Awakened

tumblr_ngdnl0nzcW1t2pbr2o4_1280

Awakened

 

by ree

 

Casts: CNBLUE’s Kang Minhyuk  || Genre: romance || Rating: PG-15 || Length: vignette || Disclaimer: inspired by Urban Zakapa’s I Don’t Love You

 

 

 

 

 

“Sometimes you have to accept the fact that certain things will never go back to how the use to be.

 

 

 

***

 

 

 

 

Sebuket bunga daisy putih dan sebuah lilin dalam gelas kecil seolah menjadi saksi dari kebisuan dua muda-mudi malam itu. Hawa canggung amat kentara di tengah-tengah mereka. Entah sudah berapa lama hal itu berlangsung, tidak ada yang tahu pasti. Bahkan alunan musik yang sayup-sayup terdengar dari panggung tidak berhasil menghangatkan suasana.

Minhyuk tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di tempat itu. Bagaimana ia bisa duduk di tengah-tengah kedai kecil di pinggiran kota yang jarang dikunjunginya. Bagaimana ia bisa duduk berhadapan dengan seorang gadis yang sudah tidak asing baginya, yang sejak ia datang hanya mengucapkan pertanyaan basa-basi ‘sudah lama?’ kemudian tertunduk diam.

Biasanya orang-orang akan melepaskan diri dari keheningan yang semakin lama semakin menyesakkan ini, namun Minhyuk memilih untuk bertahan. Ia tahu ada sesuatu yang ingin gadis itu sampaikan, dan ia akan menunggu.

Didengarnya gadis itu menghela napas panjang. Minhyuk, yang sejak tadi hanya memusatkan pandangannya pada bunga-bunga daisy putih dihadapannya, akhirnya menegakkan badan. Akhirnya tiba waktu gadis itu untuk bicara.

“Dari mana aku harus memulai?” gumam gadis itu, terdengar sedikit frustasi. Ia menyunggingkan senyumnya sekilas. Senyum yang Minhyuk tahu sama sekali tidak menggambarkan kebahagiaan. Gadis itu bahkan tidak menatap matanya.

“Aku…tidak pandai merangkai kata…” lanjutnya terbata. Minhyuk hanya diam. Ia tahu. Ia sudah menyiapkan diri, jadi rasanya kata pengantar sudah tidak lagi penting.

Melihat ekspresi Minhyuk, gadis itu juga nampaknya mengerti. Ia menarik napas sekali lagi sebelum berkata, “Mungkin kau sudah tahu, aku…” kepalanya tertunduk lagi, “…aku tidak mencintaimu…”

Sebisa mungkin Minhyuk menyembunyikan perubahan ekspresinya. Ia memang sudah siap mendengar hal terburuk, namun ia tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.

“Tidak ada alasan, Minhyuk. Aku… hanya tidak bisa…”

Rahang Minhyuk mengeras, sekeras kepalan tangannya yang ia sembunyikan di atas lututnya. Ingin rasanya ia pergi dari tempat itu, meluapkan emosi yang setengah mati ditahannya dengan melempar barang, menyalahkan pianis, pelayan, atau siapa saja karena ia tidak bisa menyalahkan gadis itu. Tapi untuk apa? Semua itu hanya akan menjatuhkan harga dirinya saja. Ia tidak berhak mengatur perasaan orang lain, sama seperti ia tidak berhak memiliki gadis itu seutuhnya.

Rasanya gadis itu pun tidak berbohong ketika mengatakan ia tidak pandai merangkai kata. Kalimatnya singkat, jelas, dan cukup tajam untuk mengoyak hati Minhyuk, mencabiknya menjadi serpihan-serpihan. Sampai detik ini pun lidah gadis itu masih kelu untuk mengucapkan kata maaf, yang tadinya Minhyuk harap bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.

Pria itu berusaha mengendalikan diri. Rasanya semua yang harus ia dengar malam ini sudah cukup. Gadis itu sudah menyampaikan intinya, jadi kenapa tidak sudahi saja pertemuan mereka?

Baru saja ia membuka mulut, dering alarm tiba-tiba menembus indera pendengarannya.

Tunggu. Alarm?

