PHONE CALL

vlcsnap-2016-06-18-08h42m42s139written by selvs

Ratting : Teen || Duration : OneShoot || Genre : Romance, comedy(?)

TWICE’s Nayeon & Mina

17’s Dokyeom & Junghan

”terinspirasi dari aktingnya nayeon di Twice – cheer up”

 

Ponselnya berdering lagi,

Alih-alih mengangkatnya Im Nayeon malah makin ketakutan dibuatnya. Hal ini terjadi sekembalinya Nayeon setengah jam lalu. Ia langsung duduk di sofa, menggeletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap benda itu dengan tatapan ketakutkan. Sangking ketakutannya, tangan gadis itu tampak gemetaran, tatapannya terus tertuju ke arah ponselnya yang terus berdering. Ia bersumpah tidak akan mengangkat panggilan telpon tersebut, tidak akan pernah.

Setelah perasaannya sedikit membaik, gadis itu memberanikan diri untuk mengambil benda yang terus berdering itu, membuka batrainya lalu membiarkannya tergeletak di atas meja. Tak lama setelah itu, Mina, sahabat sekaligus teman se-apartementnya datang dengan tangan yang menenteng bahan makanan. Mata Nayeon memperhatikan mina yang langsung berjalan kea rah pantry kemudian mengeluarkan bahan makanan ke atas meja makan sembari berbicara dengan seseorang di telpon. Nayeon tidak terlalu mempedulikan percakapan sahabatnya itu di telpon ketika tiba-tiba nama Dokyeom yang di sebut Mina membuat Nayeon tersentak kaget.

“Nayeon eonnie?ah-dia…”

Mina tidak tahu apa yang terjadi saat ponselnya tiba-tiba sudah berada di lantai, yang dilihatnya setelah itu adalah wajah Nayeon yang menatapnya penuh harap sembari berkata “Aku mohon…jangan pernah mengangkat telpon dari lelaki itu lagi.” Kata Nayeon dengan suara yang bergetar.

Mina tampak terkejut dibuatnya, bukan karena ponselnya yang terjatuh atau kata-kata Nayeon barusan. Tetapi karena sahabatnya yang selalu tersenyum sekarang sedang menangis di hadapannya “eonnie, apa yang terjadi?”

Yang ditanya hanya bisaa terdiam dengan tatapan kosong. Tanpa aba-aba Mina langsung memeluk sahabatnya itu, memeluknya hingga tangisan seorang Im Nayeon pecah sejadi-jadinya.

 

±

 

Keesokan paginya semua kembali seperti biasa. Nayeon sudah menyiapkan roti bakar diatas meja seperti biasa ketika Mina baru saja keluar dari kamarnya hendak berangkat ke kampus. Kendati seperti itu Nayeon masih belum bisa bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu demi Nayeon, Mina harus mematikan ponselnya seharian karena—yah benar saja, lelaki bernama Lee Dokyeom terus saja menelponnya.

­­­­­­­­­­Pagi itu terasa lebih menyenangkan dari biasanya, karena tidak biasanya Nayeon mau mengantarnya ke kampus serta mengikuti kuliah yang paling di benci Mina, Kalkulus.­­­ Hari itu mereka berdua tampak senang, tetapi kalau diperhatikan dari senyumannya, Nayeon masih belum bisa menyembunyikan kesedihannya. Mina bisa merasakan itu. Tetapi ia tak mau bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum Nayeon sendiri yang dengan suka rela akan bercerita. Hingga akhirnya Mina melihat Dokyeom yang berdiri tepat di depan mobil Nayeon ketika sang pemilik sedang pergi ke kamar kecil. Segeralah Mina menemui lelaki itu lalu mengajaknya ke taman belakang kampus, agar Nayeon tak melihatnya. Karena jika saja gadis itu melihat lelaki itu, Mina tidak akan tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.

“Katakan, apa yang kau lakukan dengan eonnie?” Tanya Mina terus terang.

Dokyeom menggaruk tengkuknya sebelum menjawab, pertanda kalau ia sebenarnya enggan untuk mengatakan apa yang akan ia katakan kepada siapapun. Namun Karena Mina adalah satu-satunya yang bisa membujuk Nayeon agar gadis itu mau bertemu dengannya, Dokyeom akhirnya bersedia untuk bercerita.

“Nayeon memergokiku.”

 

±

 

“Tetapi eonnie, kenapa kau tidak ke kantor hari ini?” Mina memperhatikan Nayeon yang tiba-tiba berhenti menyuapkan ice cream ke mulutnya.

Raut wajahnya berubah tegang, tak tahu harus menjawab apa. Namun agaknya Mina tahu dengan situasi Nayeon. Ia langsung tertawa sebelum kembali berkata “Kau pasti ingin merayakan kesuksesan artikelmu yang kemarin itu kan?” Mina tersenyum saat mengatakannya lalu beberapa saat kemudian mengacungkan jempol ke arah gadis yang ada di hadapannya “Kau memang penulis yang sangat berbakat, eonnie!”

“Terimakasih, Mina-san,” Nayeon hanya menjawab tanpa ekpresi, sepertinya pertanyaan Mina sebelumnya membuat moodnya turun.

“Mina-san,” Panggil Nayeon tiba-tiba, sementara yang dipanggil menatap gadis itu penasaran “Apa kau tidak penasaran kenapa aku kemarin seperti itu?”

Mina tersenyum simpul ketika mendengar perkataan Nayeon barusan, lalu beberapa saat kemudian iya meraih tangan sahabatnya sembari berkata “Tidak apa-apa jika kau belum siap untuk bercerita, eonnie, aku tidak akan memaksa.”

Yang dituju balas tersenyum, merasa lega dengan Mina yang kala itu merasa lebih baik “Terimakasih, Mina-san” katanya sembari tersenyum dengan jari telunjuk yang berada di kedua pipinya.

