Panggil Aku, Ayah

By : MissFishyJazz

.

Choi Seunghyun (T.O.P), Son/Choi Naeun

.

One-Shot // Family \\ PG-13

.

Inspired by Beyonce – Daddy

 Panggil Aku Ayah

Naeun memanjat dinding kamarnya dan mengendap melalui balkon yang terhubung ke balkon ruang tengah lantai dua rumahnya. Dengan perlahan ia mendaratkan kaki telanjangnya di ruang tengah yang temaram dan begitu hening. Jantungnya berdetak cepat, mengantisipasi kedatangan siapapun yang bisa mengganggu misinya.

“Choi Naeun..”

Ohh tidak.

“Hai, Ayah..” Naeun memutar tubuhnya paksa dan melihat sosok tinggi besar yang berada di depan salah satu pintu bercat putih. Sosok tinggi itu menyalakan lampu ruang tengah dan membuat Naeun bisa melihat bagaimana dua alis kokoh itu terangkat melihat anaknya—siapa lagi kalau bukan si ceroboh Naeun—yang mengacungkan dua jarinya membuat tanda perdamaian.

“Kembali ke kamarmu, sekarang.” Choi Seunghyun menunjuk kamar lain dengan pintu putih bercorak garis garis dan papan kayu “NAEUN” di depannya. Namun Naeun hanya menggeleng malas.

“Tidak mau. Aku benar-benar tidak bisa tidur dan bosan di kamar, ijinkan aku keluar Ayah.” Naeun menggosok gosokkan tangannya di depan wajahnya yang menunduk meminta ijin agar diperbolehkan keluar malam ini. Tapi yang ia jumpai hanya ayahnya yang menariknya masuk ke kamar. Naeun sudah takut setengah mati jika ia akan dikunci di kamar seperti biasanya jika ia ketahuan kabur dari rumah karena insomnia dadakan.

Dan.. Naeun terpaksa membulatkan matanya lebar-lebar karena menjumpai ayahnya duduk terlebih dahulu di ranjang empuk dengan seprai biru langitnya dan menepuk bantal nyamannya, tanda Naeun harus segera berbaring di sana.

“Kemari..” Seunghyun mengayunkan tangannya menyuruh putri semata wayangnya mendekat.

Naeun akhirnya memilih untuk berbaring dalam area yang sudah ditunjuk oleh ayahnya dan melihat wajah ayahnya yang juga menatapnya penuh kasih sekalipun bagi kebanyakan orang tidak akan terlalu nampak karena keseluruhan sosoknya yang dingin.

I remember when you use to take me on a

Bike ride everyday on the bayou (You remember that? We were inseparable)

“Kau ingat tidak ketika kau belajar naik sepeda pertama kali?” Seunghyun memulai pembicaraan yang lebih mencair. Tangan kirinya berada di atas kepala putrinya dan tangan kanannya mengusap rambut lembut anaknya yang tak jauh beda dengan istrinya. Apalagi aroma kacang almond mereka yang begitu hangat dan cocok di hidungnya.

“Tentu Ayah. Saat itu aku merasa sudah bisa dan ternyata ayah yang selalu memegangiku dari belakang.” Naeun mengerucutkan bibirnya dan Seunghyun tertawa kecil.

“Tapi begitu Ayah melepasmu kau langsung terjatuh kan?”

“Ya, dan setelah itu Ayah selalu berkata bahwa itu artinya kita tidak bisa dipisahkan.” Naeun tersenyum, yang langsung dilihat Seunghyun sebagai senyum duplikasi istrinya. Kadang kala melihat keserupaan Naeun yang amat dengan ibunya, Seunghyun akan bertanya-tanya bagian mana antara dirinya dan Naeun yang mirip.

And I remember when you could do no wrong

You’d come home from work and I jumped in your arms when I saw you

I was so happy to see you (I was so excited, so happy to see you)

“Ayah..”

“Ya?”

“Apakah sekarang Ayah masih sehebat dulu?” Naeun menatap Seunghyun ragu-ragu dan pria tua itu menatapnya dengan alis kembali bertaut.