Pandangan Minhyuk mengabur dengan cepat. Semua yang dilihatnya tercampur aduk, berputar ke suatu titik, kemudian menghilang. Persis seperti genangan air yang masuk ke dalam lubang wastafel. Bertepatan dengan menghilangnya pandangan itu, semuanya berubah menjadi gelap, disusul dengan munculnya cahaya putih terang yang membuatnya silau. Beberapa detik kemudian, dilihatnya sebuah dinding abu-abu berhiaskan foto keluarga yang dipajang rapi dalam pigura.

Oh, pandangan yang selalu ia lihat ketika terbangun di pagi hari.

Minhyuk mendudukkan tubuhnya. Baru ia sadari napasnya terengah-engah. Ia mengusap wajahnya dan menopangkan dahinya dengan satu tangan.

“Astaga, mimpi itu lagi…” selama beberapa saat ia tetap dalam posisinya, berusaha mengingat kembali apa yang dilihatnya dalam mimpi. Namun semakin ia menggali, semakin dalam memori itu terkubur. Ia tidak benar-benar ingat.

Minhyuk mendapatkan kesadaran sepenuhnya ketika suara meongan yang khas menghampiri indera pendengarannya. Ia menoleh ke sisi kiri tempat tidurnya. Tidak butuh waktu lama bagi Chichi dan Ddadda—kedua kucing kesayangannya—untuk menghadirkan senyum di wajah Minhyuk. Tepukan lembut tangan pria itu di atas kasur seolah ingin menunjukkan bahwa mereka datang di waktu yang tepat.

Baik Chichi maupun Ddadda mengikuti naluri mereka untuk melompat ke atas kasur tepat dimana Minhyuk menepukkan tangannya. Minhyuk memeluk kedua makhluk mungil berbulu itu. Chichi dan Ddadda tidak akan mengerti bagaimana ia sangat bersyukur memiliki mereka di tengah kehidupan yang terkadang membuatnya ingin menjerat leher sendiri.

Minhyuk mengeratkan pelukannya, “Hari ini dingin sekali, ya…”

 

***

 

“Kau sudah janji padaku.”

Minhyuk menurunkan secarik kertas yang sedang dibacanya. Yang ia lihat pertama kali adalah sebuket besar bunga beragam jenis yang baru saja diletakkan di atas meja. Sejurus kemudian, sebuah album musik bergambarkan empat orang wanita tersodor tepat ke depan wajahnya.

Minhyuk mendongak. Solbin, gadis yang beberapa bulan terakhir ini menjadi rekannya sebagai pembawa acara di salah satu acara musik, sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan memohon. Minhyuk memandangi bunga dan album itu bergantian. Rasanya ia mengerti.

“Jadi ini sogokan?” tanyanya sinis, merujuk pada sebuket bunga yang dibawa Solbin.

“Aku tidak keberatan mengirimimu bunga setiap minggu kalau kau mau menepati janji.”

“Aku tidak pernah berjanji. Kau yang memaksa.”

“Ayolaah… jangan sombong begitu,” Solbin mengerucutkan bibirnya. Sebagai fans salah satu grup idola kenamaan Korea Selatan, f(x), ia tentu tidak ingin melewatkan kesempatan emas selama berada satu panggung dengan mereka, “Hari ini adalah hari pertama mereka tampil disini tahun ini. Tidak lucu kalau aku baru meminta tanda tangan mereka minggu depan.”

“Kau dan mereka sama-sama wanita. Profesimu juga sama seperti mereka. Bukankah lebih mudah kalau kau memintanya sendiri?”

“Tapi kau ‘kan dekat dengan Sooj—“

“Kami tidak sedekat yang kau kira,” potong Minhyuk.

Entah kenapa setelah Minhyuk mengatakan hal itu, suasana langsung menjadi hening. Solbin menghentikan celotehannya dan menatap pria itu kaku. Minhyuk baru sadar jika nada suaranya meninggi ketika mengatakannya, makanya gadis itu menjadi terkejut.

“Kenapa… kau jadi marah?” tanya Solbin takut-takut.

Minhyuk mendengus. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya, “Aku tahu manajer mereka. Aku akan bicara padanya agar kau bisa menemui mereka.”

