Secret Crush (Oneshot)

A Story by Pseudonymous

Title: Secret Crush || Main cast: 15&’s Yerin & JJ Project’s JB || Genre: Romance & Life || Rating: PG-15 || Length: Oneshot || Disclaimer: Inspired by “Lover’s Discourse

***

“A crush is an illusion about the person before you actually start dating the person..” –Kay Tse

***

Kilatan cahaya muncul sepintas di langit, kemudian disusul suara guntur yang membahana. Tapi hati Yerin tetap teguh untuk bertahan di depan jendela kamarnya dan mengamati pemandangan di seberang rumahnya. Ada tetangga baru. Satu keluarga kecil dengan sepasang suami-istri dan dua anak laki-laki remajanya. Yang satu terlihat dewasa, yang satunya lagi terlihat menggemaskan. Dengan mudah Yerin bisa menebak, si Dewasa adalah sang kakak, sementara si Menggemaskan adalah sang adik.

“Jaebum! Jinyoung! Berhenti bermain-main! Orang-orang sedang memindahkan barang, kalian bisa menabraknya!” Seorang wanita paruh baya menegur dengan lembut—sang Ibu.

“Jinyoung duluan, Bu!” adu si kakak—Jaebum.

“Tidak! Jaebum hyung yang duluan!”

Yerin menekuk sikunya dan memangku dagu, sambil bertanya-tanya, kira-kira berapa umur kedua pasang kakak-adik itu sekarang? Si Adik—Jinyoung—terlihat sebaya dengan Yerin, sementara si Kakak—Jaebum—lebih tua daripada Yerin. Selain itu, Jaebum lebih menarik perhatiannya karena matanya yang membentuk bulan sabit ketika ia tersenyum. Menggemaskan juga, pikir Yerin sambil mengulum senyum.

Jaebum yang masih tertawa bersama Jinyoung tiba-tiba mendongak ke atas jendela—tepat dimana Yerin mengamatinya. Wajah Yerin sontak bersemu merah. Ia dengan buru-buru menarik daun pintu jendelanya dan menutup tirai.

“Ada apa? Apa yang kau lihat, hyung?” tanya Jinyoung, ikut mendongak kearah jendela kamar Yerin.

Jaebum mengerutkan bibir dan menggeleng. “Bukan apa-apa.”

***

Di luar hujan deras. Keluarga Yerin tidak pergi ke gereja Minggu itu. Sementara ibunya yang seorang Katolik taat terus mencak-mencak di dapur karena mereka batal ke gereja, ayahnya diam saja sambil menonton acara olahraga.

“Jika setiap hari Minggu turun hujan, apakah itu berarti kalian tidak akan pernah ke gereja?” gerutu ibunya di dapur. “Kalian akan merasakan akibatnya nanti ketika hari kiamat telah tiba. Hujan meteor akan datang dan kalian akan meminta ampun kepada Tuhan karena mengabaikan kewajiban kalian hanya karena hujan turun.”

Sementara ibunya terus mengomel, ayahnya akan dengan sengaja mengeraskan volume televisi dan mengabaikan ucapan ibunya.

“Yerin,” Ibunya akhirnya selesai dengan ceramahnya dan memanggil anak perempuannya.

“Ya?” Yerin menyahut dari dalam kamar.

“Kau tidak membuka toko?”

“Untuk apa? Hari ini hujan. Tidak akan ada yang mau singgah.”

“Yerin!”

“Apa?!”

“Keluar dari kamarmu sekarang! Ibu sedang bicara denganmu!”

Yerin keluar dari kamar dengan wajah cemberut. “Di luar hujan, Bu. Tidak ada yang mau singgah!” ulangnya.

“Buka tokonya sekarang!” Ibunya tetap bersikeras.

“Iya, iya.” Yerin akhirnya menyerah dan memilih mengikuti kemauan suasana hati ibunya yang buruk.

Gadis itu melangkah dengan malas menuju lantai bawah dan membuka kerai besi toko laundry keluarganya. Angin dingin langsung menyerap masuk ke dalam bajunya. Yerin memeluk tubuhnya sambil menggigil. Air hujan masuk ke dalam tokonya, maka ia menarik etalase kaca agak mundur ke belakang agar tidak basah terkena air.

Sementara menunggu pelanggan datang dalam ketidakpastian dan rasa bosan, Yerin mengambil cermin dari dalam saku sweater-nya dan mengamati wajahnya. Ia mulai mengerutkan bibir, memicingkan mata, menggembungkan pipi, mengembang-kempiskan hidungnya—membuat segala mimik wajah yang lucu.

“Nona!”

Yerin menurunkan cerminnya dan tersentak ke belakang saat melihat wajah Jaebum yang begitu dekat. “Oh!”

Jaebum mundur. “Kau baik-baik saja?”