“Tentu saja! Buktinya aku menjadi ayahmu yang paling hebatkan?” Naeun hanya mengangguk kemudian mengecup pipi ayahnya singkat, “ehem, Choi Seunghyun adalah ayah yang terhebat!”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Karena ada saat saat dimana aku merindukan ketika aku masih kecil dimana aku bisa menerjang ayah ketika ayah pulang dari kantor dan bermain di lengan ayah. Jika aku melakukannya sekarang, ayah bisa mati keberatan,” keduanya terbahak bersama. Benar juga. Sekalipun Seunghyun nampak kekar tapi tetap saja umur sudah mulai mengeroposkan kekuatannya. Menggendong Naeun dengan satu tangan seperti ketika gadis itu masih enam tahun tentu tidak semudah itu lagi.

Because you loved me I overcome

And I’m so proud of what you’ve become

You’ve given me such security

Naeun menelusupkan wajahnya di antara lipatan piyama tidur ayahnya. Ayahnya masih beraroma seperti laut lepas yang terhampar bebas setiap saat di matanya. Aroma ayahnya selalu sama. Membuatnya begitu bahagia dan aman. Naeun ingat ketika ia masih kecil, Naeun yang begitu mungil tidak seperti ayahnya yang tinggi besar serta Naeun yang memiliki kulit yang begitu putih seperti ibunya membuat ia begitu mudah ditindas di sekolahnya. Anak-anak lelaki di kelasnya sering mengejeknya mayat hidup, sering mengambil bekalnya bahkan menarik ikat rambutnya. Naeun tidak bisa melawan dan hanya menangis. Namun suatu hari ayahnya yang bak pahlawan datang dan menyelamatkan Naeun, ayahnya memberikan tatapan paling menakutkan pada semua anak yang mengerjainya. Ayahnya selalu berkata, “seharusnya Naeun bercerita pada Ayah tentang apa yang Naeun rasakan. Ayah bisa mencubit mereka jika Naeun mengadu dari dulu.” Sembari membelainya dengan penuh kasih.

No matter what mistakes I know you’re there for me

You cure my disappointments and you heal my pain

You understood my fears and you protected me

Treasure every irreplaceable memory and that’s why…

“Aku takut kedepannya kau akan melakukan banyak kesalahan, Tuan putri.” Seunghyun menatap Naeun yang tengah menerawang dengan cemas. Putrinya, bagaimana jika karena semua kasih sayang berlebih yang ia berikan selama ini Naeun tumbuh menjadi gadis manja yang justru akan menyusahkan banyak orang?

“Aku tidak akan membuat banyak kesalahan Ayah. Aku berjanji. Lagipula jika aku melakukan kesalahan kan aku tinggal pergi menemui Ayah dan pasti Ayah akan memaafkanku.”  Naeun tersenyum gusar ketika matanya mulai memanas melihat sorot cemas Seunghyun yang wajar menurut apa yang ia dengar.

“Tapi setelah ini ayah tidak akan bisa banyak berbuat untukmu, setelah ini tanggung jawabmu bukan ada di pundak ayah lagi.”

“Justru itu yang kutakutkan. Aku takut tidak semua orang nanti akan mengerti tentang kekurangan, kesalahan dan ketakutan yang aku miliki seperti yang selama ini ayah mengerti.” Seunghyun mengusap mata anaknya yang mulai berair dan memeluk anaknya dalam hangat dan mencium kecil puncak kepala anaknya.

I want my unborn son to be like my daddy

I want my husband to be like my daddy

There is no one else like my daddy

And I thank you for loving me

“Ayah..”

“Ya?”

“Aku ingin memiliki suami dan anak seperti ayah. Yang bisa menjagaku, mengertiku, mencintaiku, dan merawatku sepertimu.” Naeun menangis terharu begitu mengucapkannya, ia masih ingin hidupnya dipenuhi ini-itu dari ayahnya yang sangat protektif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan apapun yang menyangkut dirinya.