Solbin tidak merespon. Ia masih heran dengan sikap Minhyuk yang berubah tiba-tiba. Minhyuk tahu itu, jadi ia memutuskan untuk segera meninggalkan ruangan. Dalam hati ia merutuki diri sendiri yang telah bertindak bodoh. Ia benar-benar terdengar seperti orang putus asa.

Pria itu melangkahkan kakinya di sepanjang lorong. Entah kemana ia pun tak tahu. Ia perlu menenangkan pikiran agar kembali fokus. Bahkan sapaan dari beberapa hoobae hanya direspon seadanya.

Langkah Minhyuk terhenti ketika melihat sosok seorang gadis yang sedang berdiri menghadap dinding tidak jauh dari sana. Sosok yang tidak asing baginya. Atau lebih tepatnya, sosok yang belakangan ini selalu ingin ia hindari. Ia sama sekali tidak berniat untuk menyapa gadis itu, terlebih saat melihat sebuah ponsel dalam genggamannya.

“Ya, ya, Tuan Kim Jongin… Aku akan tampil sebentar lagi. Doakan aku, ya.”

Bahkan dalam jarak beberapa meter suara lirih gadis itu masih tertangkap indera pendengarannya. Entah karena ia yang terlalu peka, atau tubuhnya yang mendadak menjadi lebih peka tiap kali melihat gadis itu?

Entah apa yang menahan Minhyuk sehingga pria itu hanya berdiri diam. Hingga akhirnya gadis itu menolehkan kepala ke arahnya. Rasanya waktu terhenti selama beberapa saat.

Mata mereka bertemu.

Tidak jauh berbeda dengan Minhyuk, gadis itu juga terdiam. Pandangannya sulit diartikan. Minhyuk tidak ingin menerka dan tidak ingin lagi bersembunyi. Ia menatap gadis itu datar, memastikan bahwa ia akan baik-baik saja. Memastikan tidak ada perasaan apa pun yang akan muncul.

Perlahan gadis itu menurunkan ponsel dari telinganya. Entah sadar atau tidak, ia mengabaikan suara pria yang sayup-sayup masih terdengar di seberang telepon. Gadis itu membuang pandangan dan menelan ludah. Ia berusaha bersikap biasa, namun tampaknya sia-sia.

“Minhyuk, kau harus siap-siap. Lima menit lagi kita mulai,” kedatangan sutradara membuyarkan selubung tak kasat mata di antara mereka.

Seolah tidak terjadi apa-apa, Minhyuk tersenyum dan mengangguk, “Baik.”

Pandangan sang sutradara beralih ke arah gadis itu, “Soojung? Kenapa masih disini? Bukankah waktu latihanmu sudah selesai? Sekarang bersiap-siaplah dengan anggota yang lain.”

Minhyuk segera beranjak meninggalkan tempat tersebut. Ia tidak ingin membuang waktu melihat respon Soojung. Entah nantinya gadis itu akan memandangi kepergiannya atau lanjut menelepon, ia tidak peduli. Lebih tepatnya, ia sudah tidak ingin peduli.

Ia sudah lelah terjebak dalam mimpi yang sama. Ia ingin segera bangun.

 

***

 

 

 

 

_______________________________________________________

Halo! Wiih… udah lama banget ya kayaknya aku ga nulis. Bandelnya aku, bukannya ngedraft skripsi malah nulis FF *lahlubelomlulusjuga?-_-*

Jangan terlalu dianggep serius ya cerita di FF ini, namanya juga fiksi. Waktu denger lagunya Urban Zakapa yang menyayat hati itu, terbersitlah ide cerita ini. Jadi anggep hiburan aja. Dibikin baper boleh, tapi jangan berlebihan *lahapaansih*

Sangat disarankan mendengarkan ‘I Don’t Love You’-nya Urban Zakapa waktu baca scene pertama.

Oh iya, aku pengen minta pendapat kalian dong, mending pasangan-pasangan CNBLUE di FF yang bakal aku bikin selanjutnya tetep sama kayak di Blue Medley atau diganti? Soalnya ‘kan… ehem… ya taulah ya, beberapa ada yang udah punya pasangan di dunia nyata. Dan jujur aku jadi kurang nge-feel waktu nulisnya. Menurut kalian gimana?

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Sampai ketemu di FF selanjutnya!🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s