[Final Chapter] Forbidden Love

Forbidden Love

We shouldn’t have lived in the same building.

by Shinyoung (ssyoung)

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Kim Jongin & Jung Krystal || Genre: School Life & Romance || Length: Chapter 10 || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: goldenblood || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015-2016 by Shinyoung.

Chapter 10 — Promise

Prologue | Characters | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9

*

Ketika ia terbangun, yang pertama kali dilihatnya adalah Kim Myungsoo.

Ia langsung memekik pelan dan menutupi wajahnya karena wajah Myungsoo yang terlalu dekat dengannya. Sedangkan Myungsoo, dia langsung berdiri dan meninggalkan gadis itu untuk memanggil seseorang.

Tak lama kemudian, seseorang yang lain masuk dan menghampiri gadis itu. Mendekati tempat tidurnya dan menarik tangan gadis itu yang menutupi wajahnya karena malu diperhatikan oleh Myungsoo dari jarak dekat.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Dongwoon bingung.

“A-aku?” tanya gadis itu bingung. Namun, ia langsung terbangun begitu menyadari bahwa dia bukan berada di kamarnya. Ia menatap pakaiannya yang bukan pakaian miliknya, namun pakaian rumah sakit. “Tunggu! Kita di rumah sakit?”

“Iya. Kau tidak ingat?”

“Ingat? Memangnya apa yang terjadi?”

“Kau terjatuh dari treadmill saat sedang berolahraga. Untungnya kau baik-baik saja,” kata Myungsoo. “Dokter bilang kepalamu terbentur karena itu kau langsung pingsan di tempat. Sebenarnya, apa yang kau lakukan saat di atas treadmill sampai-sampai kau bisa terjatuh dari sana?”

Naeun menggeleng pelan tak mengerti, lalu berusaha mereka ulang apa yang terjadi sebelumnya. Namun, yang ia rasakan justru pening yang menjalari kepalanya. Gadis itu lantas menyentuh pelipisnya, namun Myungsoo menarik tangannya dan meletakkan tangan gadis itu di atas tempat tidur.

“Jangan berpikir yang keras-keras,” komentar Myungsoo. “Kau istirahat dulu.”

Dongwoon mengangguk setuju, lalu menggiring badan gadis itu dengan pelan kembali tertidur di atas kasur rumah sakit. Kakak dari gadis itu menarik selimutnya dan menutupi badan Naeun.

“Besok jangan masuk sekolah kalau kau masih sakit.”

“Apa kau tidak berlebihan?” tanya Naeun kesal pada kakaknya. “Aku hanya terjatuh dari treadmill. Lagipula, besok ada ulangan Sejarah Korea. Aku tidak mau susulan sendirian dan Gayoon ssaem bukan tipe orang yang akan memberikan ulangan susulan padaku.”

“Aku akan berbicara dengannya,” kata Dongwoon.

Naeun menggeleng keras. “Intinya aku tidak mau susulan. Kalau aku susulan, maka dengan siapa aku bisa bertanya jawaban? Aku tidak mau. Titik.”

Dongwoon mengerucutkan bibirnya. “Baiklah. Lupakan saja.”

 

 

Jongin menghentikan mobilnya—lebih tepatnya mobil milik Krystal—di depan sebuah kafe di dekat taman hiburan yang baru saja mereka kunjungi. Keduanya turun dari mobil itu, kemudian memasuki kafe tersebut. Suasananya tidak terlalu ramai, namun juga tidak terlalu sepi.

Ketika mereka melangkah masuk, sebuah bel berdering, dan seorang pelayan menyambut mereka. Krystal memberikannya sebuah senyuman, namun Jongin tidak mempedulikan pelayan tersebut.

Mereka mendekati sebuah meja, kemudian duduk di sana. Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka. Lalu, pelayan tersebut memberikan mereka masing-masing satu buku menu.

“Hari ini ada penawaran spesial, jika kalian foto bersama menggunakan papan Instagram tersebut, kalian akan mendapatkan gratis minuman ukuran besar,” ujar pelayan tersebut sambil tersenyum lebar.

Krystal menoleh pada pelayan tersebut sambil menutup buku menunya. “Benarkah? Kita bisa dapat minuman gratis ukuran besar? Minumannya ditentukan atau kita bisa memilihnya sendiri?”

Pelayan itu mengangguk senang. “Ya, kau bisa memilihnya!”

Lantas, Krystal segera menoleh pada Jongin dengan senyum lebarnya. “Jongin-ah! Kau dengar itu? Kita bisa mendapatkan minuman gratis. Kita hanya perlu berfoto menggunakan papan Instagram itu dan kita dapat minuman gratis, bagaimana? Kau mau?”

Jongin mengangkat wajahnya dari hadapan buku menu. Tatapan tajamnya membuat Krystal mengurungkan niatnya. “Tidak. Aku tidak mau. Kau saja sendiri. Lebih baik aku membelikanmu minuman daripada harus foto di sana.”

Pelayan yang melayani mereka pun hanya bisa tersenyum masam. “Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Penawaran spesial ini hanya berlaku hari ini saja dan hanya di cabang ini saja. Di cabang lain tidak berlaku.”

Krystal kembali menoleh pada Jongin. “Kau dengar, bukan? Penawarannya ha—”

Jongin menutup buku menunya dengan kesal. “Baiklah! Kita foto di sana!”

Krystal membulatkan matanya, lalu bersorak kecil, seolah-olah ia adalah seorang anak gadis yang berumur 6 tahun dan baru saja berhasil memukul pinata ulang tahunnya. Jongin melirik gadis itu dengan perasaan kesal, namun laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk memarahi gadis itu lagi.

 

 

Son Naeun, sedang apa?

“Hanya menggambar seperti biasa,” jawab Naeun singkat. Ia meletakkan ponselnya diantara telinga kanannya dan juga bahu kanannya. Sementara itu, tangannya sedang sibuk mewarnai buku gambar yang selalu ia bawa kemana pun.

Kau tidak mau menanyaiku?”

“Untuk apa aku bertanya?” tanya Naeun balik. “Aku tahu kau pasti sedang menulis fan-fiction, Jung Eunji. Kenapa kita tidak group call dengan Bomi juga?”

Eunji terdiam sejenak. “Memangnya bisa?”

Naeun menghela napas berat. “Bisa. Itu fitur LINE yang sudah lama ada.”

Aku baru tahu. Ya sudah, setelah ini aku putuskan sambungannya, ya?

“Son Naeun!”