Hey, bukankah harusnya kau yang menjaga, mengerti, mencintai, dan merawat anakmu?” Seunghyun tertawa parau karena pertahanannya menahan tangis yang mulai bergetar.

“Tapi aku inginnya seperti itu!”

“Baiklah baiklah, Tuan Putri akan mendapatkan yang diinginkannya dari Raja.” Mereka tertawa lagi tapi dengan suara yang lebih sengau menahan tangis.

I still remember the expression on your face

When you found out I’d been on a date and had a boyfriend (My first boyfriend, you should have seen your face)

Tak sengaja mata Seunghyun menatap sebuah boneka berwarna putih yang begitu tertata rapi di nakas samping tempat tidur putrinya. Boneka itu boneka salju yang memakai syal warna hijau merah lengkap dengan topi musim dingin dan hidung yang memanjang layaknya pinokio.

“Ayah masih ingat ketika ayah menangkap basah dirimu berkencan dengan pacar pertamamu dan dia memberikan Snoby padamu. Ahh siapa namanya? Tae, Taem? Taehyun? Taemun?” Seunghyun mencoba mengingat nama seorang bocah cungkring yang usianya hanya satu tahun di atas putrinya yang kala itu baru menginjak tujuh belas tahun.

“Taemin.”

“Ya itu! Dan aku masih ingat ekspresimu yang menahan malu dan Taemin yang ketakutan. Kalian sungguh menggelikan.” Seunghyun kembali tertawa sembari melihat wajah putrinya yang sudah semerah kepiting rebus.

Words can’t express my boundless gratitude for you

I appreciate what you do

You’ve given me such security

No matter what mistakes I know you’re there for me

You cure my disappointments and you heal my pain

You understand my fears and you protected me

Treasure every extraordinary memory and that’s why…

Seunghyun memutar radio berwarna kayu yang diberikannya ketika Naeun masih berusia 10 tahun. Anaknya begitu lembut, penyayang, dan sabar seperti ibunya. Naeun bisa menjaga benda kecil yang merupakan hadiah kecil dadakan Seunghyun hingga saat ini.

Seunghyun memutar saluran gelombang radio asal dan menemukan sebuah lagu lama yang terputar sebagai pembuka acara edisi malam yang entah kenapa menggelitik hati Seunghyun.

“In my daughter’s eyes I am a hero

I am strong and wise and I know no fear

But the truth is plain to see

She was sent to rescue me

I see who I wanna be

In my daughter’s eyes..”

Naeun bisa mendengar lagu dengan volume sedang itu juga. Lagu itu lagu ‘milik’nya dan ayahnya tercinta. Ketika ibunya dulu sibuk menjaga neneknya yang diujung usia, Naeun dan ayahnya akan pergi ke atap rumah, menatap bintang dan menyanyikan lagu di radio itu dengan suara berat yang membuat kucing tetangga terjatuh berulang kali dari ujung pagar.

“..In my daughter’s eyes everyone is equal

Darkness turns to light and the world is at peace

This miracle God gave to me gives me

strength when I am weak

I find reason to believe

In my daughter’s eyes..”

Seunghyun merasakan air mata yang turun dari pipinya. Air mata yang entah kapan terakhir turun dari ujung pelupuknya, mungkin ketika Naeun lahir, mungkin juga ketika beberapa tahun lalu Naeun terjebak dalam sebuah kecelakaan fatal dan membuat putri kecilnya berada dalam masa kritis selama nyaris satu bulan.

“…And when she wraps her hand

around my finger

Oh it puts a smile in my heart

Everything becomes a little clearer

I realize what life is all about

 

It’s hangin’ on when your heart

has had enough

It’s giving more when you feel like giving up

I’ve seen the light

It’s in my daugter’s eyes…”

Mereka menyanyi lagi. Bersama-sama dan dengan suara yang begitu memekakkan telinga. Suara Naeun yang ringan dan menjadi begitu serak karena menangis digabung suara baritone super berat Seunghyun. Seperti perpaduan yang paling dicoret oleh para musikus dunia. Tapi siapa peduli kata para musikus? Toh mereka menyanyi hanya untuk mereka sendiri. Hanya untuk mengeluarkan memori-memori yang masih mereka simpan jauh di dalam lubuk hati.

