

“Son Naeun!”

Naeun tersadar dari lamunannya dan langsung menyadari bahwa dia tidak sengaja menambah kecepatan treadmill selama ia melamun. Begitu sadar dia tidak bisa menyamakan kecepatan langkahnya dengan treadmill, ia langsung terjatuh, dan terjungkal ke belakang.

Kejadian itu menyebabkan beberapa orang langsung memekik melihat kejadian itu. Myungsoo yang ada di sampingnya langsung mematikan mesin treadmill-nya dan menghampiri gadis itu.

“Son Naeun!”

 

To be Continued 

May 23, 2016 — 12:00 P.M.

::::

a.n.: Jangan lupa komentar, like, rate, dan segala macam feedback lainnya, ya!♥

20 thoughts on “[Chapter 9] Forbidden Love

  1. Wihhh,,updte jga akhrny,,
    ad moment MyungEun n KaiStal,,,smuany pnya line msing2,,seruu,,seruu,,seruu!!!

    Keep Writing^^„Kamsa😃😀☺

    • waah, makasih banyak udah baca dan komentar hehe. lain kali aku tunggu likes-nya yaa🙂 makasiih untuk semangatnya dan kembalii juga hehe. keep reading yaa❤

  2. Akhirnyaaa update lagi ff ini❤ Keliatannya skrg fokus plot lbh ke MyungEun sm KaiStal yah? Tp aku suka kok hehe. Ditambah dongwoon semacam cupid nya MyungEun xD Bagian terakhir bikin ngakak tp kasian(?)lagian Naeun kbykn mikirin Myungsoo sih haa. Keep writing yah!🙂

    • iya dong hehehe, udah mau beres soalnya. iya niiih bagian akhir itu mendadak banget bikinnya gatau kenapa tiba-tiba kepikiran kayak gitu. btw, makasih yaa udah baca, komentar, dan juga untuk semangatnyaa! keep reading❤

  3. ahhhh aishhhh authorr, lagi seru2 baca ehhh malah tbc T_T. engga seru nih kkk, huwaaa aku udh nunggu lama banget ini ff. seminggu sekali aku buka ini wp mulu, engga nyangka udh ada chapter 9 nya ><. lanjut thor, penasaran banget keadaan naeun gimana? lanjut thor, SEMANGAT!!!. klo bisa cerita myungeun nya di panjangin lagi ya author hehe

  4. Maygad aku telat banget bacanya ;”’) myane myane hajima/? Tbc nya bisa banget yaaa di moment yang seperti itu yaaampyun.. Huhuhu entah kenapa aku rada kecewa di chap ini~ ada bagian bagian dimana bisa dibuat supaya lebih seru lagi tapi malah dipotong x((( kaya pas mereka lagi mainin permainan harta karun,terus pas abis myungsoo nyebur ke kolam. Aku udah nunggu banget moment myungsoo naeunnya disitu lho tapi menurut aku malah kurang greget x(( tapi aku suka banget gaya penulisannya~ enak dibacanya. Btw kamu juga yg buat ff its too latenya myungeun yaa?? Aku nungguin lho tapi sayang banget ga dilanjutin ;-( duh kepanjangan lagi hahaha intinya tetep bikin ff myungeun yg seru<3 moonlights love you🙂

    • huahahahaha makasih banget untuk komentarnya panjang sekaliii hehehe. btw, makasih juga udh baca ceritanya dan ngasih kritik saran karna membantu buat pengembangan cerita selanjutnya.

      itu bukan aku yang nulis sayangnyaaa😦 hehehe. santai ajaa gapapa kook hehehe yg penting udh kasih komentar. siaaap deh ditunggu aja karya-karya selanjutnya😀 keep reading anyway!♡♡♡

      • Ohh yaa aku baru ngecek lagi salah author ternyata…hahaha jadi maloe /? Yap!! Urwelcome~ keep reading?always dong kalo myungeun xD

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s