Lover’s Discourse (Oneshot)

Lover's Discourse ff

Lover’s Discourse by Pseudonymous

Cast:

2AM’s Jinwoon – SISTAR’s Bora

Ailee – JJ Project’s Jr.

JJ Project’s JB – 15&’s Yerin

2PM’s Nichkhun – SNSD’s Tiffany

Genre:

Romance & Life

Rating:

PG-13

Length:

4 in Oneshot

Disclaimer:

Inspired by omnibus & other movies

***

“Love is a trap. When it appears, we see only it’s light, not it’s shadows.” —Paulo Coelho

Entah hanya perasaanku saja atau memang udara terasa lebih dingin malam itu. Padahal kami sedang berada di dalam kafe, dengan udara yang samar akan bau asap rokok dan kopi yang hangat. Aku mencoba menahan diri untuk tidak muntah. Bukan karena malu jika orang-orang akan melihatku, tapi aku malu pada pemuda yang ada di hadapanku. Jinwoon. Dengan mantel cokelat yang membungkus tubuhnya dan scarf yang mengelilingi lehernya. Rambutnya awut-awutan seperti biasa. Wajahnya terlihat lelah.

Aku tahu Jinwoon sedang gelisah. Dia punya kebiasaan menggosok-gosokkan tumit sepatunya pada lantai dan aku bisa merasakan kakinya bergerak ringan di bawah meja. Dia mengayunkan tubuhnya ke depan dan belakang, seperti seorang anak umur lima tahun yang menunggu dijemput oleh ibunya. Aku ingin saja mengakhiri kegelisahannya. Tapi, kegelisahannya justru ikut-ikutan menjalar ke seberang meja dan menjalar ke kulitku. Secara otomatis, aku juga ikut gelisah. Tidak seharusnya keadaannya menjadi semenegangkan ini. Bukankah Jinwoon mencintaiku? Jadi, aku tidak harus merasa takut, bukan?

“Bora.” Jinwoon mengerang.

“Hm?”

Dia mengangkat arlojinya ke depan wajah dan mendesah. “Sudah hampir tiga puluh menit kita di sini dan kau belum mau bicara.”

“Aku.. hanya sedang mencoba memikirkannya.”

“Kenapa kau harus memikirkannya? Katakan saja!” desak Jinwoon.

Tapi, itu tidak semudah seperti yang Jinwoon katakan. Ini hal yang serius. “Aku tidak yakin kau ingin mendengarkannya atau tidak,” kataku akhirnya. Setelah aku berkata seperti itu, kulihat air wajahnya berubah drastis. Dia menarik tubuhnya mundur dan memandangku dengan mata melebar.

“Apakah ini sangat serius?”

Aku mengangguk.

“Menurutmu..” Jinwoon mengusap sudut bibirnya yang kering dan melanjutkan “..apakah aku akan senang setelah mendengar hal itu? Menurutmu apakah aku akan menyukainya?”

Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku mengerang dalam hati. Perkataanku yang terakhir sepertinya membawaku masuk ke lubang yang lebih dalam. Menjebakku ke dalam bayang-bayang peristiwa yang tidak kuinginkan.

“Aku.. tidak yakin,” sahutku pada Jinwoon. Memang benar, aku tidak benar-benar yakin. Jinwoon dan aku masih duduk di bangku kuliah. Umur kami masih sangat muda. Apa yang bisa kami lakukan?

“Kalau begitu jawabannya sudah jelas..” kata Jinwoon. Suaranya bergetar. Aku tahu dia ketakutan dan berusaha menghindar, seolah dia sudah tahu apa yang hendak kukatakan. “..aku tidak ingin mendengar penjelasanmu, toh, kau sudah tahu bahwa aku tidak akan menyukainya.”

“A-apa?” Aku mendongak dan menatap Jinwoon tidak percaya. Such a coward. Dia bahkan belum tahu apa yang terjadi dan sudah berani menghindar?

“Maaf, Bora,” Jinwoon berdiri dan merapikan bagian bawah mantelnya yang kusut. “Aku tidak punya banyak waktu malam ini untuk mendengarkanmu.”