Wajah Yerin berubah merah lagi dan cepat-cepat gadis itu menunduk untuk mengubur rasa malunya dalam-dalam. “Aku baik-baik saja,” sahutnya pelan.

Jaebum tersenyum. Matanya menyipit yang membuat Yerin menjerit girang di dalam hati.

“Aku baru saja pindah dengan keluargaku di seberang jalan,” kata Jaebum.

“Ya, aku tahu.”

“Aku melihatmu kemarin di jendela.”

Yerin menunduk lebih dalam. Rasanya memang sangat tidak sopan ketika sedang berbicara dengan seseorang tapi tidak menatapnya langsung, hanya saja ia terlalu malu saat itu. “Kau mungkin salah lihat.”

Jaebum melengos kecewa. “Begitukah? Hm..”

Yerin terus mencoba mengalihkan pandangannya dari Jaebum ketika pemuda itu menunduk untuk menatapnya.

“Ada apa kau datang kemari?” tanya Yerin, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Ah, aku hampir lupa!” Jaebum terkekeh dan mengangkat sekantung plastik berisi pakaian kotor ke atas etalase kaca. “Berapa biaya untuk mencuci pakaian?”

“Daftar harganya ada tertulis di depan etalase kaca,” sahut Yerin sambil menunjuk ke depan.

Jaebum membungkuk di depan etalase kaca dan membaca daftar-daftar harga yang ditempel di sana. Yerin diam-diam mengamati wajahnya yang serius melalui lapisan kaca dan mengulum senyum. Jaebum tampak sempurna, walau wajahnya terlihat serius atau pun sedang tersenyum. Rasa-rasanya Yerin ingin menjerit kepada Tuhan, bagaimana Tuhan menciptakan manusia setampan Jaebum?

“Hm, okay!” Jaebum menepuk tangan dan berdiri tegak. “Tolong timbangkan pakaian keluargaku ini.”

Yerin mengangguk, lalu mengangkat kantung itu ke atas timbangan. Dua kilo. Yerin menarik buku nota dan bolpoin dari sudut etalase dan menulisnya harga dan beratnya.

“Kapan bajunya bisa diambil?” tanya Jaebum sambil mengamati tulisan tangan Yerin.

“Besok sore. Kau boleh mengambilnya besok sore.” Yerin berhenti menulis di kolom nama dan berdeham. “Siapa namamu?”

“Aku?”

Yerin mengangguk.

“Im Jaebum. Jaebum.”

“Nomor telepon?”

“010-7101-0513.”

Yerin merobek kertas nota itu dan memberikan yang asli kepada Jaebum. “Ini. Semuanya 10.000 won dan datang lagi esok sore.”

Jaebum mengangguk, membayar biaya laundry dan tersenyum. “Terimakasih.”

Yerin hanya mengangguk, mengangkat kantung plastik Jaebum ke belakang dan meninggalkan pemuda itu begitu saja.

***

Setelah memastikan bahwa Jaebum sudah meninggalkan tokonya, Yerin mengangkat kantung plastik berisi pakaian kotor itu ke atas mesin cuci. Ia mengeluarkan beberapa pakaiannya sambil mengamatinya sekilas, apakah itu milik Jaebum atau bukan. Beberapa pakaian adalah kemeja kantor milik ayah Jaebum dan beberapa pakaian wanita adalah milik ibu Jaebum. Yang lain adalah kaus-kaus oblong dengan berbagai macam kartun dan motif milik Jinyoung, juga ada jeans-jeans milik Jaebum.

Yerin mengangkat jeans milik Jaebum—mengamatinya sekilas—dan mengangkat jeans itu pada pinggulnya. Kaki jeans menyapu lantai—yang sudah jelas membuktikan bahwa Jaebum lebih tinggi dari Yerin—dan pinggulnya bahkan sangat longgar di pinggul Yerin. Gadis itu beralih merogoh isi saku jeans Jaebum dan menemukan beberapa koin receh—yang langsung dimasukkan ke dalam toples, bergabung bersama koin-koin receh lainnya.

Selain jeans, Yerin juga menemukan seragam basket milik Jaebum. Oh, ternyata ia suka permainan bola basket, ujar Yerin dalam hati. Yerin mengendus seragam basket Jaebum dan mengernyit. Bau keringat.

Gadis itu memasukkan seragam basket Jaebum bersama pakaian Jinyoung dan kedua orangtuanya ke dalam mesin cuci yang besar, lalu duduk menunggu.

***

Yerin mengangkat kopian kertas nota berwarna kuning terang itu ke bawah lampu. Ia mendongak dan memicingkan mata agar bisa melihat dua digit terakhir nomor telepon Jaebum.

“Ah! 13!” Yerin berseru girang setelah berhasil melihat dua digit terakhir.