“Semangat eonnie!Aku yakin kau bisa tersenyum lagi setelah in.”

Dan sekali lagi, Mina merasa kalau hari itu terasa berbeda dengan hari-hari kemarin.

“Tetapi eonnie, bagaimana kalau kita bikin pesta malam ini?”

 

±

 

Suara imut kartun pororo tedengar kencang sekali, tema pesta pesta mereka malam itu adalah kartun. Bukan musik-musik khas pesta yang akan menemani mereka malam ini, suara kartu kesukaan kedua gadis yang tinggal di apartement itulah yang akan menemaninya. Mina sudah tak merasa kalau Nayeon memaksakan senyumnya lagi. Gadis itu sangat riang malam ini. Bahkan tadi ia sempat meniru suara kartun-kartun kesukaan mereka sampai-sampai Mina tak dapat melepas tawanya.

Tepat pukul 12.00 Nayeon memutuskan mematikan tayangan kartun dan memutar lagu-lagu mellow lewat ponselnya namun baru beberapa saat lagu berputar, bel apartement mereka berbunyi. Mina menawarkan diri untuk membukakan pintu karena mungkin saja itu adalah para tetangga yang mungkin terganggu dengan kebisingan mereka malam itu. Namun dugaan Mina yang juga dipikirkan Nayeon salah, bukannya tetangga yang datang mengomel, malah Lelaki itu yang datang. Lelaki yang sangat Nayeon Hindari sejak kemarin.

eonnie, Dokyeom ingin berbicara denganmu.” Mina menatap Nayeon penuh harap, namun gadis yang dituju hanya bisa terdiam sementara matanya menatap tajam iris mata sang lelaki yang baru saja datang.

 

±

 

“Nayeon memergokiku sedang asik berduaan dengan Junghan.”

Mina mendengus tak percaya, jadi ini yang membuat Nayeon seperti semalam “Aku benar-benar tak habis fikir denganmu, bagaimana bisa kau—”

“Junghan itu lelaki.”

“Apa?”

“Hanya saja wajahnya memang terlihat cantik, lalu rambutnya seperti wanita, semua orang akan mengiranya wanita kalau matanya tidak melihat ke arah dada.” Lelaki itu berusaha meyakinkan Mina kalau ucapannya benar. Ia menunjukan beberapa foto lelaki bernama Junghan yang baru saja Dokyeom ceritakan. Setelah yakin kalau Mina percaya dengan perkataannya, lelaki itu melanjutkan “Nayeon salah paham, dia memergoki ketika aku dan junghan berada dalam situasi yang mungkin akan membuat setiap orang yang melihatnya akan salah paham, jadi kumohon, pertemukanlah aku dengan Nayeon.”

 

±

 

Dokyeom menjelaskan hal yang sama dengan apa yang dijelaskannya kepada Mina siang tadi. Dan reaksi gadis itu setelah mendengarkan ceritanya; ia hanya diam antara ingin percaya atau tidak. Namun setelah melihat sosok asli lelaki yang disebut-sebut bernama Junghan muncul dari balik pintu apartementnya, Nayeon rasanya sangat lega karena apa yang di pikirkannya selama ini adalah salah.

Seharusnya dia tidak usah takut mendengar panggilan telepon Dokyeom kemarin, seharusnya ia tidak usah takut dengan apa yang akan di jelaskan Dokyeom lewat telepon.

 

±

 

“Yak sedikit lagi cepat, WOAHH!!!” Dokyeom sangat gembira ketika Mobil Lamborghini merah miliknya adalah mobil pertama yang melewati garis finish. Lelaki itu lompat kegirangan sampai-sampai kakinya terserimpat kabel playstation. Untung saja ia jatuh tepat di sofa, namun Junghan yang kesal karena mobilnya kalah melampiaskan kekesalannya dengan menibani Dokyeom berulang kali.

“AW YAK!!” Dokyeom berteriak, merasa kesal sekaligus senang namun raut wajah senangnya hilang ketika melihat Nayeon yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan raut wajah terkejut.

“Si…si…siapa gadis itu?”

 Belum sempat Dokyeom menjelaskan, gadis itu malahan kabur entah kemana. Lalu setelahnya Dokyeom tidak henti-hentinya menghubungi Nayeon.

 

±

 

Mina yang masih tertawa mendengar penjelasan Dokyeom barusan tiba-tiba dipukul bahunya oleh Nayeon. Nayeon benar-benar malu sekarang. Sementara Junghan hanya bisa menunjukan senyum manisnya di hadapan mereka.

“YAK KAU BISAKAH BERHENTI TERSENYUM SEPERTI ITU?”

“kenapa memangnya?” Tanya Junghan ketus.

“Karena aku takut kalau Dokyeom akan terpesona dengan kecantikanmu.” Ucap Nayeon malu-malu sembari menatap mata kekasihnya yang sekarang sedang tersenyum ke arahnya.

Mina yang mendengar kata-kata Nayeon barusan langsung menyorakinya “Ah kalau lagi seperti ini, aku jadi iri dengan kalian berdua.” Kata Mina tak luput dengan senyumnya.

“Tidak usah iri mina-ssi, ada aku disini,” Tak disangka lelaki cantik bernama Junghan itu menggeser posisi duduknya agar bisa lebih dekat dengan Mina, sementara yang dituju tak kuasa menahan tawanya.

“Kurasa orang-orang bisa menganggapku lesbian kalau berada dekat-dekat denganmu seperti ini. Hahaha”

 

end-

Note: huh, udah lama gak ngepost ff hehe,Thankyou yang dengan suka rela mau membaca!! *bow*jangan kasih kritik dan sarannya ya^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s