“Tidak!” Aku melabrak meja kafe hingga seluruh pasang mata yang ada di sana menoleh kearahku. Segala sesuatu di sekeliling kami berhenti, termasuk gerak seorang pelayan yang hendak meletakkan cangkir kopi pada salah satu meja pelanggan. Tapi, sungguh, aku tidak peduli lagi saat itu.

Jinwoon melotot kearahku dan berbisik, “Bora, apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak bisa pergi begitu saja,” lirihku. Terdengar mengiba. Aku menggamit tangan Jinwoon dan memelas. “Kau harus bertanggung jawab, Jinwoon.”

Jinwoon bergetar ketakutan. Dia berusaha menyingkirkan tanganku, tapi tidak cukup kuat karena dia sendiri sudah cukup kehilangan banyak kekuatan untuk melawan. Dia terlalu takut untuk melawan. Memangnya dia tidak takut kalau-kalau satu kafe ini akan menghajarnya habis-habisan jika memperlakukan seorang gadis dengan kasar?

“A-apa yang kau bicarakan, Bora?” ujarnya gugup. “Kau sedang mabuk, kan?”

“Aku hamil, Jinwoon,” tangisku tak tertahan. “Aku hamil. Di dalam perutku ini..” Aku mengusap perutku yang kini sedikit lebih besar dua minggu belakangan ini. “..aku mengandung anakmu dan kau harus bertanggung jawab.”

“A-apa?” Jinwoon menatap perutku sekilas dengan sorot jijik. Dia tiba-tiba melepas tanganku dari lengannya dan menggeleng. “Kau mabuk, Bora. Kau mabuk!”

“Tapi kau bilang kau akan bertanggung jawab!” pekikku. Semua orang memandang kami dengan sorot bertanya-tanya. Sebagian menaruh perhatian padaku. Yang lain menyorot tajam sosok pengecut Jinwoon. Tapi aku belum merasa menang saat itu. Aku belum menang jika Jinwoon masih belum mau bertanggung jawab. “Kau bilang malam itu kau akan bertanggung jawab,” isakku. “Aku takut, Jinwoon. Kau harus membantuku.”

Jinwoon dengan segera menggeleng. “Tidak, aku sungguh tidak bisa,” katanya sembari berjalan mundur.

“Tapi kau bilang kau akan bertanggung jawab, Jinwoon,” kataku bersikeras.

“Maafkan aku, Bora,” bisik Jinwoon lirih. Aku tahu di sisi lain dia sedang merasa bersalah dan menyesal, tapi itu tidak cukup. “Kau tahu, kita hanya sedang mabuk malam itu. Kita hanya sedang tergila-gila dan kehilangan kontrol. Dan saat itu..” Jinwoon menggeleng lagi. “..aku benar-benar sedang tidak serius.”

Kedua lenganku terkulai lemas di sisi tubuhku. Lututku bergetar. Aku nyaris pingsan, tapi menahan diri untuk tidak jatuh ke lantai. Jinwoon terlihat semakin menjauh. Dia melangkah, selangkah demi selangkah, mundur seperti pengecut, meninggalkanku begitu saja, lalu hilang di balik pintu kafe yang berdenting. Ketika pintu tertutup, aku melorot jatuh ke lantai seperti tubuh tanpa tulang dan menangis sekeras-kerasnya.

***

“Why women love men?”

“Because, they never understand us, but they never give up.” —Paulo Coelho

“Jinyoung, menurutmu apa yang berbeda dari penampilanku hari ini?”

Jinyoung berdiri di hadapanku, meletakkan tangannya di bawah dagu, berlagak serius sembari memerhatikanku. Aku terkekeh dan memutar tubuhku dengan dramatis di hadapannya. Aku bahkan mengerjap-ngerjapkan mataku di depan wajahnya untuk memberinya clue. Tapi, dia hanya terus memasang pose seperti itu, tanpa bisa mengerti apa yang sedang kumaksudkan.