Yerin mengambil gagang telepon dan memutar nomor telepon Jaebum. Ketika dering pertama berbunyi, hatinya melonjak gugup. Ketika dering kedua terdengar, Yerin menutup telepon. Ia terlalu gugup. Tangannya berkeringat dan bahkan rasa-rasanya ia nyaris pingsan. Jantungnya berpacu dan ia tidak sanggup untuk mendengar dering ketiga. Dan bagaimana kalau Jaebum akan langsung mengangkat teleponnya pada dering ketiga di saat Yerin masih belum siap?

Yerin mulai merasa akal sehatnya sedang tidak sepenuhnya berfungsi. Tujuannya memang untuk menghubungi Jaebum—minimal mendengar suaranya mengatakan “halo” di seberang sana—tapi baru dering kedua saja Yerin sudah merasa ciut.

Kali ini, ia memberanikan diri untuk mencoba lagi. Diangkatnya gagang telepon itu dengan tangan gemetar. Nomor telepon itu kembali diputar dan dering itu terdengar lagi, membuatnya trauma. Tahan, Yerin. Tahan, katanya dalam hati.

Dering pertama, belum ada jawaban.

Dering kedua, masih belum ada jawaban.

Dering ketiga, masih juga belum ada—

“Halo?”

“Oh!” Yerin tersentak kaget saat mendengar suara Jaebum. Ia menjauhkan gagang telepon dan membekap mulutnya agar tidak menjerit.

“Halo? Siapa ini?”

Yerin memejamkan mata dan tersenyum-senyum. Hanya itu yang bisa dilakukannya.

“Hei, jangan main-main! Siapa ini?” Jaebum terdengar marah di ujung telepon. “Dasar sinting!” Telepon terputus.

Yerin mendesah kecewa. Ia meletakkan gagang telepon dan merasa sudah cukup. Karena walaupun ia mencoba lagi, Yerin yakin Jaebum tidak akan mengangkat teleponnya lagi.

Gadis itu turun ke lantai bawah ketika mendengar mesin pengering pakaian berhenti menggeram. Ia mengeluarkan pakaian Jaebum dan keluarganya, lalu menyetrikanya hingga rapi dan licin. Sebelum pakaian itu ditumpuk rapi, Yerin mengendus seragam basket Jaebum yang kini wangi dan rapi. Ia memandang logo Nike yang tertera pada dada kanan atas seragam Jaebum, lalu tersenyum.

***

Matahari bersinar keemasan di ufuk Barat, nyaris tenggelam. Tapi anak-anak muda itu masih bertahan di lapangan basket, walau tubuh mereka sudah basah bersimbah peluh dan wangi-wangi tak sedap mulai bermunculan. Yerin duduk di salah satu bangku panjang di pinggir lapangan, memegang botol air mineral dan handuk kecil di tangannya. Ia dengan sabar menunggu Jaebum yang masih bersemangat men-dribble bola berwarna oranye itu ke ring.

Setelah mencetak dua angka, semua orang berseru untuk kemenangan tim basket Jaebum. Pemuda itu saling berpelukan dengan teman-teman timnya, lalu melambai kearah Yerin. Yerin balas melambai.

“Sudah puas bermainnya?” tanya Yerin, menyerahkan botol air mineral itu pada Jaebum.

Jaebum tampak terengah, namun puas. Ia meneguk air mineral itu dan mengusap dahinya. “Puas sekali,” sahutnya, tersenyum. Senyum itu lagi, yang tidak pernah tidak berhasil membuat Yerin luluh.

“Biar kuseka keringatmu,” kata Yerin.

Yerin mengangkat handuk kecilnya kearah wajah Jaebum dan menyeka keringat Jaebum dengan lembut—mulai dari dahi, pipi, dagu, sampai ke leher. Sementara Yerin berkonsentrasi untuk menyeka keringatnya, Jaebum memandangi gadis itu dalam jarak dekat dan mengulum senyum.

Yerin balas menatapnya dengan risih dan wajah bersemu merah. “Ada apa? Mengapa melihatiku seperti itu?”

Jaebum menggeleng. “Aku heran saja, kau rela menungguku selesai latihan basket, menyeka keringatku, dan tahan dengan bau badanku,” tawanya.

Yerin ikut tertawa. “Aku tidak keberatan, tentu saja. Kau kan pacarku, kenapa aku harus merasa tidak enak?”

Jaebum tersenyum lagi, menampilkan bulan sabit yang indah pada matanya. Pemuda itu menarik Yerin ke dalam dekapannya. “Terimakasih.”

Yerin agak terkejut, tapi balas memeluk Jaebum. “Sama-sama.”

Keduanya berpelukan cukup lama, sampai akhirnya Yerin berkata, “Jaebum, kapan kau akan melepas pelukanmu? Aku nyaris pingsan mencium bau badanmu.”