“..In my daughter’s eyes I can see the future

A reflection of who I am and what will be

Though she’ll grow and someday leave

Maybe raise a family

When I’m gone I hope you see how happy

she made me

For I’ll be there..”

Naeun menatap Seunghyun dalam, ayahnya begitu menyayanginya. Ayahnya begitu mencintainya apa adanya. Ayahnya yang selalu berusaha menjadi apapun yang ia mau. Ayahnya yang selalu mendengar apapun yang ia ceritakan lebih daripada ibunya. Ayahnya yang selalu cemburu ketika dirinya dekat dengan ibunya. Ayahnya yang rela berebut jatah tidur bersamanya waktu kecil bersama ibunya. Ayahnya, ayahnya, dan ayahnya.

“…In my daughter’s eyes.”

Seunghyun memeluk Naeun rapat-rapat. Merasakan dadanya yang basah bersama setiap tetes air mata yang selama 24 tahun ini ia cegah untuk turun. Dadanya menjadi hangat ketika ia bisa mengulang memori memori yang ia anggap sudah Naeun lupakan atau bahkan ia anggap sebagai pengalaman konyol.

“Ayah tahu apa yang tidak berubah dari lagu ini?”

“Apa?”

“Suara kita yang bisa membuat kucing tetangga bangkit dari kuburnya.” Seunghyun dan Naeun kembali tertawa, sengau, dan terdengar aneh. Namun kadangkala sebagai daddy’s daughter kenangan inilah yang akan dengan begitu rapat disimpan Naeun dan diceritakan kepada anak-anaknya kelak.

Kenangan-kenangan konyol, ambigus, membosankan, bodoh, dan terkadang tidak penting sama sekali.

Even if my man broke my heart today

No matter how much pain I’m in I will be okay

Cause I got a man in my life that can’t be replaced

For this love is unconditional it won’t go away

“Jangan pernah menangis lagi Naeun, tetaplah tersenyum. Ayah akan selalu ada disini dan melindungimu.” Seunghyun bergerak menggeser tubuhnya ke tengah ranjang dan membenamkan Naeun lebih dalam lagi dalam tangan-tangan kokohnya. Ia tidak mau terlihat begitu konyol di saat-saat seperti ini bagi Naeun dengan menangis layaknya bayi yang belum disusui.

“Aku tahu Ayah tidak akan pergi.. Hanya saja aku takut suatu hari tanpa ayah. Bagaimana jika ada pria yang mematahkan hatiku lagi? Aku kan tidak bisa lagi melupakannya dengan mudah karena ada ayah.” Naeun menangis sesenggukan seperti anak kecil kehilangan topinya di festival kota. Naeun menangis takut-takut walau kenyataannya ia membiarkan Seunghyun memarahinya lagi karena hal-hal kecil yang sepele.

“Dengar, tidak akan ada lagi yang akan mematahkan hatimu. Ayah akan langsung melindas mereka dengan mesin berat di perusahaan ayah jika siapapun pria itu berani melakukannya.” Sosok pria mapan yang memiliki keluarga bahagia. Itulah Seunghyun. Ia begitu bersyukur lahir sebagai sosoknya sekarang. Duduk di balik meja presiden direktur perusahaan konstruksi tapi selalu diduduki putrinya di balik meja makan rumahnya. Hidupnya terasa begitu lengkap selama 26 tahun pernikahannya. Istri yang begitu ia cintai dan mencintainya, anak yang begitu manja dan waktu kebersamaan mereka yang tak pernah lekang.

I know I’m lucky

Know it ain’t easy

For men who take care of their responsibilities

Love is overwhelming

“Dulu ibu bermimpi apa hingga bisa mendapatkan pria seperti Ayah, ya?” Naeun mengeluarkan kepalanya dari sesaknya pelukan Seunghyun. Melihat Seunghyun yang memutar matanya setengah bingung.