Naeun menghentikan aktifitasnya, kemudian ia melihat pintu kamarnya terbuka. Dongwoon berdiri di sana dengan wajah malas. Laki-laki itu menyadari bahwa Naeun sedang menelpon seseorang, maka dia hanya menggerakkan jarinya mengisyaratkan Naeun untuk keluar dari kamarnya sekarang.

“Tidak bisa, Eunji,” kata Naeun. “Oppa menyuruhku keluar. Mungkin ada seseorang.”

Paling-paling Kim Myungsoo. Aku yakin itu! Cepat nyatakan perasaanmu.

“Kau ini, menyebalkan. Aku tidak menyukainya! Sudah!”

Setelah itu, Naeun memutuskan sambungan telponnya, lalu ia melirik lagi pada kakaknya yang berwajah serius. Tampaknya, Naeun harus cepat-cepat keluar dari kamar sekarang atau kakaknya akan marah.

“Memangnya ada siapa, sih? Sampai serius begitu. Kim Myungsoo?”

“Bukan,” jawab kakaknya dengan singkat. “Sebaiknya kau keluar sekarang atau mereka akan marah padamu.”

“Mereka?” tanya Naeun dengan kening berkerut.

Karena penasaran, akhirnya Naeun dengan cepat mengganti pakaiannya setelah Dongwoon menutup pintu kamarnya. Gadis itu mengikat rambutnya seperti ekor kuda dan membiarkan beberapa helai rambut pendeknya menutupi keningnya.

Gadis itu melangkah keluar dari kamarnya, kemudian menuju ruang tengah. Ia pun segera menyadari bahwa yang datang adalah tamu penting yang selama ini tidak pernah ia harapkan kedatangannya.

Eomma. Appa.

Yang dipanggil pun segera menolehkan wajah mereka, kemudian tersenyum senang. Kedua orang tua Naeun itu segera memeluk gadis itu. Yang dipeluk hanya bisa tersenyum datar, tanpa membalas pelukan tersebut.

Sudah 6 tahun dia tidak merasakan pelukan tersebut. Selama itu, dia hanya tinggal berdua dengan kakaknya tanpa adanya kabar dari orang tua mereka. Dia tidak tahu haruskah dia senang sekarang atau tidak bertemu kedua orang tuanya.

Pada kenyataannya, dia sendiri merasa bahwa kedua orang tuanya itu tidak layak menemuinya karena mereka sama sekali tidak menanyakan kabar anak-anaknya di Korea bagaimana. Meksipun mereka selalu mengirimkan uang ke rekening bank Dongwoon dengan jumlah yang melebihi dari kata ‘cukup’.

Dongwoon yang melihat senyuman Naeun yang begitu datar pun hanya bisa menghela napas berat. Dia tahu adiknya itu sama sekali tidak pernah merindukan kedua orang tuanya. Maka, Dongwoon pun mengisyaratkan adiknya untuk tidak bersikap seperti itu.

“Dimana koper kalian?” tanya Naeun akhirnya setelah acara pelukan selesai dan semua anggota keluarga Son itu duduk di ruang keluarga apartemen.

“Kami tidak akan tinggal di sini. Jam 5 nanti kami akan kembali lagi ke New York.”

Naeun membulatkan matanya mendengar ucapan ayahnya. Namun, dia hanya bisa mendengus pelan menyadarinya. Tentu saja, orang tuanya itu memang lebih mencintai pekerjaan daripada anaknya.

“Lalu, jika kalian datang tanpa koper, apa tujuan kalian ke sini?” tanya Naeun lagi.

“Son Naeun,” Dongwoon memperingati. “Jangan seperti itu.”

“Biarkan saja, Dongwoon-ah,” kata ibunya sambil tersenyum. “Sudah 6 tahun aku tidak melihat perkembangan Naeun. Ternyata Naeun menjadi seperti ini. Sama seperti aku dahulu.”

“Lupakan saja basa-basinya,” potong Naeun. “Jelaskan dahulu apa alasan kalian.”

“Kita mau mengajak kalian pergi ke New York,” ujar ayahnya. “Lebih tepatnya, kita akan tinggal di sana. Kita harus bekerja selama ini tanpa mengabarkan kalian karena uang kami tidak cukup jika harus mengajak kalian ikut tinggal di sana.”

“T-tunggu,” potong Naeun. “Tinggal di sana? Kita pindah ke sana?”

Baik ayah, maupun ibunya pun menganggukkan kepala mereka dengan semangat. Terutama ibunya, kemudian menjawab, “Tentu saja kita akan tinggal di sana. Kita tidak akan terpisah lagi, Naeun. Kita akan bahagia di sana sebagai keluarga. Kau akan melanjutkan universitas di sana. Sementara itu, Dongwoon juga akan mengajar di sekolah yang ternama di sana.”

“Kau tidak bilang ada rencana ini,” ujar Naeun tanpa suara kepada Dongwoon yang duduk di samping.

“Mana aku tahu,” kata Dongwoon balik tanpa suara. “Ini tiba-tiba.”

“Jadi, bagaimana?” tanya ayahnya. “Kalian akan ikut, bukan? Kami sudah menabung sejak 6 tahun yang lalu untuk merencanakan ini. Kalian akan minggu depan. Aku sudah membeli tiketnya. Untuk barang-barangnya, kalian tidak perlu khawatir karena aku akan mengurusnya. Sekolah Naeun dan pekerjaan Dongwoon sudah kami urus.”

“Iya, kalian hanya perlu berangkat saja,” kata ibunya. Kemudian, wanita itu melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 3 sore. “Kita harus cepat kembali atau kita akan ketinggalan pesawat. Selebihnya lagi, nanti kami jelaskan melalui telepon. Intinya persiapkan diri kalian saja.”

“Iya, kita harus kembali,” kata ayahnya.

Tanpa mendengar jawaban dari anak-anaknya, kedua orang tua itu segera bangkit dan meninggalkan mereka dalam diam. Baik Naeun maupun Dongwoon hanya bisa menatap kepergian mereka tanpa mengucapkan apa pun.

Memang seperti itu.

 

 

Seperti biasa, Myungsoo selalu makan malam di apartemen Dongwoon dan Naeun. Sejak hubungan mereka menjadi dekat, Dongwoon selalu meminta Myungsoo untuk makan di rumahnya. Entah itu makan malam atau sarapan.

“Ada apa dengannya?” tanya Myungsoo sambil menunjuk Naeun.

“Biarkan saja,” jawab Dongwoon sambil melanjutkan makannya.