Jaebum tertawa dan melepas pelukannya. “Maafkan aku.”

Keduanya bertukar senyum dan tawa, lalu bersiap-siap pulang ke rumah.

***

Sepulang sekolah, Yerin membuka toko laundry dan menunggu Jaebum datang mengambil pakaiannya yang telah dicuci dan disetrika. Sementara menunggu Jaebum datang, Yerin membunuh rasa bosannya dengan mencari-cari bola basket milik ayahnya di gudang belakang. Bola basket yang warna oranye-nya nyaris hilang karena ditambah dengan debu dan bercak-bercak hitam seperti arang itu terasa berat di tangan Yerin.

Sembari duduk di atas kursi tinggi yang ada di depan etalase, Yerin memantulkan bola basket itu ke lantai. Tapi bola basket itu hanya memantul rendah karena udara di dalam bola sudah berkurang banyak. Yerin mencoba memantulkan bola itu lagi, namun tetap saja gagal. Ia mengangkat bola basket itu melewati kepalanya, mengancang-ancang untuk melakukan shoot ke dinding, lalu.. shoot. Bola itu mengenai dinding, namun jatuh menggelinding jatuh tanpa memantul kembali kearah Yerin.

“Kau suka main basket?”

Yerin menoleh dengan cepat kearah sumber suara dan mendapati Jaebum sedang mengamatinya.

“Oh! Kau!” Yerin cepat-cepat menundukkan wajah.

Jaebum menunduk untuk mengambil bola basket yang menggelinding kearahnya dan menyerahkannya pada Yerin. “Bagaimana dengan cucianku? Sudah bersih?”

“Ya.” Yerin menarik kantung plastik berisi pakaian bersih Jaebum. “Sudah bersih, rapi dan wangi.”

Jaebum mengintip sebentar ke dalam kantung plastik dan tersenyum puas. “Terimakasih.”

Yerin hanya mengangguk.

“Oh yah,” Jaebum berseru sambil mengangkat kantung plastik lainnya yang ia bawa sendiri. “Aku membawa dua buah jeans-ku yang lain. Untuk jeans ini, berapa yang harus kubayar?”

Jeans, ya?” Yerin menimbang jeans Jaebum dan melihat timbangan. “3.500 won.”

Okay.” Jaebum mengeluarkan uang dari sakunya dan membayar biaya laundry. “Kapan celana itu bisa kuambil?”

“Besok sore,” sahut Yerin, singkat.

Jaebum mengangguk. Ia berdiri di sana, seolah sedang menunggu Yerin bicara. Yerin meliriknya sekilas, lalu menunduk lagi. Jaebum mengerutkan alis.

“Baiklah..” kata pemuda itu ragu. “Aku pulang dulu.”

Yerin mengangguk lagi.

Jaebum mengedikkan bahu melihat sikap Yerin yang sangat tertutup, lalu berbalik ke jalan seberang.

***

Yerin berdiri di depan mesin cuci dan merogoh-rogoh isi jeans Jaebum. Jeans pertama tidak berisi apa-apa. Jeans kedua berisi bungkus lipatan ice cream rasa green tea. Mungkin belum sempat dibuang Jaebum, duga Yerin. Yerin tidak menduga bahwa Jaebum memiliki selera yang unik dalam memilih ice cream.

Sementara menunggu mesin cuci melaksanakan tugasnya, Yerin duduk di depannya sambil membolak-balik bungkus ice cream green tea itu dan memandangnya cukup lama.

***

Angin berhembus panas ketika Jaebum berhenti mengayuh sepedanya dan duduk di bawah pohon mapel Jepang, beralaskan rumput. Jalan setapak itu sangat sepi, dengan dikelilingi bukit-bukit kecil nan hijau di sekelilingnya. Dari kejauhan, Jaebum bisa melihat Yerin berlari-lari kecil kearahnya membawa sesuatu di tangannya.

“Sudah lama menungguku?” tanya Yerin begitu tiba di tempat Jaebum.

Jaebum tersenyum dan menggeleng. “Tidak. Aku baru saja sampai. Apa itu yang kau bawa?”

“Ini?” Yerin mengangkat bungkusan yang ia bawa dan berseru, “Tada! Aku membawa ice cream green tea favoritmu!”

“Wah!” Jaebum menyambut ice cream favoritnya dengan antusias. “Terimakasih. Tapi, kenapa kau hanya membelikannya untukku? Apa kau tidak suka makan ice cream?”

Yerin menggeleng lemah. “Tadinya aku ingin membeli dua bungkus, tapi yang tersisa hanya satu bungkus. Tapi aku tidak terlalu ingin, kok. Kau saja yang makan.”

Jaebum mengendus kecewa. “Aku tidak merasa enak jika makan sendirian. Bagaimana kalau bagi berdua saja?”