“Hm..” Jinyoung menggumam dan memandangiku sekali lagi dari atas ke bawah, lalu wajahnya berubah menyeringai. “Kau berpakaian dengan warna cerah hari ini?” ujarnya, menunjuk blouse berwarna pastel yang kukenakan.

“Apa?”

Blouse yang kau kenakan,” serunya ceria. “Kau mengenakan pakaian lebih berwarna hari ini, kan?”

Senyumku luruh seketika. Dia salah tebak. “Bukan, Bodoh!” jeritku kesal.

“Eh?”

“Lihat lebih dekat!” Aku mendekatkan wajahku kearahnya. “Hari ini aku menggunakan eyeliner, apakah kau tidak menyadarinya?”

Dia meringis. “Astaga, bagaimana aku bisa mengetahuinya?”

“Itu berarti kau memang jarang memerhatikan penampilanku!” ketusku. Aku merasa kecewa untuk satu alasan itu.

“Oke, oke, maafkan aku.”

“Tidak.” Aku memalingkan wajah dan melipat kedua lenganku di atas dada. Agak konyol dan kekanak-kanakan memang, tapi tetap saja rasa kecewa itu menahan egoku.

“Yejin, kau benar-benar marah?”

Aku tidak menyahut. Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku menjauhkannya. “Yejin,” rengeknya.

“Apa?” sahutku ketus.

“Kau benar-benar marah?”

“Ya.”

“Kalau begitu..” Dia berdiri di hadapanku dan tersenyum. “..sebagai permintaan maaf, mau kubelikan ice cream?”

Aku mendongak dengan antusias. Untuk urusan ice cream, aku sungguh tidak bisa menolak. “Ice cream?”

Dia mengangguk. “Bagaimana? Kau mau, kan?”

Aku mengulum senyum. “Oke.”

Dia terkekeh. “Oke, aku akan membelikanmu ice cream di kafe yang ada di sudut jalan, tapi berhenti marah padaku, oke?”

Aku mengangguk.

“Tunggu sebentar di sini yah?”

Jinyoung berlalu pergi dan berlari kecil menuju kafe yang ada di sudut jalan. Sembari menunggunya membeli ice cream, aku mencari bangku kosong di taman dan memainkan game BrickBreaker di ponselku. Dua menit berselang, aku mendengar Jinyoung berseru dari kejauhan. Dia berlari menghampiriku dengan dua bungkus ice cream di tangannya.

“Ini.” Dia menyerahkan sebungkus ice cream rasa cokelat padaku, sementara miliknya rasa vanilla.

“Cokelat?”

“Kenapa?” Dia menatapku. “Kau tidak suka rasa cokelat?”

Aku meringis kesal. “Bukankah aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku tidak suka cokelat? Aku suka rasa green tea!”

“Oh, benarkah?” Dia tersenyum kikuk. “Maafkan aku.”

Aku hanya diam, tidak tahu harus kuapakan ice cream itu. Jinyoung terus memandangiku dengan khawatir.

“Kalau begitu, biar kuganti,” katanya.

Aku baru saja hendak mengembalikan ice cream itu padanya, tapi menahan tanganku sebentar saat melihat dahi Jinyoung yang berkeringat. Aku menatap kafe yang berada di sudut jalan melalui bahunya dan sadar bahwa jarak kafe cukup jauh dari sini. Aku merasa iba padanya. Rasanya aku terlalu tega jika menyuruhnya untuk kembali ke sana hanya untuk sebungkus ice cream.

“Tidak apa-apa,” kataku akhirnya. “Aku rasa aku bisa menghabiskannya.”

Jinyoung tersenyum puas. “Jika kau memang tidak begitu menyukai rasa cokelat, kau bisa menukar punyaku dengan punyamu. Vanilla, kau tidak membencinya, kan?”

Aku terkekeh. “Tidak.”

Jinyoung balas terkekeh dan membuka bungkusan ice cream itu untukku. Kami menikmati ice cream masing-masing dan sesekali menyuapkan milikku padanya. Ketika Jinyoung sibuk menikmati ice cream-nya, aku berinisiatif mengeluarkan saputangan dari saku jeans-ku dan menyeka keringatnya.