Bagaikan mayat hidup yang sedang makan, Naeun hanya menatap makanannya tanpa memakannya. Sikapnya itu membuat Myungsoo sampai-sampai mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Tidak biasanya melihat gadis itu bersikap seperti itu. Jika melihat makanan di mana saja, Naeun pasti akan memakannya. Meskipun makanan itu tidak dijamin kesehatannya. Jika lapar, gadis itu akan makan.

Namun, kali ini, Naeun hanya diam menatapi makan malamnya tanpa menyendokinya ke dalam mulutnya. Myungsoo pun menghela napas berat, lalu ia mengambil sendok Naeun dan mengambil sesendok makanan.

“Kau tidak mau makan?” tanya Myungsoo. “Lebih baik buat aku saja.”

“Ambil saja,” jawab Naeun datar.

Mendengar itu, Myungsoo pun menggelengkan kepalanya. Ia pun meletakkan sendok Naeun, kemudian memutar tubuh gadis ke hadapannya. Benar-benar seperti mayat hidup, Naeun pun bergerak tanpa energi.

Dongwoon membulatkan matanya melihat kejadian itu, namun dia hanya bisa tersenyum tipis tanpa berkomentar ketika melihat Myungsoo menyuapkan makanan ke dalam mulut Naeun.

“Kunyah makanannya!” titah Myungsoo kesal.

“Jangan memarahinya,” kata Dongwoon. “Dia seperti itu karena orang tuanya.”

Myungsoo mengerutkan keningnya. “Orang tuanya juga orang tuamu, bukan?”

Kemudian, wajah laki-laki itu berubah menjadi penuh spekulasi. Membuat Dongwoon langsung mendorong kening laki-laki itu menggunakan ujung telunjuknya dengan kesal, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu.

“Iya! Kami berdua saudara kandung!” ujar Dongwoon kesal. “Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tau apa yang ada di pikiran burukmu itu, Kim Myungsoo.”

“Bukan begitu. . .”

Myungsoo menggosok keningnya sambil menggerutu pelan. Kemudian, ia melirik lagi Naeun yang sudah bangkit dari kursinya dan melangkah menuju balkon apartemen yang berada di dekat ruang makan.

“Lalu, ada masalah apa sebenarnya?” tanya Myungsoo.

“Orang tua kami ingin kami pindah ke New York, membangun kehidupan keluarga yang menyenangkan. Tidak terpisah seperti sekarang. Tapi, kenyataannya, Naeun tidak pernah suka rencana itu.”

“Pindah?” tanya Myungsoo.

“Iya,” jawab Dongwoon kesal. “Kenapa? Kau sedih Naeun pindah?”

“T-tidak!” Myungsoo menggelengka n kepalanya dengan cepat.

Dongwoon menolehkan kepalanya ke arah Naeun. “Sebaiknya kau temani gadis itu. Dia tidak akan mengatakan apa pun kalau aku yang menenangkannya. Sama seperti waktu itu juga, Eunji dan Bomi yang menenangkannya sampai dia mau bicara.”

“Waktu itu?”

“Aih, kau tidak perlu tahu,” ujar Dongwoon sambil mendorong bahu lelaki itu, kemudian tertawa pelan. “Kalau aku memberi tahumu, Naeun akan marah besar padaku. Mungkin, dia tidak akan menganggapku sebagai kakaknya lagi. Bagaimana pun, cepat lah bicara dengannya. Temani dia.”

Myungsoo menautkan alisnya. “Kenapa harus aku?”

Dongwoon tersenyum. “Karena kebetulan kau yang ada di sini.”

 

 

Bunyi bel yang berdenting terus-menerus membuat Jongin mengeluh pelan. Tentu saja dia akan mengeluh karena ini sudah jam 10 malam dan dia sudah berada di atas tempat tidurnya, besiap-siap untuk menuju pulau mimpi.

“Siapa sih datang malam-malam begini?” ujarnya kesal.

Sambil melangkah menuju pintu apartemennya, dia memasang pakaiannya lagi, dan juga mengusap wajahnya yang mengantuk. Suara sandal rumah yang bergesekan dengan lantai apartemen mengisi apartemen yang kosong itu.

Ia menekan layar intercom-nya, kemudian menemukan sosok gadis yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya. Jongin langsung membulatkan matanya begitu gadis itu mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk.

“Kenapa gadis itu ada di sini?!”

Cepat-cepat ia membuka pintu apartemennya. Gadis itu berdiri di hadapannya dengan wajah tertunduk, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, Jongin pun ikut terdiam karena terlalu terkejut.

“Kenapa kau ke sini, Jung Krystal?!” tanyanya setengah berteriak. “Kau tidak tahu jam berapa ini? Kau datang ke sini sendirian dan aku tinggal sendirian. Cepat pulang!”

“Aku tidak bisa pulang untuk saat ini, Kim Jongin. . .”

Jongin mengusap wajahnya dengan kesal. Kemudian, ia menarik gadis itu ke dalam apartemennya dan menutup pintu apartemennya rapat-rapat. Cepat-cepat, ia melepaskan sepatu gadis itu dan menggantinya dengan sandal rumah.

Krystal digiring masuk ke dalam apartemen Jongin, kemudian gadis itu duduk di atas sofa yang ada di ruang tengah apartemen Jongin.

“Duduk di situ dan jangan kemana-mana! Jangan sentuh apa pun!”

Arasseo. . .

Setelah itu, Jongin segera beranjak pergi menuju dapurnya dan membuka lemari esnya. Dia mengambil sebuah kotak susu rasa stroberi, kemudian kembali ke ruang tengah. Ia memberikannya kepada Krystal.

Gomawo.

“Tidak usah ucapkan itu! Cepat pulang setelah minum itu!”

“Sudah aku bilang, aku tidak bisa pulang, Kim Jongin.”

Jongin menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghelanya dengan berat. Ia menatap gadis itu frustrasi, kemudian ia duduk di seberang gadis itu. Jongin menatapnya dalam-dalam.

“Dengar, kau tidak bisa tidur di sini!” ujar Jongin kesal. “Aku adalah laki-laki dan kau perempuan. Apa kau tidak pernah berpikir sesuatu akan terjadi di antara laki-laki dan perempuan yang tinggal bersama?”

“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Krystal. “Ayahku memukulku!”

Mwo?!

Mendengar itu, bagaikan tersambar petir di siang hari bagi Jongin. Dia langsung berdiri, kemudian mendekati Krystal, dan mengecek wajah gadis itu serta lehernya, namun tidak ada apa-apa di sana.

