My Master

568bw_zps58f867a9

*Poster Made by : r a m y e o n ● graphics shop*

Author : Awsomeoneim

Genre : Romance

Casts :

  • OC’s Chae Mi, Lee
  • INFINITE’s L (Myung Soo, Kim)

Rated : Teen

Length : Oneshot

Disclaimer :

  1. FF ini karya original, murni hasil pemikiran author sendiri
  2. FF ini sudah pernah dipublish di Asianfanfics, click here! direpost dengan beberapa perubahan
  3. OC adalah karakter milik author, INFINITE’s L adalah milik Tuhan YME & Ortunya…

Summary :

It’s about Lee Chae Mi short-lifestory. 
Lee Chae Mi is a personal assistance for Kim Myung Soo.
She has an untold love over someone who take care of her life while her own parents dump her.
Someone who give her a job as his personal assistance. She already lived with him almost for 4 years.
She already saw him changed in many personalities, as a kind-hearted boy to a playboy and finally into a young and caring daddy.
Yea, he was her master, and he get married into another woman he loved.
And what about her?

+oOoOoOo+

Read, Comment, Like Please~

=OoOoO=

Foreword :

Myung Soo, Kim

Bio : March, 13th 1992

Status : One and only son of Seoul International Hospital owner.

Life note(s) : Warm and kind-hearted boy inside. But also has a jerk-ish side because of his mother lifestyle in LA.

=oOo=

Chae Mi, Lee 

Bio : November, 11th 1993

Status : A daughter of a big boss of south-east asia market drug sealer.

Life note(s) : Live in an orphanage after get dumped by her own parents. After she met Myungsoo she moved to Kim’s House and lived together with him.

=oOo=

Lee Chae Mi POV.

Aku bekerja untuk seseorang yang memiliki banyak sisi kehidupan. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan jadi begitu kompleks.

Dia tampak innocent saat kami awal bertatap muka. Tatapannya teduh. Nada bicaranya adalah melodi terlembut yang pernah mengalir ke dalam gendang telingaku. Ia mempunyai hati seperti malaikat. Bagaimana tidak? Manusia yang seperti apa lagi yang akan menghampiri seorang anak gembong narkoba dan bersedia, bahkan menawarkan diri menjadi temannya.

Ia satu-satunya orang yang tidak pernah menutup matanya barang satu kedipan padaku.

Ia satu-satunya orang yang tidak pernah mengalihkan pandangannya barang satu derajat padaku.

Ia satu-satunya orang yang tidak pernah mengubah cara pandangnya padaku. Apapun yang terjadi.

Ia memungut dan mengijinkanku tinggal di rumah mewahnya, dan memberiku kesempatan bekerja.

Namun, semakin lama aku mengenalnya, aku mulai melihat satu sisi lain darinya.

Sikap buas dan tidak manusiawinya tampak, atau lebih tepatnya sengaja ia pertontonkan kepadaku. Tanpa ada rasa sungkan. Seperti semua itu hal yang lumrah. Anehnya, aku masih melihat sorotan dan pancaran innocent dari dalam dirinya. Master, apakah kau perwujudan lucifer?

Lebih lama lagi aku mengenalnya, aku menemukan sisi yang lain lagi darinya.

Sisi seorang laki-laki yang dimabuk cinta untuk seorang wanita. Ya, ia menemukan sosok wanita yang ia sukai. Ia beruntung bisa bertemu wanita itu, karena, semakin dalam ia tenggelam dalam rasa kasih yang sudah menjadi candu baginya, semakin kebuasannya terjinakkan. Ia berubah. Image innocentnya kembali. Ia menjadi laki-laki seperti yang kutemui saat pertama bertemu.

Tak lama berselang, bel gereja berbunyi nyaring dan sorakan bahagia terdengar di mana-mana. Mereka menikah. Mengambil keputusan besar di usia muda mereka, 15 tahun. Tentu saja karena ada insiden yang mungkin membahagiakan, sebenarnya. Karena sejak itulah, ia benar-benar tampak seperti malaikat.

Mungkin ini terjadi karena sang lucifer mencintai seorang malaikat. Malaikat yang terwujud dalam sosok seorang wanita polos dan berhati suci yang dengan rela hati menjatuhkan dirinya dalam kehidupan lingkaran setan pewaris tunggal tampan yang dimabuk cinta. Buah cinta mereka tumbuh dengan cepat di dalam rahim malaikat itu. Mereka berbahagia. Aku turut berbahagia untuk mereka.