“Tapi—”

“Tidak apa-apa,” kata Jaebum meyakinkan. “Kau mau, kan?”

Yerin akhirnya tersenyum. “Baiklah.”

Jaebum merobek bungkusan ice cream itu dan mengangkatnya. Keduanya mulai menjilati sisi-sisi ice cream secara bergantian dan bertukar senyum geli ketika mendapai sekitar mulut mereka penuh oleh ice cream.

“Biar kuambil tissue untuk membersihkan wajah kita,” kata Yerin.

“Tidak usah!” cegat Jaebum.

“Kenapa? Kita terlihat kacau, Jaebum.”

“Maksudku, aku punya cara sendiri untuk membersihkan noda ice cream ini.”

Yerin mengerutkan alis. “Bagaimana?”

Bibir Jaebum menekan bibir Yerin dengan pelan. Yerin terkejut mendapati sensasi yang berbeda antara perpaduan bibir hangat Jaebum dan ice cream yang dingin. Bibir Jaebum terasa lembut dan ringan di atas bibirnya. Yerin memejamkan mata karena meleleh danmembiarkan Jaebum melakukan “cara”-nya untuk membersihkan noda ice cream di atas bibirnya. Wangi ice cream green tea itu masuk ke dalam tenggorokan Yerin, membuatnya tersentak beberapa kali saat Jaebum mereguk manis ice cream dan bibirnya dalam satu sapuan bibir.

Saat itu, Yerin hanya memohon kepada Tuhan agar tidak membuat dadanya meledak, saking nikmatnya mereka berciuman. Ciuman itu bahkan lebih nikmat daripada ice cream green tea.

***

Yerin lari terbirit-birit begitu mendengar bel berbunyi di depan tokonya. Tahu-tahu Jaebum sudah berdiri di sana dengan membawa pakaian baru minggu itu. Ini sudah minggu ketiga Jaebum datang ke toko laundry dan akhirnya menjadi pelanggan tetap.

“Noda ini tidak bisa hilang,” lirih Jaebum sambil menunjuk noda kuning pada kaus putih kesayangannya. “Aku sudah pernah mencoba untuk mencucinya, tapi tidak bisa hilang juga. Apakah kau bisa membantuku?”

Yerin menatap noda kuning itu dan menggumam, “Akan kucoba.”

Okay.”

Yerin mengambil buku nota dan bolpoin, lalu menulis seperti biasa. “Nama?”

“Jaebum.”

“Nomor telepon?”

“010.. 71..” Jaebum mengerutkan alis. Tangan Yerin berhenti menulis dan berhenti di angka “o”, seolah ia sudah menghapal mati nomor telepon Jaebum di luar kepala.

Yerin menunduk dalam, meringis dalam hati dan mengutuk kebodohannya. Sial!

Jaebum menunduk untuk menatapnya, tapi Yerin cepat-cepat berkata, “71..?”

“..01-0513,” lanjut Jaebum, ragu.

Okay. Akan kuusahakan besok bajumu sudah bersih,” kata Yerin dengan cepat, lalu menghilang ke belakang.

***

Yerin mengeluarkan kaus Jaebum dari mesin cuci dan mengangkatnya. Itu sudah kedua kalinya ia mencoba menghilangkan noda kuning itu, namun hasilnya selalu sama. Noda itu tidak kunjung ingin hilang.

Mulai putus asa, Yerin akhirnya memutuskan melakukan upaya lain untuk menghilangkan noda itu.

Setelah pulang sekolah keesokan harinya, Yerin mengunjungi sebuah toko pakaian di dekat sekolahnya. Ia mengunjungi beberapa toko yang ia tahu dan menunjukkan kaus Jaebum pada si penjaga toko.

“Apa kalian punya kaus yang sama persis seperti ini?” tanyanya.

Penjaga toko itu menggeleng. “Tidak ada, Nona.”

Namun kegigihan Yerin tidak sampai disitu. Ia terus mengitari toko-toko pakaian di sekitar sekolah dan rumahnya untuk mencari kaus yang sama persis dengan milik Jaebum. Beruntungnya, di salah satu toko pakaian di dekat rumahnya, Yerin menemukan kaus yang sama persis dengan milik Jaebum dengan harga miring. Ia membeli pakaian itu, mencucinya, dan menunjukkannya pada Jaebum keesokan harinya.

“Wah! Bersih sekali,” komentar Jaebum. “Bagaimana kau melakukannya? Sabun apa yang kalian pakai?”

Yerin mengedikkan bahu. “Maaf, itu rahasia toko kami.”

Jaebum terkekeh. “Maaf, aku lupa. Tapi, aku sungguh berterimakasih karena sudah mengembalikannya seperti semula. Bahkan..” Jaebum mengangkat bajunya dan mengamatinya sekilas, “..baju ini seperti baru kembali.”