“Tidak ada di sana. Dia memukulku di tubuhku, kau mau lihat?” tanya Krystal lemas.

M-mwo?!” Jongin langsung menjauhkan tubuhnya dan dia menatap gadis itu. “Tentu saja, aku tidak mau melihatnya! Gadis macam apa yang menawarkan dirinya untuk memperlihatkan tubuhnya pada laki-laki?”

“Aku gadis semacam itu, Kim Jongin.”

Jongin terdiam. “Sudahlah, lupakan. Kenapa kau tidak ke rumah kakakmu? Kenapa ke rumahku? Apa kau pikir dengan ke rumahku akan menyelesaikan masalah, Jung Krsytal? Coba pikirkan baik-baik.”

Krystal tersenyum tipis. “Apa kau tahu kenapa aku dipukul ayahku?”

Jongin menggeleng. “Kau belum bercerita, mana mungkin aku bisa tahu.”

“Aku pikir kau tahu segalanya tentangku,” ujar Krystal sambil tersenyum datar. Gadis itu menatap Jongin yang duduk di seberangnya. “Aku. . . Dipukul oleh ayahku hanya karena dia melihatku jalan denganmu.”

“Bagaimana—”

“CCTV.”

 

 

Yeogisseo mwohae—sedang apa kau di sini?”

“Mencari angin,” jawab Naeun singkat.

Naeun memejamkan kedua matanya rapat-rapat, kemudian menghirup dalam-dalam udara malam yang merasuk masuk melalui hidungnya. Gadis itu tersenyum tipis ketika udara malam masuk ke dalam tubuhnya.

“Oh. . . Angin musim dingin,” kata Naeun.

“Angin musim dingin,” kata Myungsoo.

Keduanya langsung menolehkan kepala mereka ketika sadar bahwa keduanya mengucapkan hal itu bersamaan. Baik Myungsoo maupun Naeun saling menatap diri masing-masing.

Namun, Naeun langsung mengalihkan pandangannya karena jantungnya langsung berdegup dengan kencang begitu bertatapan langsung dengan Myungsoo. Lagi-lagi, dia menarik napas dalam-dalam.

“Darimana kau belajar hal tersebut?” tanya Naeun akhirnya.

“Ibuku yang memberi tahuku tentang hal itu,” jawab Myungsoo sambil tersenyum.

“Aku mempelajarinya dari Dongwon oppa. Dia selalu mengatakan hal itu ketika berdiri di sini, memandangi Kota Seoul. Sejak umur 12 tahun, dia mengajariku ini dan itu. Seolah dia telah menjadi orang tuaku.”

Myungsoo menoleh sekilas. “Yah. . . Dongwoon hyung bisa menjadi orang tua yang baik. Bagaimana pun, orang tuamu adalah orang tua terbaik. Mereka telah bekerja dengan keras dan menabung uang mereka untuk kau dan juga Dongwoon hyung.”

“Tapi, aku tidak mau pindah,” kata Naeun dengan tegas. “Apa kau bisa bayangkan bagaimana kau tiba-tiba diminta untuk pindah secara tiba-tiba? Lalu, waktu yang diberikan untuk mengucapkan salam perpisahan itu hanya satu minggu?”

“Kau benar-benar memikirkan hal itu atau kau mau melarikan diri?”

Tak ada jawaban yang diberikan Naeun untuk Myungsoo. Dia tidak tahu apakah dia harus menjawab pertanyaan itu atau tidak. Jelas, pertanyaan yang diberikan Myungsoo padanya adalah pertanyaan yang tepat.

Dia memang melarikan diri.

“Kau diam?” tanya Myungsoo penasaran.

“Aku bukan diam, tapi aku tidak tahu mau jawab apa.”

“Jawab saja, itu bukan pertanyaan yang sulit,” ujar Myungsoo dengan remeh. “Kalau kau bisa jawab itu, aku akui kau memang gadis yang hebat. Tapi, kalau kau tidak bisa menjawab pertanyaan itu, anggap saja aku sudah tahu jawabanmu yang mana.”

“Aku melarikan diri.”

“Karena mereka tidak pernah mengunjungimu?” tanya Myungsoo.

Lagi-lagi, Myungsoo membuat Naeun terdiam lama. Naeun mendongakkan wajahnya menatap langit malam yang tidak dihiasi oleh bintang. Ia tersenyum tipis, kemudian menghela napas berat.

Di sampingnya, Myungsoo hanya meliriknya. Menatap gadis itu dalam-dalam. Rambut Naeun yang berkibar-kibar karena angin malam, tidak menghalangi lehernya yang tak ditutupi apa pun. Membuat Myungsoo bertanya-tanya, apakah gadis itu tidak merasa kedinginan.

“Seperti yang kau tahu, aku bukan gadis yang kuat.”

“Kau gadis yang aneh, bukan?”

Naeun meliriknya dengan tajam, sampai-sampai matanya sakit. “Kau sengaja ingin membuatku marah, ya? Aku sedang tidak mood untuk bercanda denganmu. Kalau kau mengatakan—”

“Setidaknya, kau kembali seperti sebelumnya. Son Naeun yang pemarah.”

Mwo. . .

Myungsoo mengangkat bahunya, membuat Naeun bingung. Namun, dia menyadari bahwa dia tidak lagi seperti mayat hidup. Myungsoo berhasil menghidupkan kembali salah satu emosinya. Dia hanya bisa menghela napas.

“Kenapa kau selalu tepat sasaran?”

“Karena kita semakin dekat, aku pun mulai memahami dirimu.”

 

 

Jongin keluar dari kamarnya dengan sebuah selimut tebal dan meletakkannya di atas sofa ruang tengah apartemennya. Laki-laki itu melirik Krystal yang masih diam menonton televisi sambil meminum susu kotak stroberi keduanya.

“Kau tidur saja di kamar,” kata Jongin.

“Eh?” Krystal menoleh padanya. “Lalu, kau akan tidur dimana?”

“Di sini.” Laki-laki itu menunjuk sofa yang ada di hadapannya. “Kau ingat kalau besok kita sekolah, bukan? Lalu, bagaimana kau akan ke sekolah—atau kau memang berniat untuk tidak masuk sekolah?”

“Aku bawa seragamku, Jongin-ah,” ujarnya.

Jongin mengerutkan keningnya dalam-dalam, seolah bertanya dimana Krystal meletakkan seragamnya. Seingatnya, tadi Krystal hanya datang dengan tas sekolah yang selalu ia gunakan.