“Terimakasih,” katanya.

Aku hanya tersenyum. Aku tahu dia mengalami waktu yang berat selama menjalin hubungan denganku dan untuk itu, aku tetap menghargai usahanya karena aku mencintainya.

***

“Love me or hate me, both are in my favor. If you love me, I’ll always be in your heart. If you hate me, I’ll always be in your mind.” —Shakespeare

Perpustakaan sekolah terlihat sepi pagi itu. Sebenarnya perpustakaan tidak hanya terlihat sepi pagi itu saja, tapi setiap hari memang terlihat sepi pengunjung. Orang-orang kurang banyak membaca buku akhir-akhir ini. Sebaliknya dengan aku. Pagi itu, aku harus pergi ke perpustakaan sembari membawa dua novel dan satu buku pelajaran yang kupinjam dari perpustakaan di pelukanku. Dua orang wanita penjaga perpustakaan menyapaku seperti biasa. Ramah dan hangat.

“Yerin, ingin mengembalikan buku?” sapa salah seorang dari mereka.

“Ya.” Aku tersenyum dan meletakkan buku-buku itu di atas meja, lalu menyerahkan kartu perpustakaanku padanya.

“Oke, biar kucatat dulu yah.”

Wanita itu mencatat kode buku yang kupinjam dan mengembalikan kartu perpustakanku setelahnya. “Oke, sudah. Masih ingin meminjam buku lagi?”

“Ya, aku masih mencari beberapa buku pelajaran.”

“Oke, selamat mencari. Jika kau butuh bantuan, katakan saja padaku.”

“Oke.

Aku berjalan meninggalkan si penjaga perpustakaan dan menghampiri rak-rak buku yang ada di belakang punggungku. Musim ujian sebentar lagi akan tiba, aku tahu aku harus menemukan beberapa buku dari referensi lain untuk menambah bahan materi. Aku berdiri di depan buku-buku tua dan baru yang berjejer rapi di hadapanku sembari membaca judulnya satu per satu. Aku memicingkan mata untuk dapat melihat tulisan-tulisan pada buku-buku tua karena tulisannya nyaris kabur dan hilang dimakan usia.

“Hei.”

Aku menolehkan kepala kearah belakang dan terkejut mendapati Jaebum berdiri di sana dengan senyum lebar. “Apa yang kau lakukan di sini?” desisku.

“Kau sendiri..” Dia berjalan menghampiriku. “..apa yang kau lakukan sepagi ini di perpustakaan?”

“Aku? Mengembalikan buku,” kataku sinis. “Kau? Apa yang kau lakukan di sini? Setahuku kau bukanlah tipe murid yang senang berada di perpustakaan.”

“Memang.” Dia berjalan memutariku dengan gaya soknya yang menyebalkan. “Tapi, aku datang kemari karena gadis yang kusukai berada di sini.”

Aku memutar bola mataku dengan bosan dan berjalan meninggalkannya menuju rak buku yang lain. Kulihat dia masih mengikutiku dari belakang sambil tersenyum-senyum menggoda.

“Kau mencari sesuatu?”

Aku tidak menjawab selain menaruh konsentrasi pada tujuanku yang sebenarnya. Mencari buku.

“Mencari buku, huh?”

Aku mengerutkan bibir, berusaha menahan emosi agar tidak berbalik dan menonjok hidungnya hingga patah. Aku menghela napas, lalu menarik salah satu buku dari raknya, menyisakan sebuah cela besar di antaranya.

“Atau mencariku?”

Aku terlonjak mundur saat tahu-tahu wajah Jaebum muncul di antara cela besar itu.

“Jaebum..” geramku kesal.

Dia berjalan memutari rak dan kembali menghampiriku. “Lihat, lihat,” Dia tertawa. “Wajahmu memerah karena marah.”

“Hentikan!” desisku sambil melotot.

Tapi dia masih saja tertawa mengejekku. Aku memukul bahunya dengan keras untuk membuat Jaebum terdiam. Dan tawanya benar-benar berhenti, digantikan oleh ringis kesakitan pada bahunya.