“Mungkin ibumu bermimpi bertemu pangeran berkuda putih?”

“Mana mungkin! Ayah kan tidak pernah bisa naik kuda! Waktu kita ke kandang kuda kakek saja ibu mempermalukan ayah setinggi langit!” Naeun memukul pundak Seunghyun asal dan tertawa renyah setelahnya. Ia ingat ketika hari itu ibunya mengendarai Princa—kuda yang memang berwarna putih dan harusnya dimiliki ayahnya—tapi kuda itu justru meringkik keras dan berlari menjauh ketika melihat Seunghyun berjalan ke arahnya. Alasannya sederhana saja, Princa dan Ellise—kuda warna hitam yang sekarang jadi kudanya—sering sekali diajak berkelana oleh Seunghyun dan berakhir di bawah jurang atau pun tersangkut di jaring para pemburu.

“Princa mungkin hanya sedang datang bulan saja saat itu, hingga ia anti melihat pria.” Seunghyun memilih jawaban sekenanya yang lewat di otaknya untuk menjunjung harga diri.

“Ayah.. Tapi Princa kan kuda jantan, mana mungkin kuda jantan bisa datang bulan? Ellise dan Gradsel yang kuda betina!” Naeun menahan tawa dengan wajah menggembung yang nyaris meledak saking merahnya. Bercampur antara tawa dan tangis yang tergugu.

“Oh, kata kakek dulu Princa itu betina.”

“Alasan saja, kakek kan yang meletakkannya di kandang jantan sejak lama!” Mereka kembali tertawa. Ahh, iya. Ada yang terlewat, satu bagian yang paling tak terlupakan dari mereka. Berdebatan menjelang atau tengah malam tentang hal-hal yang tidak terlalu bermutu dan berakhir dengan saling sungut dan berakhir lagi dengan tawa keras di meja makan ketika pagi. Ayah dan anak yang sama sama sekeras batu.

Lord why did you pick me

Can’t stop my tears from falling

I love you so much daddy

Secara bersamaan mereka melirik jam di dinding berhadapan dengan ranjang. Jam yang selalu digunakan Naeun untuk mencegah keterlembatannya ke sekolah atau kantor. Jam putih gading itu menunjuk angka dua di jarum pendek dan angka empat di jarum panjangnya. Waktu yang sangat larut untuk tidur. Tapi mereka harus tidur.

“Aku mencintai ayah.” Naeun berkata dengan suara rendah dan tentu masih penuh tangis yang mengisi ruang dadanya. Ternyata saat-saat seperti ini memang menguras air mata, kenangan, dan kata-kata. Ia ingin mengatakan lebih banyak prosa bagi ayahnya, namun yang keluar hanya klausa-klausa sederhana dan dengan begitu aneh bagi mulutnya yang terbiasa berkata absurd pada Sang Ayah.

“Dan ayah juga.” Seunghyun tidak peduli apa Naeun akan kesesakkan atau tidak, tapi ia ingin memeluk Naeun. Dengan bebas dan tanpa batas. Memeluk putri kecilnya yang selama ini selalu aman dan selalu ada dalam dua tangannya. Putri yang tidak pernah berlari ketempat lain ketika ia terjatuh, menangis, dan nyaris terpatahkan.

“Adakah yang bisa aku lakukan untuk menunjukkannya pada Ayah?” Naeun melihat Seunghyun tersenyum begitu lembut sebelum ia kembali menenggelamkan wajahnya yang tidak bisa diajak berkompromi diantara lengan ayahnya.

“Ada. Cukup panggil aku Ayah, sampai waktu tak berujung.”

Thank you, you’ve done so much for me. I love you daddy.