Melihat Jongin yang bingung, membuat Krystal menghela napas berat, lalu ia menunjuk ke arah tas sekolahnya. Reaksi Jongin pun berubah ketika melihat Krystal menunjuk tasnya, ia menganggukkan kepalanya.

“Kau tidak akan tidur?” tanya Jongin lagi.

“Ah, benar-benar. . . Kau ini memang cerewet, ya?”

“Bukankah kau sudah tahu hal itu?”

“Terserah!”

Krystal mendecak kesal, kemudian melangkah menuju kamar Jongin. Ia melangkah dengan suara yang dibuat-buat, membuat Jongin langung meliriknya. Namun, Jongin memilih untuk tidak berkomentar daripada bertengkar lagi.

Setelah Krystal menutup pintu kamarnya, Jongin mematikan televisinya. Lalu, ia mematikan beberapa lampu, menyisakan lampu kecil yang berada di dekat sofanya. Setelah itu, ia segera naik ke atas sofa dan mulai memejamkan matanya di balik selimut tebalnya.

Beberapa saat berlalu, namun dia tidak dapat memejamkan matanya. Dia pun menyadari alasan dibalik dia tidak dapat tidur. Dia terganggu karena ada Jung Krystal di rumahnya. Dia memang tahu sejak awal bahwa Krystal pasti akan mengganggunya.

Namun, ini sudah jam 11 malam, jadi tidak mungkin dia mengusir gadis itu.

Maka, ia pun terbangun dari sofanya, kemudian menuju dapurnya. Ia membuka kulkas dan mengecek apa yang bisa ia minum agar menenangkan pikirannya sehingga ia bisa tidur tanpa memikirkan hal itu lagi.

“Kau belum tidur?”

Jongin tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Lantas, ia menutup kulkasnya, kemudian membalikkan tubuhnya. Di depan kamarnya, Krystal berdiri dengan pakaian tidurnya—yang entah kapan gadis itu berganti—menatap Jongin.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Jongin, kemudian kembali membalik menghadap kulkasnya. “Kau sendiri? Kenapa kau terbangun lagi? Kau mau minum susu lagi?”

“Bukan. Aku juga tidak bisa tidur.”

“Aku merasa risih dan terjaga karena ada kau di dalam apartemenku.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bolos besok?”

 

 

“Son Naeun, kau mau pindah?” tanya Eunji dengan kencang.

“Kau benar-benar mau pindah, Son Naeun?!” tanya Bomi lagi.

Pertanyaan yang diajukan oleh dua manusia itu membuat murid-murid kelas 2-2 langsung menolehkan wajah mereka ke arah Naeun, penasaran. Tentu saja, Naeun hanya bisa menghela napas berat.

“Siapa yang memberi tahumu?” tanya Naeun.

Baik Eunji maupun Bomi langsung menutup mulut mereka rapat-rapat. Naeun pun melirik ke arah Myungsoo yang diam saja tanpa menoleh ke arahnya. Seolah curiga dengan laki-laki itu, namun dia mengurungkan niatnya untuk memarahi lelaki itu.

“Ah, benar-benar, Kim Myungsoo. . .”

“Kim Myungsoo?” Eunji menautka alisnya. “Bukan Myungsoo yang memberitahu kami.”

“Eh?”

Wajah Naeun langsung merona merah karena dia telah menuduh lelaki itu. Myungsoo yang mendengar itu, menolehkan wajahnya ke belakang, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemas.

Sementara itu, Bomi dan Eunji langsung saling melirik satu sama lain. Mereka pun tersenyum dengan penuh rahasia, membuat Naeun melotot ke arah mereka.

“Jadi, Kim Myungsoo orang pertama yang kau beritahu?” tanya Bomi.

“Bagaimana bisa, kau menyingkirkan kami dari posisi itu, Son Naeun?” tanya Eunji.

Naeun hanya bisa menghela napas berat. “Pasti kakakku yang memberi tahu kalian? Atau kalian memang tidak sengaja mendengarnya memberikan pidato perpisahan di ruang guru?”

Bomi tersenyum. “Kami mendengar pidatonya saat lewat. Jadi, kami langsung bertanya setelah dia selesai memberikan pidato. Kau akan pindah ke New York?”

Naeun mengangguk dengan malas. “Seperti yang sudah kau ketahui dari kakakku. Aku—maksudku, kami akan pindah ke sana minggu depan. Aku tidak bisa menolak karena itu keputusan orang tuaku.”

“Jadi, Dongwoon ssaem juga akan ikut?” tanya Irene sedih.

Mwoya, neo—Apa-apaan kau ini. . . Kau sudah punya Sehun,” kata Chorong.

Sehun hanya tersenyum tipis. “Dia hanya mengidolakannya. Tapi, perasaannya hanya untukku.”

Irene meliriknya kesal. “Ya! Percaya diri sekali kau!”

“Iya, kami berdua akan pindah.”

“Son Naeun, apa kau tidak akan rindu dengan sahabatmu ini?” tanya Eunji.

Mwo. . .” Naeun memutar bola matanya. “Sahabat, pantatmu. . .”

“Memangnya, kau tidak akan rindu dengan Kim Myungsoo?”

“Jung Eunji!”

Arasseo. Arasseo.

 

 

“Apa kau tahu apa yang kau lakukan sekarang?” tanya Jongin.

“Aku tahu,” jawab Krystal dengan santai. Ia melirik Jongin sekilas, kemudian kembali mengalihkan pandangannya untuk tetap menyetir.  “Aku sedang mengajakmu untuk mencari kesenangan.”

Jongin hanya bisa memutar matanya. Dia tidak mengerti kenapa dia tadi malam menyetujui gadis itu untuk mengajaknya memboloskan diri. Jika mereka sampai ketahuan oleh sekolah, dia tidak tahu harus berkomentar apa.

Terutama, ayahnya nanti akan memarahinya pasti.

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Jongin.

“Diam saja lah. Sebentar lagi sampai,” jawab Krsytal.

Tak lama kemudian, mereka memasuki halaman sebuah pengadilan. Jongin langsung melotot saat menyadari hal tersebut, dia menoleh ke luar jendela mobil. Mereka benar-benar berada di sebuah pengadilan.

Ya! Kita tidak boleh disini. Bagaimana jika bertemu dengan ayahmu?” tanya Jongin.

“Justru itu, aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan ayahku.”

“Kau memang sudah gila, Jung Krystal.”

Jung Krystal tak peduli. Dia mematikan mesin mobil Jongin, kemudian keduanya melangkah keluar dari mobil. Ketika Jongin alih-alih ingin melarikan diri, Krystal langsung menarik laki-laki itu.