Yerin menelan ludah dan berdeham untuk mengalihkan perhatian Jaebum. “Jadi, apa kau masih punya pakaian lain untuk dicuci?”

“Ya,” sahut Jaebum. “Aku membawa jeans-ku lagi.”

Okay.”

“Kapan jeans ini bisa diambil lagi?”

Yerin mengintip ke dalam kantung plastik yang dibawa Jaebum. Ada tiga jeans. “Mungkin baru bisa diselesaikan lusa nanti, karena mesin cuci yang satunya sedang rusak, sementara masih banyak cucian dari pelanggan lain yang masih mengantre.”

Jaebum mendesah kecewa. “Apakah benar-benar tidak bisa diselesaikan besok?”

Yerin menatapnya bingung. “Memangnya kenapa?”

Jeans-ku akan kubawa ke asrama nanti.”

“Asrama?”

“Ya. Aku akan mulai pindah ke asrama sekolahku yang baru besok.”

Yerin merasakan gelombang kesedihan menyapu hatinya. “Apakah.. itu.. artinya kau tidak akan datang kemari lagi.. untuk mengantarkan cucian?”

“Begitulah. Tapi, tenang saja,” kata Jaebum. “Adikku, Jinyoung, yang mungkin akan menggantikanku untuk mengantarkan cucian keluarga kami ke sini. Kami akan tetap menjadi pelanggan toko laundry kalian.”

Dada Yerin mengempis. Bukan soal itu.. Tapi.. Bagaimana denganku.. Jika kau pergi?

***

Yerin merogoh isi jeans Jaebum dengan tidak semangat—tidak seperti biasanya. Ia menemukan beberapa kepingan receh, melemparnya masuk ke dalam toples, dan merogoh lagi. Pada jeans terakhir, Yerin menemukan sebuah tiket bioskop yang sudah kusut. Ia membaca judul film itu dan tanggalnya. Itu dua hari yang lalu, judul filmnya April Bride—sebuah film Jepang, dan Jaebum duduk di seat 8F.

Yerin sebelumnya tidak pernah tertarik untuk menonton film. Menonton film lokal saja ia malas, apalagi menonton film luar. Tapi, lagi-lagi, karena rasa penasarannya, pada Malam Minggu, Yerin ijin pada kedua orangtuanya untuk menonton film di bioskop seorang diri. Untungnya, film April Bride masih ditayangkan. Yerin memesan kursi persis yang pernah didudukki Jaebum ketika menonton film itu. 8F.

Gadis itu mengamati keadaan bioskop yang gelap dan melihat beberapa pasang laki-laki dan wanita duduk di sekitarnya. Sepertinya hanya Yerin yang datang sendiri, tanpa ditemani.

Awal pemutaran film, Yerin tidak menyangka bahwa ia akan selarut ini dalam cerita yang disajikan April Bride. Gadis itu bahkan terisak saat menyaksikan karakter Nana Eikura merekam dirinya dalam sebuah video dan mengucapkan salam perpisahan kepada suaminya, Taro Akasu. Penggalan adegan yang mengiris hati itu perlahan-lahan mengingatkannya bahwa tidak lama lagi, ia dan Jaebum juga akan mengalami perpisahan.

***

“Ini untukmu.” Jinyoung memberikan sebuah rekaman video pada Yerin. “Dari Jaebum hyung,” lanjutnya.

“Dari Jaebum?”

Yerin memandangi rekaman video itu cukup lama, sebelum akhirnya memutar video itu di dalam kamarnya.

Durasi awal tampak Jaebum duduk di depan kamera dan berdeham dengan canggung beberapa kali. Ia mengenakan kaus putih favoritnya saat merekam video itu.

“Yerin, apakah kau bisa mendengarku?” Jaebum melambai sedih kearah kamera. “Kau pasti bisa mendengarku, kan?”

Yerin mengangguk, seolah Jaebum bisa merasakan interaksi itu.

“Ketika kau menonton video ini, aku mungkin sudah pergi,” lanjut Jaebum, lirih. “Tapi, dengan video ini, aku harap kau bisa merasa lebih baik.”

Yerin mengangguk lagi, mulai larut dalam kesedihannya.

“Maafkan aku selama ini, karena kita belum dapat melakukan banyak hal bersama. Aku yakin kau sangat kecewa setelah mengetahui bahwa aku akan pergi, tapi aku mohon kepadamu untuk tidak merasa terlalu sedih atau aku juga akan merasa sedih dan tidak sanggup meninggalkanmu.”

“Walau kita hanya melakukan beberapa hal bersama dan itu tidak banyak,” lanjut Jaebum sambil tersenyum sedih. “Tapi, itu sangat berharga untukku. Moment-moment singkat itu membuatku merasa bahwa kita sudah melakukan banyak hal dari yang ada pada kenyataannya. Kau membuatku merasa lebih hidup dari sebelumnya, Yerin.”