“Kau kejam sekali,” lirihnya.

“Jika kau tidak ingin merasakannya lagi, berhenti mengikutiku!”

“Kenapa? Aku menyukaimu, maka dari itu aku mengikutimu.”

“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku tidak menyukaimu?”

“Aku tahu kau berbohong,” kata Jaebum sembari mengibaskan tangannya ke udara. “Kau sebenarnya juga menyukaiku, hanya saja terlalu malu atau tidak yakin dengan perasaanmu sendiri, kan?”

“A-apa?”

“Lihat, lihat,” Jaebum menunjuk-nunjuk wajahku lagi. Aku tahu pada saat itu memang ada yang salah pada diriku sendiri. Aku berubah menjadi gugup. “Wajahmu memerah lagi, Yerin,” kata Jaebum.

“I-itu karena aku kesal, Bodoh!” sungutku. “Lagipula, aku tidak pernah menyukaimu! Justru sebaliknya, aku sungguh membencimu.”

Jaebum tersenyum lagi. “Tidak apa-apa. Jika kau membenciku atau menyukaiku, bagiku tidak masalah, karena..” Dia membungkuk kearahku dan membisik, “..aku akan selalu berada di sini..” Dia menunjuk dahiku. “..dan di sini.” Lalu berakhir pada dadaku.

Aku tahu persis apa yang sedang dibicarakannya. Tapi, bagaimana dia bisa tahu? Aku memang membenci Jaebum, itu yang kutahu, karena Jaebum selalu saja memperlakukanku seenaknya. Menganggapku sebagai pacarnya, memaksaku untuk terus menerima cintanya, dan mengikutiku kemana-mana. Aku tidak bisa berhenti memikirkan sikapnya yang kekanak-kanakan.

“Selama kau masih memikirkanku..” kata Jaebum. “..itu tidak apa-apa. Tapi, bukankah memikirkanku dengan cara seperti itu agak menyiksamu?”

Sebenarnya, iya.

Jaebum mendecakkan lidahnya dan menarik napas dengan gaya dramatis. “Lalu, kenapa kau tidak mencoba cara yang berbeda? Maksudku, memikirkanku dengan caya yang menyenangkan. Memikirkanku karena aku adalah.. pacarmu?”

Biasanya, jika Jaebum mulai menggodaku lagi seperti itu, aku akan dengan langsung mengatakan ‘tidak’. Tapi, setelah mendengar ucapannya tadi, aku kembali memikirkan kata ‘tidak’ yang akhir-akhir ini sering kuucapkan padanya. Seketika aku berubah ragu, sampai-sampai tidak sanggup mengeluarkan kata itu sekali lagi.

Jaebum meneliti wajahku, menyadari perubahan sikapku. “Bagaimana jika kita melakukan permainan gunting-batu-kertas?”

“A-apa?”

“Jika aku kalah, kau harus menjadi pacarku.”

“Cih,” Aku tersenyum sinis. “Itu curang. Semua orang juga tahu betapa bodohnya kau dalam permainan ini. Kau hanya sedang mencoba menjebakku, bukan?”

Jaebum mengabaikan ucapanku dan mengangkat tangannya ke udara, siap bermain. “Gunting-batu-kertas!” serunya. Dia menurunkan ‘kertas’ tanpa menungguku melakukan sesuatu. Jelas, dia sengaja melakukannya.

Aku mendongak kearahnya, agak bingung, tapi dia balas menatapku dengan kedua alis terangkat, menunggu. Gunting-batu-kertas adalah permainan yang mengandalkan keuntungan. Jaebum sudah menentukan keuntungannya dengan ‘kertas’ dan sisanya ada padaku. Dia sedang tidak benar-benar bermain. Dia justru menyerahkan seluruhnya kepadaku, karena dia tahu ini soal perasaan.