Hingga suatu hari kami harus kembali datang ke gereja. Dengan pakaian hitam, sehari setelah kami merayakan kelahiran buah cinta kedua pasangan muda berbahagia. Walau singkat, tanpa diragukan,  semua yang mengikuti kisah mereka sejak awal pasti tau, kisah cinta muda mereka bukan sekedar cinta monyet. Melainkan kisah cinta dua orang cucu adam yang sama-sama terbakar bara cinta suci dalam perapian cinta abadi.

Malaikat penyelamat sang lucifer telah kembali ke pangkuan Tuhan setelah menyelesaikan misinya. Ia tidak meninggalkan lucifer tercintanya seorang diri, melainkan dengan memberikan seorang malaikat kecil sebagai penggantinya. Satu doa yang pasti kupanjatkan sore itu di gereja maupun di makam bidadari yang kusegani. Semoga lucifermu tetap seperti sedia kala, dan kuharap malaikat kecil titipanmu mempunyai kemampuan menjauhkannya dari kehidupan kelam yang bahkan lebih kuat darimu. Kumohon.

Waktu berlalu dan semakin lama pula aku mengenalnya. Kini aku menyadarinya, ia benar-benar sosok yang luar biasa. Usia 17 tahun dengan status ayah muda, tidak menghalanginya menyelesaikan studi dengan cemerlang. Luciferku telah bekerja sangat keras, demi malaikat kecilnya, yang ia cintai dengan serpihaan-serpihan hati yang mulai ia tata ulang semenjak kepergian malaikat eloknya. Ia tidak membuat malaikat kecil di sampingnya menunggu untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatiannya. Ia memberikan sebanyak yang tidak pernah malaikat kecil itu bayangkan. Aku bangga dengannya.

Aku tidak tau apa yang ada tumbuh di dalam diriku akhir-akhir ini. Apakah ini yang disebut firasat? Apakah waktu 4 tahun yang kuhabiskan dengannya membuahkan kepekaan ini? Perasaanku tak enak. Aku tidak ingin berpisah dengan luciferku dan malaikat kecilnya yang sangat menggemaskan.

Hari ini aku harus tiba pukul 4 sore di kantor, 1 jam sebelum rapat inti perdana luciferku sebagai pimpinan baru Rumah Sakit Internasional Seoul dimulai. Sial, sebuah dokumen penting tertinggal di atas meja kerjaku akibat semalam aku tidak memeriksa ulang dokumen yang perlu kubawa. Tanpa henti aku merutuki kecerobohanku. Syukurlah jalanan bersahabat. Sebelum kembali ke gedung pencakar langit dimana luciferku dan malaikatnya kini tengah bercengkrama sembari menunggu rapat dimulai, aku tiba-tiba saja tertarik untuk mengenakan blazer pemberiannya di hari ulang tahun ke-17 tahunku kemarin. Tidak berniat sombong, hanya saja aku merasa lebih elegan mengenakan blazer itu. Ah, mengapa tidak sejak tadi saja?

Saat berjalan menuju halte, seseorang menyekapku dan menyeretku masuk ke dalam mobil. Penculik? Argh apa-apaan ini?! Saat ia membuka penutup wajahnya, aku tersentak di tempat. Ah, aku ingat, ia satu dari ratusan wanita yang menghabiskan satu malam di ranjang luciferku. Ia berkali-kali datang meminta pertanggung jawaban atas janin yang tumbuh di dalam tubuhnya. Tapi yang luciferku lakukan? Tentu saja hanya melempar cek dengan nominal fantastis di wajahnya. Ia sempat memeluk kakiku, tapi apa yang bisa kulakukan? Saat itu luciferku tidak mengenal kata belas kasih. Ia melakukannya dengan wanita berbeda setiap hari dan ia bukan gadis pertama yang pergi hanya dengan linangan air mata tanpa kata ‘aku akan bertanggung jawab’ seperti apa yang malaikat anggun itu dapatkan.

Dengan ini, aku baru menyadari wanita belahan jiwa luciferku itu wanita yang sangat beruntung. Aku tidak tau siapa yang lebih beruntung, yang pasti, keduanya adalah orang-orang yang beruntung.