Yerin menarik tissue dari kotaknya dan menyeka air matanya.

“Maafkan aku, sekali lagi, maafkan aku.” Suara Jaebum terdengar menyedihkan, seolah ingin menangis. “Terimakasih untuk segala kenangan yang sudah kau berikan kepadaku akhir-akhir ini. Dan, walau kau sudah mengetahuinya, aku ingin tetap memberitahumu satu hal bahwa aku sangat mencintaimu.”

Tangis Yerin akhirnya pecah, berubah menjadi lolongan yang menyedihkan ketika mendengar pengakuan manis dan menyedihkan dari Jaebum. Rekaman itu berakhir pada menit ke 01:25. Dan semuanya kembali gelap.

***

Beberapa bulan kemudian…

Yerin berlari menuju etalase begitu mendengar bel pelanggan berbunyi. Tapi, ia langsung berhenti di tempat begitu tidak menemukan siapa pun di depan, melainkan hanya bungkusan kertas cokelat yang diletakkan di atas etalase kaca. Yerin membuka bungkusan kertas itu dan mengintip. Isinya beberapa buah kue muffin.

“Tapi, dari siapa?” gumamnya.

Yerin membolak-balik bungkusan kertas itu dan menemukan sebuah tulisan di sisi kiri bungkusan yang ditulis menggunakan bolpoin merah.

From your secret admirer.

the end.

***

A/N: Adakah yang bisa mengerti dengan cerita di atas?—soalnya saya sendiri agak nggak yakin apakah readers mampu menangkap inti ceritanya atau justru gaya penulisan saya yang kurang bisa dipahami. Kalaupun ada yang nggak ngerti, biar saya jelaskan sedikit. Saya yakin seluruh readers di sini pernah merasakan yang namanya menjadi secret admirer atau menyukai seseorang secara diam-diam & saya yakin, saat kita sedang jatuh cinta diam-diam, kita pasti pernah mempunyai bayangan-bayangan tentang crush kita. Dan disinilah maksud yang berusaha saya jelaskan mengenai crush kita—ketika kita sering membayangkan diri kita sedang melakukan sesuatu dengan orang-yangkita-taksir atau membuat karakter orang-yang-kita-taksir versi kita sendiri, yang pada akhirnya membuat kita lebih jatuh cinta pada orang-yang-kita-taksir yang ada pada bayangan kita, daripada orang aslinya itu sendiri.

Mudah-mudahan pada ngerti, ya? 🙂 *plak*

30 thoughts on “Secret Crush (Oneshot)

  1. Awalnya gak ngerti tp saya menikmati bgt alurnya…untung ud dijelasin duluan ma authorny jd makin paham…
    Buahahhaha…jd inget masa” lg jth cinta dan aku ngerti bgt apa yg dirasain yerin…
    Endingnya ambigu…secret admirernya siapa?JB kah??ada sekuel tdk?

    • endingnya ambigu? emang sengaja. 😛 hehe
      saya hanya ingin bermain-main dengan imajinasi readers. ending hanya sampai disitu dan readers yang melanjutkannya. 🙂
      kalo masalah sequel, nanti deh saya pikir-pikir dulu. kalo ada ide, pasti saya buat.

  2. Kalo ada part waktu Yerin bilang “kau kan pacarku,” itu berarti beneran atau cuma Yerinnya yang mikir gItu, Eonnie?
    Yang endingnya, aku setuju sama Mischa Jung, karena itu bisa berarti bukan Jaebum, tapi Jinyoung juga menurutku. waktu pertama kali baca, aku kira yang ngirim Jinyoung.
    Aku sikap bahasa di FF ini, kesamnya rapi dab teratur ^^
    Ditunggu next FF ya 😀

    • semua tulisan yang di-Italic itu khayalannya Yerin aja, itu artinya nggak nyata. 🙂
      Yerin disini ceritanya cuma sekedar berfantasi dengan barang-barang yang dipake Jaebum & membentuk karakter Jaebum versi dia sendiri.
      terus kalo masalah ending emang sengaja dibikin gantung, kok. 😀 haha.

    • euh padahal aku komennya panjang =___=a

      jadi inget waktu jaman sekolah….nelpon gebetan terus di tutup lagi pas udah di angkat…wkwkwkw…kadang suka ngekhayal juga >,< pokoknya Yerin banget lah…hahaha
      kalo dipikir2 sekarang itu hal yang konyoll…tpi kalo lg jatuh cinta berasa sah2 aja…hahahahah

  3. speechless :s
    ini sebenernya dari imajinernya si Yerin kesannya sweet ..
    cuma rada mengejutkannya di akhirnya. bisa berakhir di jinyoung as secret admirer, atau jaebum as love and secret admirer ..
    Btw kak, kalo liat 15& bawa.annya unik juga, pada tembem semua ><

    • eh? kamu nangkepnya Jr. yah yang jadi secret admirer Yerin? padahal aku nggak ngejelasin kalo Jr. jadi secret admirernya Yerin lho. 😐

      15&? ah, iya. mereka tembem-tembem & unyu-unyu, tapi kualitas vokal nomor wahid. 🙂 hehe.