I get so emotional daddy, every time I think of you

I get so emotional daddy, every time I think of you

Suara tangis sengau itu berubah dengan teratur menjadi desah halus dan dengkuran yang nyaman. Naeun putri kecil Seunghyun telah tidur dan pergi ke langit-langit mimpi yang jauh. Dan mungkin malam ini Seunghyun tidak akan menyusul ke langit manapun itu, ia lebih memilih terjaga dan memanjatkan doa tak berujung pada Tuhan untuk putrinya. Seunghyun mengecup kening anaknya hati-hati takut putrinya retak kemudian patah, ahh, maksudnya terbangun.

“Sayang..” Seseorang membuka pintu kamar Naeun perlahan memasukkan siluet jenjangnya ke dalam kamar putrinya.

“Kau benar Bom, aku tidak bisa menahan tangisku.” Seunghyun melihat istrinya yang tersenyum tulus dan berjalan ke arah ranjang tempat Naeun masih tertidur lelap.

“Apa kataku. Kau sih tetap bersikeras menemaninya malam ini.” Bom menunduk membelai lembut rambut putri kecilnya yang telah terlelap dan terbuai di atas awan. Bom mengecup pipi anaknya dan ternyata ia menangis juga. Meneteskan satu tetes air mata cintanya pada anak yang ia lahirkan dengan susah payah, pada anaknya yang begitu ia cintai dengan seluruh darah dalam dirinya, pada anak yang seumur hidupnya tak pernah membuatnya menyesali keberadaannya.

“Ibu juga mencintaimu Naeun.” Bom mengusap rambut anaknya lagi dan menarik Seunghyun berlalu.

Namun pria keras kepala itu tetap pada tempatnya menunggui putrinya yang tertidur nyaman dalam balutan selimut warna cerah yang hangat.

“Sayang..”

“Aku ingin disini.. Aku tidak bisa meninggalkan Naeun.” Seunghyun mengusap airmatanya yang jatuh satu persatu dan membuat dadanya sesak.

“Sayang, apa kau masih tidak rela melepaskan Naeun untuk Kim Myungsoo?” Bom menatap manik suaminya dalam dan mengisyarakatan suatu hal yang dalam, membuat Seunghyun hanya merunduk kemudian bangkit.

Bom dan Seunghyun meninggalkan kamar anaknya dengan tangis yang satu persatu mengalir dan menetes. Ternyata melepaskan seorang anak perempuan yang mereka jaga dengan kedua tangan mereka sendiri untuk sebuah pernikahan yang tinggal menghitung jam begitu sulit. Seunghyun melihat satu contoh undangan yang tertinggal di atas meja samping ranjang kamarnya dan Bom. Undangan pernikahan warna putih dengan ornamen-ornamen klasik yang terlihat begitu mewah.  Tak menampik kenyataan bahwa tokoh utama keagungan itu adalah putri semata wayang bos perusahaan besar seperti Ch. Better Construction dan putra pertama pemilik kerajaan bisnis Momentum Corp.

The Royal Wedding

Of

Kim Myungsoo & Choi Naeun

 

Son of Kim Yunho and Kwon Yuri

&

Daughter of Choi Seunghyun and Park Bom

“Choi Better Construction..” Seunghyun mengusap lagi air matanya yang tidak pernah berhenti tiap mengingat tiap jam yang berlalu dengan begitu lambat.

“Better, Naeun. Naeun yang artinya Better dan Better yang artinya Naeun. Choi Naeun Construction.” Seunghyun tersenyum hangat, menatap fotonya bersama Naeun di piknik keluarga terakhir beberapa bulan lalu. Mereka tak lagi berdua seperti biasanya, tapi juga bersama Myungsoo yang saat itu melamar Naeun di depan seluruh keluarganya.

There is no one else like my daddy

No one else replace my daddy…

Naeun membuka matanya, mengerjap dan melihat pintu kamarnya yang tertutup dalam keheningan yang begitu nyata. Matanya masih berair tapi hatinya begitu hangat, “Ayah, Ibu, aku juga sangat mencintai kalian.”