Kini, kenapa aku yang menjadi incarannya? Ah, tentu saja..aku orang terdekat luciferku. Mana mungkin ia tidak tau. Sekarang yang harus kupikirkan adalah cara menyelamatkan diri. Beruntung ia seorang diri, setidaknya aku dapat mengirim signal posisiku melalui GPS ponsel kepada masterku yang tengah menunggu di ruangan mewahnya.

Meski mustahil, kuharap Tuhan mengirimkannya kepadamu tepat waktu, Master.

Selang dua menit, terdengar sirine polisi di belakang kami. Tuhan, aku benar-benar mencintaimu! Penculik di balik kemudi mobil melontarkan sumpah serapah dan memutar arah dengan paksa hingga aku terhempas ke sisi kiri mobil dengan kasar dan membentur kaca. Ah, apakah kepalaku terluka? Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan seperti kesetanan dan berhenti secara paksa setelah mobil yang kami tumpangi keluar dari jalur dan turun ke parit bawah jembatan yang cukup dalam dan membentur salah satu dinding sisi dinding jembatan dengan sangat keras.

“Kau harus mati di dalam mobil ini jika ingin ‘dia’ tetap hidup!” ujarnya sebelum keluar dari mobil, sementara pintu kanan-kiriku terkunci.

Sial. Jika memang benar jika harus begitu… Sebagai pelayan lucifer, aku harus setia sampai akhir. Benar begitu, kan? Aku mungkin memang sudah gila. Bahkan di saat genting seperti ini, saat memejamkan mata, hanya ada bayangan luciferku dan malaikat mungilnya. Saat itu, aku ingat, dokumen yang kubawa harus terlindungi. Aku segera melepaskan blazer pemberiannya dan membungkus dokumen itu dengannya dengan rapi. Tepat setelah aku menyelesaikannya, aku mendengar suara luciferku berteriak dengan kencang. Ia ada di sini? Saat aku mengalihkan pandanganku, di luar sana tampak sesosok pemuda berwajah pucat, ia hanya menggunakan hem putih yang tampak sangat kusut karena tuxedo hitam mengkilat yang seharusnya menjadi lapisan pelindung terluarnya abses dari tugasnya.

Luciferku yang tampan, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau tampak begitu kacau?

1376575117_556520 (2)

“Lee Chae Mi, Keluar dari sana! Sekarang!!”

‘Ya, master!’

Harusnya aku lakukan sesuai perintahmu. Tapi, kali ini, sekali saja, aku tidak akan memenuhi perintahmu. Aku janji, ini yang terakhir, aku tidak akan pernah melanggar perintahmu lagi.

1376575117_556520

Aku menatapnya lamat dalam diam. Aku begitu ingin menatapnya sehingga berkedip saja aku enggan. Aku menjadi serakah saat ini, aku hanya ingin menatap wajah luciferku tanpa melakukan hal lain. Aku ingin memenuhi ingatanku dengan detail wajahnya.

Aku sendiri heran, suasana di luar sana sudah kalang kabut, bahkan luciferku memberontak hebat dalam kekangan 3 orang petugas polisi karena mereka menghalanginya yang hendak mendekat ke arahku, namun aku hanya duduk diam di dalam mobil ini. Kusadari semangat melarikan diriku lenyap seketika. Seolah aku ingin berkata, ‘Diam saja di sana, master. Maka dokumenmu akan aman di dalam blazer pemberianmu. Kali ini saja, aku ingin melindungimu.’

Ah, bukan.

Aku memilih tidak keluar dari mobil ini bukan karena aku ingin melindungimu, master. Aku tau kau dapat mengatasi semua masalah dengan mudah. Bukan pula karena ancaman penculik itu. Aku hanya… merasa lelah. Ya, aku sudah lelah. Aku lelah menyimpan perasaan ini untukmu. Perasaan yang sejak awal kukira adalah loyalitas pengabdian kepada seorang lucifer semata. Ternyata lebih. Perasaan yang baru kusadari setelah 4 tahun bersamamu.

Manusia tidak boleh jatuh cinta dengan seorang lucifer. Itu hukum alam. Dan aku menyadarinya. Kau terlalu berharga untukku, bahkan walau kau seorang lucifer.

Sudah saatnya aku berhenti. Tolong, izinkan aku berhenti mencintaimu, Master…

Detik berikutnya gendang telingaku menangkap suara ledakan keras yang terdengar sangat dekat, dan seketika sekelilingku mendadak terang sebelum digantikan dengan kegelapan yang panjang.

1376575117_556520 (3)

+OoOoO+ THE END +OoOoO+

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s