“Jangan kemana-mana atau kau akan kena masalah.”

“Ah, benar-benar. . .”

Kemudian, mereka memasuki gedung Pengadilan Cabang Seoul. Sementara itu, Jongin hanya mengekor di belakang Krystal. Laki-laki itu sudah pernah memasuki gedung itu ketika dia sedang diadili kasus Nayoung. Jadi, pasti ada beberapa petugas yang mengenali wajahnya.

“Jangan berisik,” Krystal mengingatkan.

Mereka memasuki sebuah ruangan pengadilan. Sambil meminta maaf, Krystal dan Jongin melalui orang-orang dan duduk di salah satu kursi di barisan kedua. Keduanya terduduk di sana dan mulai memperhatikan jalannya sidang.

“Sidang apa ini?” tanya Jongin berbisik pada Krystal.

Karena Jongin yang terlalu dekat dengan Krystal, gadis itu langsung menjauhkan dirinya dari Jongin. Kupingnya terasa panas ketika Jongin berbisik di telinganya. Jantungnya juga ikut berdegup dengan kencang.

“Mana aku tahu, perhatikan saja!” desisnya pelan.

“Kenapa marah?” tanya Jongin pelan.

Krystal hanya diam, tanpa menjawab pertanyaan Jongin. Bagaimana bisa dia menjawab pertanyaan Jongin. Wajahnya sendiri sudah merona merah akibat bisikan Jongin. Gadis itu menghirup napas dalam-dalam, selagi menenangkan hatinya.

Sementara itu, Jongin menatap ke depan ke arah Jaksa Jung yang tak lain adalah ayah dari Krysal. Pria itu tengah berdiri di tengah-tengah ruang pengadilan, menghadap ke arah salah satu Saksi yang dipanggil, dan memberikannya beberapa pertanyaan.

Dalam waktu satu jam, persidangan pun selesai. Hasil akhirnya adalah pihak Jaksa memenangkan persidangan. Pengacara dari Terdakwa yang merupakan salah satu pengacara terkenal pun menyalami Jaksa Jung dan juga salah satu rekan Jaksa Jung.

Sebelum meninggalkan ruang persidangan, Jaksa Jung pun menyadari kehadiran Krystal, menoleh ke arah gadis itu. Terkejut, namun dia berhasil menetralkan raut wajahnya. Ia menghampiri Krystal, setelah meminta rekannya untuk pergi.

“Sedang apa kau di sini?” tanya ayahnya.

“Aku menonton persidanganmu,” jawab Krystal datar. Kemudian ia menoleh kepada Jongin, dan menunjuk laki-laki itu. “Dia Kim Jongin—ah, kau pasti sudah mengenalnya. Kau yang menjadi jaksa saat persidangannya, bukan?”

“Jung Krystal.”

“Aku menambahnya ke dalam daftar pertemananku, selain Kang Seulgi.”

“Jung Krystal!”

Akhirnya, Krystal pun menutup mulutnya rapat-rapat. Gadis itu langsung berdiri, kemudian membungkukkan tubuhnya 45 derajat ke arah ayahnya. Ketika Krystal ingin pergi, Jongin langsung menahan tangan gadis itu.

“Maaf, Jaksa Jung,” kata Jongin tiba-tiba.

Krystal meliriknya. “Jongin. . .”

“Anda tidak diizinkan lagi memukulnya hanya karena dia pergi keluar denganku. Karena mulai saat ini, dia adalah kekasihku.”

Setelah itu, Jongin berdiri dan juga membungkuk ke arah Jaksa Jung yang terkejut bukan main. Jongin menarik Krystal untuk pergi dari ruang persidangan tersebut. Sementara, Krystal tidak dapat menahan rona wajah yang menghiasi wajahnya.

 

 

“Kim Myungsoo!”

“Buka pintunya!”

Myungsoo yang tengah menonton televisi dengan malas pun akhirnya membuka pintu aparemennya. Kemudian, ditemukannya dua sahabat Naeun yang sama anehnya dengan gadis itu tengah berdiri dengan wajah merah—pasti setelah berlari.

“Sedang apa kalian berdua?” tanya Myungsoo kesal.

“Kau sudah gila, ya?” tanya Eunji balik dengan nada tinggi. “Kau tidak mengucapkan selamat tinggal kepada Naeun? Kau bahkan tidak mengajaknya berbicara selama seminggu ini! Kau benar-benar sudah gila!”

“Cepat susul dia sekarang, Kim Myungsoo!” teriak Bomi tak kalah kesal.

Myungsoo mengerutkan keningnya bingung. Namun, dia hanya memutar bola matanya, kemudian menyenderkan tubuhnya di depan pintu apartemennya.

“Untuk apa aku menyusulnya? Melarangnya untuk pergi?” tanya Myungsoo.

Mwo. . .

Kini giliran Eunji dan Bomi yang mengerutkan kening mereka. Perlahan namun pasti, keduanya pun mulai mengerti apa yang dimaksud oleh laki-laki itu. Keduanya pun saling lirik, kemudian tersenyum penuh misteri.

“Aku tahu kalian merencanakan sesuatu,” ujar Myungsoo.

“Benar sekali, Kim Myungsoo-ssi!” jawab Bomi.

Kedua gadis itu, lantas langsung menarik Myungsoo keluar dari apartemennya. Sementara itu, Myungsoo langsung berteriak kesal. Namun, kedua gadis itu tidak mempedulikannya, mereka tetap menarik Myungsoo.

Setibanya mereka di pinggir jalan raya, Eunji menyetop sebuah taksi yang kebetulan sedang kosong. Kemudian, ia masuk ke dalam taksi tersebut, selagi menarik Myungso masuk ke dalamnya.

YA! YA! Kalian berdua gila? Ahjussi, tolong aku sedang diculik!”

Mwo?” Sang supir taksi menautkan alisnya. “Mana mungki seorang laki-laki diculik oleh dua gadis. Yang ada, kau lah yang menculik dua gadis ini.”

“Jangan dengarkan dia, Ahjussi!” ujar Bomi.

Bomi pun masuk ke dalam taksi tersebut. Kedua gadis itu duduk di antara Myungsoo, seolah-olah berjaga-jaga kalau laki-laki itu akan kabur. Myungsoo pun menarik napasnya dalam-dalam.

“Ke Bandara Incheon ya, Ahjussi! Tolong cepat, ya!”

“Baiklah, Nona.”