His lonely back seemed so unfamiliar

I just watched him as he walked along

And tears just formed so I just cried

Because I hated myself for not knowing all this time

 

Because he always pretended to be calm and smiled

Because he always pretended to be strong in front of me

I didn’t even think of it, I thought I would never see it

So I didn’t know about his lonely back

 

I didn’t know back then, I was too young

You must have been lonelier than anyone else but I didn’t approach you

Now I finally know, I hope it’s not too late

These are the words I wanted to say so much, I love you forever

My father

 

After watching him for a long time

I ran to him and just hugged him

I wanted to just cry, I wanted to cry in his arms

Because my gratitude toward you was so sad

 

I didn’t know back then, I was too young

You must have been lonelier than anyone else but I didn’t approach you

Now I finally know, I hope it’s not too late

These are the words I wanted to say so much, I love you forever

My father

 

These are the words I wanted to say so much, I love you forever

My father

.SELESAI.

Song List :

  1. Song quotes : Beyonce Knowles – Daddy
  2. Radio’s / Seunghyun & Naeun’s Song : Martina McBride – In My Daughter’s Eyes
  3. Last song : BToB – Father

notes :

HELLO!! Saya merilis FF aneh bin nggak unyu karena sekedar ingin. Nggak tau kenapa kemarin waktu denger suaranya Beyonce sebagai penghibur kepusingan saya akibat twerking-nya Cyrus di VMA langsung dapat lampu yang menyala di atas kepala saya!

Hihihihi. Maaf ya untuk ketidak bertanggungjawaban saya. Maklum penjurusan masih belum jelas nih di sekolah saya jadi tidak bisa ditentukan kapan saya akan kembali dengan pasti.

Saran, komentar, keritik, like atau sekedar apapun yang bisa kalian ketik sangat dinanti ^^

Advertisements

26 thoughts on “Panggil Aku, Ayah

  1. aku nangis bacanyaa… 😥 jadi inget gimana selama ini sama papa.. bagus bangettt……… sumpah aku ampek sesenggukan bacanyaaa…

    teruss berkaryaa yaaa… hwaiting

  2. Entah kenapa langsung inget quotes ayahnya eunji di reply1997 ‘sebagaimana sibuk dan repotnya kita membesarkan anak, saat sudah dewasa mereka hanya akan menjadi tamu di rumah kita’ *brb nangis kejer*

    Tenggorokan aku rasanya udah kaya mau dicekik (saking nahan nangis) padahal umur aku masih 15 tahun, tapi udah ngebayangin gimana nanti kalo 20 atau 30 tahun dari sekarang ada hari dimana aku harus ngelepas anak tercinta dan membiarkan mereka membuat keluarga sendiri *sobs*

    Dan buat choi seunghyun dan park bom asdfghjkl aku no comment aja deh. THAT ALIEN COUPLE IS ACTUALLY HILARIOUS KENAPA INI NGGA JADI KENYATAAN AJA SIH *mulai gila*. Pokoknya good job lah *wipes tears*

    • aduh maafkan saya komen kamu kelewatan lama banget TT.TT
      ahh iya saya juga tahu quotes itu, cuma binging mau nyempilin itu dimananya coba TT.TT

      buset sampe segitunya ya TT.TT
      UMUR SAYA JUGA 15 TAHUN KOK *ting ting*
      /kibas air mata/

      OHH RT BIG FAV APAPUN ITU DOUBLE TAP DEH MEREKA ITU EMANG /lol/ 😆
      makasih ^^

  3. Nyesek sekali T.T aku suka aku suka T.T
    Bagian moment mereka lucu apalagi yang naeun ketauan ama taemin XD
    Nangis nih ;-; Good story!!

  4. thor nangisku gak berhenti ih tanggung jawab 😥
    kisahnya bikin haru. jadi inget ayah aku yg protektif bgt sama aku 😥 kesel tapi faktanya itu tanda sayang beliau sama aku kan haha.. nangis deres wehh :’D
    terus berkarya thor 🙂

    • /kasih tisuuu/
      maap ya bikin nangis aku juga wkt bikin endingnya jadi nangis sama kebelet married juga (?) 😆
      makasih ya ^^ terharu nih baca komen kamu :”) 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s