      • loh emangnya secret admirernya itu jr. abang jaebum ya kak.-. nana sih masih bias, jujur aja sih:s

        15& gk jauh debutnya sama Lee Hi, keren dua”nya 😀 I Dreamer dan It’s Cold sedang meraja lela 😆

      • *makin puyeng*

        iya, ngomong-ngomong judul yang bener itu “I Dream”. 🙂 hehe
        aku belum denger sih “It’s Cold”. Lee Hayi debutnya sebagai artis solo yah?

      • loh emangnya secret admirernya itu jr. abang jaebum ya kak.-. — ada yang salah dengan kalimat ini .-. yang nana maksud itu, “loh emangnya secret admirer-nya itu jr. atau jaebum kak?”

        ohh begitu.-. baru tahu kalo I Dream *ehh*
        Lee Hayi debutnya sih solo, tapi belum di debutkan. It’s Cold itu Epik High Ft. Lee Hayi 😀

  4. woo, imajinasinya tinggi banget yerin, smpe bs ngebayangin jaebum kaya gitu..
    pdhl mreka ga saling kenal bgitu mksdnya? gara2 barang2 dr secret admire itu?
    sedikit bingung tapi daebak~

    • mereka saling kenal, tapi nggak cukup dekat. 🙂 karena nggak dekat, Yerin mencoba membuat karakter Jaebum versi dia sendiri dengan barang-barang yang dipake atau punya Jaebum. gitu maksudnya. 🙂 maaf yah kalo bingung, tadinya sih juga ragu kalo readers bakal “ngeh” soal inti ceritanya. 😐

  5. ADUUHHH SI JUNIOR BARU DEBUT YG DIBIKIN CAST ❤ Btw mukanya JB sama Yerin emang masuuukk banget, bisa klop gitu –a
    dan lol adalah JB jadi kakak, dan Jr. adik, eh emangsih JB garis mukanya lbh teges dari Jr, yang unyu unyuuuuu

    Hahahahahahaha kemiripan Yerin sama aku nggak berenti di range suara sama muka ajaya :"" Eonni bikin ff castnya Yerin pun kayak RL aku neh /curcol banyak/

    Aku ngeh kok ceritamya ❤ Sequel dong eon yayayayayayayaya?

    • iya, aku juga ngerasa 15& itu versi balladnya JJ Project (bukan hanya karena jumlah membernya sama) tapi, entah karena kebetulan atau nggak, pribadi mereka hampir mirip-mirip juga. lihat deh si Yerin, yang pemalu gitu, jadi ngingetin aku sama JB, yang juga pemalu. terus Jimin yang jadi icon aegyo grupnya & Jr. yang juga imut-imut. ><

      masalah sequel, ehm, nanti deh aku pikirin lagi setelah ff "threesome" selesai yah? hehe 🙂

      • Nah bener sekali. Ini genrenya bertolak belakang banget tapi aslii bisa klop banget gitu ahahahahaha >,< entah kenapa aku setuju, Yerin-JB, Jimin-Jr. Lain kali Jimin-Jr. dong /slap/

        Iyaaa aku tunggu pasti. Kalo ngegangtung gini biasanya reader banyak yang sebel /sebenernya aku ajasih yg sebel/ gabisa tahu jawaban pastinya hikss :""

  6. awalnya emang bingung.. Tp klu d cermati baik”.. Ngerti jg kok.. Kereennn banget thorr.. Aku suka loh..
    butuh sequell nihh..

  7. baca FF unnie selalu menyenangkan~ wih~ seneng bgt Yerin udh ada FFnya aja~ yeay new couple hohoho
    innie, you’re the best~ ><

  8. Klo sy sih ngebayangin yg jd secret admirer bwt Yerin yah si JR…wkwkwkwkwkwk,,jiwa2 shipper mulai beraksi nih!! 😀

  9. daebak thor! emang awalnya rada bingung tapi ke sananya udah mulai nangkep maksud ceritanya apa. Cerita jimin-jinyoung aku tunggu loh thor~ :p

  10. Imajinasi yerin keren banget!!
    Hampir semua benda yg ia temukan d dalam kantung jeans JB mampu m’buat dy menghayal melakukan hal2 yg “sweet” b’dua bareng JB!!
    Eeee,, siapa secret admirer itu??

  11. hai.. ;D
    awalnya aku ga ngerti-,-
    tapi untung kamu berbaik hati ngejelasin sebelum readers bertanya tanya.. hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s