Setelah itu, taksi tersebut langsung melaju dengan kecepatan yang diminta oleh Eunji dan Bomi. Sementara itu, Myungso hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa dia harus terlibat dengan sahabat-sahabat Naeun ini.

Lagipula, dia sudah mengucapkan selamat inggal pada Naeun saat di balkon.

“Kau sebenarnya menyukai Naeun, bukan?” tanya Eunji.

“T-tidak,” jawab Myungsoo terbata-bata. “Kenapa aku harus suka dengan gadis aneh itu? Dia pasti ketularan aneh karena berteman dengan kalian berdua. Kalau saja dia tidak berteman dengan kalian, dia pasti akan normal-normal saja.”

“Ah, jadi kau berharap Naeun bersikap normal?” tanya Bomi sambil terkekeh. “Tenang saja, dia tidak seaneh yang kau kira. Dia paling normal di antara kita bertiga. Setidaknya, dia menyukaimu, berarti dia tidak aneh, bukan?”

“Bomi! Kau mengatakannya!”

Bomi membulatkan matanya, kemudian ia cepat-cepat menutup mulutnya. “Aduh, maafkan aku, Son Naeun! Aku membocorkan rahasiamu kepada orang yang salah. Bagaimana ini? Aku pasti langsung habis.”

Myungsoo memutar matanya. “Lupakan saja. Aku sudah tahu itu.”

Eunji tersenyum lebar, kemudian ia menyikut laki-laki itu. “Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau pasti juga menyukainya, bukan? Kalau tidak, untuk apa kau menemaninya setiap malam ketika Dongwoon oppa pulang larut?”

Myungsoo menoleh pada Eunji dengan wajah merona. “Dia menceritakannya?!”

Baik Eunji maupun Bomi langsung tersenyum lebar. “Bagaimana tidak?” tanya Bomi balik pada Myungsoo. “Dia sahabat kami. Tentu saja dia akan menceritakannya pada kami! Untuk apa kami berada di sini sekarang, kau pikir?”

Myungsoo mengangkat bahunya. “Menemaniku bertemu degan Naeun.”

Eunji bergumam, kemudian menggoyang-goyangkan telunjuknya. “Hm. . . Bukan. Bukan itu. Salah besar. Sebenarnya, Naeun sampai mau pergi ke New York adalah karena saranmu malam itu. Dia bilang, kau selalu menebak sesuatu dengan benar mengenai dirinya. Jadi, dia memutuskan untuk menuruti orang tuanya.”

“Kalau saja malam itu aku dan Eunji yang ada di sana. . .  Aku yakin, Naeun tidak akan pernah setuju untuk pergi ke New York!” kata Bomi dengan semangat. “Kalau bukan karena kau, dia tidak akan pernah setuju ke sana.”

“Justru bagus,” kata Myungsoo.

Lagi-lagi, Eunji dan Bomi langsung melirik laki-laki itu.

Myungsoo hanya mengabaikan mereka berdua. Ia menenggelamkan tubuhnya di atas jok belakang taksi. Tak mempedulikan dengan Bomi dan Eunji yang mulai berbicara tanpa suara, meskipun ada dirinya di tengah-tengah mereka.

“Laki-laki ini benar-benar tidak pandai mengungkapkan perasaan,” gumam Eunji.

“Aku punya caraku sendiri, Jung Eunji-ssi.” Myungsoo memejamkan matanya. “Kau tidak usah berkomentar. Bangunkan aku ketika kita sudah sampai. Aku tidak mau ditarik-tarik lagi seperti tadi.”

“Baiklah, Tuan Kim.”

Selama setengah jam ke depan, Myungsoo tertidur pulas. Sementara itu, Eunji dan Bomi berbincang-bincang mengenai masalah yang tidak terlalu penting, seperti drama Korea yang baru tayang tadi malam, pernikahan selebritis Korea, dan juga album-album Kpop yang baru rilis beberapa waktu lalu.

“Kim Myungsoo, bangun. Kita sudah sampai.” Bomi membangunkan laki-laki itu.

“Uh. . .” Myungsoo mengeluh pelan, lalu mengerjapkan matanya. “Baiklah.”

Myungsoo melangkah keluar dari taksi tersebut, diikuti oleh Eunji yang berada di belakangnya. Gadis itu membayar tagihan taksi dan segera menyusul Bomi dan Myungsoo yang telah melangkah duluan.

Sebelum melalui pintu utama, Myungsoo mengecek jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 3 sore dan artinya masih ada waktu seperempat jam lagi sampai penerbangan menuju New York.

Mereka melangkah dengan cepat menuju terminal utara. Eunji dan Bomi meneriaki nama Naeun sepanjang jalan. Sementara itu, Myungsoo mencari gadis itu menggunakan matanya karena dia tidak mau mempermalukan dirinya.

Ketika mereka tiba, justru Myungsoo dahulu yang menemukan sosok gadis itu.

“Son Naeun!”

Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya sebelum benar-benar melalui pintu pengecekan. Sementara itu, Dongwoon meninggalkan gadis itu ketika melihat Myungsoo. Myungsoo berlari menghampiri gadis itu.

“Apa yang kau lakukan di sini, Kim Myungsoo?”

“Uh. . .”

“Aku harus berangkat sekarang.”

“Kalau begitu, berjanjilah padaku satu hal.”

Naeun mengerutkan keningnya bingung. Namun, Myungsoo justru menatapnya dalam-dalam, membuat jantung gadis itu berdegup tak karuan. Ia juga mulai merasakan bahwa pipinya memanas mendapati tatapan sedalam itu.

Myungsoo mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kotak persegi panjang, berwarna hitam. Ia meraih tangan Naeun, kemudian meletakkan kotak itu pada tangan Naeun. Laki-laki itu lagi-lagi menatap wajah mata gadis itu.

“Berjanjilah satu hal.”

“Iya, baiklah. Apa?” tanya Naeun setengah kesal.

Meskipun di dalam hati Naeun, Naeun berteriak kesal karena Myungsoo terus-menerus menatap matanya tanpa mengalihkan pandangannya. Naeun kesal karena dia tidak bisa menyembunyikan rona wajah yang telah membuat wajahnya seperti kepiting rebus.

“Kembalilah padaku dengan menggunakan ini.”

“Apa maksud—”

Sebelum Naeun menyelesaikan ucapannya, laki-laki itu menarik Naeun ke dalam rengkuhannya, kemudian mengecup bibirnya. Setelah ciuman singkat itu, Myungsoo membalikkan tubuh Naeun, kemudian mendorong gadis itu ke dalam antrian.