Setelah menetapkan pilihanku, aku mengangkat tangannya ke udara dan menurunkan ‘batu’ di depan ‘kertas’ miliknya. Dia melirikku sekilas. Aku tersenyum kecil, lalu mengeluarkan jari telunjuk dan tengah, membentuk ‘gunting’. Jaebum mengulum senyum penuh kemenangan, seolah sudah tahu bahwa aku akan melakukannya. Aku balas tersenyum dan aku pikir, aku bisa memberinya kesempatan untuk membiarkan Jaebum berdiam lebih lama di dalam pikiran dan hatiku dengan cara yang ‘menyenangkan’.

***

“When I saw you I fell in love, and you smiled because you knew.” —Shakespeare

Aku mendengar suara seorang wanita berbicara melalui pengeras-pengeras suara, memberi peringatan kepada calon penumpang bahwa lima menit lagi, kereta yang selanjutnya akan segera tiba. Aku yang sedang duduk di bangku segera berjalan ke peron dan berdiri di belakang garis kuning. Sembari menunggu kereta tiba di stasiun, aku mengangkat wajah, memerhatikan ke sekelilingku. Aku menyibukkan diri untuk membaca buku selama menunggu kereta datang hingga merasa melewatkan orang-orang di sekitarku.

Aku mendongak ke seberang peron dan mendapati seorang gadis berdiri di posisi yang sama berhadapan denganku. Aku memergokinya sedang menatapku, mungkin sejak tadi. Di sebelahnya ada sebuah koper besar berwarna merah muda dengan letter ‘Tiffany’ di sana. Tiffany? Nama yang unik, pikirku. Dengan jarak beberapa meter yang memisahkan kami, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, bagaimana rambut pirang madunya jatuh dengan cantik melewati bahu. Dia terlihat sangat.. cantik.

Refleks, aku tersenyum kearahnya. Bayangan pertamaku yang muncul sebagai respon atas sikap refleksku ini adalah dia pasti akan membuang muka dan mengumpat kearahku. Tapi, dia justru melakukan yang sebaliknya. Dia balas tersenyum. Senyum terindah yang pernah kulihat. Aku tidak sempat menikmati senyuman itu lebih lama karena kereta tiba pada saat itu dan menghalau pandanganku kearah gadis itu. Sial.

Ketika kereta berhenti dan memuntahkan penumpang-penumpang berbau keringat dari dalam, aku segera menerobos masuk ke dalam untuk menyeberang ke peron seberang. Namun, ternyata gadis itu sudah ada di dalam, berada dalam satu kereta yang sama denganku. Dia mendekatiku dan mengulurkan tangan.

“Hai.”

“Hai.” Aku balas menyapa dan menyambut uluran tangannya.

“Tiffany,” ucapnya sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum. “Nichkhun.”

the end.

16 thoughts on “Lover’s Discourse (Oneshot)

  1. saya suka cerita yang ketiga dan keempat hohoho
    Meski kayaknya nggantung semua ya? tapi saya suka, apalagi yang keempat, nggak tau kenapa.

    He’s out of my league dilanjut dong, eonnie 😀

  2. knpa yg prtma miris bgt, pngenny yg manis2 jg kyk crta yg ke 3 n ke 4..
    oy, prmainan batu gunting krtas si jb, aq prnh lyat adgan itu d swtu film. n aq suka bgt adegan itu.
    pkokny kren deh crtany..
    He’s out of my league mna nih?

  3. Weeeelll aku kira ini 1 cerita, tp ternyata ada 4 cerita manis didalamnya.. ah bukan 4, cuma 3 yang manis.. karna yg pertama itu nyebelin.. jinwoon jahat </3
    aku paling suka part JB-Yerin.. aaaah!!! itu yang termanis menurutku.. ;D

  4. suka banget sama crita ketiga, manis banget kisahnya. yg keempat jg ga kalah manis tapi knapa yg pertama koq miris banget ya? berkebalikan banget ><

  5. sweet bangeeeeeetttttt ><
    tapi jinwoon jahat banget 😦
    keren banget nih ff nya, author bener – bener daebak!
    oh iya, tolong lanjutin He's Out of My League dong, please 🙂
    itu seru banget soalnya! aku jb – yerin shipper 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s