Eunji dan Bomi yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa tersenyum sambil tekekeh pelan memperhatikan reaksi sahabat mereka. Naeun yang berada di dalam antrian pun menoleh ke belakang untuk mengecek Myungsoo. Namun, Myungsoo telah membalikkan tubuhnya kembali pada Eunji dan Bomi.

“Kim Myungsoo. . . Laki-laki itu benar-benar suka membuatku kesal.”

 

fin. 

June 29, 2016 — 00:00 A.M.

::::

a.n.: Gak kerasa fan-fiction ini sudah selesai. Tapi, nanti aku juga akan update epilognya. Hampir satu tahun aku menyelesaikan fan-fiction ini. Terkadang, aku merasa aku masih amatir dengan cerita yang aku buat, karena aku merasa konflik yang aku buat belum bisa membuat pembaca terlalu tertarik. Selama ini, mohon maaf, untuk keterlambatan update dan hal-hal lain seperti typos atau alur cerita yang tidak menarik.

Tapi, aku mau ucapkan terima kasih kepada seluruh reader yang sudah komentar dan like terutama. Karena komentar dan like kalian sangat berpengaruh kepada cerita ini. Semakin banyak komentar dan like yang kalian lakukan, semakin semangat aku untuk update. Akhir kata, jangna lupa tetap baca fan-fiction yang aku buat meskipun cast-nya bukan Kim Myungsoo-Son Naeun. Tapi, aku usahakan aku akan bikin banyak fan-fiction dengan cast Myungsoo-Naeun.

Jangan lupa komentar, like, rate, dan segala macam feedback lainnya, ya! Sampai jumpa di fan-fiction selanjutnya!♥

10 thoughts on “[Final Chapter] Forbidden Love

  1. Oh yeah! Aku ga ngira bakal end di chap 10 xD uhuhu meskipun moment hojinya hilang(?)dan ga dibuat detail perasaan suka seorang kim myungsoo ke son naeunnya.sempet ngira myungsoo ga ada perasaan suka ke naeun karena ga digambarin begitu jelas perasaannya myungsoo, karena mikir yang dilakuin myungsoo ke naeun semata mata selalu karena dongwoon hahaha xd taunya…..ya memang myungsoo punya cara sendiri buat ngungkapin perasaannya muehehe . Aku tetep suka endingnya yang sweet seperti yang komen hahaha jujur dari awal baca ff ini tertarik cuma karena castnya bcs I’m myungeun shipper hard x)) tapi kesininya aku mulai suka jalan ceritanya karena selalu dibikin penasaran sama chap selanjutnya…jangan ngerasa kamu penulis amatir karena buat nuangin ide dikepala kedalam tulisan itu ga gampang, /ini curhat lol. Mungkin aku bisa request ke kamu buat dibikinin ff dari ide yang ada dikepala aku?!? Wkwkwk. jadi terus belajar supaya lebih baik lagi!? Tetep semangat ngebuat fanfiction lainnya yang lebih seru^^ berharap banget sequelnya myungeun moment yg romantis sekaliiii hahahaha semoga authornya ga pegel baca komenan orang bawel ini ya allah xD fighting!

    • waaah makasih banyak untuk komentar super panjangnyaaa. yap benar disini emg ga terlalu dijelaskan gimana perasaan myungsoo ke naeun walaupun emg secara tersirat.

      aku emg sengaja menghapus moment hoji karena main cast lainnya itu krystal-kai hehehe. tp sebagai saran makasiiih.

      wah makasih banyak hehehe. boleh bangeeet sebenernya aku buka kayak request ff gitu tapi ga jalan/? parah nih emg. tp kalo mau kasih ide sangat membantu sekalii.

      akhir kata makasih banyak udah baca dan komentar. juga untuk semangatnya! sampai bertemu di ff myung-eun yang laiin hehehe♡

      • Hahaha komen yang panjang itu untuk menghargai para author tanpa tanda jasa lmao xD

        wiihhh nanti mungkin saat ada pencerahan/? bisa request hahaha ‘3’ ada wp pribadi??ditunggu ff myungeun lainnya ^^

  2. Wuihhh,,akhrny slesai jga ni fanfic,,nga trsa jga klo ni ff ampir s’tahun,,lma jga ya,,authorny emank Daebak lah😀😀😀,,
    D tnggu epilogny ni,,n d tnggu jga another fanfic MyungEun,,😄😄
    Keep writing n fighting,,Kamsa^^😘😘

  3. Astagaaaa astagaa udh end ajaaa 😭😭😭😭😭😭
    Ahh myungsoo pkek sok sok gengsian segala wkwkwkw klo smpe dia telat ketemu naeun terus naeun udh berngkat begimna ??
    Wkw
    Daebakk ceritanyaa tpii rada ngegantungg 😂😂 apa bkal ada squelnya ini kah ? /ngarep/
    Wahh semua dah jdi satu ya jongi X krystal myungsoo X naeun wkwkwkw
    Daebakkk suka dah sma tulisan young😀

    • haloo! iya nih udah beres. kalau gak ketemu, ya ceritanya gak beres wkwkwk. bakal ada lanjutannya😄 makasih banyak udah baca dan komentaar😀

      makasih juga udah suka sama fan-fiction ini sangat membantu komentarmu. sampai jumpa di fan-fiction yang lainnya yaa❤

  4. Aku bgug harus seneng atau sedih bgtu tau fanfic ini slesai :’) cuma mw komentar sdikit ttg final part “KIM MYUNGSOO KAU MENYEBALKAN” tp itu yg bakal dikangenin dr fanfic forbidden love ini huhu. After all yg pasti aku mw ucapin makasi jg buat young krn udh ngisi hmpir setahunku ini dg fanfic ini krn tbh lg rindu to the max sm moment myungeun yg tak kunjung dtg hehe. Mnurut ku kamu bukan penulis amatir kok, alur kamu cukup menarik bikin readers penasaran dan tulisan kamu rapi jd enak dibaca tp msh perlu perbaikan dr typos, pengembangan alur cerita dll krna ku tau jd penulis itu gk mudah. So keep writing young dtggu karya lainnya yah!😊♥

    • waaah makasih banyak untuk komentar yang bikin aku terharu ini sungguhㅠㅠ yang pasti ditunggu aja tahun depan pasti aku update ff myungeun lagi semoga hehehe. makasih banyak udah baca dan komentar yang panjang ini. makasih juga untuk pujian dan sarannya♡ aku pasti akan terus ningkatin penulisan aku🙂 sampai jumpa di ff yang lain!😃♡

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s